Dari Kumpulan Risale-i Nur
Tabiat Risalesi (Risalah Alam)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
Tabiat Risalesi
Semula ini merupakan Catatan Keenam Belas dari Lem'a Ketujuh Belas. Karena pentingnya, ia menjadi Lem'a Kedua Puluh Tiga. Ia mematikan pikiran kufur yang datang dari alam dengan cara yang tidak membiarkannya hidup kembali, serta menjungkirbalikkan batu dasar kekufuran.
PERINGATAN
Dalam catatan ini, betapa jauh dari akal, betapa buruk, dan betapa penuh takhayul sisi dalam jalan yang ditempuh golongan penyangkal di antara kaum naturalis dijelaskan melalui sembilan hal mustahil yang memuat sekurang-kurangnya sembilan puluh hal mustahil. Karena sebagian hal mustahil itu dijelaskan dalam risalah-risalah lain dan pembahasan di sini sangat singkat, beberapa langkah dilewati. Karena itu, tiba-tiba terlintas dalam pikiran: Bagaimana para filsuf terkenal yang berakal ini menerima takhayul yang begitu jelas dan nyata, lalu menempuh jalan tersebut?
Ya, mereka tidak dapat melihat sisi dalam jalannya. Hakikat jalan mereka serta tuntutan dan akibat yang melekat padanya ialah ringkasan pandangan mereka yang buruk, menjijikkan, dan tidak masuk akal, yang dijelaskan pada akhir setiap hal mustahil yang ditulis. {(Catatan kaki): Sebab penulisan risalah ini ialah serangan terhadap Al-Qur'an yang dengan cara sangat agresif dan buruk meremehkan hakikat iman, menyebut sesuatu yang tidak dapat dijangkau akalnya yang rusak sebagai takhayul, dan mengikat keadaan tanpa agama kepada alam. Serangan itu memberi kemarahan yang kuat kepada hati dan pena, sehingga memberikan tamparan keras dan kasar kepada kaum ateis serta pengikut pandangan batil yang berpaling dari kebenaran.
Adapun jalan Risale-i Nur ialah bersih, sopan, dan berkata lembut.} Aku siap menjelaskan serta membuktikan secara terperinci kepada siapa pun yang ragu, melalui bukti-bukti yang sangat jelas dan pasti, bahwa ringkasan tersebut merupakan tuntutan dan akibat yang tak terelakkan dari jalannya.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺭُﺳُﻠُﻬُﻢْ ﺍَﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﻚٌّ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ
Melalui pertanyaan retoris yang menyangkal, ayat mulia ini mengatakan, “Tidak ada dan tidak boleh ada keraguan tentang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.” Dengan demikian, ia memperlihatkan bahwa Wujud dan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ berada pada tingkat yang sangat jelas.
Sebelum menjelaskan rahasia ini, suatu peringatan:
Pada tahun 1338 aku pergi ke Ankara. Di tengah pikiran kuat ahli iman yang bergembira karena tentara Islam mengalahkan Yunani, aku melihat suatu pikiran zindik yang sangat mengerikan berusaha dengan tipu daya untuk masuk, merusak, dan meracuninya. Aku berkata, “Aduh, naga ini akan mengusik dasar-dasar iman!” Saat itu, karena ayat mulia ini memberitahukan Wujud dan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ pada tingkat yang sangat jelas, aku meminta bantuan darinya dan menulis suatu bukti kuat yang diambil dari Al-Qur'an Al-Hakîm dalam risalah berbahasa Arab, yang dapat menghancurkan kepala pikiran zindik itu. Aku telah mencetaknya di Percetakan Yeni Gün di Ankara. Sayangnya, sedikit orang mengetahui bahasa Arab dan jarang pula yang memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Karena ditulis sangat singkat dan ringkas, bukti kuat itu tidak memperlihatkan pengaruhnya. Sayangnya, pikiran tanpa agama itu berkembang dan memperoleh kekuatan. Karena terpaksa, aku akan menjelaskan bukti tersebut sampai taraf tertentu dalam bahasa Turki. Sebagian bagiannya telah dijelaskan sepenuhnya dalam beberapa risalah, sehingga di sini akan ditulis secara ringkas.
Berbagai bukti yang tersebar dalam risalah-risalah lain menyatu sebagian dalam bukti ini; masing-masing menjadi seperti bagiannya.
PENDAHULUAN:
Wahai manusia! Ketahuilah bahwa ada ungkapan-ungkapan mengerikan yang keluar dari mulut manusia dan memberi kesan tidak beragama. Ahli iman menggunakannya tanpa mengetahui. Kami akan menjelaskan tiga ungkapan penting di antaranya:
Pertama: "Evcedethü'l-esbab". Yakni, sebab-sebab menciptakan hal ini.
Kedua: "Teşekkele binefsihi". Yakni, ia terbentuk dengan sendirinya, terjadi, dan tumbuh.
Ketiga: "İktezathü't-tabiat". Yakni, ia alami; alam menuntut dan menciptakannya.
Ya, karena seluruh yang ada memang ada dan tidak dapat disangkal, dan setiap yang ada terwujud dengan seni serta hikmah, serta karena bukan azali melainkan baru menjadi ada, tentu, wahai ateis, engkau akan mengatakan salah satu hal berikut tentang yang ada ini, misalnya hewan ini: Sebab-sebab di kainat menciptakannya, yakni ia terwujud ketika sebab-sebab berkumpul; atau ia terbentuk dengan sendirinya; atau ia terwujud sebagai tuntutan alam melalui pengaruh alam; atau ia diciptakan melalui Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl.
Karena menurut akal tidak ada jalan selain keempat jalan ini, jika tiga jalan pertama terbukti dengan pasti mustahil, batil, tidak mungkin, dan tidak dapat terjadi, tentu dengan sendirinya dan dengan jelas jalan keempat, yakni jalan tauhid, menjadi tetap tanpa keraguan sedikit pun.
ADAPUN JALAN PERTAMA:
Terbentuknya benda-benda dan wujud makhluk melalui berkumpulnya sebab-sebab di kainat. Dari begitu banyak hal mustahilnya, kami hanya akan menyebutkan tiga.
Pertama: Dalam sebuah apotek terdapat ratusan stoples dan botol yang dipenuhi bahan-bahan sangat beragam. Dari obat-obat itu diminta suatu adonan obat yang hidup. Suatu penawar luar biasa yang hidup juga harus dibuat darinya. Kami datang dan melihat banyak contoh adonan obat serta penawar yang hidup tersebut di apotek itu. Kami meneliti setiap adonan dan melihat bahwa dari setiap stoples diambil bahan dalam jumlah berbeda melalui timbangan khusus: satu atau dua dirham dari yang ini, tiga atau empat dirham dari yang itu, enam atau tujuh dirham dari yang lain, demikian seterusnya.
Jika dari salah satunya diambil satu dirham kurang atau lebih, adonan itu tidak dapat hidup dan tidak memperlihatkan khasiatnya. Kami juga meneliti penawar yang hidup tersebut. Dari setiap stoples diambil suatu bahan dengan timbangan khusus. Jika kurang atau lebih sebesar zarah, penawar kehilangan khasiatnya. Meskipun stoples-stoples itu lebih dari lima puluh, bahan-bahan diambil dalam jumlah berbeda dari masing-masing, seolah-olah dengan timbangan tersendiri.
Adakah kemungkinan dan peluang dari segi apa pun bahwa jumlah-jumlah berbeda yang diambil dari botol-botol itu terjadi karena botol-botol jatuh akibat kebetulan aneh atau hantaman cuaca berbadai? Dapatkah dari setiap botol mengalir hanya jumlah yang diperlukan, lalu bahan-bahan itu bergerak bersama, berkumpul, dan membentuk adonan tersebut? Adakah sesuatu yang lebih penuh takhayul, mustahil, dan batil daripada ini? Jika seekor keledai menjadi dua kali lebih bodoh, lalu menjadi manusia, ia akan lari sambil mengatakan, “Aku tidak menerima pikiran ini!”
Seperti dalam contoh ini, setiap makhluk hidup tentu merupakan adonan obat yang hidup, dan setiap tumbuhan seperti penawar yang hidup, yang tersusun dari bagian-bagian sangat banyak dan bahan-bahan sangat beragam yang diambil dengan ukuran sangat teliti. Jika hal itu dinisbahkan kepada sebab-sebab dan unsur-unsur, lalu dikatakan, “Sebab-sebab menciptakannya,” hal tersebut seratus tingkat jauh dari akal, mustahil, dan batil, persis seperti adonan di apotek yang terwujud karena botol-botol jatuh.
