CATATAN KEDUA
Dalam mimpi yang mengandung hakikat, aku melihat diriku berkata kepada manusia: Wahai manusia! Salah satu prinsip Al-Qur'an ialah: Jangan menganggap sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq lebih besar daripada dirimu sampai engkau menyembahnya. Jangan pula menganggap dirimu lebih besar daripada sesuatu sampai engkau bersikap sombong terhadapnya. Sebab, sebagaimana semua makhluk sama-sama jauh dari kelayakan untuk disembah, mereka juga sama dalam hubungan sebagai makhluk.
CATATAN KETIGA
Wahai Said yang lalai! Ketahuilah bahwa melalui semacam kekeliruan indra, engkau melihat dunia yang sangat sementara ini seolah-olah tidak mati dan terus bertahan. Ketika melihat sekelilingmu dan dunia, engkau melihatnya sampai taraf tertentu tetap dan berlanjut. Karena itu, engkau juga menganggap nafsumu yang fana
tetap dengan pandangan itu. Engkau hanya merasa ngeri terhadap datangnya kiamat. Seolah-olah engkau akan hidup sampai kiamat terjadi, engkau hanya takut kepadanya. Sadarlah. Engkau dan duniamu yang khusus selalu terkena pukulan lenyap dan fana. Kekeliruan indra dan sesat pikir ini menyerupai contoh berikut:
Jika seseorang memegang cermin menghadap sebuah rumah, kota, atau taman, gambaran rumah, kota, atau taman terlihat di dalam cermin itu. Jika gerakan yang sangat kecil dan sedikit perubahan terjadi pada cermin, rumah, kota, dan taman dalam gambaran itu menjadi kacau dan berantakan. Tetap bertahannya rumah, kota, dan taman yang sesungguhnya di luar tidak memberikan manfaat kepadamu. Sebab, rumah dalam cermin yang engkau pegang, serta kota dan taman milikmu, hanya ada sesuai ukuran dan batas yang diberikan cermin itu kepadamu.
Hidup dan umurmu adalah cermin. Tiang, cermin, dan pusat duniamu ialah umur dan hidupmu. Karena rumah, kota, dan taman itu dapat mati dan mungkin hancur setiap menit, semuanya berada dalam keadaan yang dapat runtuh menimpamu dan membuat kiamatmu terjadi pada setiap menit.
Karena demikian, jangan membebankan kepada hidup dan duniamu beban-beban yang tidak mampu mereka tanggung dan pikul!..
CATATAN KEEMPAT
Ketahuilah, kebiasaan Sang Fâthir Yang Hakîm pada umumnya ialah mengembalikan hal-hal yang penting dan berharga sebagai diri yang sama. Yakni, sementara sebagian besar benda diperbarui dengan yang serupa pada pergantian musim dan perubahan abad, Dia mengembalikan hal-hal yang berharga dan penting itu sebagai diri yang sama. Kaidah sunatullah ini umumnya tampak berlaku secara tetap dalam seluruh kebangkitan harian, tahunan, dan setiap abad.
Berdasarkan kaidah yang tetap ini, kami mengatakan demikian karena semua cabang ilmu pengetahuan sepakat dan seluruh ilmu bersaksi bahwa manusia adalah buah paling sempurna dari pohon penciptaan. Manusia adalah yang paling penting di antara makhluk dan yang paling berharga di antara seluruh yang ada. Satu individu manusia setara dengan satu jenis hewan lainnya.
Tentu, dengan pandangan intuitif yang pasti, dapat diputuskan bahwa dalam kebangkitan dan hidup kembali yang terbesar, setiap individu manusia akan dikembalikan sebagai diri yang sama, dengan tubuhnya, namanya, dan bentuknya.
CATATAN KELIMA
Dalam catatan ini, ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa telah tertanam sampai taraf tertentu dalam pikiran Said Lama. Ketika Said Baru menempuh gerak-gerak pikiran, ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa berubah menjadi penyakit-penyakit hati dalam perjalanan hati itu dan menyebabkan kesulitan yang lebih besar. Karena itu, ketika Said Baru terpaksa mengguncangkan pikirannya untuk membuang filsafat yang berhias kepalsuan serta peradaban yang tenggelam dalam kesenangan rendah, ia harus menjalani percakapan berikut dengan pribadi maknawi Eropa. Percakapan itu sangat singkat dari satu segi dan panjang dari segi lain. Tujuannya ialah membungkam perasaan-perasaan nafsu dalam jiwanya yang bersaksi membela Eropa.
