Risalah Nur — Bahasa Indonesia

HIKMAH KEDUA

Perbandingan Iman dan Kekufuran · Bahasa Indonesia

HIKMAH KEDUA

Hubungan, cinta, dan ikatan yang sangat kuat serta mendasar antara perempuan dan laki-laki tidak hanya berasal dari kebutuhan hidup duniawi. Ya, seorang perempuan bukan hanya pendamping hidup suaminya khusus untuk kehidupan dunia. Ia juga menjadi pendamping hidup dalam kehidupan yang kekal. Karena ia juga menjadi pendamping suaminya dalam kehidupan yang kekal, tentu ia harus menghindari menarik pandangan orang lain kepada keindahan dirinya, selain pandangan suaminya yang merupakan sahabat dan teman untuk selama-lamanya. Ia tidak boleh membuat suaminya sakit hati dan cemburu.

Karena suaminya seorang mukmin, melalui rahasia iman hubungan sang suami dengannya tidak terbatas pada kehidupan dunia dan tidak hanya berupa cinta sementara yang bersifat hewani serta khusus untuk masa cantiknya. Suaminya terikat kepadanya dengan cinta yang mendasar dan sungguh-sungguh serta rasa hormat, karena ia juga merupakan pendamping hidup dalam kehidupan yang kekal. Suaminya membawa rasa hormat dan cinta yang sungguh-sungguh itu bukan hanya ketika ia muda dan cantik, melainkan juga ketika tua dan tidak cantik. Tentu, sebagai balasannya, sang istri juga harus mengkhususkan keindahan dirinya bagi pandangan suaminya dan mencurahkan cintanya hanya kepadanya. Inilah tuntutan sifat manusia. Jika tidak, ia memperoleh sangat sedikit, tetapi kehilangan sangat banyak.

Menurut syariat, suami harus sekufu dengan istri, yaitu sesuai satu sama lain. Segi terpenting dalam kesesuaian dan kesetaraan ini ialah ketaatan beragama.

Betapa beruntungnya suami yang memperhatikan ketaatan beragama istrinya dan meneladaninya, lalu menjadi taat beragama agar tidak kehilangan pendampingnya dalam kehidupan yang kekal.

Berbahagialah perempuan yang memperhatikan ketaatan beragama suaminya, lalu menjadi bertakwa dengan berkata, "Jangan sampai aku kehilangan sahabatku untuk selama-lamanya."

Celakalah laki-laki yang terjerumus dalam hawa nafsu, yang akan membuatnya kehilangan istrinya yang salehah untuk selama-lamanya. Betapa malangnya perempuan yang tidak meneladani suaminya yang bertakwa dan kehilangan sahabat yang diberkahi untuk selama-lamanya itu.

Seribu kali celaka bagi suami dan istri malang yang meniru kefasikan dan hawa nafsu satu sama lain. Mereka saling membantu untuk terlempar ke dalam api.

HIKMAH KETIGA

Kebahagiaan hidup sebuah keluarga berlangsung melalui saling percaya serta rasa hormat dan cinta yang tulus antara suami dan istri. Tidak menutup aurat dan berpakaian terbuka merusak kepercayaan itu, serta mematahkan rasa hormat dan cinta satu sama lain. Sebab, dari sepuluh perempuan yang berpakaian terbuka, hanya ada satu yang tidak berusaha membuat laki-laki asing mencintainya karena ia tidak melihat laki-laki yang lebih tampan daripada suaminya. Sembilan yang lain melihat laki-laki yang lebih baik daripada suaminya. Dari dua puluh laki-laki, hanya ada satu yang tidak melihat perempuan yang lebih cantik daripada istrinya. Saat itu, selain lenyapnya cinta yang tulus dan rasa hormat satu sama lain, hal ini dapat menyebabkan bangkitnya perasaan yang sangat buruk dan sangat hina. Demikianlah:

Secara fitrah, manusia tidak dapat memiliki perasaan syahwat terhadap mahramnya, seperti saudara perempuan. Sebab, wajah seorang mahram membangkitkan kasih sayang dan cinta yang halal karena hubungan kerabat serta status mahram, sehingga mematahkan kecenderungan nafsu dan syahwat. Namun, membiarkan terbuka bagian-bagian tubuh yang menurut syariat tidak boleh diperlihatkan bahkan kepada mahram, seperti tungkai, dapat menyebabkan bangkitnya perasaan yang sangat buruk pada nafsu-nafsu yang hina. Sebab, wajah seorang mahram menunjukkan status mahramnya dan tidak menyerupai yang bukan mahram. Namun, misalnya, tungkai yang terbuka sama dengan tungkai orang yang bukan mahram. Karena tidak memiliki tanda pembeda yang menunjukkan status mahram, hal itu dapat membangkitkan tatapan nafsu hewani pada sebagian mahram yang hina. Tatapan seperti ini merupakan jatuhnya martabat manusia yang membuat bulu kuduk merinding!

HIKMAH KEEMPAT

Telah diketahui bahwa banyaknya keturunan diinginkan oleh semua orang. Tidak ada bangsa atau pemerintahan yang tidak mendukung bertambahnya keturunan. Bahkan, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:

ﺗَﻨَﺎﻛَﺤُﻮﺍ ﺗَﻜَﺎﺛَﺮُﻭﺍ ﻓَﺎِﻧّ۪ﻰ ﺍُﺑَﺎﻫ۪ﻰ ﺑِﻜُﻢُ الْاُمَمَ

-ev kema kal-. Artinya, "Menikahlah, perbanyaklah keturunan. Pada hari kiamat, aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian."

Padahal, menghapuskan penutup aurat tidak memperbanyak pernikahan, melainkan sangat menguranginya. Sebab, bahkan seorang pemuda yang paling liar dan mengikuti gaya zaman pun menginginkan pendamping hidup yang menjaga kehormatannya. Karena ia tidak ingin pendampingnya mengikuti gaya zaman seperti dirinya, yaitu berpakaian terbuka, ia tetap membujang, bahkan mungkin menempuh perbuatan zina.

