Dari Kumpulan Risale-i Nur
Rahmet Ve Şefkat İlaçları (Penawar Rahmat dan Kasih Sayang)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
Lem'a Kedua Puluh Lima
Berisi dua puluh lima penawar.
(Ditulis sebagai salep, penghibur, resep batin, kunjungan kepada orang sakit, dan ucapan semoga lekas sembuh.)
Peringatan dan Permohonan Maaf
Resep batin ini ditulis dengan kecepatan yang melampaui seluruh tulisan kami. {(Catatan kaki): Risalah ini ditulis dalam waktu empat setengah jam.
Ya, Rüşdü. Ya, Re'fet. Ya, Hüsrev. Ya, Said.} Berbeda dari kebiasaan, karena tidak mendapat waktu untuk memperbaiki dan memeriksa dengan teliti, tulisan ini hanya sekali dibaca kembali dengan sangat cepat, seperti saat ditulis. Berarti, tulisan ini tetap kurang teratur, seperti draf pertama. Agar tidak merusak dengan seni dan ketelitian gagasan yang datang secara fitrah ke dalam hati, kami tidak merasa perlu memeriksanya kembali. Para pembaca, terutama orang-orang sakit, hendaknya tidak merasa jengkel dan tersinggung oleh beberapa ungkapan yang kurang nyaman atau kata-kata serta ungkapan yang berat. Hendaknya mereka juga mendoakanku.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺻَﺎﺑَﺘْﻬُﻢْ ﻣُﺼ۪ﻴﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫُﻮَ ﻳُﻄْﻌِﻤُﻨ۪ﻰ ﻭَﻳَﺴْﻘ۪ﻴﻦِ ٭ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻣَﺮِﺿْﺖُ ﻓَﻬُﻮَ ﻳَﺸْﻔ۪ﻴﻦِ
Dalam Lem'a ini, kami menjelaskan secara ringkas dua puluh lima penawar yang dapat menjadi penghibur yang sejati dan salep yang bermanfaat bagi orang-orang yang tertimpa musibah serta sakit, yang merupakan sepersepuluh umat manusia.
PENAWAR PERTAMA
Wahai orang sakit yang malang! Jangan cemas, bersabarlah. Penyakitmu bukan penderitaan bagimu, melainkan semacam obat. Sebab, umur adalah modal yang terus berlalu. Jika tidak menghasilkan buah, modal itu akan sia-sia. Jika dilalui dengan nyaman dan lalai, umur juga berlalu sangat cepat. Penyakit menjadikan modalmu itu berbuah dengan keuntungan besar. Penyakit juga tidak membiarkan umur berlalu cepat; ia menahannya dan membuatnya panjang, agar baru melepaskannya setelah menghasilkan buah.
Sebagai isyarat bahwa umur menjadi panjang melalui penyakit, peribahasa ini terkenal di mana-mana, “Waktu musibah sangat panjang, sedangkan waktu bahagia sangat singkat.”
PENAWAR KEDUA
Wahai orang sakit yang tidak sabar! Bersabarlah, bahkan bersyukurlah. Penyakitmu dapat menjadikan setiap menit umurmu setara dengan satu jam ibadah.
Sebab, ibadah terbagi dua. Yang pertama ialah ibadah positif, berupa ibadah-ibadah yang telah dikenal, seperti salat dan doa. Yang kedua ialah ibadah negatif: melalui penyakit dan musibah, orang yang tertimpa musibah merasakan dirinya tak berdaya dan lemah. Ia berlindung kepada Sang Khâliq Yang Rahîm dan memohon kepada-Nya. Ia memperoleh ibadah batin yang murni dan tanpa riya.
Ya, terdapat riwayat-riwayat sahih bahwa umur yang dilalui dengan penyakit dianggap sebagai ibadah bagi seorang mukmin, dengan syarat tidak mengeluhkan Allah سُبْحَانَهُ. Bahkan, satu menit penyakit sebagian orang sakit yang sabar dan bersyukur menjadi setara dengan satu jam ibadah,
sedangkan satu menit sebagian orang yang telah sempurna menjadi setara dengan satu hari ibadah. Hal ini ditetapkan melalui riwayat sahih dan penglihatan batin yang benar.
Jangan mengeluh, tetapi bersyukurlah atas penyakit yang menjadikan satu menit umurmu setara dengan seribu menit dan memberimu umur yang panjang.
PENAWAR KETIGA
Wahai orang sakit yang tidak tahan! Mereka yang terus datang lalu pergi, para pemuda yang menjadi tua, serta manusia yang terus bergulir menuju lenyap dan perpisahan menjadi saksi bahwa manusia tidak datang ke dunia ini untuk bersenang-senang dan menikmati kenikmatan.
Selain itu, meskipun manusia adalah makhluk hidup yang paling sempurna, paling tinggi, dan paling kaya perlengkapannya, bahkan seperti sultan seluruh makhluk hidup, karena memikirkan kenikmatan masa lalu dan bencana yang akan datang, dibandingkan hewan ia justru menjalani kehidupan penuh kesedihan serta kesulitan pada tingkat paling rendah.
Berarti, manusia tidak datang ke dunia ini hanya untuk hidup dengan baik dan melewatkan umur dalam kenyamanan serta kesenangan. Sebaliknya, dengan modal besar yang ada di tangannya, manusia datang untuk berusaha memperoleh kebahagiaan kehidupan yang kekal dan abadi melalui perdagangan di sini. Modal yang diberikan kepadanya ialah umur. Jika tidak ada penyakit, kesehatan dan keadaan sejahtera menimbulkan kelalaian, membuat dunia tampak menyenangkan, dan membuat akhirat terlupakan. Manusia tidak ingin mengingat kubur serta kematian, dan kesehatan membuatnya menghabiskan modal umur dengan sia-sia. Sebaliknya, penyakit tiba-tiba membuka matanya. Penyakit berkata kepada tubuh dan raganya, “Engkau tidak kebal dari kematian, tidak dibiarkan tanpa arah, dan memiliki tugas. Tinggalkan kesombongan, pikirkan Dia Yang Menciptakanmu, ketahuilah bahwa engkau akan menuju kubur, dan bersiaplah untuk itu.”
Dari sudut pandang ini, penyakit merupakan penasihat yang tidak pernah menipu dan pembimbing yang memberi peringatan. Hendaknya tidak mengeluh tentangnya, tetapi berterima kasih kepadanya dari segi tersebut. Jika terasa terlalu berat, hendaknya memohon kesabaran.