Kesimpulannya, bahan-bahan kehidupan yang diambil dengan timbangan Qada dan Takdir Sang Hakîm Yang Azali dalam apotek besar alam ini hanya dapat terwujud melalui Hikmah yang tidak terbatas, Ilmu yang tiada akhir, dan Iradah yang meliputi segala sesuatu. Orang malang yang mengatakan, “Ini pekerjaan unsur-unsur menyeluruh, sifat-sifat alami, dan sebab-sebab yang buta, tuli, tidak terbatas, serta mengalir seperti banjir,” lebih bodoh daripada orang mengigau yang gila dan mabuk, yang mengatakan, “Penawar aneh itu muncul dan terjadi dengan sendirinya karena botol-botol jatuh.” Ya, kekufuran itu adalah igauan yang bodoh, mabuk, dan gila.
Hal Mustahil Kedua: Jika segala sesuatu tidak diserahkan kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl Yang Wâhid lagi Ahad, melainkan dinisbahkan kepada sebab-sebab, banyak unsur dan sebab di kainat harus ikut campur dalam tubuh setiap makhluk hidup. Padahal, berkumpulnya sebab-sebab yang beragam, saling bertentangan, dan berbeda dalam tubuh makhluk kecil seperti lalat dengan keteraturan sempurna, keseimbangan yang sangat teliti, serta kesepakatan utuh merupakan hal mustahil yang begitu jelas sehingga orang dengan kesadaran sebesar sayap lalat akan mengatakan, “Ini mustahil; tidak dapat terjadi!”
Ya, tubuh kecil seekor lalat berkaitan dengan sebagian besar unsur dan sebab di kainat, bahkan merupakan rangkumannya. Jika tidak diserahkan kepada Sang Qadîr Yang Azali, sebab-sebab materi itu harus hadir sendiri di samping tubuhnya, bahkan masuk ke tubuh kecilnya. Bahkan, mereka harus masuk ke satu sel matanya, yang merupakan contoh kecil tubuhnya. Sebab, jika suatu sebab bersifat materi, ia harus berada di samping dan di dalam hal yang dihasilkannya. Dalam keadaan demikian, orang harus menerima bahwa unsur-unsur utama kainat, unsur-unsur, serta sifat-sifat alami hadir secara materi dan bekerja seperti pembuat di dalam sel kecil itu, yang bahkan tidak dapat memuat ujung kaki dua lalat yang seperti ujung jarum.
Bahkan, kaum sofis yang paling bodoh merasa malu terhadap jalan semacam ini.
Hal Mustahil Ketiga: Melalui kaidah yang ditetapkan
ﺍَﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ لَا ﻳَﺼْﺪُﺭُ اِلَّا ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪِ
, “Jika suatu yang ada mempunyai kesatuan, tentu ia dapat berasal dari satu sumber, dari satu tangan.” Terutama, jika yang ada itu memiliki keteraturan yang sangat sempurna, keseimbangan yang teliti, dan kehidupan yang menyeluruh, hal itu jelas memperlihatkan bahwa ia tidak berasal dari banyak tangan yang menjadi sebab perbedaan dan kekacauan, melainkan dari satu Tangan Sang Qadîr Yang Hakîm. Namun, menisbahkan suatu yang ada yang teratur, seimbang, dan tunggal itu kepada tangan-tangan sebab alam yang tidak terbatas, mati, tidak tahu, menyerang, tidak sadar, kacau, buta, dan tuli, di antara jalan kemungkinan yang tidak terbatas, sementara berkumpul dan bercampurnya mereka menambah buta serta tulinya, jauh dari akal seperti menerima seratus hal mustahil sekaligus.
Baiklah, kita kesampingkan hal mustahil ini. Pengaruh sebab-sebab materi tentu terjadi melalui keterlibatan langsung dan sentuhan. Namun, sentuhan sebab-sebab alam tersebut berada pada sisi lahir makhluk hidup. Padahal, kami melihat bahwa bagian dalam makhluk hidup, yang tidak dapat dijangkau dan disentuh oleh tangan sebab-sebab materi itu, sepuluh kali lebih teratur, lebih halus, dan lebih sempurna seninya daripada bagian luarnya.
Makhluk hidup dan hewan yang sangat kecil, yang tidak dapat dimasuki tangan serta alat sebab-sebab materi dari segi apa pun, bahkan tidak dapat sepenuhnya disentuh pada bagian luarnya, lebih menakjubkan seninya dan lebih indah penciptaannya daripada makhluk terbesar. Menisbahkannya kepada sebab-sebab yang mati, tidak tahu, kasar, jauh, besar, saling bertentangan, tuli, dan buta hanya dapat terjadi dengan seratus tingkat kebutaan serta seribu tingkat ketulian!
ADAPUN PERSOALAN KEDUA:
Ialah "Teşekkele binefsihi". Yakni, ia terbentuk dengan sendirinya. Kalimat ini juga mempunyai banyak hal mustahil. Dari banyak segi ia batil dan mustahil. Sebagai contoh, kami akan menjelaskan tiga hal mustahilnya.
Pertama: Wahai penyangkal yang keras kepala! Keakuanmu membuatmu begitu bodoh sehingga sampai taraf tertentu engkau memutuskan untuk menerima seratus hal mustahil sekaligus. Sebab, engkau ada, bukan materi sederhana yang mati dan tidak berubah. Sebaliknya, engkau selalu diperbarui, seperti mesin yang sangat teratur dan istana luar biasa yang selalu berubah. Zarah-zarah setiap saat bekerja dalam tubuhmu. Tubuhmu berkaitan dan berhubungan timbal balik dengan kainat, terutama melalui rezeki dan bertahannya jenis. Zarah-zarah yang bekerja dalam tubuhmu berhati-hati agar tidak merusak hubungan dan tidak memutus kaitan itu. Mereka melangkah dengan sangat hati-hati, seolah-olah memandang seluruh kainat. Mereka melihat hubunganmu di kainat dan mengambil sikap sesuai dengannya. Melalui indra lahir dan batin, engkau mengambil manfaat sesuai keadaan luar biasa zarah-zarah tersebut.
Jika engkau tidak menerima bahwa zarah-zarah dalam tubuhmu adalah petugas-petugas kecil atau suatu tentara yang bergerak menurut Hukum Sang Qadîr Yang Azali, atau ujung-ujung Pena Takdir, setiap zarah sebagai ujung pena, atau titik-titik Pena Kudrat, setiap zarah sebagai titik, saat itu setiap zarah yang bekerja di matamu harus mempunyai mata yang melihat seluruh bagian tubuhmu sekaligus seluruh kainat yang berkaitan denganmu. Engkau juga harus memberinya akal sebesar seratus orang jenius, yang mengetahui dan mengenali seluruh masa lalu, masa depan, keturunan, asal-usul, sumber unsur-unsur, dan sumber rezekimu. Memberikan ilmu serta kesadaran sebesar seribu Plato kepada satu zarah milik orang sepertimu yang dalam persoalan ini tidak mempunyai akal sebesar zarah merupakan takhayul yang seribu tingkat gila!
Hal Mustahil Kedua: Tubuhmu menyerupai istana luar biasa dengan seribu kubah. Pada setiap kubah, batu-batunya saling bersandar tanpa tiang dan ditahan menggantung. Bahkan, tubuhmu seribu kali lebih menakjubkan daripada istana ini. Sebab, istana tubuh itu selalu diperbarui dengan keteraturan sempurna. Dengan mengesampingkan jiwa, hati, dan latifah-latifah batin (daya halus dalam diri manusia) yang sangat luar biasa, setiap organ tubuhmu sendiri merupakan tempat tinggal berkubah.
Seperti batu-batu pada kubah itu, zarah-zarah saling bersandar dengan keseimbangan dan keteraturan sempurna. Mereka memperlihatkan bangunan luar biasa, seni yang sangat istimewa, dan mukjizat Kudrat yang menakjubkan seperti mata serta lidah.