Perempuan tidak demikian; ia tidak dapat membatasi suaminya hanya untuk dirinya sampai tingkat itu. Sebab, sebagai pengelola urusan dalam rumah tangga, ia bertugas menjaga seluruh harta, anak-anak, dan segala sesuatu milik suaminya. Karena itu, sifatnya yang paling mendasar ialah setia dan dapat dipercaya. Berpakaian terbuka merusak kesetiaan ini, menghilangkan kepercayaan suaminya kepadanya, dan membuat suaminya tersiksa oleh hati nurani. Bahkan, keberanian dan kedermawanan, dua sifat yang baik pada laki-laki, jika terdapat pada perempuan, termasuk akhlak buruk dan dianggap sifat yang tidak baik karena membahayakan kepercayaan serta kesetiaan ini. Namun, tugas suaminya terhadapnya bukan menjaga harta dan bersikap setia, melainkan melindungi, mengasihi, dan menghormati. Karena itu, laki-laki tersebut tidak dibatasi hanya untuknya dan dapat menikahi perempuan lain juga.

Negeri kita tidak dapat disamakan dengan Eropa. Sebab, di sana, di tengah aurat yang terbuka, kehormatan sampai tingkat tertentu dijaga dengan cara-cara yang sangat keras, seperti duel. Orang yang memandang istri seseorang yang memiliki harga diri dengan pandangan kotor harus menggantungkan kain kafan di lehernya terlebih dahulu, baru memandang. Selain itu, tabiat orang-orang di Eropa, yang merupakan negeri-negeri dingin, juga dingin dan kaku seperti negerinya. Dibandingkan dengannya, Asia ini, yaitu benua dunia Islam, merupakan negeri-negeri panas. Telah diketahui bahwa lingkungan memengaruhi akhlak manusia. Pada orang-orang yang dingin di negeri dingin itu, membuka aurat untuk membangkitkan nafsu hewani dan merangsang keinginan mungkin tidak menimbulkan banyak penyalahgunaan dan tindakan berlebihan.

Namun, di negeri-negeri panas, manusia mudah terpengaruh dan peka. Membuka aurat, yang terus-menerus membangkitkan nafsu mereka, tentu menyebabkan banyak penyalahgunaan dan tindakan berlebihan, melemahnya keturunan, serta merosotnya kekuatan. Berhadapan dengan kebutuhan fitrah sekali dalam sebulan atau dua puluh hari, seseorang menganggap dirinya harus berlebihan setiap beberapa hari. Saat itu, karena ia harus menjauhi istrinya selama sekitar lima belas hari setiap bulan akibat keadaan seperti haid, jika ia dikalahkan oleh nafsunya, ia juga condong kepada perbuatan zina.

Orang-orang kota tidak dapat menghapuskan penutup aurat dengan mencontoh penduduk desa dan kaum nomaden. Sebab, di desa dan pada kaum nomaden, karena sibuk mencari nafkah serta bekerja dan lelah secara fisik, perempuan-perempuan pekerja yang polos dan sampai tingkat tertentu kasar itu lebih sedikit menarik tatapan tajam daripada perempuan kota,

keadaan mereka yang sebagian terbuka tidak membangkitkan nafsu. Selain itu, karena hanya sedikit laki-laki liar dan penganggur, keburukan yang terdapat pada mereka bahkan tidak mencapai sepersepuluh keburukan di kota. Maka, mereka tidak dapat dijadikan perbandingan.

Pertanyaan Keempat Surat Pertama

Sebagaimana cinta majasi kepada orang-orang yang dikasihi berubah menjadi cinta hakiki, apakah cinta majasi terhadap dunia, yang terdapat pada kebanyakan orang, juga dapat berubah menjadi cinta hakiki?

Jawaban:

Ya. Jika orang yang mencintai sisi dunia yang fana melihat buruknya sisi itu karena akan berlalu dan lenyap, lalu berpaling darinya dan mencari Kekasih Yang Kekal, serta berhasil memandang dua sisi dunia lainnya yang amat indah, yang menjadi cermin Asma Allah سُبْحَانَهُ dan ladang akhirat, maka cinta majasi yang tidak dibenarkan itu mulai berubah menjadi cinta hakiki. Namun, dengan satu syarat: ia tidak mencampuradukkan dunianya sendiri, yang akan berlalu, terikat pada kehidupannya, dan tidak tetap, dengan dunia di luar dirinya.

Jika seperti orang-orang yang sesat dan lalai, ia melupakan dirinya, tenggelam dalam alam di luar dirinya, mengira dunia umum sebagai dunianya sendiri, lalu mencintainya, ia jatuh ke rawa tabiat dan tenggelam. Kecuali, dengan cara yang luar biasa, Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ menyelamatkannya. Untuk menjelaskan hakikat ini, perhatikan perumpamaan berikut. Misalnya:

Jika pada keempat dinding kamar yang indah berhias ini terdapat empat cermin seluruh tubuh milik kami berempat, maka ada lima kamar: satu kamar nyata dan umum, serta empat kamar berupa gambaran dan pribadi... Melalui cermin masing-masing, setiap orang dari kami dapat mengubah

bentuk, susunan, dan warna kamar pribadinya. Jika kami membubuhkan cat merah, ia tampak merah; jika kami mewarnainya hijau, ia tampak hijau, dan seterusnya... Dengan mengubah cermin, kami dapat memberinya banyak keadaan: memperburuk, memperindah, dan membuatnya tampil dalam berbagai bentuk. Namun, kami tidak dapat dengan mudah mengatur dan mengubah kamar umum yang berada di luar cermin. Meskipun kamar pribadi dan kamar umum pada hakikatnya sama, hukum yang berlaku pada keduanya berbeda. Engkau dapat menghancurkan kamarmu dengan satu jari, tetapi tidak dapat menggerakkan satu batu pun pada kamar yang lain.