Jangan disalahpahami: Ada dua Eropa.
Yang pertama memperoleh daya dari agama Nasrani yang sejati, mengikuti keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan sosial manusia, serta ilmu pengetahuan yang berkhidmah bagi keadilan dan kebenaran. Aku tidak menyapa Eropa pertama ini.
Aku menyapa Eropa kedua yang telah rusak. Dalam gelap filsafat naturalisme, ia menganggap keburukan-keburukan peradaban sebagai kebaikan, lalu menggiring manusia kepada kesenangan rendah dan kesesatan. Demikianlah:
Saat itu, dalam perjalanan rohani tersebut, aku pernah berkata kepada pribadi maknawi Eropa yang memegang filsafat sia-sia dan berbahaya serta peradaban berbahaya yang tenggelam dalam kesenangan rendah. Yang kumaksud ialah hal-hal di luar kebaikan-kebaikan peradaban dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat:
Ketahuilah, wahai Eropa kedua! Dengan tangan kananmu engkau memegang filsafat yang sakit dan sesat, sedangkan dengan tangan kirimu engkau memegang peradaban yang tenggelam dalam kesenangan rendah dan berbahaya. Lalu engkau mengaku bahwa kebahagiaan manusia terletak pada keduanya. Biarlah kedua tanganmu ini patah, dan kedua hadiah kotormu ini membinasakan dirimu; memang keduanya akan membinasakanmu.
Wahai jiwa malang yang menyebarluaskan kekufuran dan ingkar nikmat! Mungkinkah seseorang berbahagia ketika jiwa, nurani, akal, dan hatinya terkena musibah-musibah mengerikan dan terjerumus ke dalam azab, hanya karena tubuhnya secara lahir berada di tengah hiasan dan kekayaan yang menipu? Dapatkah ia disebut bahagia?
Tidakkah engkau melihat bahwa karena seseorang putus asa akibat perkara kecil, kehilangan harapan terhadap cita-cita yang khayal, dan kecewa akibat urusan yang tidak penting, khayalan manis menjadi pahit baginya, keadaan yang menyenangkan menyiksanya, dan dunia terasa sempit lalu menjadi penjara baginya?
Lalu, kebahagiaan apakah yang engkau sediakan bagi manusia malang yang, karena keburukanmu, terkena pukulan kesesatan di sudut terdalam hatinya dan di dasar jiwanya? Akibat kesesatan itu, seluruh harapannya terputus dan seluruh kepedihannya timbul darinya. Dapatkah seseorang disebut bahagia jika tubuhnya berada dalam surga palsu yang akan lenyap, sedangkan hati dan jiwanya menderita azab di neraka? Begitulah engkau menyesatkan manusia yang malang dan membuatnya menderita azab seperti di neraka dalam sebuah surga palsu.
Wahai nafsu ammarah manusia! Lihatlah perumpamaan ini dan ketahuilah ke mana engkau menggiring manusia. Misalnya, di hadapan kami terdapat dua jalan. Kami menempuh salah satunya. Kami melihat bahwa pada setiap langkah terdapat seorang manusia malang yang tak berdaya. Orang-orang zalim menyerangnya, merampas harta dan barang-barangnya, menghancurkan gubuk kecilnya, dan terkadang melukainya. Keadaannya begitu memilukan sehingga langit menangis. Ke mana pun kami memandang, keadaan berlangsung demikian. Suara yang terdengar di jalan itu ialah kegaduhan orang zalim dan tangisan orang yang dizalimi, sehingga duka bersama meliputi jalan itu. Karena melalui kemanusiaannya seseorang ikut merasakan kepedihan orang lain, ia terjerat dalam kepedihan yang tidak terbatas. Namun, karena nurani tidak mampu menanggung kepedihan sebesar itu, orang yang menempuh jalan itu terpaksa memilih satu dari dua hal. Ia harus melepaskan kemanusiaannya dan menerima kebengisan tanpa batas, lalu memiliki hati yang tidak terganggu oleh binasanya semua orang selama dirinya selamat; atau ia harus meniadakan tuntutan hati dan akalnya.