Jika zarah-zarah ini bukan petugas yang tunduk pada Perintah Sang Pembuat alam ini, setiap zarah harus sekaligus menjadi penguasa mutlak seluruh zarah dalam tubuh, sepenuhnya dikuasai oleh masing-masing, serupa dengan masing-masing, bertentangan dengannya dalam hal menguasai, serta menjadi asal dan sumber sebagian besar Sifat yang hanya khusus bagi Wâjibul Wujûd. Ia juga harus sangat dibatasi sekaligus sangat mutlak. Menisbahkan suatu ciptaan tunggal yang sangat teratur, yang melalui rahasia kesatuan hanya dapat menjadi karya Sang Wâhid lagi Ahad, kepada zarah-zarah yang tidak terbatas itu memperlihatkan hal mustahil yang sangat jelas, bahkan seratus hal mustahil, kepada siapa pun yang mempunyai kesadaran sebesar zarah.
Hal Mustahil Ketiga: Jika tubuhmu tidak ditulis dengan Pena Sang Qadîr Yang Azali, Yang Wâhid lagi Ahad, melainkan dicetak oleh alam dan sebab-sebab, mulai dari satu sel tubuhmu, harus terdapat cetakan-cetakan alam sebanyak ribuan susunan yang seperti lingkaran-lingkaran di dalam satu sama lain.
Misalnya, jika buku di tangan kita ini ditulis, satu pena saja menulis semuanya dengan bersandar pada ilmu penulisnya. Jika tidak ditulis dan tidak diserahkan kepada penanya, tetapi dikatakan terjadi dengan sendirinya atau diserahkan kepada alam, untuk setiap huruf diperlukan pena besi agar dapat dicetak, seperti buku cetak. Sebagaimana pada percetakan terdapat huruf besi sebanyak huruf, lalu huruf-huruf itu terwujud, saat itu diperlukan pena sebanyak huruf tersebut sebagai pengganti satu pena. Bahkan, jika seperti yang kadang terdapat di antara huruf-huruf itu, satu halaman ditulis dengan tulisan halus di dalam satu huruf besar melalui pena kecil, diperlukan ribuan pena untuk satu huruf. Bahkan, jika mereka saling masuk dengan susunan teratur dan mengambil bentuk seperti tubuhmu, dalam setiap lingkup diperlukan cetakan sebanyak susunan itu untuk setiap bagian.
Baiklah, sekalipun engkau mengatakan cara yang mengandung seratus hal mustahil ini mungkin, untuk membuat huruf-huruf besi yang teratur dan berseni serta cetakan dan pena yang sempurna itu, jika tetap tidak diserahkan kepada satu pena, diperlukan lagi pena, cetakan, dan huruf sebanyak benda-benda tersebut untuk membuatnya. Sebab, semuanya juga dibuat dan mempunyai seni yang teratur. Demikian seterusnya, rangkaian itu terus berjalan tanpa akhir...
Pahamilah! Ini merupakan pikiran yang mengandung hal mustahil dan takhayul sebanyak zarah-zarahmu. Wahai penyangkal Pencipta yang keras kepala! Malulah dan tinggalkan kesesatan ini!
KALIMAT KETIGA
"İktezathü't-tabiat". Yakni, alam menuntutnya dan alam membuatnya. Pernyataan ini mempunyai banyak hal mustahil. Sebagai contoh, kami akan menyebutkan tiga.
Pertama: Jika seni dan penciptaan yang dibuat dengan pandangan yang cermat serta penuh hikmah, yang tampak pada seluruh yang ada, terutama makhluk hidup, tidak diserahkan kepada Pena Takdir dan Kudrat Sang Matahari Yang Azali, tetapi dinisbahkan kepada alam serta kekuatan yang buta, tuli, dan tidak berpikir, alam harus menyediakan mesin-mesin dan percetakan-percetakan maknawi yang tidak terbatas dalam setiap hal untuk menciptakannya. Atau, ia harus menempatkan kudrat dan hikmah yang dapat menciptakan serta mengatur kainat dalam segala sesuatu.
Sebagaimana kilauan dan pantulan matahari terlihat pada serpihan-serpihan kaca kecil dan tetes-tetes di muka bumi, jika matahari-matahari kecil berupa gambaran serta pantulan itu tidak dinisbahkan kepada satu matahari di langit, orang harus menerima wujud nyata matahari yang alami, fitri, mempunyai sifat-sifat matahari, tampak kecil tetapi secara maknawi sangat dalam, di dalam serpihan kaca kecil yang bahkan tidak dapat memuat kepala korek api. Dengan demikian, ia harus menerima matahari-matahari alami sebanyak zarah-zarah kaca tersebut...
Seperti dalam contoh ini, jika seluruh yang ada dan makhluk hidup tidak langsung diserahkan kepada manifestasi Asma Sang Matahari Yang Azali, pada setiap yang ada, terutama setiap makhluk hidup, orang harus menerima adanya alam atau kekuatan yang mempunyai kudrat dan kehendak yang tidak terbatas serta ilmu dan hikmah yang tiada akhir, seolah-olah suatu ilah di dalamnya. Cara berpikir ini merupakan yang paling batil dan paling penuh takhayul di antara hal-hal mustahil di kainat. Orang yang memberikan seni Khâliq kainat kepada alam yang khayal, tidak berarti, dan tidak sadar tentu memperlihatkan bahwa ia seratus kali lebih hewani serta lebih tidak sadar daripada hewan.
Hal Mustahil Kedua: Jika seluruh yang ada yang sangat teratur, seimbang, berseni, dan berhikmah ini tidak diserahkan kepada Zat Yang Qadîr dan Hakîm tanpa batas, melainkan dinisbahkan kepada alam, alam harus menyediakan mesin serta percetakan sebanyak seluruh percetakan dan pabrik Eropa dalam setiap potong tanah, agar tanah itu dapat menjadi sarana tumbuh dan terbentuknya bunga serta buah yang tidak terbatas, yang sumber serta bengkel pembuatannya adalah tanah tersebut.
Sebab, dalam semangkuk tanah yang menjadi pot bagi bunga, nyata terlihat kemampuan untuk membentuk serta menggambarkan bentuk dan susunan seluruh bunga yang benihnya ditanam bergiliran, yang sangat berbeda satu sama lain.
Jika tidak diserahkan kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl, keadaan ini tidak dapat terwujud tanpa mesin maknawi tersendiri yang alami bagi setiap bunga di dalam tanah pada mangkuk tersebut. Sebab, materi benih-benih, seperti sperma dan telur, sama. Ia hanya merupakan campuran hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen yang tidak teratur, tidak berbentuk, serta seperti adonan. Udara, air, panas, dan cahaya juga masing-masing sederhana, tidak sadar, serta bergerak seperti banjir terhadap segala sesuatu. Karena itu, keluarnya bunga-bunga yang tidak terbatas dari tanah dalam bentuk yang berbeda, sangat teratur, dan berseni jelas serta pasti menuntut adanya percetakan dan pabrik maknawi dalam ukuran kecil tetapi secara maknawi sebesar Eropa di dalam tanah mangkuk tersebut, agar dapat menenun kain-kain yang hidup dan ribuan tenunan dengan corak berbeda sebanyak itu.
Bandingkan betapa pikiran kufur kaum naturalis menyimpang keluar dari lingkup akal. Meskipun orang-orang bodoh yang mabuk dalam rupa manusia, yang menganggap alam sebagai pencipta, mengaku, “Kami berilmu pengetahuan dan berakal,” lihatlah betapa jauh mereka dari akal serta ilmu pengetahuan dan bagaimana mereka menjadikan takhayul yang mustahil serta tidak mungkin dari segi apa pun sebagai jalannya. Tertawalah dan meludahlah!
Jika engkau berkata:
Jika seluruh yang ada dinisbahkan kepada alam, timbul hal-hal mustahil yang aneh dan kesulitan sampai tingkat mustahil. Bagaimana kesulitan itu hilang ketika diserahkan kepada Zat Yang Ahad lagi Shamad? Bagaimana kesukaran yang sampai tingkat mustahil itu berubah menjadi kemudahan sampai tingkat niscaya terwujud?
Jawaban:
Sebagaimana dalam Hal Mustahil Pertama, kilauan pantulan matahari dengan sangat mudah dan tanpa beban memperlihatkan limpahan serta pengaruhnya melalui gambaran matahari-matahari kecil, dari serpihan kaca terkecil sampai permukaan laut terbesar. Jika hubungan dengan matahari diputus, orang harus menerima bahwa di setiap serpihan terdapat wujud nyata matahari yang alami dan berdiri sendiri, dengan kesulitan sampai tingkat mustahil.