Demikianlah, dunia adalah tempat tinggal yang berhias. Kehidupan masing-masing dari kita adalah cermin seluruh tubuh. Dari dunia ini, setiap orang dari kita memiliki dunianya sendiri dan alamnya sendiri. Namun, tiang, pusat, dan pintunya adalah kehidupan kita. Bahkan, dunia dan alam pribadi kita itu merupakan satu halaman. Kehidupan kita adalah pena; dengannya banyak hal ditulis untuk masuk ke dalam halaman amal kita.

Jika kita mencintai dunia kita, kemudian melihat, merasakan, dan mengetahui bahwa karena dibangun di atas kehidupan kita, dunia kita akan berlalu, fana, dan tidak tetap seperti kehidupan kita, maka cinta kita kepadanya beralih menuju ukiran indah Asma Allah سُبْحَانَهُ yang dicerminkan dan diwakili oleh dunia pribadi kita; dari sana, cinta itu beralih kepada manifestasi Asma-Nya.

Selain itu, jika kita memahami bahwa dunia pribadi kita merupakan tempat pembibitan sementara bagi akhirat dan surga, lalu mengalihkan perasaan kita seperti hasrat yang kuat, keinginan, dan cinta terhadapnya kepada manfaat akhirat yang menjadi hasil, buah, dan tunasnya, maka cinta majasi itu berubah menjadi cinta hakiki.

Jika tidak, ia mengalami rahasia

ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎَﻧْﺴٰﻴﻬُﻢْ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ

, melupakan dirinya, tidak memikirkan berlalunya kehidupan, menganggap dunia pribadinya yang tidak tetap itu kokoh seperti dunia umum, membayangkan dirinya tidak akan mati, lalu melekat pada dunia dan memeluknya dengan perasaan yang kuat; ia tenggelam di dalamnya dan habis. Cinta itu baginya merupakan bencana dan azab yang tak terhitung. Sebab, cinta itu melahirkan kasih sayang laksana seorang yatim dan kelembutan hati yang putus asa. Ia mengasihani semua makhluk hidup; bahkan, terhadap semua makhluk indah yang akan berlalu, ia merasakan kelembutan hati dan kepedihan berpisah. Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan menderita dalam putus asa yang mutlak.

Namun, orang pertama yang terbebas dari kelalaian menemukan penawar yang mulia terhadap kepedihan kasih sayang yang kuat itu: di tengah kematian dan berlalunya semua makhluk hidup yang ia kasihani, ia melihat bahwa cermin ruh mereka tetap ada dan mencerminkan manifestasi yang terus berlangsung dari Asma yang kekal milik Zat Yang Kekal; kasih sayangnya berubah menjadi kegembiraan.

Selain itu, di balik semua makhluk indah yang akan berlalu dan lenyap, ia melihat ukiran dan

upaya memperindah, seni, hiasan, ihsan, serta pemberian cahaya yang terus berlangsung, yang membuatnya merasakan Keindahan Yang Suci dan Keelokan Yang Kudus. Ia memandang berlalunya dan lenyapnya makhluk itu sebagai penyegaran untuk menambah keindahan, memperbarui kenikmatan, serta memperlihatkan seni; maka kenikmatan, semangat, dan rasa takjubnya bertambah.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ

Said Nursî

--

(Dari Surat Kesembilan)

Ketiga: Aku melihat bahwa orang yang paling bahagia dalam kehidupan dunia ini ialah orang yang memandang dunia sebagai rumah singgah tentara, benar-benar memahaminya demikian, dan bertindak sesuai dengan itu. Dengan pandangan itu, ia dapat segera memperoleh tingkatan paling besar, yaitu tingkatan rida. Ia tidak memberikan harga berlian yang tetap ada untuk membayar botol yang akan pecah; ia menjalani hidup dengan lurus dan nikmat.

Ya, urusan dunia berkedudukan sebagai botol-botol yang pasti pecah, sedangkan urusan akhirat yang kekal bernilai seperti berlian yang amat kukuh. Rasa ingin tahu yang kuat, kecintaan yang membara, hasrat yang dahsyat, tuntutan yang keras kepala, dan perasaan kuat lainnya dalam fitrah manusia diberikan untuk memperoleh urusan akhirat. Mengarahkan perasaan-perasaan itu secara kuat kepada urusan dunia yang fana berarti memberikan harga berlian yang kekal untuk botol-botol yang fana dan akan pecah. Sehubungan dengan ini, terlintas suatu pokok yang akan kusampaikan. Sebagai berikut:

Cinta yang membara adalah kecintaan yang kuat. Ketika diarahkan kepada kekasih yang fana, cinta itu membiarkan pemiliknya terus-menerus berada dalam azab dan kepedihan, atau membuatnya mencari Kekasih Yang Kekal karena kekasih majasi itu tidak sepadan dengan harga kecintaan yang kuat tersebut; cinta majasi berubah menjadi cinta hakiki.

Pada manusia terdapat ribuan perasaan. Seperti cinta yang membara, masing-masing memiliki dua tingkatan: satu bersifat kiasan, satu hakiki.

Misalnya, setiap orang memiliki rasa khawatir terhadap masa depan. Ketika merasa sangat khawatir, ia melihat bahwa ia tidak memiliki jaminan untuk mencapai masa depan yang ia khawatirkan itu. Selain itu, masa depan yang singkat dan rezekinya berada di bawah jaminan tidak sepadan dengan kekhawatiran yang kuat itu. Ia berpaling darinya menuju masa depan setelah kubur, yang nyata, panjang, dan bagi orang-orang lalai tidak berada di bawah jaminan.

Selain itu, ia menunjukkan hasrat yang kuat terhadap harta dan kedudukan. Ia melihat bahwa harta fana yang sementara dipercayakan kepadanya, ketenaran yang mengandung bencana, serta kedudukan yang berbahaya dan menjadi sarana riya tidak sepadan dengan hasrat yang kuat itu. Darinya, ia beralih kepada

kedudukan yang hakiki, yaitu tingkatan-tingkatan ruhani dan derajat dekat kepada Allah سُبْحَانَهُ, bekal akhirat, serta harta yang hakiki, yaitu amal saleh. Hasrat kiasan yang merupakan sifat buruk berubah menjadi hasrat hakiki yang merupakan sifat luhur.

