Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Butir Hikmah Kedua:

Risalah Mikraj dan Terbelahnya Bulan · Bahasa Indonesia

Butir Hikmah Kedua:

Salah satu peristiwa dalam mikraj Nabi ﷺ ialah Cinta Murni Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ diungkapkan dengan perkataan, "Aku telah jatuh cinta kepadamu." Ungkapan-ungkapan ini, dalam makna yang lazim, tidak sesuai dengan kesucian Wâjibul Wujûd (Yang Wajib Ada) serta Diri-Nya yang tidak membutuhkan apa pun.

Karena Mevlid karya Süleyman Efendi memperoleh minat masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa tokoh itu wali serta ahli hakikat; tentu makna yang ditunjukkannya benar. Maknanya ialah:

Zat Wâjibul Wujûd mempunyai Keindahan serta Kesempurnaan tak terhitung. Sebab, segala jenis keindahan serta kesempurnaan yang terbagi dalam seluruh bagian kainat merupakan tanda, isyarat, serta bukti Keindahan dan Kesempurnaan-Nya.

Sebagaimana setiap pemilik keindahan serta kesempurnaan jelas mencintai keindahan dan kesempurnaannya, Zat Dzul-Jalâl juga amat mencintai Keindahan-Nya. Dia mencintainya dengan cinta yang layak bagi-Nya. Dia juga mencintai Asma-Nya yang merupakan sinar Keindahan-Nya. Karena mencintai Asma-Nya, tentu Dia mencintai karya-Nya yang menunjukkan Keindahan Asma tersebut. Karena itu, Dia juga mencintai karya-karya-Nya yang menjadi cermin Keindahan serta Kesempurnaan-Nya. Karena mencintai yang menunjukkan Keindahan serta Kesempurnaan-Nya, tentu Dia mencintai keindahan makhluk-makhluk-Nya yang mengisyaratkan Keindahan serta Kesempurnaan Asma-Nya.

Al-Qur'an Al-Hakîm melalui ayat-ayatnya mengisyaratkan kelima jenis cinta ini.

Karena Rasul Yang Paling Mulia ﷺ merupakan individu paling sempurna di antara karya-karya serta pribadi paling istimewa di antara makhluk-makhluk; beliau juga memperlihatkan serta menghargai karya Ilahi melalui gemuruh zikir dan tasbih; beliau juga membuka khazanah Keindahan serta Kesempurnaan dalam Asma Allah سُبْحَانَهُ melalui bahasa Al-Qur'an; beliau juga menjelaskan dengan cara bersinar serta pasti, melalui bahasa Al-Qur'an, bahwa tanda-tanda penciptaan kainat menunjukkan Kesempurnaan Sang Pembuatnya; beliau juga menjadi cermin bagi Rububiyah Ilahi melalui ubudiyah beliau yang menyeluruh; beliau juga menjadi tempat paling sempurna bagi seluruh Asma Allah سُبْحَانَهُ melalui hakikat diri beliau yang menyeluruh; tentu karena itu dapat dikatakan bahwa Sang Jamîl Dzul-Jalâl, melalui Cinta-Nya kepada Keindahan-Nya sendiri, mencintai Muhammad dari bangsa Arab ﷺ, cermin sadar paling sempurna dari Keindahan itu.

Melalui Cinta-Nya kepada Asma-Nya sendiri, Dia juga mencintai Muhammad dari bangsa Arab ﷺ, cermin paling bersinar bagi Asma tersebut, serta mencintai orang-orang yang menyerupai Muhammad dari bangsa Arab ﷺ sesuai derajat mereka.

Karena mencintai karya-Nya, tentu Dia mencintai Muhammad dari bangsa Arab ﷺ, yang menyebarkan karya-Nya dalam seluruh kainat dengan suara paling tinggi serta mengumumkannya melalui gemuruh zikir dan tasbih yang membuat telinga langit bergema serta daratan dan lautan terhanyut. Dia juga mencintai mereka yang mengikuti beliau.

Karena mencintai karya-karya-Nya, tentu Dia lebih mencintai makhluk hidup yang paling sempurna di antara karya-karya tersebut; makhluk yang sadar, yang paling sempurna di antara makhluk hidup; manusia, yang paling utama di antara makhluk yang sadar; serta Muhammad dari bangsa Arab ﷺ, yang menurut kesepakatan paling sempurna di antara manusia.

Karena mencintai keindahan akhlak makhluk-makhluk-Nya, Dia juga mencintai Muhammad dari bangsa Arab ﷺ, yang menurut kesepakatan berada pada derajat tertinggi dalam keindahan akhlak. Dia juga mencintai mereka yang menyerupai beliau sesuai derajat mereka. Jadi, seperti Rahmat-Nya, Cinta Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq pun meliputi kainat.

Dalam masing-masing dari lima segi yang disebutkan itu, di antara orang-orang tercinta yang tak terhitung, kedudukan tertinggi khusus bagi Muhammad dari bangsa Arab ﷺ, sehingga gelar "Habibullah" ﷺ diberikan kepada beliau.

Süleyman Efendi menjelaskan kedudukan tertinggi sebagai orang yang dicintai ini melalui ungkapan, "Aku telah jatuh cinta kepadamu." Ungkapan ini merupakan tempat mengamati untuk merenung, isyarat bagi hakikat tersebut dari jarak amat jauh. Meskipun demikian, karena ungkapan ini membawa ke khayalan makna yang tidak sesuai dengan urusan Allah سُبْحَانَهُ dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu, yang terbaik ialah mengatakan, "Aku telah rida kepadamu," sebagai ganti ungkapan tersebut.

Butir Hikmah Ketiga:

Peristiwa-peristiwa dalam Mi'raciye tidak dapat mengungkapkan hakikat-hakikat suci serta murni itu melalui makna yang kita ketahui. Justru percakapan-percakapan itu masing-masing merupakan sebutan untuk direnungkan, tempat mengamati untuk merenung, isyarat bagi hakikat-hakikat luhur serta mendalam, pengingat bagi sebagian hakikat iman, serta ungkapan tidak langsung bagi beberapa makna yang tidak dapat diungkapkan.

Ia bukan petualangan dalam makna yang kita ketahui. Kita tidak dapat memperoleh hakikat-hakikat itu dari percakapan tersebut melalui khayalan; justru melalui hati, kita dapat memperoleh cita rasa iman yang menggelora serta kegembiraan rohani yang bercahaya.

Sebagaimana Zat serta Sifat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tidak mempunyai bandingan, yang menyerupai, ataupun yang sama, Syuunat Rububiyah-Nya juga tidak mempunyai yang sama. Sebagaimana Sifat-Nya tidak menyerupai sifat makhluk, Cinta-Nya pun tidak menyerupainya. Karena itu, dengan menganggap ungkapan-ungkapan ini sebagai jenis mutasyabihat (yang samar), kami berkata: Zat Wâjibul Wujûd mempunyai beberapa Syuunat, seperti Cinta-Nya, dengan cara yang sesuai dengan Dia yang wajib ada serta suci, dan sesuai dengan Diri-Nya yang tidak membutuhkan apa pun serta Kesempurnaan mutlak-Nya.

Kisah Mi'raciye mengingatkan tentang hal itu. Kalimat Ketiga Puluh Satu mengenai mikraj Nabi ﷺ telah menjelaskan hakikat-hakikat mikraj dalam lingkup dasar-dasar iman. Dengan mencukupkan pada penjelasan itu, kami meringkas di sini.