Demikian pula, jika setiap yang ada langsung diserahkan kepada Zat Yang Ahad lagi Shamad, melalui hubungan dan manifestasi, segala sesuatu yang diperlukan oleh setiap yang ada dapat disampaikan kepadanya dengan kemudahan sampai tingkat niscaya terwujud.
Jika hubungan itu diputus, peran sebagai petugas berubah menjadi keadaan tanpa aturan, dan setiap yang ada ditinggalkan kepada dirinya sendiri serta alam, saat itu, melalui seratus ribu kesulitan dan kesukaran sampai tingkat mustahil, orang harus menganggap alam yang buta di dalamnya mempunyai kudrat serta hikmah untuk menciptakan dan mengatur kainat, agar dapat menciptakan mesin tubuh makhluk hidup seperti lalat yang sangat luar biasa dan merupakan daftar kecil kainat. Ini bukan satu hal mustahil, melainkan ribuan hal mustahil.
Kesimpulannya,
sebagaimana sekutu dan tandingan Zat Yang Wâjibul Wujûd tidak mungkin dan mustahil, campur tangan pihak lain dalam Rububiyah-Nya serta Penciptaan segala sesuatu juga tidak mungkin dan mustahil, seperti sekutu bagi Zat-Nya.
Adapun kesulitan pada hal mustahil kedua, sebagaimana dibuktikan dalam berbagai risalah, jika seluruh benda diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, seluruh benda mudah seperti satu benda. Jika diserahkan kepada sebab-sebab dan alam, satu benda sulit seperti seluruh benda. Hal ini dibuktikan dengan banyak bukti yang pasti. Ringkasan satu bukti adalah sebagai berikut:
Sebagaimana jika seseorang mempunyai hubungan dengan raja sebagai prajurit atau petugas, melalui kekuatan hubungan tersebut ia dapat menjadi sarana pekerjaan seratus ribu kali melampaui kekuatan pribadinya. Terkadang atas nama rajanya ia menawan seorang raja. Sebab, ia tidak membawa sendiri dan tidak harus membawa perangkat serta kekuatan bagi pekerjaan yang dijalankan dan karya yang dibuatnya. Melalui hubungan itu, khazanah raja dan tentara yang menjadi sandaran di belakangnya membawa kekuatan serta perangkat tersebut. Jadi, pekerjaan yang dijalankannya dapat menjadi pekerjaan kerajaan seperti pekerjaan seorang raja, dan karya yang diperlihatkannya dapat luar biasa seperti karya suatu tentara.
Melalui tugas sebagai petugas itu, semut menghancurkan istana Firaun. Melalui hubungan itu, lalat membinasakan Namrud. Melalui hubungan itu pula, biji pinus yang seperti biji gandum menyediakan seluruh perangkat pohon pinus yang besar. {(Catatan kaki): Ya, jika hubungan itu ada, benih tersebut menerima Perintah dari Takdir Allah سُبْحَانَهُ dan menjadi tempat tampaknya pekerjaan-pekerjaan luar biasa itu. Jika hubungan diputus, penciptaan benih itu menuntut perangkat, kemampuan, dan seni yang lebih banyak daripada penciptaan pohon pinus besar. Sebab, seluruh organ serta perangkat pohon pinus yang berwujud jasmani di gunung, yang merupakan karya Kudrat, harus terdapat dalam pohon maknawi di dalam benih itu, yang merupakan karya Takdir. Sebab, pabrik pohon besar tersebut ialah benih itu. Pohon Takdir di dalamnya tampak di luar melalui Kudrat dan menjadi pohon pinus jasmani.}
Jika hubungan itu diputus dan ia dibebastugaskan, ia harus membawa perangkat serta kekuatan bagi pekerjaan yang akan dijalankannya di pinggang dan lengannya sendiri. Saat itu ia hanya dapat bekerja sebanyak kekuatan di lengan kecilnya serta jumlah amunisi di pinggangnya. Jika dalam keadaan ini dituntut pekerjaan yang dahulu dijalankannya dengan sangat mudah, tentu kekuatan suatu tentara harus dimuat di lengannya dan pabrik perangkat perang seorang raja di pinggangnya. Bahkan, para pelawak yang menceritakan takhayul serta dongeng aneh untuk membuat orang tertawa merasa malu terhadap khayalan ini!..
Kesimpulannya:
Menyerahkan setiap yang ada kepada Wâjibul Wujûd mempunyai kemudahan sampai tingkat niscaya terwujud. Menyerahkannya kepada alam dalam hal penciptaan sulit sampai tingkat mustahil dan berada di luar lingkup akal.
Hal Mustahil Ketiga: Dua contoh yang dijelaskan dalam beberapa risalah untuk menerangkan hal mustahil ini:
Contoh Pertama: Seorang yang sangat liar masuk ke suatu istana yang didirikan di padang kosong, disempurnakan dan dihiasi dengan seluruh karya peradaban. Ia memandang ke dalam dan melihat ribuan benda teratur serta berseni. Karena liar dan bodoh, ia mulai mencari dengan anggapan bahwa tidak ada campur tangan dari luar dan salah satu benda di dalam istana telah membuat istana beserta isinya. Benda mana pun yang dilihatnya, bahkan akalnya yang liar tidak menerima bahwa benda itu dapat membuat semuanya.
Kemudian ia melihat buku catatan yang berisi program susunan istana, daftar seluruh yang ada di dalamnya, dan hukum-hukum pengaturannya. Meskipun buku catatan yang tidak mempunyai tangan, mata, dan palu itu, seperti benda lain di dalamnya, sama sekali tidak mampu membentuk dan menghiasi istana, ia terpaksa menganggapnya berkaitan dengan keseluruhan istana lebih daripada benda-benda lain, karena menjadi penanda hukum-hukum pengetahuan. Ia mengatakan, “Buku catatan inilah yang membentuk, mengatur, dan menghiasi istana; membuat, memasang, dan menempatkan benda-benda ini.” Dengan demikian, ia mengubah keadaan liarnya menjadi igauan orang-orang bodoh dan mabuk.
Persis seperti contoh ini, seorang liar yang membawa pikiran kaum naturalis yang menyangkal Keilahian masuk ke istana alam ini, yang jauh lebih teratur serta sempurna daripada istana dalam contoh, hingga tingkat yang tak terhingga dan seluruh penjurunya dipenuhi Hikmah yang bermukjizat. Tanpa memikirkan bahwa ia merupakan karya seni Zat Yang Wâjibul Wujûd, yang tidak termasuk dalam lingkup segala sesuatu yang dapat ada atau tidak ada, dan dengan berpaling dari-Nya, ia melihat suatu kumpulan hukum sunatullah dan daftar seni Rabb. Kumpulan itu sangat keliru dan salah diberi nama “Alam”. Ia berada dalam lingkup segala sesuatu yang dapat ada atau tidak ada, seperti lembaran Takdir Allah سُبْحَانَهُ yang ditulis dan dihapus, dan dapat menjadi buku catatan yang berganti serta berubah sesuai hukum-hukum pelaksanaan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ. Orang itu mengatakan:
“Karena benda-benda ini memerlukan suatu sebab, tidak ada benda yang tampak berkaitan seperti buku catatan ini. Memang dari segi apa pun akal tidak menerima hal itu, sebab buku catatan yang tidak mempunyai mata, kesadaran, dan kudrat ini tidak dapat melakukan penciptaan yang merupakan pekerjaan Rububiyah Mutlak dan menuntut kudrat yang tidak terbatas. Namun, karena aku tidak menerima Sang Pembuat Yang Azali, aku akan mengatakan bahwa yang paling sesuai ialah buku catatan ini telah dan terus melakukannya.” Kami pun mengatakan:
Wahai orang bodoh mabuk yang menjadi lebih bodoh daripada orang-orang paling bodoh! Angkatlah kepalamu dari rawa alam dan lihatlah ke belakang. Pandanglah Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Yang keberadaan-Nya disaksikan seluruh yang ada, dari zarah sampai planet, melalui bahasa-bahasa yang berbeda dan ditunjukkan dengan jari-jari mereka. Pandanglah manifestasi Sang Pengukir Yang Azali, Yang membuat istana itu dan menulis programnya dalam buku catatan tersebut. Lihatlah Firman-Nya, dengarkanlah Al-Qur'an-Nya, dan bebaskanlah diri dari igauan-igauan itu!