Selain itu, misalnya, dengan sikap sangat keras kepala ia mencurahkan perasaannya kepada urusan yang tidak penting, akan berlalu, dan fana. Ia melihat bahwa selama setahun ia bersikeras pada sesuatu yang tidak layak dipertahankan dengan keras kepala walau semenit. Atas nama sikap keras kepala, ia pun terus bertahan pada sesuatu yang berbahaya dan beracun. Ia melihat bahwa perasaan yang kuat ini tidak diberikan untuk hal-hal seperti itu. Mencurahkannya kepada semua itu bertentangan dengan hikmah dan hakikat. Maka, ia tidak memberikan sikap keras kepala yang kuat itu kepada urusan yang tidak perlu dan akan berlalu, melainkan mencurahkannya kepada hakikat-hakikat iman yang luhur dan kekal, asas-asas Islam, dan khidmah untuk akhirat. Sikap keras kepala yang bersifat kiasan, sifat yang hina itu, berubah menjadi keteguhan hakiki, sifat yang indah dan luhur; yakni, berpegang sangat teguh pada kebenaran.

Seperti ketiga contoh ini, jika manusia memakai perangkat batin yang diberikan kepadanya demi nafsu dan dunia, serta bertindak lalai seakan-akan akan tinggal kekal di dunia, semua itu menjadi sarana bagi akhlak hina, pemborosan, dan hal yang sia-sia. Jika ia mencurahkan perasaan yang ringan kepada urusan dunia dan yang kuat kepada tugas akhirat serta ruhani, semua itu menjadi asal akhlak terpuji dan, sesuai dengan hikmah serta hakikat, menjadi sarana kebahagiaan di kedua negeri.

Aku memperkirakan salah satu sebab nasihat para pemberi nasihat tidak berpengaruh pada zaman ini ialah: Kepada orang yang tidak berakhlak mereka berkata, "Jangan dengki! Jangan berhasrat kuat! Jangan memusuhi! Jangan keras kepala! Jangan mencintai dunia!" Yakni, seakan-akan mereka meminta orang-orang itu mengubah fitrah, suatu tuntutan yang secara lahiriah dianggap tidak sanggup dipikul. Jika mereka berkata, "Arahkan semua itu kepada hal yang baik; ubahlah jalur alirannya," nasihat akan berpengaruh dan tuntutan itu pun berada dalam lingkup pilihan mereka.

Keempat: Perbedaan antara "Islam" dan "iman" telah banyak dibahas di antara ulama Islam. Sebagian berkata, "Keduanya satu." Sebagian lain berkata, "Keduanya tidak satu, tetapi salah satunya tidak dapat ada tanpa yang lain." Mereka mengungkapkan banyak pendapat berbeda seperti ini. Aku memahami suatu perbedaan sebagai berikut:

Islam adalah berpegang dan berpihak; iman adalah memahami dengan yakin. Dengan ungkapan lain, Islam ialah berpihak kepada kebenaran, berserah diri, dan tunduk; iman ialah menerima dan membenarkan kebenaran. Dahulu aku melihat beberapa orang tanpa agama yang dengan kuat berpihak kepada hukum-hukum Al-Qur'an. Jadi, dari satu segi orang tanpa agama itu memperoleh Islam melalui sikap berpegang kepada kebenaran; ia dapat disebut "seorang Muslim tanpa agama". Kemudian aku melihat beberapa orang beriman yang tidak berpihak dan tidak berpegang kepada hukum-hukum Al-Qur'an; mereka memperoleh sebutan "seorang mukmin yang tidak Muslim".

Apakah

iman tanpa Islam dapat menjadi sarana keselamatan?

Jawaban:

Sebagaimana Islam tanpa iman tidak menjadi sebab keselamatan, iman tanpa Islam pun tidak dapat menjadi sarana keselamatan. Felillahilhamdü velminnetü, berkat limpahan i'jaz maknawi Al-Qur'an, timbangan-timbangan Risale-i Nur memperlihatkan buah dan hasil agama Islam serta hakikat-hakikat Al-Qur'an dengan cara demikian, sehingga bahkan orang tanpa agama, jika memahaminya, tidak mungkin tidak berpihak kepadanya. Selain itu, timbangan-timbangan itu memperlihatkan dalil dan bukti iman serta Islam dengan begitu kuat, sehingga bahkan orang yang tidak Muslim, jika memahaminya, tentu akan membenarkannya. Meskipun tetap tidak Muslim, ia beriman.

Ya, Sözler memperlihatkan buah iman dan Islam yang manis dan indah seperti buah pohon Tuba di surga, serta hasil-hasil yang nikmat dan manis seperti keindahan kebahagiaan di kedua negeri; kepada orang yang melihat dan mengenalnya, semua itu memberikan rasa berpihak, berpegang, dan berserah diri tanpa batas. Sözler juga memperlihatkan bukti iman dan Islam yang kukuh seperti rangkaian makhluk dan banyak seperti zarah, sehingga memberikan keyakinan tanpa batas dan kekuatan iman.

Bahkan, kadang-kadang ketika mengucapkan syahadat dalam wirid Syah Naqsyaband, saat aku berkata

ﻋَﻠٰﻰ ﺫٰﻟِﻚَ ﻧَﺤْﻴٰﻰ ﻭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻧَﻤُﻮﺕُ ﻭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻧُﺒْﻌَﺚُ ﻏَﺪًﺍ

, aku merasakan sikap berpihak tanpa batas. Seandainya seluruh dunia diberikan kepadaku, aku tidak dapat mengorbankan satu hakikat iman. Membayangkan kebalikan satu hakikat walau semenit terasa sangat pedih bagiku. Jika seluruh dunia menjadi milikku, nafsuku patuh untuk memberikannya tanpa ragu demi terwujudnya satu hakikat iman saja. Ketika aku berkata

ﻭَ ﺍٰﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻤَﺎ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝٍ ﻭَ ﺍٰﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻤَﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﺖَ ﻣِﻦْ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻭَ ﺻَﺪَّﻗْﻨَﺎ

, aku merasakan kekuatan iman tanpa batas. Menurut akal, aku menganggap kebalikan setiap hakikat iman sebagai sesuatu yang mustahil; aku memandang orang-orang sesat amat bodoh dan gila tanpa batas.

