SEGI KEENAM
Kehidupan rohani serta benarnya ubudiyah terguncang oleh permusuhan dan keras kepala. Sebab, "ikhlas", yang menjadi sarana selamat serta jalan keselamatan, hilang. Orang keras kepala yang fanatik dalam berpihak ingin mengungguli lawannya dalam amal-amal baiknya. Ia tidak banyak berhasil beramal tulus semata-mata demi Allah سُبْحَانَهُ. Dalam putusan serta tindakannya, ia juga mengutamakan pihaknya sehingga tidak dapat berlaku adil. Jadi, "ikhlas" dan "keadilan", yang menjadi dasar tindakan serta amal-amal baik, hilang melalui sikap bermusuhan dan permusuhan. Segi Keenam ini amat panjang. Namun, karena ruang dalam bagian ini singkat, kami mencukupkan dengan uraian singkat.
--
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ ﺍَﺑَﺪًﺍ ﺩَٓﺍﺋِﻤًﺎ
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan diberkahi!
Pertama: Kami memandang patut menyampaikan kepada kalian juga ringkasan suatu pelajaran yang diberikan atas permintaan para tokoh Medresetü'z-Zehra. Pokok pelajaran itu ialah: pada Malam Mikraj, Nabi ﷺ, Kebanggaan kainat dan hasil penciptaan alam, mengucapkan
ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﺍَﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
sebagai salam di hadirat Ilahi, atas nama manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, bahkan seluruh makhluk, mewakili segenap yang ada di kainat. Karena di dalamnya terkandung makna yang menyeluruh, seluruh umat menyebutnya berkali-kali setiap hari dalam salat. Setiap orang di antara ahli iman, pada derajat apa pun, mendapat suatu bagian di dalamnya. Sebelumnya, dalam catatan kaki “Hüve Nüktesi” (Butir Hikmah Hüve), dari segi unsur udara yang memperlihatkan mukjizat-mukjizat luar biasa dari kuasa melalui radio, terlintas suatu peringatan dalam hati:
Dari isyarat-isyarat Al-Qur'an dapat dipahami bahwa ibadah yang dilakukan seorang ahli iman dalam umurnya di dunia yang singkat ini—umur yang akan menghasilkan suatu milik kekal sebesar dunia dalam kebahagiaan abadi—mengandung ibadah yang menyeluruh. Seolah-olah ia beribadah bersama dunia pribadinya dan mendapat pahala sebesar dunia pribadinya. Karena itu, dalam pembahasan Ilmu Ilahi pada Bagian Kedua Hüccetüzzehra (Hujah Zahrâ), makna-makna menyeluruh
ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ
dan seterusnya datang ke dalam ruhku. Saat dalam tasyahud aku mengucapkan ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ dengan cara itu, tiba-tiba dalam bayanganku empat unsur dunia pribadiku—tanah, air, udara, dan cahaya—menjadi empat bahasa yang menyeluruh. Dalam bayangan, aku melihat setiap bahasa mengucapkan kata-kata
ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﺍَﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
melalui keadaan masing-masing, sejumlah miliaran, bahkan triliunan dan kuadriliunan.
Dari unsur-unsur itu, unsur tanah menjadi suatu bahasa. Setiap makhluk hidup menjadi suatu kata yang hidup dan mengucapkan ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ. Sebab, setiap genggam tanah dapat menjadi pot dan tempat tumbuh bagi kebanyakan tumbuhan. Jika demikian, dalam setiap genggam tanah harus terdapat pabrik-pabrik maknawi dalam skala amat kecil, sejumlah seluruh pabrik yang telah dibuat manusia. Ini mustahil sampai taraf yang tidak terhingga. Atau, semua itu terjadi dengan kuasa tanpa batas, ilmu tanpa akhir, dan kehendak Sang Qadîr Mutlak. Jadi, melalui seluruh bagian dan partikelnya, unsur tanah mengucapkan
ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
tanpa batas karena menjadi tempat terwujudnya hal-hal itu. Artinya: dari azali hingga abadi, seluruh persembahan kehidupan dari seluruh makhluk hidup hanya milik Zat Wâjibul Wujûd, Zat yang keberadaan-Nya niscaya.