Contoh Kedua: Seorang yang sangat liar masuk ke kompleks barak yang megah. Ia melihat seluruh tentara yang sangat teratur berlatih bersama dan bergerak dengan teratur. Melalui gerak satu prajurit, suatu batalion, resimen, dan divisi berdiri, duduk, serta berjalan. Ia menyaksikan mereka menembak dengan satu perintah tembak. Karena akalnya yang kasar dan liar tidak memahami serta menyangkal komando seorang panglima menurut aturan negara dan hukum raja, ia membayangkan para prajurit itu saling terikat dengan tali. Ia memikirkan betapa luar biasanya tali khayal tersebut dan merasa heran.
Kemudian pada hari Jumat ia masuk ke masjid yang sangat megah seperti Hagia Sophia. Ia menyaksikan jemaah Muslim berdiri, membungkuk, bersujud, dan duduk melalui suara satu orang. Karena tidak memahami syariat, yang merupakan kumpulan hukum rohani dan samawi, serta prinsip-prinsip rohani yang datang dari perintah pemberi syariat, ia membayangkan jemaah itu terikat tali materi dan tali aneh itu menawan serta menggerakkan mereka. Ia keluar dan pergi dengan pikiran yang begitu menggelikan sehingga bahkan binatang buas dalam rupa manusia paling liar pun akan tertawa.
Seperti dalam contoh ini, seorang penyangkal yang membawa pikiran naturalisme penuh penyangkalan dan sepenuhnya liar, masuk ke dunia yang menjadi barak megah tentara tanpa batas dari Sang Sultan Azali Yang Kekal Selamanya, serta ke kainat yang menjadi masjid teratur milik Sang Ma'bûd Yang Azali. Ia menggambarkan hukum-hukum maknawi tatanan kainat yang datang dari Hikmah Sang Sultan Azali sebagai bahan-bahan materi. Ia membayangkan hukum-hukum konseptual Kerajaan Rububiyah dan ketetapan serta prinsip maknawi dari syariat fitrah terbesar milik Sang Ma'bûd Yang Azali, yang hanya mempunyai wujud dalam ilmu, sebagai benda nyata dan bahan materi. Menggantikan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ dengan hukum-hukum yang datang dari Ilmu serta Kalâm dan hanya mempunyai wujud dalam ilmu itu, lalu memberikan penciptaan ke tangan mereka, menamainya “Alam”, serta menganggap kekuatan yang hanya merupakan satu manifestasi Kudrat Rabb sebagai sesuatu yang mempunyai kudrat dan berkuasa secara mandiri merupakan keadaan liar yang seribu kali lebih rendah daripada orang liar dalam contoh!
Kesimpulannya,
hal yang disebut kaum naturalis sebagai alam yang khayal dan tanpa hakikat, paling jauh, jika mempunyai kenyataan di luar, hanya dapat berupa seni, bukan Sang Pembuat; suatu corak, bukan Sang Pengukir; ketetapan-ketetapan, bukan Sang Penguasa; syariat fitrah, bukan Sang Pemberi Syariat; tabir kemuliaan yang diciptakan, bukan Khâliq; fitrah yang dikenai tindakan, bukan Pelaku Yang Fâthir. Ia adalah hukum, bukan kudrat; ia tidak dapat menjadi Qadîr. Ia adalah penggaris, bukan sumber.
Kesimpulannya:
Karena seluruh yang ada memang ada, dan sebagaimana dikatakan pada awal Catatan Keenam Belas, melalui pembagian menurut akal tidak dapat dibayangkan jalan bagi wujudnya selain empat jalan, ketiga jalan itu telah dibuktikan dengan pasti sebagai batil melalui tiga hal mustahil yang jelas pada masing-masingnya. Tentu jalan keempat, yakni jalan tauhid, terbukti dengan pasti secara niscaya dan jelas. Jalan keempat itu diperlihatkan oleh ayat
ﺍَﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﻚٌّ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ
di awal, tanpa keraguan dan pada tingkat yang sangat jelas: Keilahian Zat Yang Wâjibul Wujûd, segala sesuatu langsung keluar dari Tangan Kudrat-Nya, serta langit dan bumi berada dalam genggaman Kekuasaan-Nya.
Wahai orang malang pemuja sebab dan penyembah alam! Karena sifat alami setiap hal diciptakan seperti setiap hal itu sendiri, sebab ia berseni dan baru menjadi ada, serta sebab lahiriah juga merupakan ciptaan seperti hasilnya, dan karena wujud segala sesuatu membutuhkan banyak perangkat serta alat, terdapat Sang Qadîr Mutlak Yang menciptakan sifat alami dan sebab tersebut. Apa kebutuhan Sang Qadîr Mutlak sehingga Dia menyertakan perantara tak berdaya dalam Rububiyah dan Penciptaan-Nya? Hâşâ! Sebaliknya, Dia langsung menciptakan hasil bersama sebabnya. Melalui suatu susunan dan pengaturan, Dia memberi hubungan sebab lahiriah serta kebersamaan untuk memperlihatkan manifestasi Asma dan Hikmah-Nya. Agar sebab dan alam menjadi tempat dinisbahkannya cacat, keadaan tanpa belas kasih, serta kekurangan lahiriah pada benda-benda, Dia menjadikannya tabir bagi Tangan Kudrat-Nya dan menjaga Kemuliaan-Nya dengan cara itu.
Apakah lebih mudah bagi pembuat jam untuk membuat roda-rodanya, lalu menyusun dan mengatur jam dengan roda-roda itu? Ataukah lebih mudah membuat mesin luar biasa di dalam roda-roda tersebut, lalu menyerahkan pembuatan jam kepada tangan-tangan mati mesin itu agar ia membuat jam? Bukankah hal itu di luar kemungkinan? Katakanlah dengan akalmu yang tidak adil itu; engkaulah yang menilai!
Atau, seorang penulis membawa tinta, pena, dan kertas. Apakah lebih mudah ia sendiri menulis buku dengannya, atau menciptakan mesin tulis di dalam kertas, tinta, dan pena, yang lebih berseni dan lebih sukar daripada buku itu serta khusus hanya bagi buku tersebut, lalu mengatakan kepada mesin yang tidak sadar itu, “Marilah, tulislah sendiri!” dan tidak ikut campur? Bukankah hal itu seratus kali lebih sulit daripada menulis?
Jika engkau berkata:
Ya, menciptakan mesin yang menulis satu buku seratus kali lebih sulit daripada buku itu. Namun, mungkin terdapat kemudahan karena mesin tersebut menjadi sarana menulis banyak salinan buku yang sama?
Jawaban:
Melalui Kudrat-Nya Yang tidak terbatas, Sang Pengukir Yang Azali menciptakan ciri-ciri tersendiri dan wajah-wajah khusus benda-benda sedemikian rupa agar setiap saat memperbarui manifestasi Asma-Nya yang tiada akhir dan memperlihatkannya dalam bentuk berbeda. Tidak ada satu surat milik Sang Shamad dan satu kitab milik Rabb yang dapat sama persis dengan kitab lainnya. Bagaimanapun juga, untuk mengungkapkan makna berbeda, ia akan mempunyai wajah berbeda.
Jika engkau mempunyai mata, pandanglah wajah manusia. Lihatlah bahwa sejak masa Adam sampai sekarang, bahkan hingga selamanya, meskipun organ-organ pokok pada wajah kecil itu sama, telah terbukti dengan pasti bahwa setiap wajah mempunyai ciri pembeda terhadap setiap wajah lain di antara seluruh wajah.
Karena itu, setiap wajah merupakan buku tersendiri. Untuk mengatur seninya saja, diperlukan alat tulis serta susunan dan penggabungan tersendiri. Untuk mendatangkan dan menempatkan bahan-bahannya, serta memasukkan segala sesuatu yang diperlukan bagi wujudnya, diperlukan bengkel yang sepenuhnya berbeda.
Baiklah, sebagai anggapan yang mustahil, kami memandang alam sebagai suatu percetakan. Namun, selain tugas percetakan berupa mengatur dan mencetak, yakni memasukkan keteraturan tertentu ke cetakan, menciptakan bahan-bahan tubuh makhluk hidup dari seluruh penjuru alam dengan timbangan khusus serta keteraturan tertentu, mendatangkannya, dan menyerahkannya ke tangan percetakan seratus tingkat lebih sulit daripada menciptakan susunan itu. Untuk hal ini tetap diperlukan Kudrat dan Iradah Sang Qadîr Mutlak, Yang menciptakan percetakan tersebut. Jadi, kemungkinan dan anggapan percetakan ini merupakan takhayul yang sepenuhnya tidak bermakna.