Aku menyampaikan banyak salam dan hormat kepada kedua orang tuamu. Hendaknya mereka juga mendoakanku. Karena engkau saudaraku, mereka pun berkedudukan sebagai ayah dan ibuku. Aku juga menyampaikan salam kepada seluruh kampungmu, khususnya kepada orang-orang yang mendengar "Sözler" darimu.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ

Said Nursî

--

(Dari Surat Kedua Puluh Sembilan)

BAGIAN KELIMA, YANG MERUPAKAN RISALAH KELIMA

Pada Ramadan yang mulia, dalam suatu keadaan rohani, kurasakan dan samar-samar kulihat satu cahaya di antara begitu banyak cahaya rahasia ayat yang penuh cahaya

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ

. Demikianlah:

Kulihat suatu peristiwa dalam hati dan khayal yang membuatku yakin bahwa semua makhluk hidup bermunajat kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan munajat yang sama, seperti munajat terkenal Uwais Al-Qarani

ﺍِﻟٰﻬ۪ﻰ ﺍَﻧْﺖَ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻭَ ﺍَﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ٭ ﻭَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻖُ ﻭَ ﺍَﻧَﺎ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻕُ ٭ ﻭَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﻭَ ﺍَﻧَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺯُﻭﻕُ ٭ ﺍﻟﺦ

, dan bahwa cahaya setiap alam dari delapan belas ribu alam adalah satu Asma Allah سُبْحَانَهُ. Demikianlah:

Seperti kuncup mawar dengan banyak kelopak yang saling membungkus, kulihat dalam alam ini ribuan alam yang terbungkus dalam tirai demi tirai, tersembunyi satu di bawah yang lain. Setiap tirai terbuka, kulihat alam lain. Alam itu tampak kepadaku dalam gelap penuh kemuraman, rasa takut, dan kengerian, sebagaimana digambarkan oleh ayat

ﺍَﻭْ ﻛَﻈُﻠُﻤَﺎﺕٍ ﻓ۪ﻰ ﺑَﺤْﺮٍ ﻟُﺠِّﻰٍّ ﻳَﻐْﺸٰﻴﻪُ ﻣَﻮْﺝٌ ﻣِﻦْ ﻓَﻮْﻗِﻪ۪ ﻣَﻮْﺝٌ ﻣِﻦْ ﻓَﻮْﻗِﻪ۪ ﺳَﺤَﺎﺏٌ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ ﺑَﻌْﻀُﻬَﺎ ﻓَﻮْﻕَ ﺑَﻌْﺾٍ ﺍِﺫَﺍ ﺍَﺧْﺮَﺝَ ﻳَﺪَﻩُ ﻟَﻢْ ﻳَﻜَﺪْ ﻳَﺮٰﻳﻬَﺎ ﻭَ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻪُ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻧُﻮﺭٍ

yang berada sesudah Ayat Nur. Tiba-tiba, manifestasi suatu Asma Allah سُبْحَانَهُ terlihat seperti cahaya yang amat besar

dan meneranginya. Tirai mana pun yang terbuka di hadapan akal, di hadapan khayal tampak suatu alam lain, yang gelap karena lalai. Lalu, satu Asma Allah سُبْحَانَهُ bertajalli seperti matahari dan menerangi alam tersebut dari ujung ke ujung. Dan seterusnya... Penjelajahan hati dan perjalanan khayal ini berlangsung lama. Di antaranya:

Ketika kulihat alam hewan, kebutuhan mereka yang tak terhingga dan rasa lapar yang amat besar, bersama keadaan mereka yang lemah dan tak berdaya, membuat alam itu tampak kepadaku sangat gelap dan menyedihkan.

Tiba-tiba, Nama Ar-Rahmân terbit seperti matahari yang bersinar di cakrawala Ar-Razzâq, yakni maknanya, dan menyepuh seluruh alam itu dengan sinar Rahmat.

Kemudian, di dalam alam hewan itu, kulihat suatu alam lain: bayi dan anak-anak hewan berjuang dalam keadaan lemah, tak berdaya, dan membutuhkan, dalam gelap yang menyedihkan dan meluluhkan hati setiap orang.

Tiba-tiba, Nama Ar-Rahîm terbit di cakrawala belas kasih, lalu menerangi alam itu dengan begitu indah dan manis. Tetes air mata yang berasal dari keluhan, hati yang luluh, dan kesedihan pun berubah menjadi tetes air mata yang berasal dari nikmat rasa lega, kegembiraan, dan syukur.

Kemudian, satu tirai lagi terbuka seperti layar bioskop, dan alam manusia tampak kepadaku. Kulihat alam itu begitu gelap, begitu kelam, dan mengerikan sehingga aku berteriak karena ngeri, "Aduh!"

Sebab kulihat bahwa manusia, dengan keinginan dan harapan yang menjangkau hidup selama-lamanya; gambaran dan pikiran yang meliputi kainat; tekad dan kemampuan yang sangat sungguh-sungguh menginginkan hidup yang kekal, kebahagiaan abadi, dan surga; serta keadaan yang serba membutuhkan dan kebutuhan yang tertuju kepada tujuan dan keperluan yang tak terhingga, memandang kubur dan pemakaman. Dalam keadaan lemah dan tak berdaya, di tengah serangan musibah dan musuh yang tak terhingga, mereka berada dalam umur yang amat singkat, kehidupan yang amat gaduh, dan penghidupan yang amat menyedihkan. Mereka terus menghadapi bencana lenyap dan berpisah, keadaan yang paling pedih dan mengerikan bagi hati. Bagi orang-orang yang lalai, kubur tampak seperti pintu gelap selama-lamanya. Satu demi satu dan kelompok demi kelompok, mereka dilemparkan ke dalam sumur gelap itu.