Kemudian, sebagaimana dalam dunia pribadi setiap orang, unsur air yang menjadi unsur kedua dalam dunia pribadiku pun merupakan suatu bahasa yang menyeluruh. Melalui semua partikelnya, khususnya melalui perannya bagi asal mula dan kehidupan makhluk hidup, ia menyebarkan kata yang diberkahi ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ melalui keadaan masing-masing di kainat, sejumlah triliunan dan kuadriliunan.
Sebab, tugas-tugas yang dilakukan tetes-tetes air, terutama dalam membangkitkan sel-sel benih, biji, dan benih tumbuhan agar terbangun dan menerima tugas-tugas yang sesuai dengan fitrahnya, serta keadaan makhluk-makhluk kecil dan anak-anak makhluk yang amat menakjubkan, indah, dan luar biasa itu dalam menerima tugas-tugas yang besar, sangat teratur, dan sempurna, membuat seluruh makhluk berkesadaran memberi ucapan berkat dan mengatakan bârekellah. Keadaan makhluk-makhluk yang diberkahi itu layak menjadi sarana bagi ucapan bârekellah dan mâşâallah tanpa batas. Untuk itu, setiap partikel unsur air harus mempunyai ilmu seperti ribuan Plato, serta hikmah dan kehendak seperti ribuan Hakîm-i Lokman. Ini mustahil sebanyak partikel-partikel air.
Jadi, melalui kuasa, rahmat, hikmah, dan kehendak tanpa batas dari Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan Ar-Rahmân Ar-Rahîm, makhluk-makhluk yang diberkahi itu menjadi tempat tampaknya mukjizat-mukjizat yang tidak terhingga. Mereka mengucapkan kata-kata
ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
dengan maknanya yang menyeluruh, sebanyak seluruh makhluk yang diberkahi itu. Karena itu, pada Malam Mikraj, Nabi kita ﷺ, yang menjadi hasil penciptaan alam, mengucapkan
ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
atas nama seluruh makhluk. Artinya: semua keadaan dan karya yang menjadi alasan bagi ucapan selamat, mâşâallah, dan bârekellah ini hanya milik kuasa Zat Dzul-Jalâl. Karena itu, dengan hadir di hadapan-Nya, beliau mempersembahkan seluruh
ﺍَﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
yang tidak terhingga itu kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Kemudian, setiap partikel dalam setiap genggam udara, sebesar hüve, dalam dunia pribadi setiap orang pun mengucapkan kalimat
ﺍَﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
melalui keadaan masing-masing. Kalimat ini menyatakan seluruh doa, selawat, permohonan, dan ibadah dalam tugas-tugas sebagai sentral, penerima, dan pemancar yang diberikan kepada partikel-partikel itu. Unsur udara menjadi suatu bahasa yang menyeluruh, mengucapkan kata-katanya yang tidak terhingga itu sejumlah kuadriliunan, bahkan kuintiliunan, lalu mempersembahkannya kepada Sang Pembuat dan Sang Penciptanya. Karena itu, atas nama mereka dan dengan makna yang menyeluruh itu, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ mempersembahkan
ﺍَﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Artinya: “Seluruh doa, permohonan yang timbul dari kebutuhan, syukur yang lahir dari nikmat, ibadah, dan salat hanya milik Sang Khâliq segala sesuatu.” Sebab, sebagaimana dikatakan dalam catatan kaki “Hüve Nüktesi”: setiap partikel dalam segenggam udara sebesar hüve harus mengetahui seluruh bahasa, melihat tempat orang-orang yang berbicara, mendengar segala sesuatu yang dekat dan jauh, mengetahui dengan sempurna setiap logat dan cara setiap huruf diucapkan, serta memiliki kuasa mutlak dan kehendak sempurna untuk melakukan banyak pekerjaan sekaligus tanpa keliru. Ini mustahil sebanyak partikel-partikel udara. Karena itu, tentu dan pasti, dengan keharusan yang tidak diragukan, setiap partikel itu memperlihatkan dan memberi kesaksian akan Sang Pembuat Yang Hakîm beserta seluruh sifat-Nya. Seolah-olah, pada ukuran yang kecil, kesaksiannya sebesar kesaksian agung kainat.
