HAKIKAT PERTAMA
Pintu Rububiyah dan Kekuasaan, yang merupakan manifestasi Nama Rabb.
Mungkinkah tuntutan Rububiyah dan Kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ yang berhak disembah, khususnya setelah menciptakan kainat seperti ini dengan tujuan-tujuan yang begitu luhur dan maksud-maksud yang tinggi untuk memperlihatkan Kesempurnaan-Nya, tidak memberi pahala kepada orang-orang beriman yang menyambut tujuan dan maksud itu dengan iman serta ubudiyah, dan tidak menghukum orang-orang sesat yang menyambut maksud itu dengan penolakan serta penghinaan?
HAKIKAT KEDUA
Pintu Kemurahan dan Rahmat, yang merupakan manifestasi Nama Karîm dan Rahîm.
Mungkinkah Rabb alam ini, yang melalui karya-karya yang Dia perlihatkan menunjukkan bahwa Dia memiliki Kemurahan tanpa batas, Rahmat tanpa batas, Kemuliaan tanpa batas, dan Penjagaan atas Kehormatan-Nya tanpa batas, tidak memberi pahala yang sesuai dengan Kemurahan dan Rahmat-Nya serta hukuman yang sesuai dengan Kemuliaan dan Penjagaan atas Kehormatan-Nya?
Ya, jika perjalanan dunia ini diperhatikan, terlihat bahwa setiap makhluk hidup diberi rezeki yang sesuai, dari yang paling tak berdaya dan paling lemah {(Catatan kaki): Bukti pasti bahwa rezeki halal diperoleh bukan dengan kemampuan, melainkan diberikan berdasarkan kebutuhan, ialah: anak-anak hewan yang tidak berdaya hidup dengan baik, sedangkan binatang buas yang kuat sulit mencari penghidupan; ikan yang tidak cerdas bertubuh gemuk, sedangkan rubah dan kera yang cerdas dan pandai bersiasat bertubuh kurus karena kesulitan mencari penghidupan.
Jadi, rezeki berbanding terbalik dengan kemampuan dan pilihan.
Seberapa besar seseorang mengandalkan kemampuan dan pilihannya, sebesar itu pula ia tertimpa kesulitan mencari penghidupan.} hingga yang paling kuat.
Rezeki terbaik diberikan kepada yang paling lemah dan paling tak berdaya.
Setiap yang menderita mendapat obat dari tempat yang tidak ia duga.
Jamuan dan pemberian disuguhkan dengan Kemurahan yang begitu Luhur, sehingga dengan jelas menunjukkan bahwa Tangan Kemurahan tanpa batas sedang bekerja di dalamnya.
Misalnya, pada musim semi seluruh pohon didandani seperti bidadari surga dengan pakaian laksana sutra halus, dihias dengan permata berupa bunga dan buah, lalu dijadikan pelayan.
Melalui dahan-dahannya, yang merupakan tangan-tangannya yang lembut, pohon-pohon itu menyuguhkan kepada kita berbagai macam buah yang paling manis dan dibuat dengan sangat indah.
Kita juga diberi makan madu yang paling manis dan berkhasiat melalui tangan seekor serangga beracun, dipakaikan pakaian yang paling indah dan lembut melalui tangan seekor serangga yang tidak bertangan, serta disimpankan suatu khazanah besar Rahmat bagi kita di dalam sebuah biji kecil.
Semua itu jelas memperlihatkan betapa indahnya karya Kemurahan dan betapa lembutnya karya Rahmat tersebut.
Selain manusia dan sebagian binatang buas, segala sesuatu, dari matahari, bulan, dan bumi hingga makhluk yang paling kecil, menjalankan tugasnya dengan perhatian sempurna dan tidak melampaui batasnya sedikit pun.
Adanya ketaatan bersama di bawah kewibawaan yang begitu besar menunjukkan bahwa mereka bergerak atas Perintah Pemilik Keagungan dan Kemuliaan yang Besar.
Selain itu, dari cara semua induk, baik tumbuhan, hewan, maupun manusia, merawat anak-anaknya yang tak berdaya dan lemah dengan kasih sayang yang penuh rahmat {(Catatan kaki): Ya, seekor singa yang lapar mendahulukan anaknya yang lemah daripada dirinya sendiri, sehingga tidak memakan daging yang didapatnya, tetapi memberikannya kepada anaknya.
Seekor ayam yang penakut menyerang anjing dan singa untuk melindungi anaknya.