Ketika kulihat alam ini dalam gelap tersebut, seluruh daya halus kemanusiaanku, bersama hati, ruh, dan akalku, bahkan seluruh zarah tubuhku, siap menangis dengan jeritan. Tiba-tiba, Nama Âdil milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq terbit di cakrawala Al-Hakîm; Nama Ar-Rahmân di cakrawala Al-Karîm; Nama Ar-Rahîm di cakrawala Al-Ghafûr, yakni maknanya; Nama Al-Bâ'its di cakrawala Al-Wârits; Nama Al-Muhyî

di cakrawala Al-Muhsin; dan Nama Rabb di cakrawala Al-Mâlik. Semuanya menerangi banyak alam di dalam alam manusia itu, memberikan cahaya, serta membuka jendela-jendela dari alam akhirat yang bercahaya dan menyebarkan cahaya ke dunia manusia yang gelap tersebut.

Kemudian, satu tirai besar lagi terbuka, dan alam bumi terlihat. Hukum-hukum ilmiah filsafat yang gelap memperlihatkan suatu alam mengerikan kepada khayal. Kulihat keadaan umat manusia yang malang, bepergian di ruang alam yang tak terhingga di dalam bola bumi yang tua dan amat berusia lanjut, yang bergerak tujuh puluh kali lebih cepat daripada peluru meriam, menempuh jarak dua puluh lima ribu tahun dalam satu tahun, selalu siap tercerai dan pecah, serta bagian dalamnya penuh gempa. Keadaan itu tampak kepadaku dalam gelap yang menakutkan. Kepalaku pusing dan pandanganku menjadi gelap.

Tiba-tiba, Nama-nama Sang Khâliq bumi dan langit, yaitu Al-Qadîr, Al-'Alîm, Rabb, Allah سُبْحَانَهُ, Rabb langit dan bumi, serta Sang Musahhir matahari serta bulan, terbit di cakrawala Rahmat, Kebesaran, dan Rububiyah. Nama-nama itu menerangi alam tersebut sedemikian rupa sehingga, dalam keadaan itu, kulihat bola bumi sebagai kapal perjalanan yang amat teratur, tunduk, sempurna, menyenangkan, dan aman, yang telah disiapkan untuk berwisata, bersenang-senang, dan berdagang.

Kesimpulannya,

setiap Nama dari seribu satu Nama Allah سُبْحَانَهُ yang tertuju kepada kainat itu bagaikan matahari yang menerangi satu alam beserta alam-alam di dalamnya. Dari segi rahasia Ahadiyah, dalam manifestasi setiap Nama, manifestasi Nama-nama lainnya juga terlihat sampai taraf tertentu.

Kemudian, karena melihat cahaya yang berbeda di balik setiap gelap, keinginan hati untuk bepergian semakin besar. Ia ingin menaiki khayal dan naik ke langit. Pada saat itu, satu tirai yang amat luas lagi terbuka. Hati masuk ke alam langit dan melihat bahwa:

Bintang-bintang yang terlihat bercahaya dan tersenyum itu bergerak dan berputar di antara satu sama lain, lebih besar daripada bola bumi dan lebih cepat daripadanya. Jika salah satunya salah jalan selama satu menit, ia akan bertabrakan dengan yang lain dan meledak sedemikian rupa sehingga kainat akan ketakutan setengah mati dan seluruh alam tercerai. Mereka menyebarkan api, bukan cahaya; memandangku dengan rasa ngeri, bukan senyuman. Kulihat langit dalam gelap yang amat besar, luas, lengang, kosong, mengerikan, dan membingungkan. Aku amat menyesal telah datang.

Tiba-tiba, Asma Allah سُبْحَانَهُ Yang Indah dari

ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ٭ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ ﻭَ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ

, di cakrawala

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑ۪ﻴﺢَ ٭ ﻭَ ﺳَﺨَّﺮَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ

muncul dengan manifestasi-manifestasinya. Melalui makna itu, bintang-bintang yang diselimuti gelap mengambil masing-masing satu kilatan dari cahaya-cahaya agung tersebut. Alam langit pun bercahaya seolah-olah lampu-lampu listrik sebanyak jumlah bintang telah dinyalakan. Langit yang disangka kosong dan lengang itu juga dipenuhi malaikat dan makhluk rohani, lalu menjadi semarak. Kulihat matahari dan bintang-bintang bergerak sebagai suatu pasukan di antara pasukan-pasukan tak terhingga milik Sang Sultan sejak azali hingga selama-lamanya. Seolah-olah melakukan latihan gerak yang luhur, mereka memperlihatkan Kemegahan dan gemerlap Rububiyah Sang Sultan Dzul-Jalâl itu.

Dengan segenap tenagaku, dan jika mungkin dengan seluruh zarahku, serta jika mereka mendengarkanku dengan lisan seluruh makhluk, aku akan mengucapkannya. Aku pun mengucapkan atas nama mereka semua, membaca ayat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻣَﺜَﻞُ ﻧُﻮﺭِﻩ۪ ﻛَﻤِﺸْﻜَﺎﺓٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡٌ ﺍَﻟْﻤِﺼْﺒَﺎﺡُ ﻓ۪ﻰ ﺯُﺟَﺎﺟَﺔٍ ﺍَﻟﺰُّﺟَﺎﺟَﺔُ ﻛَﺎَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﻮْﻛَﺐٌ ﺩُﺭِّﻯٌّ ﻳُﻮﻗَﺪُ ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٍ ﺯَﻳْﺘُﻮﻧَﺔٍ لَا ﺷَﺮْﻗِﻴَّﺔٍ وَلَا ﻏَﺮْﺑِﻴَّﺔٍ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺯَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻳُﻀ۪ٓﻲﺀُ ﻭَﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻤْﺴَﺴْﻪُ ﻧَﺎﺭٌ ﻧُﻮﺭٌ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭٍ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟِﻨُﻮﺭِﻩ۪ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ

. Aku kembali, turun, dan sadar, lalu mengucapkan "Elhamdülillahi alâ nuri'l-iman ve'l-Kur'an".