Seperti dalam contoh jam dan buku ini, Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Yang Berkuasa Atas Segala Sesuatu, menciptakan sebab-sebab dan juga menciptakan hasil-hasilnya. Dengan Hikmah-Nya, Dia menghubungkan hasil dengan sebab. Melalui Iradah-Nya, Dia menetapkan satu manifestasi syariat fitrah terbesar Allah سُبْحَانَهُ, yang terdiri atas hukum sunatullah untuk mengatur gerak kainat, serta sifat alami benda-benda yang hanya merupakan cermin dan tempat memantulnya manifestasi tersebut. Melalui Kudrat-Nya, Dia menciptakan sisi sifat alami itu yang mempunyai wujud nyata dan menciptakan benda-benda di atasnya, lalu mencampurkannya satu sama lain. Apakah lebih mudah menerima hakikat yang sangat masuk akal dan merupakan hasil bukti-bukti tidak terbatas ini? Bukankah hal itu perlu hingga tingkat niscaya? Ataukah lebih mudah memberikan seluruh perangkat dan alat yang tidak terbatas bagi wujud setiap hal kepada bahan-bahan yang kalian sebut sebab dan alam, yang mati, tidak sadar, diciptakan, dibuat, dan sederhana, lalu membuatnya sendiri menjalankan pekerjaan penuh hikmah yang dilakukan dengan pandangan cermat? Bukankah hal itu di luar kemungkinan sampai tingkat mustahil? Kami menyerahkannya kepada penilaian adil akalmu yang tidak adil itu.
Penyangkal dan pemuja alam mengatakan:
Karena engkau mengajakku berlaku adil, saya pun mengatakan: Saya mengakui bahwa jalan keliru yang kami tempuh hingga sekarang seratus tingkat mustahil, sangat merugikan, dan sangat buruk. Dari kajianmu tadi, orang yang mempunyai kesadaran sebesar zarah akan memahami bahwa memberikan penciptaan kepada sebab dan alam tidak mungkin serta mustahil, dan menisbahkan segala sesuatu langsung kepada Wâjibul Wujûd merupakan hal yang wajib secara akal dan niscaya. Dengan mengatakan Elhamdülillahi ale'l-iman, saya beriman.
Hanya satu keraguan yang saya miliki:
Saya menerima bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Khâliq. Namun, apa kerugian bagi Kerajaan Rububiyah-Nya jika beberapa sebab juz'i (yang sebagian) ikut campur dalam penciptaan hal-hal yang tidak penting dan memperoleh sedikit pujian serta sanjungan? Apakah Kerajaan-Nya akan berkurang?
Jawaban:
Sebagaimana telah kami buktikan dengan sangat pasti dalam beberapa risalah, sifat kekuasaan ialah menolak campur tangan. Bahkan, penguasa atau petugas paling rendah tidak menerima campur tangan putranya dalam lingkup kekuasaannya. Bahkan, meskipun menjadi khalifah, sebagian raja yang taat beragama membunuh anak-anaknya yang tidak bersalah karena membayangkan adanya campur tangan terhadap kekuasaannya. Hal ini memperlihatkan betapa mendasarnya “hukum menolak campur tangan” dalam kekuasaan. Dari dua kepala dalam suatu kecamatan sampai dua raja dalam suatu negeri, “hukum mencegah berbagi kekuasaan” yang dituntut oleh kemandirian dalam kekuasaan telah memperlihatkan kekuatannya melalui kekacauan yang sangat aneh dalam sejarah manusia.
Perhatikan bahwa bahkan bayangan kepemimpinan dan kekuasaan pada manusia yang tak berdaya serta membutuhkan bantuan menolak campur tangan, mencegah campur tangan orang lain, tidak menerima pembagian kekuasaan, serta berusaha menjaga kemandirian kedudukannya dengan fanatisme yang begitu kuat. Kemudian, jika engkau dapat membandingkan, bandingkanlah betapa penolakan campur tangan, pencegahan berbagi, dan pengusiran sekutu merupakan akibat yang niscaya serta tuntutan yang tak terelakkan dari Kekuasaan Zat Dzul-Jalâl. Kekuasaan Mutlak-Nya berada pada tingkat Rububiyah, Kepemimpinan Mutlak-Nya pada tingkat Keilahian, Kemandirian Mutlak-Nya pada tingkat Ahadiyah, dan Tidak Membutuhkan Apa Pun Secara Mutlak pada tingkat Kuasa Mutlak.
Adapun bagian kedua keraguanmu:
Jika beberapa sebab menjadi tujuan sebagian ubudiyah (penghambaan) dari beberapa ciptaan tertentu, apa yang berkurang dari ubudiyah makhluk-makhluk, dari zarah sampai planet, yang menghadap Zat Yang Wâjibul Wujûd, Sang Ma'bûd Mutlak?
Jawaban:
Sang Khâliq Yang Hakîm dari kainat ini menciptakan kainat sebagai pohon, menjadikan buah paling sempurnanya makhluk sadar, dan buah paling menyeluruh di antara makhluk sadar itu manusia. Syukur dan ibadah adalah hal terpenting bagi manusia, bahkan hasil penciptaan, tujuan fitrah, serta buah hidupnya. Apakah Sang Penguasa Mutlak dan Sang Pemberi Perintah Yang Mandiri, Sang Wâhid lagi Ahad Yang menciptakan kainat agar Diri-Nya dicintai serta dikenal, akan menyerahkan manusia yang menjadi buah seluruh kainat, dan syukur serta ibadah yang menjadi buah tertinggi manusia, ke tangan lain? Apakah Dia membuat hasil penciptaan dan buah kainat sia-sia dengan bertindak sepenuhnya bertentangan dengan Hikmah-Nya? Hâşâ ve kellâ... Apakah Dia rela, apakah Dia pernah mengizinkan, ibadah makhluk diberikan kepada pihak lain dengan cara yang membuat Hikmah dan Rububiyah-Nya disangkal?
Sementara melalui Perbuatan-perbuatan-Nya Dia memperlihatkan keinginan untuk dicintai dan dikenal sampai tingkat yang tidak terbatas, apakah Dia menyerahkan syukur, rasa berutang budi, usaha untuk dicintai, dan ubudiyah makhluk-Nya yang paling sempurna kepada sebab-sebab lain, sehingga membuat Diri-Nya dilupakan dan Tujuan-Tujuan Luhur-Nya di kainat disangkal? Wahai kawan yang meninggalkan pemujaan alam! Katakanlah!
Ia mengatakan: Elhamdülillah, kedua keraguan saya telah terpecahkan. Engkau juga memperlihatkan dua bukti yang begitu terang dan kuat tentang Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, bahwa Dialah Ma'bûd Yang Benar, serta selain Dia tidak layak menerima ibadah. Menyangkalnya merupakan sikap keras kepala menolak kebenaran seperti menyangkal matahari dan siang.
--
PENUTUP
Orang yang meninggalkan pikiran kufur tentang alam dan datang kepada iman mengatakan: Elhamdülillah, keraguan saya tidak tersisa. Hanya ada beberapa pertanyaan yang menimbulkan rasa ingin tahu. Pertanyaan Pertama: Kami mendengar banyak orang malas dan orang yang meninggalkan salat mengatakan bahwa apa kebutuhan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq terhadap ibadah kami, sehingga dalam Al-Qur'an Dia dengan sangat keras serta terus-menerus menegur orang yang meninggalkan ibadah dan mengancam dengan hukuman mengerikan seperti neraka? Bagaimana ungkapan Al-Qur'an yang seimbang, lurus, dan adil dapat menunjukkan kekerasan paling besar terhadap kesalahan kecil yang tidak penting?
Jawaban:
Ya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tidak membutuhkan ibadahmu, bahkan tidak membutuhkan apa pun. Namun, engkau membutuhkan ibadah dan sakit secara maknawi. Dalam banyak risalah, kami telah membuktikan bahwa ibadah menjadi penawar bagi luka-luka batinmu. Jika seorang pasien, sebagai tanggapan terhadap desakan dokter yang penuh kasih untuk meminum obat bermanfaat bagi penyakitnya, mengatakan kepada dokter, “Apa kebutuhanmu sehingga engkau mendesakku demikian?” engkau memahami betapa tidak bermaknanya hal itu.
Adapun ancaman keras serta hukuman mengerikan dalam Al-Qur'an terhadap meninggalkan ibadah seperti seorang raja yang memberikan hukuman keras atas kesalahan orang biasa yang merugikan hak rakyatnya, demi menjaga hak-hak rakyat tersebut.
Demikian pula, orang yang meninggalkan ibadah dan salat melanggar hak seluruh yang ada, yang seperti rakyat Sang Sultan Azali Yang Kekal Selamanya, dengan pelanggaran penting dan kezaliman maknawi. Sebab, kesempurnaan seluruh yang ada tampak melalui tasbih serta ibadah pada sisi yang menghadap Sang Pembuat. Orang yang meninggalkan ibadah tidak melihat dan tidak dapat melihat ibadah seluruh yang ada; bahkan mungkin menyangkalnya. Saat itu ia merendahkan seluruh yang ada dari kedudukannya yang tinggi dalam ibadah serta tasbih. Masing-masing merupakan surat milik Sang Shamad dan cermin Asma Rabb. Namun, ia menganggapnya tidak penting, tanpa tugas, mati, dan kacau, sehingga menghina seluruh yang ada serta menyangkal dan melanggar kesempurnaannya.
Ya, setiap orang melihat kainat melalui cerminnya sendiri. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menciptakan manusia sebagai ukuran dan timbangan bagi kainat. Dia memberikan kepada setiap manusia suatu alam khusus dari alam ini, dan memperlihatkan warna alam tersebut sesuai keyakinan hatinya.
Misalnya, seseorang yang menangis dalam putus asa dan duka melihat seluruh yang ada menangis serta putus asa. Seseorang yang sangat gembira, riang, mendapat kabar baik, dan tertawa karena kegembiraannya yang penuh melihat kainat gembira serta tertawa. Demikian pula, orang yang beribadah dan bertasbih dengan perenungan serta kesungguhan menyingkap dan melihat sampai taraf tertentu ibadah serta tasbih seluruh yang ada, yang sesungguhnya ada dan pasti. Orang yang meninggalkan ibadah karena lalai atau menyangkal membayangkan seluruh yang ada dengan cara yang sepenuhnya bertentangan, berlawanan, dan keliru terhadap hakikat kesempurnaannya, serta secara maknawi melanggar hak mereka.
Orang yang meninggalkan salat juga menzalimi dirinya sendiri, yang merupakan hamba Sang Pemiliknya, sebab ia tidak memiliki dirinya sendiri. Sang Pemiliknya memberi ancaman mengerikan untuk mengambil hak hamba itu dari nafsu ammarahnya. Karena meninggalkan ibadah yang menjadi hasil penciptaan serta tujuan fitrahnya, ia juga melakukan sesuatu yang menjadi pelanggaran terhadap Hikmah Allah سُبْحَانَهُ dan Masyîah Rabb (Kehendak Allah سُبْحَانَهُ). Karena itu, ia dihukum.
Kesimpulannya:
Orang yang meninggalkan ibadah menzalimi dirinya sendiri—dirinya merupakan hamba dan milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq—serta melakukan pelanggaran dan kezaliman terhadap hak kesempurnaan kainat. Ya, sebagaimana kekufuran menghina seluruh yang ada, meninggalkan ibadah menyangkal kesempurnaan kainat. Karena juga melanggar Hikmah Allah سُبْحَانَهُ, ia layak menerima ancaman mengerikan dan hukuman keras.
Untuk mengungkapkan kelayakan hukuman serta hakikat tersebut, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memilih cara ungkapan yang keras itu secara bermukjizat, sehingga tepat sesuai tuntutan keadaan, yang merupakan hakikat balagah. Pertanyaan Kedua: Orang yang meninggalkan pandangan naturalisme dan datang kepada iman mengatakan:
Setiap yang ada tunduk pada Masyîah Allah سُبْحَانَهُ dan Kudrat Rabb dalam setiap segi, pekerjaan, hal, dan urusannya. Ini hakikat yang sangat besar. Karena besarnya, ia tidak muat dalam pikiran kami yang sempit. Namun, kelimpahan yang sangat besar yang kami lihat dengan mata sendiri, kemudahan yang tidak terbatas dalam menciptakan serta mewujudkan benda, kemudahan paling besar dalam penciptaan melalui jalan tauhid yang diteguhkan bukti-buktimu sebelumnya, serta kemudahan paling besar yang diperlihatkan dengan jelas oleh ayat-ayat seperti
ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ٭ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ
, yang diungkapkan oleh nash Al-Qur'an, memperlihatkan bahwa hakikat besar itu merupakan persoalan yang paling dapat diterima dan paling masuk akal. Apakah rahasia serta hikmah kemudahan ini?
Jawaban:
Dalam penjelasan
ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
, yakni Kalimat Kesepuluh dari Surat Kedua Puluh, rahasia tersebut dijelaskan dengan sangat terang, pasti, dan meyakinkan. Terutama, dalam Tambahan surat itu, telah dibuktikan dengan lebih jelas bahwa ketika seluruh yang ada dinisbahkan kepada Sang Pembuat Yang Wâhid, semuanya mudah seperti satu yang ada. Jika tidak diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, penciptaan satu makhluk menjadi sulit seperti seluruh yang ada, dan satu benih menjadi sesukar satu pohon.
Jika diserahkan kepada Sang Pembuat Yang Hakiki, kainat menjadi mudah seperti pohon, pohon seperti benih, surga seperti musim semi, dan musim semi seperti bunga. Di antara ratusan bukti yang memperlihatkan hikmah serta menjelaskan rahasia kelimpahan dan murahnya yang tidak terbatas, banyaknya individu setiap jenis dengan mudah, serta terwujudnya benda-benda teratur, berseni, dan berharga dengan kemudahan serta kecepatan yang sangat besar yang terlihat dengan mata kepala, kami memberikan isyarat singkat kepada satu atau dua bukti yang telah dijelaskan secara terperinci dalam risalah-risalah lain.
Misalnya, menyerahkan seratus prajurit kepada pimpinan seorang perwira seratus kali lebih mudah daripada menyerahkan seorang prajurit kepada pimpinan seratus perwira. Begitu pula, apabila perlengkapan militer sebuah pasukan diserahkan kepada satu pusat, satu hukum, satu pabrik, dan perintah seorang raja, dalam hal jumlah pekerjaan, perlengkapan itu menjadi hampir semudah perlengkapan seorang prajurit. Sebaliknya, menyerahkan perlengkapan militer seorang prajurit kepada banyak pusat, banyak pabrik, dan banyak komandan, dalam hal jumlah pekerjaan, menjadi hampir sesulit perlengkapan sebuah pasukan. Sebab, untuk melengkapi seorang prajurit itu, harus tersedia seluruh pabrik yang dibutuhkan oleh segenap pasukan.
Begitu pula, melalui rahasia kesatuan, bahan-bahan yang diperlukan untuk kehidupan sebuah pohon diberikan melalui satu akar, satu pusat, dan satu hukum. Karena itu, tampak nyata bahwa pohon yang menghasilkan ribuan buah tersebut semudah satu buah. Jika beralih dari kesatuan kepada kemajemukan, dan bahan-bahan kehidupan yang diperlukan setiap buah diberikan dari tempat yang berbeda, setiap buah akan menimbulkan kesulitan sebesar sebuah pohon. Bahkan, satu biji yang merupakan contoh kecil dan daftar ringkas pohon itu juga akan sesulit pohon tersebut. Sebab, seluruh bahan yang diperlukan untuk kehidupan sebuah pohon juga diperlukan oleh satu biji.
Seperti contoh-contoh ini, terdapat ratusan contoh yang menunjukkan bahwa ribuan makhluk yang terwujud dengan sangat mudah dalam kesatuan lebih mudah daripada satu makhluk dalam syirik dan kemajemukan.