Jadi, dalam Mikraj Ahmad ﷺ diucapkan
ﺍَﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
, yang menyatakan selawat-selawat sebanyak partikel-partikel udara.
Kemudian, ketika kata yang baik ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ diucapkan, tiba-tiba unsur “nâr” (api) dan “nur” (cahaya)—yakni unsur cahaya jasmani dan rohani, yang mengandung panas maupun tidak—menjadi suatu bahasa yang menyeluruh. Melalui keadaannya dan melalui bahasa-bahasa yang tidak terhingga, ia mengucapkan
ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
tanpa batas dan tanpa akhir. Artinya: “Seluruh kata yang indah, makna yang indah, keindahan luar biasa, dan manifestasi Asmaul Husna yang azali, yang keindahannya tampak pada wajah seluruh kainat; iman seluruh ahli iman, terutama para nabi, wali, dan insan pilihan; keindahan kainat dan makhluk-makhluk yang terlihat; kata-kata indah, pujian, syukur, tauhid, tahlil, tasbih, dan takbir yang lahir dari iman ahli iman; kata-kata yang baik yang menuju ‘Arsy terbesar dengan rahasia
ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻳَﺼْﻌَﺪُ ﺍﻟْﻜَﻠِﻢُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺐُ
; keindahan dan hal-hal baik yang tidak terhingga pada wajah pertama dunia, yang di antara tiga wajah dunia amat indah dan menjadi cermin Asma Ilahi; serta kebaikan, kebajikan, buah rohani, dan keindahan tanpa batas pada wajah kedua dunia, yang menjadi ladang akhirat—semuanya hanya milik Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sultan dari azali hingga abadi.” Dengan maksud mempersembahkan ubudiyah yang menyeluruh itu kepada Sang Ma’bûd Dzul-Jalâl, melalui bahasa menyeluruh unsur api dan cahaya, Kebanggaan kainat ﷺ mengucapkan
ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
atas nama seluruh makhluk. Sebab, dalam segenap tugas yang diterimanya, unsur cahaya jasmani dan rohani mempunyai miliaran contoh yang, bersama-sama maupun satu per satu, menunjuk dan memberi kesaksian akan Zat Wâjibul Wujûd.
Ya, seperti unsur tanah, udara, dan air, unsur cahaya dan api memperlihatkan melalui contoh-contoh itu, dengan amat pasti, jelas, dan niscaya, bahwa seluruh sebab hanyalah suatu tirai. Seluruh penciptaan dan pengaruh milik Zat Qadîr Dzul-Jalâl. Sebab, seperti keberadaan dan kehidupan, cahaya layak menerima langsung tindakan kuasa Ilahi tanpa tirai. Sebab-sebab yang tampak tidak dapat menjadi tirai dari sisi mana pun. Karena itu, di dalam Wahidiyah (keesaan Allah سُبْحَانَهُ yang tampak pada keseluruhan), ia memperlihatkan Ahadiyah (keesaan Allah سُبْحَانَهُ yang tampak pada setiap sesuatu). Dalam tugas yang amat terbatas dan kecil, ia menunjuk suatu bukti Ahadiyah yang menyeluruh dan luas. “Hüve Nüktesi”, beserta catatan-catatan kakinya, membuktikan hal ini dengan amat singkat. Dari miliaran contohnya, berikut dua contoh kecil:
Pertama: Suatu bagian kecil dari manifestasi cahaya rohani dalam bentuk ilmu di kepala manusia. Di kepala seseorang yang memiliki daya ingat sebesar kuku, kata-kata dari sembilan puluh kitab tertulis. Dengan bekerja tiga jam setiap hari selama tiga bulan, ia baru dapat menyelesaikan bagian itu saja dari halaman ingatannya. Orang yang sama, kapan pun ia mau, dapat merujuk makna, kata, rupa, dan suara yang dilihat dan didengarnya selama delapan puluh tahun hidupnya, yang membangkitkan rasa ingin tahu dan menyenangkannya. Pada halaman daya ingat yang sebesar kuku itu, sebesar suatu perpustakaan besar, ia menemukan semua yang diinginkannya dari hal-hal yang tersimpan: sama persis, tersedia, tertulis dan tersusun teratur.
Keadaan ini tidak akan terjadi jika daya ingat yang sebesar kuku itu tidak mempunyai keluasan seperti samudra raya, cahaya yang meliputi seperti matahari, sinar rohani, dan halaman-halaman seluas permukaan bumi. Ini mustahil, berlapis-lapis mustahil sampai ratusan ribu tingkat, dan tidak mungkin. Jadi, tentu dan pasti, daya ingat kecil sebesar kuku itu memberi kesaksian suci bahwa Sang ‘Alîm Mutlak, Yang Mengetahui tanpa batas, dengan ilmu, hikmah, dan kuasa-Nya menciptakan suatu contoh Lauhul Mahfuz dalam kepala manusia. Lauhul Mahfuz itu merupakan suatu halaman takdir dan kuasa-Nya.
Contoh kedua yang terbatas dan kecil ialah listrik. Seseorang meneliti keadaan lampu listrik yang menakjubkan. Ia melihat bahwa partikel dan bahan dalam ratusan tombol, sentral, serta kawat besi dan benang kawat tidak hidup, tidak sadar, dan tidak bergerak. Namun, sebagai hasil dari suatu sentuhan yang amat kecil, gelap yang memenuhi ruang sepuluh kilometer segera hilang, lalu muncul cahaya yang memenuhi tempatnya dalam setengah detik. Hilangnya gelap yang terlihat ini secara tiba-tiba, serta munculnya cahaya sebesar gelap itu yang juga terlihat, tentu bukan khayal. Maka, partikel-partikel yang tidak hidup dan tidak sadar yang bersentuhan itu harus membawa dalam dirinya daya dan cahaya tanpa batas, sekaligus mengulurkan tangannya ke tempat-tempat sejauh seratus kilometer, menyapu dan membersihkan gelap, lalu memenuhi tempat itu dengan cahaya. Sekalipun seluruh setan, orang yang tidak beragama, dan kaum materialis berkumpul, mereka tidak dapat membuat seorang sofis—orang yang memakai penalaran semu—menerima hal itu.
{(Catatan kaki): Hanya untuk menipu, mereka memberi suatu nama pada hakikat-hakikat yang dalam dan penting, lalu membuatnya tampak biasa seolah-olah hakikat itu telah dipahami. Misalnya, dengan berkata, “Ini adalah tenaga listrik,” mereka menjadikan hakikat yang halus dan dalam itu tidak penting dan memperlihatkannya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal hikmah-hikmah mukjizat kuasa itu baru dapat diungkapkan dalam dua halaman. Dengan memberi satu nama saja, mereka menyembunyikan hakikat dan hikmah yang menyeluruh itu, lalu menggantinya dengan suatu tirai yang amat kecil dan sederhana. Mereka menyandarkan karya yang mengandung mukjizat itu kepada daya buta, kebetulan yang tidak tentu arah, dan tabiat yang hanya dibayangkan, lalu jatuh ke tingkat yang lebih bodoh daripada Abu Jahal. Manusia, karena tidak berdaya mengetahui hakikat salah satu hukum adatullah—hukum-hukum yang menjadi sebutan bagi ketentuan kehendak Ilahi—memberi nama “listrik” pada hakikat hukum itu. Dengan menjadikan mukjizat kuasa yang luar biasa dalam penerangan tampak biasa dan memberi nama “tenaga listrik” seolah-olah ia sesuatu yang sudah diketahui, mereka secara bodoh membuat begitu banyak mukjizat luar biasa dari kuasa Ilahi tampak biasa.}
Atau, semua itu terjadi melalui kuasa dan hikmah Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang ‘Allâmul-Ghuyûb, Yang Mengetahui segala yang gaib, dan Sang ‘Alîm Mutlak. Ketetapan-Nya berlaku atas seluruh kainat, dan seluruh cahaya mendapat limpahan dari Asma-Nya, An-Nûr. Dialah Cahaya dari cahaya, Khâliq cahaya (Pencipta cahaya), dan Pengatur cahaya. Berdasarkan perbandingan dengan kedua contoh ini, ada contoh-contoh lain yang tidak terhingga.
Sebagaimana kainat, melalui bahasa unsur cahaya, mempersembahkan seluruh cahaya, keindahan, hal-hal yang baik, kata-kata yang baik, kebajikan, dan kesempurnaan di seluruh kainat kepada Zat Dzul-Jalâl melalui
ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
, demikian pula Muhammad ﷺ, hasil penciptaan kainat dan sebab penciptaan alam, mengucapkan
ﺍَﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ
dengan makna yang menyeluruh itu pada Malam Mikraj. Beliau mengucapkannya atas nama seluruh yang ada di kainat, yang kepada mereka beliau diutus.
Setelah Rasul Yang Paling Mulia (Aleyhissalâtü Vesselâm biadedi zerrati'l-enam) mengucapkan empat kata yang indah itu sebagai salam, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq membalas dengan
اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ
, sebagaimana dijelaskan dalam Risale-i Nur. Balasan itu menjadi suatu isyarat bahwa seluruh umat akan mengucapkannya demikian, serta menjadi perintah dan titah rohani, sekaligus menyatakan bahwa salam itu diterima. Tiba-tiba, dengan mengucapkan
اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﻋِﺒَﺎﺩِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤ۪ﻴﻦَ
, Nabi ﷺ meluaskan salam suci itu kepada dirinya sendiri, umatnya, dan semua nabi seperti beliau yang datang sebelumnya. Beliau menjadikannya suatu salam yang menyeluruh dan umum. Sebagai utusan kepada seluruh makhluk, beliau meluaskan salam itu kepada mereka juga.
Ucapan umat
اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ
dalam setiap salat merupakan kepatuhan terhadap perintah dan titah dalam salam Ilahi itu. Ia juga merupakan baiat kepada beliau: setiap hari mereka memperbarui baiatnya, yakni menerima tugas kerasulan beliau dan memperbarui ketaatan kepada titah-titah yang dibawanya. Ia juga merupakan ucapan selamat atas kerasulan beliau. Setiap hari, melalui kata-kata ini, seluruh dunia Islam menyampaikan terima kasih atas kabar gembira tentang kebahagiaan abadi yang beliau bawa.
Ya, sebagaimana setiap manusia merasa pedih karena tubuhnya akan lenyap, ia juga merasa sakit ketika rumahnya hancur. Ia sangat sedih ketika tanah airnya rusak. Perpisahan dan kematian sahabat-sahabatnya melukai hatinya dalam-dalam. Memikirkan lenyap dan terpisahnya dunia yang khas dan pribadi, yang sebesar dunia, serta kehancurannya sepenuhnya pada akhirnya, membakar ruh dan nuraninya seperti neraka rohani.
Maka, setiap orang yang berakal sehat, selama ia tidak kehilangan ruh, hati, dan akal, akan mengetahui hal ini: terhadap kabar gembira tentang kebahagiaan abadi yang dilihat langsung oleh Muhammad dari bangsa Arab ﷺ pada Malam Mikraj; kabar baik tentang kehidupan kekal ahli iman di surga; serta hadiah rohani yang amat membahagiakan berupa kepastian bahwa orang-orang tercinta yang mempunyai hubungan dengan manusia tidak musnah dan akan ditemui kembali setelah mereka pergi, seluruh dunia Islam mengucapkan
اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ
berkali-kali setiap hari.
Melalui hadiah rohani yang beliau bawa, halaman-halaman dan lapisan-lapisan kainat menjadi surat-surat dari Ash-Shamad, dan nilai serta kesempurnaan sejati makhluk-makhluk tampak melalui kerasulan beliau. Sebagai balasan atas hal itu, seluruh makhluk secara rohani mengucapkan
اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ
melalui bahasa hakikat yang telah disebutkan ini. Adapun saling mengucapkan
اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ
di antara umat, yang termasuk syiar Islam, menjadi sunnah karena merupakan suatu sinar dari hakikat besar ini.
ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ
Said Nursî
--