Wahai Eropa yang rusak karena kesenangan rendah dan kesesatan serta menjauh dari agama Nasrani! Dengan kecerdasanmu yang buta dan bermata satu seperti Dajjal, engkau menghadiahkan keadaan seperti neraka ini kepada jiwa manusia! Kemudian engkau memahami bahwa ini merupakan penyakit yang tidak memiliki obat, yang melemparkan manusia dari tingkat paling tinggi ke tingkat paling rendah. Ia menurunkannya ke tingkat hewan yang paling malang.
Obat yang engkau temukan untuk penyakit ini ialah mainan-mainan yang memikat, keinginan, dan fantasi yang membius, yang hanya berkhidmah untuk mematikan perasaan sementara. Biarlah obatmu ini membinasakan dirimu; memang ia akan membinasakanmu! Demikianlah jalan yang engkau bukakan bagi manusia dan kebahagiaan yang engkau berikan menyerupai perumpamaan ini.
Jalan kedua, yang dihadiahkan oleh Al-Qur'an Al-Hakîm kepada manusia dengan petunjuknya, adalah sebagai berikut: Kami melihat bahwa pada setiap tempat singgah, setiap tempat, dan setiap kota di jalan itu terdapat prajurit-prajurit lurus dari seorang sultan yang adil. Mereka berada dan berkeliling di segala penjuru. Dari waktu ke waktu, atas perintah sultan itu, sebagian prajurit dibebastugaskan. Senjata, kuda, dan perlengkapan milik negara diambil dari mereka, lalu mereka diberi surat izin. Prajurit-prajurit yang dibebastugaskan itu,
meskipun secara lahir bersedih karena kuda dan senjata yang telah akrab dengan mereka diambil, sesungguhnya merasa lega karena dibebastugaskan. Mereka sangat senang karena akan mengunjungi sultan, kembali ke ibu kota kerajaan, dan menemui raja.
Terkadang para petugas pembebasan tugas bertemu dengan seorang prajurit yang belum berpengalaman. Prajurit itu tidak mengenali mereka. Mereka berkata, "Serahkan senjatamu!" Prajurit itu berkata, "Aku adalah prajurit raja. Aku berkhidmah kepadanya dan kelak akan pergi kepadanya. Siapakah kalian? Jika kalian datang dengan izin dan kerelaannya, kalian kusambut dengan sepenuh hormat; tunjukkan perintahnya. Jika tidak, pergilah dan menjauhlah dariku. Sekalipun aku tinggal seorang diri dan kalian berjumlah ribuan, aku tetap akan melawan kalian. Bukan demi diriku sendiri, sebab diriku bukan milikku, melainkan milik sultanku. Diriku yang ada padaku dan senjataku adalah amanat pemilikku. Aku tidak akan tunduk kepada kalian, demi menjaga amanat, melindungi kehormatan sultanku, dan menjaga kemuliaannya!"
Keadaan ini hanyalah satu contoh dari ribuan keadaan yang menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan di jalan kedua. Bandingkan sendiri keadaan-keadaan lainnya dengannya. Sepanjang perjalanan di jalan kedua itu terdapat pengerahan dan pengiriman tentara dengan gembira dan meriah, yang disebut kelahiran, serta pembebasan tugas tentara dengan kegembiraan dan musik, yang disebut kematian. Inilah jalan yang dihadiahkan Al-Qur'an Al-Hakîm kepada manusia. Siapa pun yang menerima hadiah ini sepenuhnya menempuh jalan kedua yang menuju kebahagiaan di dua alam. Ia tidak bersedih atas hal yang telah berlalu dan tidak takut terhadap hal yang akan datang.
Wahai Eropa kedua yang rusak! Sebagian landasanmu yang rapuh dan tanpa dasar adalah sebagai berikut: Engkau mengatakan, "Dari malaikat terbesar sampai ikan terkecil, setiap makhluk hidup memiliki dirinya sendiri, bekerja demi dirinya sendiri, dan berusaha demi kenikmatannya sendiri. Ia mempunyai hak untuk hidup. Tujuan usahanya dan sasaran kehendaknya ialah hidup dan menjamin agar dirinya tetap ada." Lalu engkau menganggap sebagai pertarungan manifestasi-manifestasi penuh Rahmat dan Kemurahan dari hukum umum yang tampak pada tumbuhan yang bergegas menolong hewan serta hewan yang membantu manusia. Hukum itu bersumber dari prinsip-prinsip Kemurahan Sang Khâliq Yang Karîm dan dari prinsip saling menolong yang ditaati dengan sepenuhnya oleh unsur-unsur utama kainat. Engkau pun dengan bodoh memutuskan, "Hidup adalah pertarungan."