Karena hakikat ini telah dibuktikan dalam risalah-risalah lain sejelas dua kali dua sama dengan empat, kami merujuk kepada risalah-risalah itu. Di sini, kami hanya akan menjelaskan satu rahasia yang sangat penting dari kemudahan tersebut, dilihat dari Ilmu dan Takdir Ilahi serta Kudrat Rabb. Demikianlah:
Engkau adalah suatu makhluk. Jika engkau menyerahkan dirimu kepada Sang Qadîr Yang Azali, Dia menciptakanmu dalam sekejap dari tidak ada sama sekali, dengan satu Perintah dan Kudrat-Nya yang tak terbatas, seperti menyalakan sebatang korek api. Jika engkau tidak menyerahkan dirimu kepada-Nya, tetapi menisbahkan dirimu kepada sebab-sebab materi dan alam, maka untuk membuatmu, kainat beserta unsur-unsurnya harus diayak dengan ayakan yang sangat halus. Bahan-bahan dalam tubuhmu harus dikumpulkan dari seluruh penjuru alam dengan ukuran yang sangat teliti. Sebab, engkau adalah ringkasan yang teratur, buah, serta indeks dan daftar kecil dari kainat.
Sebab-sebab materi hanya menyusun dan mengumpulkan. Semua orang berakal mengakui bahwa sebab-sebab itu tidak dapat membuat sesuatu yang tidak dimilikinya dari tidak ada sama sekali. Maka, sebab-sebab itu harus mengumpulkan tubuh sebuah makhluk hidup kecil dari seluruh penjuru alam.
Pahamilah betapa besar kemudahan dalam kesatuan dan tauhid, serta betapa besar kesulitan dalam syirik dan kesesatan!
Kedua, dari segi Ilmu terdapat kemudahan yang tak terbatas. Demikianlah:
Takdir adalah suatu jenis Ilmu yang menentukan ukuran bagi segala sesuatu, sebagai cetakan khususnya yang bersifat maknawi. Ukuran Takdir tersebut menjadi rancangan dan model bagi wujud sesuatu itu. Ketika Kudrat menciptakannya, hal itu dilakukan dengan sangat mudah berdasarkan ukuran Takdir tersebut.
Jika sesuatu itu tidak diserahkan kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Pemilik Ilmu yang meliputi segala sesuatu, tak terbatas, dan azali, maka—sebagaimana telah dijelaskan—yang muncul bukan hanya ribuan kesulitan, melainkan seratus hal yang mustahil. Sebab, jika ukuran Takdir dan ukuran dalam Ilmu itu tidak ada, ribuan cetakan materi yang nyata di luar harus digunakan dalam tubuh seekor hewan yang sangat kecil.
Pahamilah satu rahasia dari kemudahan tanpa batas dalam kesatuan, serta kesulitan yang tak terbatas dalam kesesatan dan syirik. Ketahuilah betapa ayat
ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ
menyatakan suatu hakikat yang benar, luhur, dan sepenuhnya sesuai dengan kenyataan!
Pertanyaan Ketiga: Orang yang telah mendapat hidayah, dahulu musuh dan sekarang sahabat, berkata: Para filsuf yang sangat maju pada zaman ini mengatakan, “Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan dari tidak ada, dan tidak ada sesuatu pun yang dilenyapkan. Hanya proses menyusun dan menguraikan yang menjalankan pabrik kainat.”
Jawaban:
Para filsuf yang paling maju, yang tidak memandang makhluk dengan cahaya Al-Qur'an, melihat bahwa terbentuknya makhluk-makhluk ini dan terwujudnya mereka melalui alam serta sebab-sebab sangat sulit sampai pada tingkat mustahil, sebagaimana telah kami buktikan. Karena itu, mereka terbagi menjadi dua kelompok.
Sebagian menjadi kaum sofis. Mereka meninggalkan akal yang merupakan ciri khas manusia dan jatuh lebih rendah daripada hewan-hewan yang bodoh. Di jalan kesesatan, mereka menganggap mengingkari wujud kainat, bahkan mengingkari wujud diri sendiri, lebih mudah daripada menganggap sebab-sebab dan alam sebagai pencipta. Karena itu, mereka mengingkari diri sendiri beserta kainat, lalu jatuh dalam kebodohan mutlak.
Kelompok kedua melihat bahwa dalam kesesatan, jika sebab-sebab dan alam dianggap sebagai pencipta, penciptaan seekor lalat atau satu biji menghadapi kesulitan yang tak terbatas dan memerlukan daya yang berada di luar jangkauan akal. Karena itu, mereka terpaksa mengingkari penciptaan. Mereka berkata, “Yang tidak ada tidak dapat menjadi ada.” Mereka juga menganggap melenyapkan sesuatu mustahil dan menetapkan, “Yang ada tidak dapat menjadi tidak ada.” Mereka hanya membayangkan keadaan yang dianggap ada, berupa menyusun, menguraikan, berpisah, dan berkumpul, melalui gerak zarah serta hembusan angin kebetulan.
Marilah, lihat orang-orang yang berada pada tingkat paling rendah dalam kebodohan dan ketidaktahuan, tetapi menganggap diri paling tinggi dalam kecerdasan. Ketahuilah betapa kesesatan membuat manusia menjadi bahan tertawaan, hina, dan amat bodoh. Ambillah pelajaran!
Suatu Kudrat Azali menciptakan empat ratus ribu jenis sekaligus di muka bumi setiap tahun, menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, serta membangun sebuah kainat hidup yang lebih penuh seni dan hikmah daripada kainat ini dalam enam minggu setiap musim semi. Dalam lingkup suatu Ilmu Azali, rancangan dan ukuran makhluk-makhluk yang berada dalam Ilmu telah ditentukan. Seperti bahan kimia yang dioleskan untuk menampakkan tulisan yang tidak terlihat, yang ditulis dengan bahan kimia tak kasatmata, Kudrat Azali itu dengan sangat mudah memberikan wujud nyata kepada makhluk-makhluk yang berada dalam Ilmu, yang tidak ada secara nyata di luar. Apakah patut menganggap hal ini jauh dari kemampuan Kudrat Azali dan mengingkari penciptaan? Sikap ini lebih bodoh dan lebih tidak tahu daripada kelompok pertama, yaitu kaum sofis.
Orang-orang malang ini, dengan nafsu mereka yang telah menjadi seperti Firaun, sama sekali tak berdaya dan tidak memiliki apa pun selain kehendak bebas manusia. Karena mereka tidak dapat melenyapkan dan meniadakan sesuatu, serta tidak dapat menciptakan satu zarah atau suatu materi dari tidak ada sama sekali, dan karena sebab-sebab serta alam yang mereka andalkan tidak mampu menciptakan dari tidak ada, dalam kebodohan mereka berkata, “Yang tidak ada tidak dapat menjadi ada, dan yang ada tidak dapat menjadi tidak ada.” Mereka ingin memberlakukan prinsip yang salah dan batil ini juga kepada Sang Qadîr Mutlak.
Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâl menciptakan dengan dua cara. Yang pertama ialah menciptakan sebagai sesuatu yang baru dan dari tidak ada sama sekali. Artinya, Dia memberikan wujud dari tidak ada sama sekali, lalu menciptakan segala sesuatu yang diperlukan makhluk itu juga dari tidak ada, dan memberikannya kepadanya. Yang kedua ialah membangun dan membuat dengan seni. Artinya, untuk berbagai hikmah yang sangat halus, seperti memperlihatkan Hikmah-Nya Yang Sempurna dan berbagai manifestasi Asma-Nya, Dia membangun sebagian makhluk dari unsur-unsur kainat. Melalui hukum pemberian rezeki, Dia mengirimkan zarah-zarah dan materi yang tunduk kepada setiap Perintah-Nya kepada makhluk-makhluk itu, lalu mempekerjakannya di dalam mereka.
Ya, Sang Qadîr Mutlak menciptakan dengan dua cara, baik dari tidak ada maupun dengan membangun. Menjadikan yang ada tidak ada dan menjadikan yang tidak ada ada merupakan hukum-Nya yang paling mudah, bahkan terus berlaku dan menyeluruh. Dalam satu musim semi, suatu Kudrat mewujudkan dari tidak ada bentuk-bentuk, sifat-sifat, bahkan seluruh keadaan dan ciri tiga ratus ribu jenis makhluk hidup, selain zarah-zarahnya. Orang yang menghadapi Kudrat seperti itu lalu berkata, “Dia tidak dapat mewujudkan yang tidak ada!” semestinya lenyap!
Orang yang meninggalkan pandangan naturalisme dan beralih kepada hakikat berkata: Saya bersyukur, memuji, dan menyanjung Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq sebanyak jumlah zarah, karena saya telah memperoleh iman yang sempurna, terbebas dari sangkaan keliru dan kesesatan, serta tidak lagi memiliki keraguan apa pun.
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺩ۪ﻳﻦِ الْاِسْلَامِ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻝِ الْا۪يمَانِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