--

(Dari Gençlik Rehberi)

Suatu Kali Aku Duduk di Jendela Penjara Eskişehir

Ketika siswi-siswi yang sudah besar di sekolah menengah atas di seberang sedang menari sambil tertawa di halaman sekolah, kulihat mereka sebagai bidadari-bidadari neraka dalam surga dunia itu. Namun, tiba-tiba keadaan mereka lima puluh tahun kemudian tampak kepadaku. Tawa mereka berubah menjadi tangisan yang menyakitkan. Dari situ, hakikat berikut tersingkap. Yakni, melalui suatu film rohani dalam khayal, kulihat keadaan mereka lima puluh tahun kemudian: dari enam puluh gadis yang tertawa itu, lima puluh menderita azab di kubur dan telah menjadi tanah. Sepuluh lainnya, pada usia tujuh puluh tahun, telah menjadi buruk rupa dan menarik pandangan benci setiap orang. Aku pun menangisi mereka.

Hakikat fitnah akhir zaman tampak kepadaku: yang paling mengerikan dan memikat dari fitnah itu timbul dari wajah perempuan yang tanpa rasa malu. Ia merampas kebebasan memilih, lalu melemparkan orang ke dalam api hidup bejat seperti ngengat. Ia membuat semenit kehidupan dunia lebih diutamakan daripada kehidupan kekal bertahun-tahun.

Suatu hari, ketika memandang jalan, aku merasakan suatu contoh yang kuat dari fitnah itu. Aku sangat mengasihani para pemuda. Ketika berpikir, "Orang-orang malang ini tidak dapat menyelamatkan diri dari api fitnah yang menarik seperti magnet ini," tiba-tiba suatu pribadi maknawi yang murtad, yang menyalakan dan mengajarkan fitnah itu, menjelma di hadapanku. Aku berkata kepadanya serta orang-orang yang menolak iman dan belajar darinya:

Wahai orang malang yang mengorbankan agamanya demi bersenang-senang dengan bidadari-bidadari neraka; yang dengan suka melakukan kesesatan bejat; yang menerima hidup tanpa agama dan penolakan terhadap iman demi nikmat hawa nafsu; yang memuja kehidupan dan sangat takut mati; yang tidak ingin mengingat kubur dan cenderung murtad! Ketahuilah dengan pasti: dari sudut pandang tanpa agama, seluruh duniamu yang besar ini—sebelum saat ini dan sesudah menit ini—segenap kainatmu, masa lalu dan masa depanmu, jenis dan rumpunmu yang telah berlalu, makhluk serta generasi yang akan datang, dunia-dunia serta bangsa-bangsa yang telah pergi, manusia serta kelompok yang akan datang, semuanya tidak ada dan mati.

Melalui keadaan kesesatanmu, seluruh dunia yang bergerak dan kainat yang mengalir itu, yang mempunyai hubungan denganmu dari segi kemanusiaan serta akal, terus-menerus menghujani kepalamu dengan pedihnya kematian-kematian mengerikan tanpa batas, sepenuh dunia. Jika engkau mempunyai kesadaran, hal itu membakar hatimu. Jika engkau mempunyai ruh, hal itu menghanguskannya. Jika akalmu belum padam, hal itu menenggelamkannya di dalam duka. Jika hidup bejat dalam mabuk selama satu jam dan kenikmatan kotormu dapat mengimbangi duka, kesedihan, dan penderitaan yang tidak berakhir ini, tetaplah dalam hidup bejat itu. Jika tidak, sadarkanlah akalmu! Dengarkan pelajaran Al-Qur'an untuk menyelamatkan diri dari neraka rohani itu, memasuki surga rohani yang dijamin iman bahkan di dunia ini, dan merasakan kebahagiaan hidup. Tukarlah kenikmatan semenit yang terbatas dan sementara dengan kenikmatan yang menyeluruh, kekal, terus-menerus, serta bersumber dari iman. {(): Ya, iman dapat memberikan kenikmatan surga secara rohani bahkan di dunia ini. Dari ratusan cahayanya yang memberi nikmat, perhatikan satu manfaat ini: misalnya, pada saat engkau melihat seseorang yang amat kaucintai sedang mati dalam bahaya, datang seorang dokter seperti Tabib Luqman dan Khidir. Tiba-tiba orang itu hidup kembali. Betapa besar kegembiraan yang kaurasakan!

Demikian pula, iman memberikan kegembiraan dan kebahagiaan sebanyak orang-orang yang telah mati, yang kaucintai dan mempunyai hubungan denganmu. Sebab, jutaan orang yang kaucintai dalam pemakaman masa lalu tiba-tiba hidup kembali di hadapanmu melalui nur iman, lepas dari musnah dan mati. Mereka mendapat kehidupan dengan berkata, "Kami tidak mati dan tidak akan mati." Sebagai ganti pedih tanpa batas yang datang dari perpisahan tanpa batas itu, dari sudut iman, kenikmatan dan kegembiraan yang tidak berakhir datang dari perjumpaan kembali serta hidupnya mereka, bahkan di dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa iman merupakan suatu benih yang menumbuhkan, dan akan menumbuhkan, bulir surga bagi ahli iman dengan seluruh kenikmatan dan keindahannya.}

Jangan pula berkata, "Aku akan menjalani hidup seperti hewan." Sebab, bagi hewan, masa lalu dan masa depan berada dalam keadaan gaib. Dengan tidak memberitahukan yang gaib itu kepada mereka, Allah سُبْحَانَهُ Sang Hakîm Yang Rahîm menyelamatkan mereka dari penderitaan tanpa batas. Bahkan, seekor ayam yang dibaringkan untuk disembelih tidak merasakan sakit atau sedih. Saat pisau memotong, ia hendak merasakan sakit, tetapi rasa itu hilang; ia pun terselamatkan dari rasa sakit itu. Jadi, tidak diberitahukannya yang gaib merupakan Rahmat, Kelembutan, dan Kasih Sayang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang amat besar dan sempurna. Terutama bagi hewan-hewan yang tidak berdosa, hal itu lebih sempurna. Jadi, dalam kenikmatan hidup bejat, engkau tidak dapat menyamai hewan; engkau jatuh ribuan tingkat lebih rendah. Sebab, akalmu melihat hal-hal yang gaib bagi hewan dan merasakan pedihnya. Engkau sepenuhnya kehilangan ketenteraman sempurna yang terdapat dalam tersembunyinya yang gaib.