Bagaimana bergegasnya zarah-zarah makanan dengan penuh semangat untuk memberi makan sel-sel tubuh, yang merupakan manifestasi prinsip saling menolong, dapat disebut pertarungan? Bagaimana hal itu merupakan bentrokan? Sebaliknya, pertolongan dan gerak bergegas itu merupakan kerja sama atas Perintah Sang Rabb Yang Karîm.
Landasanmu yang rapuh lainnya ialah perkataanmu, "Segala sesuatu memiliki dirinya sendiri." Bukti pasti bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki dirinya sendiri adalah sebagai berikut: Di antara sebab-sebab, manusia adalah yang paling mulia dan mempunyai kehendak paling luas dalam hal memilih. Namun, dari seratus bagian perbuatannya yang paling jelas dilakukan dengan kehendak, seperti berpikir, berbicara, dan makan, hanya satu bagian yang masih diragukan diberikan kepada kebebasan pilihannya dan masuk dalam jangkauan kemampuannya. Bagaimana sesuatu yang tidak memiliki satu bagian dari seratus bagian perbuatannya yang paling jelas dapat disebut memiliki dirinya sendiri? Jika makhluk yang paling mulia dan mempunyai kebebasan memilih paling luas ini sedemikian terhalang dari kuasa mengatur dan memiliki yang sesungguhnya, orang yang mengatakan, "Hewan-hewan lain dan benda-benda mati memiliki diri mereka sendiri," membuktikan bahwa dirinya lebih hewani daripada hewan serta lebih beku dan tidak sadar daripada benda mati.
Yang melemparkanmu ke dalam kesalahan dan menjatuhkanmu ke jurang ini ialah kecerdasanmu yang bermata satu, yakni kecerdasanmu yang luar biasa tetapi membawa keburukan. Dengan kecerdasan buta itu engkau melupakan Rabb-mu, Khâliq segala sesuatu. Engkau menisbahkan ciptaan-Nya kepada tabiat yang dibayangkan, memberikan karya-karya-Nya kepada sebab-sebab, dan membagikan milik Sang Khâliq kepada tagut-tagut yang menjadi sembahan batil. Dari segi ini dan menurut pandangan kecerdasanmu itu, setiap makhluk hidup dan setiap manusia harus seorang diri melawan musuh yang tidak terbatas dan berusaha memenuhi kebutuhan yang tiada akhir. Dengan kemampuan sebesar zarah, kebebasan memilih setipis kawat, kesadaran seperti kilau yang akan lenyap, kehidupan seperti nyala yang segera padam, dan umur seperti menit yang segera berlalu, ia terpaksa bertahan menghadapi musuh dan kebutuhan yang tidak terbatas itu. Padahal, modal makhluk hidup yang malang itu tidak cukup untuk satu pun dari ribuan keinginannya. Ketika terkena musibah, ia hanya mengharapkan obat bagi deritanya dari sebab-sebab yang tuli dan buta, lalu menjadi tempat tampaknya rahasia
ﻭَﻣَﺎ ﺩُﻋَٓﺎﺀُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ضَلَالٍ
.
Kecerdasanmu yang gelap telah mengubah siang umat manusia menjadi malam. Hanya untuk membuat mereka terbiasa dengan malam yang penuh kesusahan, kezaliman, dan gelap itu, engkau meneranginya dengan lampu-lampu palsu yang sementara. Lampu-lampu itu tidak tersenyum gembira kepada wajah manusia. Sebaliknya, cahaya-cahaya itu tertawa mengejek dan bersenang-senang melihat tawa bodoh manusia di tengah keadaan pedih yang seharusnya ditangisi.
Dalam pandangan murid-muridmu, setiap makhluk hidup adalah korban musibah yang lemah, yang terkena serangan orang zalim. Dunia merupakan rumah duka bersama. Suara-suara di dunia ialah ratapan yang berasal dari kematian dan kepedihan.
Murid yang menerima pelajaranmu sepenuhnya menjadi seorang Firaun. Namun, ia adalah Firaun yang hina, yang menyembah hal paling rendah dan menganggap segala sesuatu yang dilihatnya memberikan manfaat sebagai rabb bagi dirinya.
Muridmu juga membangkang. Namun, ia adalah pembangkang yang lemah, yang menerima kehinaan paling dalam demi satu kenikmatan. Demi manfaat yang rendah, ia menunjukkan sikap hina sampai taraf mencium kaki setan.