Sebatang pohon ara memakan lumpur, tetapi memberikan susu murni kepada buah-buahnya yang merupakan anak-anaknya.
Bagi siapa pun yang tidak buta, semua itu jelas menunjukkan bahwa mereka bergerak atas nama Zat Yang Rahîm, Karîm, dan Penuh Kasih Sayang tanpa batas.
Ya, makhluk tanpa kesadaran seperti tumbuhan dan hewan melakukan pekerjaan yang sangat sadar dan penuh hikmah.
Hal itu dengan pasti menunjukkan bahwa ada Zat Yang Alîm dan Hakîm pada tingkat yang tertinggi, yang membuat mereka bekerja.
Mereka bekerja atas nama-Nya.} serta dengan makanan yang lembut seperti susu, jelas dapat dipahami bahwa Manifestasi Rahmat yang begitu luas sedang bekerja.
Karena Pengelola alam ini memiliki Kemurahan tanpa batas seperti itu, Rahmat tanpa batas seperti itu, serta Keagungan dan Kemuliaan tanpa batas seperti itu, maka Keagungan dan Kemuliaan tanpa batas menuntut agar mereka yang tidak tahu adab diberi pelajaran.
Kemurahan tanpa batas menuntut Pemberian tanpa batas.
Rahmat tanpa batas menuntut Karunia yang sesuai dengan-Nya.
Padahal, dalam dunia sementara dan umur yang singkat ini, hanya satu bagian dari jutaan bagian yang dapat tertampung dan ber-Tajalli (tampak nyata), laksana setetes air dari lautan.
Jadi, akan ada negeri kebahagiaan yang sesuai dengan Kemurahan itu dan layak bagi Rahmat itu.
Jika tidak, kita harus mengingkari adanya Rahmat yang terlihat ini, seperti mengingkari adanya matahari yang memenuhi siang dengan cahayanya.
Sebab, lenyap tanpa pernah kembali akan mengubah kasih sayang menjadi musibah, cinta menjadi kepedihan yang membakar, nikmat menjadi bencana, akal menjadi alat yang menyengsarakan, dan kenikmatan menjadi derita.
Dengan demikian, hakikat Rahmat harus padam.
Akan ada pula negeri hukuman yang sesuai dengan Keagungan dan Kemuliaan itu.
Sebab, sering kali orang zalim tetap dalam kehormatannya dan orang yang dizalimi tetap dalam kehinaannya ketika mereka berpindah dan meninggalkan dunia ini.
Jadi, perkara mereka diserahkan dan ditangguhkan kepada suatu pengadilan terbesar.
Perkara itu bukan diabaikan.
Kadang-kadang Dia memberi hukuman bahkan di dunia.
Azab yang menimpa kaum-kaum pembangkang dan keras kepala pada abad-abad terdahulu menunjukkan bahwa manusia tidak dibiarkan sesuka hati; ia setiap saat dapat terkena Tamparan Keagungan dan Penjagaan atas Kehormatan-Nya.
Ya, mungkinkah manusia memiliki tugas penting dan kemampuan penting di antara seluruh yang ada, sementara Rabb manusia memperkenalkan Diri-Nya kepadanya melalui begitu banyak ciptaan-Nya yang teratur, tetapi manusia tidak menyambutnya dengan mengenal-Nya melalui iman; Dia membuat manusia mencintai-Nya melalui begitu banyak buah Rahmat yang indah, tetapi manusia tidak menyambutnya dengan membuat dirinya dicintai oleh-Nya melalui ibadah; Dia menunjukkan Cinta dan Rahmat-Nya kepadanya melalui begitu banyak nikmat yang beraneka macam, tetapi manusia tidak menyambutnya dengan menghormati-Nya melalui syukur dan pujian; lalu manusia tetap tanpa hukuman dan dibiarkan sesuka hati, serta Zat Dzul-Jalâl Yang memiliki Kemuliaan dan menjaga Kehormatan-Nya itu tidak menyiapkan suatu negeri hukuman?
Mungkinkah pula Ar-Rahmân Yang Rahîm itu tidak memberi suatu negeri pahala dan kebahagiaan abadi kepada orang-orang beriman yang menyambut perkenalan Diri-Nya dengan mengenal-Nya melalui iman, menyambut upaya-Nya membuat mereka mencintai-Nya dengan mencintai-Nya dan membuat diri mereka dicintai oleh-Nya melalui ibadah, serta menyambut Rahmat-Nya dengan menghormati-Nya melalui syukur?