Selain itu, sifat-sifat baik seperti persaudaraan, penghormatan, dan semangat membela, yang kaubanggakan, terbatas pada waktu yang amat tipis dan tempat sebesar satu jari di suatu padang luas. Dalam waktu tanpa batas, sifat-sifat itu hanya khusus bagi saat ini. Karena itu, semuanya buatan, sementara, palsu, tanpa dasar, dan amat terbatas. Kemanusiaan serta kesempurnaanmu mengecil menurut kadar itu, sampai menjadi tiada. Namun, karena persaudaraan, penghormatan, cinta, dan semangat membela ahli iman meliputi masa lalu serta masa depan yang ada dari sudut iman, kemanusiaan serta kesempurnaannya menjadi tinggi menurut kadar itu.

Keberhasilanmu di dunia pun seperti seorang pedagang berlian Yahudi yang telah gila dan membeli pecahan kaca dengan harga berlian. Engkau juga membayar waktu serta kehidupan yang amat kecil dan singkat dengan harga kehidupan yang panjang, terus-menerus, dan luas. Karena itu, tentu engkau menang dalam lingkup terbatas tersebut. Karena engkau menghadapi satu menit dengan perasaan seperti ambisi, cinta, dan dendam yang begitu kuat seolah-olah satu tahun, untuk sementara engkau mengungguli orang-orang yang beragama.

Akal, ruh, hati, dan perasaanmu pun meninggalkan tugas-tugasnya yang luhur, lalu ikut serta dan membantu pekerjaan-pekerjaan hina nafsu yang rendah dan keinginan yang kotor. Karena itu, engkau mengalahkan ahli iman di dunia dan tampak lebih disukai secara lahir. Sebab, akal, hati, dan ruhmu telah merosot, jatuh, dan terpuruk sampai taraf yang amat rendah, lalu berubah menjadi keinginan kotor dan nafsu hina; semuanya telah berubah rupa. Tentu dari segi ini engkau akan memperoleh suatu kemenangan sementara, yang memberikan neraka kepadamu dan surga kepada ahli iman yang dizalimi.

--

Suatu Persoalan Penting yang Tiba-tiba Diingatkan

Dari riwayat-riwayat hadis dipahami bahwa kaum perempuan dan fitnah mereka memainkan peran yang paling mengerikan dalam fitnah akhir zaman. Ya, sebagaimana dalam sejarah dikisahkan bahwa dahulu suatu pasukan yang terdiri atas perempuan-perempuan yang amat mahir bersenjata, bernama "Amazon", melakukan peperangan yang luar biasa, demikian pula pada zaman ini. Dalam perang kesesatan yang menolak agama melawan Islam, yang paling mengerikan di antara pasukan-pasukan yang diserahkan kepada komando Setan melalui rencana nafsu ammarah ialah perempuan-perempuan setengah telanjang. Dengan kaki-kakinya yang terbuka, mereka menyerang dan menerjang ahli iman seperti dengan pisau-pisau yang mengerikan.

Dengan berusaha menutup jalan pernikahan serta memperlebar jalan rumah pelacuran, mereka tiba-tiba menawan nafsu banyak orang dan melukai hati serta ruh mereka dengan dosa-dosa besar. Bahkan, mereka membunuh sebagian hati tersebut. Sebagai hukuman yang penuh atas beberapa tahun memperlihatkan diri kepada keinginan orang yang bukan mahram, kaki-kaki yang seperti pisau itu akan menjadi kayu bakar neraka dan akan dibakar lebih dahulu. Karena kehilangan rasa aman dan kesetiaan di dunia, mereka tidak lagi dapat menemukan suami yang sesuai, yang amat diinginkan oleh sifat penciptaannya dan amat dibutuhkan oleh fitrahnya. Sekalipun menemukannya, mereka menemukan suatu bencana bagi dirinya. Bahkan, dari riwayat hadis dipahami bahwa sebagai akibat keadaan ini, pada akhir zaman itu, di sejumlah tempat, karena hilangnya minat dan perhatian terhadap pernikahan, mereka menjadi tidak penting, tidak terurus, dan tidak berharga sampai taraf seorang lelaki mengawasi empat puluh perempuan.

Karena hakikatnya demikian, dan karena setiap yang cantik mencintai kecantikannya, ingin menjaganya sejauh kemampuannya, serta tidak ingin kecantikannya rusak; dan karena kecantikan merupakan suatu nikmat—jika nikmat disyukuri, ia bertambah secara rohani, tetapi jika tidak disyukuri, ia berubah dan menjadi buruk—tentu, jika ia berakal, ia akan menghindar dengan seluruh kekuatannya dari memakai keindahan dan kecantikannya untuk mendapatkan dosa serta membuat orang lain mendapatkannya, menjadikannya buruk dan beracun, serta mengubah nikmat itu menjadi sebab azab dengan tidak mensyukurinya. Ia akan mensyukuri nikmat itu dengan memakainya secara dibenarkan, agar keindahannya yang sementara selama lima sampai sepuluh tahun menjadi kekal. Jika tidak, pada masa tua ia akan lama dipandang sebagai beban dan menangis dalam putus asa.

Jika kecantikan itu diperindah dengan hiasan adab Al-Qur'an dalam lingkup pendidikan Islam, hadis menetapkan dengan pasti bahwa keindahan yang sementara itu akan tetap kekal secara rohani dan akan diberikan kepadanya di surga dalam bentuk yang lebih manis serta lebih cemerlang daripada kecantikan bidadari. Jika orang yang cantik itu mempunyai akal seberat satu zarah, ia tidak akan membiarkan hasil yang indah, cemerlang, dan abadi ini lepas dari tangannya.

--

(Dari Meyve Risalesi)