Ia juga penindas. Namun, karena tidak menemukan suatu titik sandaran dalam hatinya, ia merupakan penindas yang memamerkan diri tetapi sebenarnya sangat tak berdaya.
Murid itu adalah penipu yang tujuan usahanya ialah memuaskan keinginan nafsu, mencari keuntungan bagi dirinya di balik tabir semangat membela sesama dan pengorbanan, serta berusaha meredakan ketamakan dan kesombongannya. Ia tidak sungguh-sungguh mencintai apa pun selain dirinya sendiri. Ia mengorbankan segala sesuatu demi dirinya.
Adapun murid Al-Qur'an yang tulus dan menerima pelajaran sepenuhnya ialah seorang hamba. Namun, ia adalah hamba yang mulia, yang tidak merendahkan diri untuk berubudiyah bahkan kepada makhluk terbesar dan tidak menjadikan manfaat paling besar dan paling agung, seperti surga, sebagai tujuan ubudiyah.
Ia juga lembut dan tenang. Namun, ia adalah orang lembut yang bercita-cita luhur, yang tidak merendahkan diri kepada selain Sang Fâthir Dzul-Jalâl-nya tanpa Izin dan Perintah-Nya.
Ia juga fakir. Namun, karena balasan yang disimpan oleh Sang Mâlik Yang Karîm baginya pada masa depan, ia adalah fakir yang merasa cukup.
Ia juga lemah. Namun, ia adalah orang lemah yang kuat karena bersandar pada Kekuatan Sang Pemiliknya, yang Kudrat-Nya tidak terbatas. Al-Qur'an bahkan tidak membiarkan murid sejatinya menjadikan surga yang kekal sebagai tujuan akhir. Mungkinkah ia menjadikan dunia yang fana dan segera lenyap ini sebagai tujuan akhir murid itu?
Pahamilah betapa jauh perbedaan cita-cita kedua murid itu!
Dengan ini kalian juga dapat membandingkan semangat membela sesama dan pengorbanan murid-murid filsafat yang sakit dengan murid-murid Al-Qur'an Al-Hakîm. Demikianlah:
Murid filsafat lari dari saudaranya demi dirinya sendiri dan mengajukan tuntutan melawan saudaranya.
Adapun murid Al-Qur'an menganggap seluruh hamba yang saleh di langit dan di bumi sebagai saudaranya. Ia mendoakan mereka dengan sangat tulus, merasa bahagia dengan kebahagiaan mereka, dan merasakan ikatan yang kuat terhadap mereka dalam jiwanya. Ia juga menganggap benda-benda terbesar, seperti Arasy dan matahari, sebagai petugas yang ditundukkan, serta sebagai hamba dan makhluk seperti dirinya.
Bandingkan pula kemuliaan dan luasnya jiwa kedua murid itu dari hal berikut: Al-Qur'an membuat jiwa para muridnya menjadi luas dan mulia sedemikian rupa sehingga, sebagai pengganti tasbih berbutir sembilan puluh sembilan, ia memberikan zarah-zarah dari sembilan puluh sembilan alam yang memperlihatkan manifestasi sembilan puluh sembilan Asma Allah سُبْحَانَهُ sebagai butir-butir tasbih di tangan mereka. Ia berkata, "Bacalah wirid-wirid kalian dengan ini." Dengarkan dan perhatikan murid-murid Al-Qur'an seperti Syah Jailani, Rifa'i, dan Syadzili (R.Anhüm) ketika membaca wirid! Mereka memegang rangkaian zarah, jumlah tetes air, dan jumlah napas seluruh makhluk, lalu membaca wirid dengannya. Mereka berzikir dan bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Perhatikan didikan bermukjizat dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya! Manusia kecil ini, yang menjadi pening dan bingung karena kesedihan dan kegundahan yang sangat kecil serta dikalahkan oleh mikroba kecil, betapa tinggi ia naik melalui didikan Al-Qur'an. Betapa luas latifah-latifahnya, sehingga ia menganggap seluruh yang ada di dunia besar ini masih kurang untuk dijadikan tasbih wiridnya. Meskipun ia menganggap surga terlalu sedikit untuk menjadi tujuan zikir dan wiridnya, ia tidak menganggap dirinya lebih besar daripada makhluk Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang paling rendah sekalipun. Ia memadukan kemuliaan paling tinggi dengan rendah hati yang paling dalam. Engkau dapat membandingkan betapa rendah dan kecil murid-murid filsafat jika dibandingkan dengannya.
Berhadapan dengan hakikat-hakikat yang dilihat secara salah oleh kecerdasan bermata satu dari filsafat Eropa yang sakit, petunjuk Al-Qur'an berbicara sebagai berikut. Ia memandang dua alam dengan dua mata terang yang mengenal yang gaib dan melihat dunia serta akhirat, dan dengan kedua tangannya menunjukkan dua kebahagiaan bagi manusia: Wahai manusia! Diri dan hartamu yang ada di tanganmu bukan milikmu, melainkan amanat bagimu. Pemilik amanat itu adalah Sang Rahîm Yang Karîm, Yang Qadîr Atas Segala Sesuatu dan Yang Mengetahui Segala Sesuatu. Dia ingin membeli dari engkau milik-Nya yang berada bersamamu, agar Dia menjaganya untukmu sehingga tidak hilang. Kelak Dia akan memberikan harga yang besar kepadamu. Engkau adalah prajurit yang ditugaskan dan diperintah. Bekerjalah atas Nama-Nya dan bertindaklah untuk-Nya. Dialah yang mengirimkan hal-hal yang engkau butuhkan sebagai rezeki dan melindungimu dari hal-hal yang tidak mampu engkau hadapi.
Tujuan dan hasil hidupmu ini ialah menjadi tempat tampaknya Asma dan Syuunat Sang Mâlik. Ketika suatu musibah menimpamu, katakanlah
ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ
. Yakni, aku berada dalam khidmah kepada Pemilikku. Wahai musibah! Jika engkau datang dengan Izin dan Kerelaan-Nya, selamat datang, engkau disambut dengan senang hati! Sebab, tentu suatu saat kami akan kembali kepada-Nya dan pergi ke hadirat-Nya; kami rindu kepada-Nya. Karena
bagaimanapun juga suatu saat Dia akan membebaskan kami dari beban-beban kehidupan, marilah, wahai musibah! Aku rela jika pembebasan tugas dan pembebasan itu terjadi melalui tanganmu. Namun, jika Dia memberikan Perintah dan Kehendak kepadamu untuk menguji penjagaan amanat dan ketekunanku dalam bertugas, tetapi Dia tidak mengizinkan dan tidak merelakan aku menyerah kepadamu, aku tidak akan menyerahkan amanat Pemilikku kepada yang tidak dapat dipercaya selama aku masih mampu, demikian ia berkata.
Sebagai satu contoh dari seribu, lihatlah taraf pelajaran yang diberikan kecerdasan filsafat dan petunjuk Al-Qur'an. Ya, keadaan sesungguhnya di kedua pihak berlangsung menurut cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tingkatan manusia dalam petunjuk dan kesesatan berbeda-beda. Tingkatan lalai juga beragam. Tidak semua orang pada setiap tingkatan dapat merasakan hakikat ini sepenuhnya.
Sebab, lalai meniadakan perasaan. Pada masa ini, perasaan telah ditiadakan sedemikian rupa sehingga orang-orang berperadaban tidak merasakan pedihnya derita yang menyakitkan ini. Namun, dengan bertambahnya kepekaan pengetahuan dan peringatan kematian yang memperlihatkan tiga puluh ribu jenazah setiap hari, tabir lalai itu terkoyak.
Ribuan kecaman dan rasa sesal bagi orang-orang yang menuju kesesatan melalui tagut-tagut orang asing dan ilmu-ilmu alam mereka, serta bagi orang-orang yang meniru dan mengikuti mereka secara membuta!
Wahai para pemuda tanah air ini! Jangan berusaha meniru orang-orang Eropa! Setelah Eropa melakukan kezaliman dan permusuhan yang tidak terbatas terhadap kalian, dengan akal apa kalian mengikuti dan mempercayai kesenangan rendah serta pikiran batil mereka? Tidak! Tidak! Kalian yang meniru secara rendah itu bukan sekadar mengikuti mereka. Tanpa sadar kalian bergabung ke barisan mereka dan menghukum mati diri kalian sendiri serta saudara-saudara kalian. Sadarlah bahwa selama kalian mengikuti dengan cara yang tidak bermoral, kalian berdusta dalam pengakuan membela bangsa! Sebab, tindakan kalian mengikuti dengan cara ini meremehkan kebangsaan kalian dan mengejek bangsa!
ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢِ