PETUNJUK TERSIRAT KEENAM BAGIAN KEDELAPAN SURAT KEDUA PULUH SEMBILAN
Tentang beberapa rahasia dari banyak rahasia Surah İnna A'taynake'l-Kevser yang berkaitan dengan rahasia tawafuk. Rahasia-rahasia itu menunjukkan dengan jelas bahwa İnna A'tayna merupakan mukjizat dengan sendirinya. Sebagai contoh, patut ditunjukkan dua atau tiga butir hikmah kecil dari keindahannya.
Pertama: Bersama terdapatnya pengulangan huruf dalam Surah Al-Kautsar secara teratur dari satu sampai sembilan—yakni satu, dua, tiga, empat, hingga sembilan masing-masing—di antara 19 huruf yang ada dari 28 huruf abjad, ia mengambil huruf paling indah dan paling ringan bagi lisan dari setiap pasangan huruf yang bersaudara. Demikianlah: dari ﺭ dan ﺯ, ﺭ ada, ﺯ tidak ada; dari ﺱ dan ﺵ, ﺵ ada, ﺱ tidak ada; dari ﺹ dan ﺽ, ﺹ ada, ﺽ tidak ada; dari ﻁ dan ﻅ, ﻁ ada, ﻅ tidak ada; dari ﻉ dan ﻍ, ﻉ ada, ﻍ tidak ada; dari ﻑ dan ﻕ, ﻑ ada, ﻕ tidak ada; dari ﻥ dan ﻡ, ﻥ ada, ﻡ tidak ada; seperti itu, sebagaimana terdapat pilihan yang halus, teratur, dan penuh makna, seluruh hurufnya bersama basmalah juga berjumlah 65 dan mengungkapkan ﻫُﻮَ.
Huruf-hurufnya tanpa basmalah menunjuk kepada waktu turunnya.
Kedua: Inti rahasia yang dijelaskan 13 kali dengan angka 13 dalam petunjuk tersirat tentang Surah Al-Kautsar ini ialah:
Sebagaimana 13 ﺍﻝ dalam Al-Fatihah bertepatan dengan jumlah 13 surah Al-Qur'an yang terkenal, berupa 7 ﺍﻟٓﻢٓ dan 6 ﺍﻟٓﺮٰ, lalu melalui 13 ﺍﻝ menunjuk dan menekankan awal 13 surah; dan sebagaimana melalui 15 mim dalam Al-Fatihah, ﺍﻟٓﻢٓ, ﺣٰﻢٓ, serta satu ﺍﻟٓﻤٓﺮٰ, ia menunjuk awal 15 surah dan menekankan mim-mimnya; melalui rahasia bahwa Al-Qur'an termuat dalam Al-Fatihah dan Al-Fatihah dalam Surah Al-Kautsar, Surah Al-Kautsar pun melalui 13 elif, seperti 13 ﺍﻝ dalam Al-Fatihah, dengan 13 jari menekankan awal 13 surah yang terkenal, serta memperlihatkan bahwa dirinya juga Al-Qur'an kecil.
Ketiga: Karena kata Kautsar merupakan kata yang suci, mencakup banyak makna, menyeluruh, dan bercahaya, ia mempunyai makna-makna mulai dari makna kamusnya, kebaikan yang banyak, kolam Kautsar di akhirat, dan Al-Qur'an yang merupakan kolam Kautsar maknawi, sampai seluruh hadiah Rahmân serta kemenangan dari Rabb yang diberikan kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang merupakan contoh nyata dari sebutan kebaikan yang banyak, hingga penaklukan Makkah, Baitulmaqdis, Syam, dan Istanbul; juga terdapat isyarat kepada makna-makna tersebut.
Misalnya, melalui jumlah 8 huruf yang tidak berulang, jumlah 8 huruf yang berulang, 8 pengulangan elif, 8 pengulangan nun, dan 8 huruf ﻙ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮ ﻑ yang menunjuk penaklukan Istanbul, ia bertepatan melalui rahasia tawafuk dan kesesuaian lima kali delapan dengan tahun penaklukan Makkah Al-Mukarramah pada tahun kedelapan, sumber air lantunan Al-Qur'an serta kolam Kautsarnya. Tawafuk itu tentu tidak dapat merupakan kebetulan dalam surah bercahaya yang membawa kemenangan ini. Justru ia isyarat suci yang dibuat bertepatan.
Keempat: Karena Al-Kautsar merupakan sesuatu yang menyeluruh, dan salah satu anggotanya adalah Istanbul;
dan karena surah ini memberitakan kemenangan-kemenangan Islam serta Pemberian Ilahi yang dianugerahkan kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ;
dan karena nilai ebced Al-Kautsar adalah 757, pada masa Sultan Orhan, di bawah komando Süleyman Paşa, dengan kesaksian 40 pahlawan yang disebut "Erler", melalui pengepungan pada tahun 757 itu, ia membaca pembukaannya bagi masuknya Istanbul ke bawah ikatan pemerintahan Islam;
dan karena pada
ﺍِﻧَّﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﻨَﺎﻙَ
terdapat ﻙ, untuk menyatakan kepada siapa Kautsar diberikan, dengan tambahan pada ﻓَﺼَﻞِّ berupa ﻑ yang menunjukkan untuk apa ia diberikan, melalui jumlah 857 bertepatan dengan tahun 857, ketika melalui tangan Sultan Fatih, wakil Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, Istanbul masuk ke lingkungan Islam sebagai masjid yang amat besar serta tempat salat yang agung;
tentu dapat dikatakan bahwa surah ini menunjuk, hampir dengan jelas, kepada kautsar kekhalifahan Islam ini.
ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺑِﺴِﺮِّ ﺳُﻮﺭَﺓِ ﺍﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﻭَﺑِﺤُﺮْﻣَﺔِ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﺍَﺳْﻘِﻨَﺎ ﻭَﺭُﻓَﻘَﺎﺋَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺀِ ﺍﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﻓ۪ﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻤَﺤْﺸَﺮِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦ
PETUNJUK TERSIRAT KEDELAPAN BAGIAN KEDELAPAN SURAT KEDUA PULUH SEMBILAN
Tentang keindahan tawafuk serta isyarat gaib yang berkaitan dengan huruf empat surah kecil, dengan amat ringkas.
Sebagaimana terdapat berbagai segi i'jaz serta rahasia suci dalam hakikat, makna, ayat, kata, dan susunan Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, dalam hurufnya pun terdapat banyak kilau i'jaz. Bahkan, dalam susunan hurufnya terdapat banyak isyarat luhur, dan dalam jumlah pengulangannya terdapat banyak hubungan tawafuk yang halus. Bahkan dapat dikatakan: sebagaimana setiap huruf Al-Qur'an memberi buah-buah pahala kebaikan dari 10 sampai 1000, setiap huruf juga memberi banyak buah isyarat dan mengungkapkan banyak makna.
Huruf-huruf Al-Qur'an seakan merupakan sandi-sandi Ilahi yang agung dan beragam.
Di antaranya: Dengan nilai ebced 1003, Surah Al-Ikhlas menunjuk bahwa 1003 Surah Al-Ikhlas merupakan suatu khatam khusus Al-Ikhlas; juga bahwa ia Ismul A'zham yang terperinci; juga bahwa melalui tiga pengulangan, ia menjadi khatam kecil Al-Qur'an; juga kepada keutamaan agung mengulangnya tiga kali masing-masing. Sebagaimana melalui rahasia tawafuk dengan nilai ebced
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
dari satu segi, dengan syarat ﺭ yang bertasydid dihitung sebagai dua ﺭ, ia menunjuk bahwa 1000 basmalah, seperti 1000 Al-Ikhlas, merupakan perincian Ismul A'zham, melalui huruf-hurufnya ia juga memandang banyak rahasia.
Juga, melalui 6 kalimatnya ia membuktikan 6 tingkat tauhid, yang merupakan dasar terbesar dari empat dasar Al-Qur'an, serta menolak 6 macam syirik. Karena setiap kalimatnya merupakan hasil sekaligus pendahuluan bagi kalimat-kalimat lain, dalam Surah Al-Ikhlas termuat 30 surah yang dibuktikan melalui rangkaian bukti, sebanyak 30 Surah Al-Ikhlas. Hal itu menunjukkan betapa agung lautan tauhid surah kecil ini.
Bandingkanlah hubungan-hubungan halus huruf dengan ini: di dalamnya elif 5, ﻭ 5, dan ﺩ 5 saling bertepatan, serta sesuai dengan 5 huruf lafzullah. Seluruh hurufnya berjumlah 67, bertepatan dengan nilai ebced lafzullah; sebagaimana melalui nilai ebcednya pun ia secara maknawi mengatakan "Allah" سُبْحَانَهُ, ﻩ 4, ﻡ 4, dan dengan tanwin ﻥ 4 saling bertepatan serta bertepatan dengan 4 ayat surah ini, memperlihatkan keindahan serta keteraturannya.
Keteraturan huruf Surah Al-Falaq memperlihatkan bahwa ia mempunyai banyak isyarat. Di antaranya: elif 6, ﻝ 6, dan ﻕ 6 saling bertepatan, sesuai dengan 6 ayatnya bersama basmalah, serta secara tersembunyi mengisyaratkan empat angka enam pada 6666 ayat Al-Qur'an. Hal itu merupakan sifat surah penuh rahasia ini. ﺱ 3, ﺵ 3, ﺩ 3, dan ﻑ 3 saling bertepatan; melalui rahasia tawafuk 99 huruf surah ini dengan jumlah 99 Asmaulhusna, ia mengisyaratkan bahwa dirinya dianggap sebagai permohonan perlindungan yang menyeluruh dengan seluruh Asmaulhusna.
Juga, melalui tawafuk nilai ebced hurufnya, 10200 lebih, dengan 10212, nilai ebced huruf Al-Fatihah, ia mengisyaratkan bahwa setiap surah berhubungan dengan seluruh surah. Semua itu memperlihatkan keteraturannya dan bahwa ia mempunyai isyarat.
Huruf Surah An-Nas dari segi pengulangan naik dengan amat teratur dari 1 sampai 12. Misalnya, ﻕ 1, ﻩ 2, ﺡ 3, ﻯ 4, ﺭ 5, ﻡ 6, ﻭ 7, ﻥ 9, ﺱ 10, ﺍ 11, dan ﻝ 12, seperti lâm Surah Al-Ikhlas, memperlihatkan keindahan yang teratur. Melalui tawafuk 104 huruf surah terakhir Al-Qur'an ini dengan jumlah 104 suhuf serta kitab para nabi, melalui huruf-huruf surah terakhir, Al-Qur'an Al-Hakîm memperlihatkan bahwa ia secara tersembunyi mengisyaratkan dirinya mencakup dasar-dasar suhuf serta kitab para nabi.
Jumlah 10212, hitungan ebced huruf Al-Fatihah, bertepatan dengan 10 ribu pengulangan bâ serta 10 ribu pengulangan tâ dalam seluruh Al-Qur'an. Juga, 10 ribu pada Al-Fatihah dikalikan dengan 7 ayatnya menjadi sesuai dengan 70 ribu, jumlah seluruh kata Al-Qur'an. Hal itu mengisyaratkan serta mengingatkan bukti bagi keputusan terkenal, yang pasti menurut ahli hakikat dan dibenarkan oleh hadis, bahwa "Al-Fatihah sebanyak Al-Qur'an, setara dengannya, dan Al-Qur'an termuat dalam Al-Fatihah; As-Sab'ul-Matsani dan Al-Qur'an Al-Azhim adalah Al-Fatihah."
Sebagaimana huruf-huruf terpisah pada awal surah-surah Al-Qur'an merupakan sandi Ilahi yang penuh makna dan rahasia, mereka yang memperhatikan Rumuzat-ı Semaniye dapat merasakan bahwa huruf Al-Fatihah, bahkan seluruh huruf Al-Qur'an, merupakan ribuan sandi Ilahi yang suci dan beragam satu sama lain. Khususnya, orang-orang yang memiliki penglihatan batin telah melihat bahwa huruf Al-Fatihah merupakan sandi Ilahi yang lebih nyata dan bercahaya; tanda-tandanya pun ada.
Di antaranya: Dalam Al-Fatihah bersama basmalah, hamza berjumlah 18. Melalui penambahan nilai ebced basmalah dan rahasia tawafuk dengan jumlah 18 ribu alam, setiap elifnya tidak lepas dari isyarat kepada kunci suatu alam. Juga hamza bersama elif tanpa harakat berjumlah 30, menunjukkan bahwa 30 juz Al-Qur'an termuat di dalamnya. Hamza tanpa basmalah berjumlah 14; dengan memperlihatkan 7 ayat As-Sab'ul-Matsani yang berpasangan ini, ia mengisyaratkan dua kali turunnya serta pengulangannya dalam salat.
Elif tanpa harakat berjumlah 13 dan lâm 23; melalui rahasia tawafuk dengan 36 kata Al-Fatihah menurut satu hitungan, mengisyaratkan 36 pengulangan Al-Fatihah dalam 24 jam pada 5 salat wajib, salat-salat rawatibnya, serta 2 rakaat tahajud yang dianggap sebagai rawatib, merupakan sifat sandi Ilahi yang suci ini. Juga, tanpa basmalah lâm dan elif bersama berjumlah 30, bertepatan dengan nilai ebced lâm, tiga puluh. Melalui rahasia kesesuaian dengan 30 kata Al-Fatihah tanpa basmalah dan kesesuaian dengan jumlah 30 juz Al-Qur'an, ini merupakan isyarat sandi Ilahi yang suci bahwa dasar-dasar 30 juz Al-Qur'an terdapat dalam Al-Fatihah.
Bersama itu, tawafuk jumlah lâm yang 23 dengan 23 tahun turunnya wahyu tentu dapat disebut sebagai isyarat sandi suci ini.
Sebagaimana lafaz ﺍﻝ dalam Al-Fatihah menjalankan tugas ini, melalui 13 ﺍﻝ, seperti dijelaskan dalam daftar Petunjuk Tersirat Keenam, melalui 13 ﺍﻝ ia menunjuk dengan tawafuk kepada awal 13 surah Al-Qur'an yang paling terkenal, yang dimulai dengan ﺍﻝ. Ia menyatakan dengan menunjukkan mukjizat, "Al-Qur'an ada dalam diriku; aku adalah daftarnya."
Dalam Al-Fatihah, ﺏ 5, ﻩ 5, dan ﺡ 5. Tawafuknya satu sama lain, dengan 5 kewajiban, 5 rukun Islam, lima huruf masing-masing pada sebagian besar kata Al-Fatihah seperti lafzullah, serta jumlah 5 Asmaulhusna dalam Al-Fatihah; juga ﺩ 4 dan ﻭ 4 mengisyaratkan wajibnya empat Al-Fatihah dalam salat empat rakaat, serta banyak kelompok empat penting dalam Islam yang dikenal sebagai empat; juga ﺕ 3, ﻙ 3, dan ﺱ 3, dengan ﺕ tiga kali menghasilkan jumlah 1200, menunjuk melalui rahasia tawafuk dengan berita yang diberikan nilai ebced ayat
ﺍِﻧَّﺎ ﻓَﺘَﺤْﻨَﺎﻟَﻚَ ﻓَﺘْﺤًﺎ ﻣُﺒ۪ﻴﻨًﺎ
kepada keadaan Al-Qur'an yang membawa kemenangan selama sekitar 1200 tahun, lalu masuk ke keadaan bertahan.
Semua itu merupakan sifat sandi Ilahi yang suci ini.
Jika 3 pengulangan ﻙ ditambahkan kepada nilai ebcednya, hasilnya 23; mengisyaratkan dengan tawafuk kepada 23 tahun turunnya wahyu. Nilai ebced ﺱ ialah 60; jika 3 pengulangannya ditambahkan sebagai 3, ia mengisyaratkan dengan tawafuk kepada umur pribadi Nabi ﷺ, tempat turunnya wahyu. Dengan peneguhan isyarat-isyarat lain, hal itu tentu diterima.
Tanpa basmalah, ﺱ 2, ﺹ 2, ﻁ 2, dan ﻍ 2 saling bertepatan. Dalam Al-Fatihah bersama basmalah, juga terdapat dua kali lafzullah, dua kali ﺭَﺣْﻤٰﻦِ, dua kali ﺭَﺣ۪ﻴﻢِ, dua kali ﺍِﻳَّﺎﻙَ, dua ﺻِﺮَﺍﻁْ, dan dua ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ. Bersama tawafuk dengan jumlah masing-masing yang dua dan peneguhan makna As-Sab'ul-Matsani, ia mengisyaratkan dua kali turunnya Al-Fatihah, dua kali wajib membacanya pada awal maupun akhir Al-Qur'an, serta dua kali sunnah membacanya pada awal maupun akhir setiap urusan baik. Hal itu merupakan sifat sandi Ilahi yang suci dan terang ini.
Jika contoh-contoh seperti ini berasal hanya dari 1000 rahasia yang berkaitan dengan hurufnya, dari ribuan rahasia Al-Fatihah, engkau dapat membandingkan betapa agung khazanah rahasia Al-Fatihah itu. Pahamilah hikmah umat Muhammad ﷺ membaca Al-Fatihah dalam seluruh salatnya.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺑِﺤُﺮْﻣَﺔِ ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﻓَﺎﺗِﺤَﺔَ ﺍَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡَ ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻭَﺍﺟْﻌَﻞْ ﺧَﺎﺗِﻤَﺔَ ﺍُﻣُﻮﺭِﻧَﺎ ﻓَﺎﺗِﺤَﺔَ ﺍﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍَﻋْﻨ۪ﻰ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺳﻊ
Suatu Peringatan dan Permohonan Maklum
Ketika aku menulis Rumuzat-ı Semaniye, karya itu disusun dengan amat tergesa. Dengan bersandar kepada hafalanku yang lama, aku juga membuat dua ukuran perkiraan. Melaluinya, serta berdasarkan hitungan ulama terdahulu, aku menulis rahasia-rahasia huruf Al-Qur'an dari segi i'jaz. Kemudian kami melihat penjelasan tentang huruf serta kata Al-Qur'an dalam El-Mikyas, tafsir terkenal dan diterima karya Mecdüddin-i Firuz Âbâdî, penulis Kamusü'l-Lügat yang terkenal. Sembilan puluh persen bertepatan dengan hitungan kami.
Hanya pada lima atau sepuluh tempat kami menemukan perbedaan. Kemudian aku melakukan hitungan yang diperiksa dengan saksama. Terbukti bahwa hitungan kami benar, sedangkan hitungannya merupakan kesalahan percetakan.
Karena kelebihan-kelebihan kecil serta perbedaan-perbedaan kecil tidak merusak tawafuk dalam jumlah-jumlah sebesar ini, aku tidak menemukan waktu untuk menghitung seluruh Al-Qur'an dengan semua huruf, tuturan, dan katanya secara tepat melalui pemeriksaan saksama, serta melaluinya menguatkan sepenuhnya keindahan-keindahan i'jaz. Orang-orang zalim tidak memberiku waktu. Aku pun mencukupkan diri dengan ukuran-ukuran perkiraanku itu, hafalanku, hitungan ulama terdahulu, serta jumlah-jumlahku dalam Doa Kenzü'l-Arş. ﺳﻊ
Uraian ringkas tentang i'jaz Al-Qur’an
Suatu ketika dalam mimpi aku melihat diriku di bawah Gunung Ağrı. Tiba-tiba gunung itu meletus, menyebarkan batu-batu sebesar gunung ke alam, mengguncang dunia. Seketika seseorang muncul di sampingku. Ia berkata: uraikan dengan ringkas, ringkaskan dengan merangkum, jenis-jenis i'jaz Al-Qur’an yang engkau ketahui! Masih dalam mimpi, aku memikirkan takwilnya dan berkata: letusan di sini merupakan gambaran perubahan besar pada manusia. Dalam perubahan besar itu, petunjuk Al-Furqan tentu akan meninggi di mana-mana dan berkuasa.
Waktu untuk menguraikan i'jaz-nya pun akan datang! Menjawab penanya itu aku berkata: i'jaz Al-Qur’an tampak dari tujuh sumber umum dan tersusun dari tujuh unsur. Sumber Pertama: lancarnya bahasa dari fasihnya lafaz; kilatan uraian yang lahir sekaligus dari kukuhnya susunan, balagah makna, segarnya konsep-konsep, unggulnya kandungan, dan luar biasanya gaya-gaya. Semua itu bercampur; dalam perpaduan i'jaz-nya terdapat ukiran uraian yang ajaib, seni bahasa yang luar biasa. Berulangnya tidak pernah membosankan manusia.
Unsur Kedua: khazanah ilmu gaib yang sekaligus memuat dasar-dasar gaib dalam perkara alam, rahasia-rahasia gaib dari Hakikat Ilahi, yang gaib dari langit, perkara-perkara gaib yang hilang pada masa lalu, dan keadaan-keadaan yang tersembunyi pada masa depan. Bahasa alam gaib berbicara dengan alam nyata; unsur-unsurnya, uraian melalui isyarat-isyaratnya, menyasar umat manusia. Suatu kilatan bercahaya dari i'jaz... Sumber Ketiga: ada cakupan yang luar biasa dari lima sisi: lafaznya, maknanya, hukum-hukumnya, ilmunya, dan ukuran tujuan-tujuannya.
Lafaznya memuat kemungkinan-kemungkinan yang amat luas dan banyak sisi, yang masing-masing dipandang baik dalam balagah, sah menurut bahasa Arab, dan layak menurut rahasia pensyariatan. Dalam maknanya: i'jaz uraiannya sekaligus meliputi dan memuat aliran para wali, rasa para arif, mazhab para salik, jalan ahli kalam, dan metode para ahli hikmah. Luas petunjuknya, lapang maknanya. Jika engkau memandang melalui jendela ini, engkau melihat betapa luas medannya! Cakupan dalam hukum: syariat yang luar biasa ini digali darinya.
Cara uraiannya sekaligus memuat semua kaidah bahagia di dua negeri, semua sebab aman, semua ikatan hidup bermasyarakat, sarana-sarana didikan, serta hakikat keadaan... Cakupan dalam ilmu: baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu Ilahi, dengan tingkat-tingkat petunjuk, lambang-lambang, dan isyarat-isyarat di dalamnya, ia menghimpun taman-taman di dalam benteng surah-surahnya. Dalam maksud dan tujuan: keseimbangan, keteraturan, kesesuaian dan kesatuan dengan kaidah-kaidah fitrah; semuanya diperhatikan sepenuhnya, ukurannya dijaga.
Inilah cakupannya yang mulia dalam lingkup lafaz, luas makna, cakupan hukum, kedalaman ilmu, dan keseimbangan tujuan!.. Unsur Keempat: ia melimpahkan cahaya sesuai dengan tingkat pemahaman dan derajat sastra setiap abad, serta tingkat bakat dan kemampuan lapisan-lapisan manusia pada setiap abad. Pintunya terbuka bagi setiap abad dan setiap lapisan di dalamnya. Seolah Kalam Sang Rahmân itu baru turun pada setiap saat dan di setiap tempat. Semakin tua waktu, Al-Qur’an semakin muda. Lambang-lambangnya menjadi jelas;
Sapaan Ilahi itu juga merobek tirai tabiat dan sebab-sebab. Cahaya tauhid selalu memancar dari setiap ayat. Ia mengangkat tirai alam nyata dari atas yang gaib. Luhurnya Sapaan mengundang pandangan manusia untuk memperhatikan. Sebab itulah bahasa gaib; ia sendiri berbicara dengan alam nyata. Dari unsur ini lahir kesegarannya yang luar biasa, cakupan seluas samudra! Untuk mengakrabkan pikiran, Dia menyesuaikan Sapaan Ilahi dengan akal manusia. Beragamnya gaya wahyu yang diturunkan adalah keakrabannya, yang dicintai manusia dan jin.
Sumber Kelima: dalam penuturan, kisah, dan berita-beritanya yang benar, dari titik-titik pokok ia bertutur dengan gaya indah yang penuh makna, seperti saksi yang hadir; dengannya ia menyadarkan manusia. Yang dituturkannya ialah berita tentang orang-orang dahulu, keadaan orang-orang yang kemudian, rahasia neraka dan surga. Kisah-kisahnya tentang hakikat gaib, rahasia alam nyata, Rahasia Ilahi, dan ikatan-ikatan alam merupakan penuturan yang nyata; kenyataan tidak menolaknya dan logika tidak mendustakannya.
Jika logika tidak menerimanya, ia pun tidak dapat menolaknya. Dalam titik-titik yang disepakati kitab-kitab samawi yang menjadi perhatian dunia, ia menuturkan dengan membenarkan. Pada tempat-tempat yang berbeda, ia membahas dengan meluruskan. Munculnya perkara-perkara yang dituturkan seperti ini dari seorang "Ummi" ﷺ adalah keajaiban zaman... Unsur Keenam: ia memuat dan mendirikan agama Islam. Masa lalu maupun masa depan tidak mampu menghasilkan yang menyerupai Islam; carilah sepanjang waktu dan ruang!..
Tali samawi inilah yang memegang dan memutar bumi kita pada lingkaran tahunan dan hariannya. Ia menindih bumi dengan bobotnya, juga menaikinya. Ia tidak membiarkannya memberontak. Sumber Ketujuh: enam cahaya yang keluar dari keenam sumber ini sekaligus bercampur. Darinya lahir keindahan, dari sini datang suatu intuisi, sarana bercahaya. Yang lahir darinya adalah suatu rasa; rasa i'jaz diketahui, bahasa kita tidak mampu mengungkapkannya. Pikiran pun kurang mampu; bintang-bintang samawi itu terlihat tetapi tidak terpegang.
Selama tiga belas abad, dalam musuh-musuh Al-Qur’an terdapat kecenderungan menantang; dalam para pendukung Al-Qur’an bangkit semangat meniru. Inilah suatu bukti i'jaz... Dengan dua dorongan kuat ini, jutaan kitab berbahasa Arab telah ditulis, masuk ke perpustakaan wujud. Jika kitab-kitab itu dan wahyu yang diturunkan ditempatkan pada timbangan dan dibandingkan, bukan hanya orang arif yang tidak ada bandingnya, bahkan orang yang paling awam pun akan berkata dengan mata dan telinganya: yang ini manusiawi, yang itu samawi!
Ia pun akan memutuskan: yang itu tidak menyerupai yang ini, tidak berada pada derajatnya. Maka, salah satu kemungkinannya ialah ia berada di bawah semuanya; tetapi salahnya kemungkinan ini telah diketahui dengan jelas. Maka ia berada di atas semuanya. Sepanjang waktu itu kandungannya, dengan pintu terbuka, disediakan bagi manusia; ia mengundang ruh dan pikiran kepadanya! Manusia mengolahnya dan menjadikannya milik sendiri. Sekalipun dengan kandungan Al-Qur’an itu, manusia tetap tidak menandingi Al-Qur’an dan tidak pernah dapat menandinginya; masa ujian telah berlalu.
Ia tidak menyerupai kitab-kitab lain, tidak diukur dengan mereka. Sebab dalam dua puluh tahun, turunnya secara berangsur sesuai dengan kebutuhan, terpisah-pisah dan berselang, merupakan Hikmah Rabbani. Sebab-sebab turunnya berbeda dan beragam. Pertanyaan-pertanyaan tentang satu perkara berulang dan berlainan. Peristiwa-peristiwa yang menjadi pokok hukum banyak dan berubah. Waktu-waktu turunnya beragam dan terpisah. Keadaannya ketika diterima bermacam-macam dan berbeda. Golongan-golongan yang disapanya banyak dan berjauhan.
Tujuan-tujuan bimbingannya bertahap dan berlainan. Bangunan dan uraiannya, Jawaban dan Sapaan-Nya, bersandar pada dasar-dasar ini. Meski demikian, ia menampilkan sempurnanya kelancaran dan keutuhan, kesesuaian dan saling menopang. Saksi hal ini ialah ilmu bayan dan maani. Dalam Al-Qur’an terdapat suatu sifat khusus yang tidak ada pada perkataan lain. Jika engkau mendengar suatu perkataan, engkau melihat pemilik perkataan yang sebenarnya di belakangnya, atau menemukannya di dalamnya. Gaya adalah cermin manusia.
Wahai penanya di alam Mitsal! Engkau meminta uraian ringkas, aku pun memberi isyarat. Jika engkau menginginkan perincian, itu di luar batasku!.. Lalat tidak menjelajah langit. Sebab dari empat puluh jenis i'jaz itu, uraian tentang satu saja—kukuhnya susunan—tidak muat dalam İşaratü'l-İ'caz. Tafsirku seratus halaman tidak mencukupinya. Ilham pada makhluk ruhani sepertimu lebih banyak. Aku meminta darimu uraian yang terperinci!
اُولَاشْمَازْ ﺩَﺳْﺖِ ﺍَﺩَﺏِ ﻏَﺮْﺏِ ﻫَﻮَﺳْﺒَﺎﺭِ ﻫَﻮَﺍﻛَﺎﺭِ ﺩَﻫَﺎﺩَﺍﺭِ ﺩَﺍْﺏِ ﺍَﺩَﺏْ ﺍَﺑَﺪْ ﻣُﺪَّﺕْ ﻗُﺮْﺍٰﻥِ ﺿِﻴَﺎﺑَﺎﺭِ ﺷِﻔَﺎﻛَﺎﺭِ ﻫُﺪَﺍﺩَﺍﺭ
Keadaan yang menyenangkan selera luhur orang-orang yang sempurna tidak menyenangkan pemilik keinginan kekanak-kanakan dan tabiat yang rusak, tidak menghibur mereka. Berdasarkan hikmah ini, orang yang sepenuhnya dipupuk dalam selera rendah, rusak, penuh nafsu dan syahwat, tidak mengetahui rasa ruhani. Sastra masa kini yang merembes dari Eropa, dengan pandangan serupa novel, tidak dapat melihat dan merasakan kelembutan yang luhur serta keunggulan yang agung dalam Al-Qur’an.
Batu ujinya sendiri tidak dapat mengukur nilainya. Sastra memiliki tiga medan untuk berkeliling; ia berkeliling di dalamnya dan tidak dapat keluar: cinta dan keindahan, keberanian dan kepahlawanan, atau gambaran hakikat. Sastra yang liar itu, dalam soal kepahlawanan, tidak menjunjung kebenaran. Dengan bertepuk tangan bagi kekejaman umat manusia yang zalim, ia justru menanamkan rasa memuja kekuatan. Dalam soal keindahan dan cinta, ia tidak mengenal cinta sejati. Ia menyuntikkan rasa yang membangkitkan syahwat kepada nafsu.
Dalam menggambarkan hakikat, ia tidak memandang kainat sebagai karya seni Ilahi, tidak dapat melihatnya sebagai warna Sang Rahmân. Ia memegang dan menggambarkannya dari sudut tabiat, tidak dapat keluar darinya. Karena itu ajarannya menjadi cinta kepada tabiat. Ia menempatkan rasa memuja materi di hati; hati tidak mudah menyelamatkan diri darinya. Untuk derita ruh yang lahir dari kesesatan yang datang darinya pula, sastra yang kehilangan adab itu menjadi penenang dan penidur; ia tidak memberi manfaat sejati.
Ia hanya menemukan satu obat, yakni novel-novelnya. Seperti buku, yang hidup sekaligus mati; seperti film, orang-orang mati yang bergerak! Yang mati tidak dapat memberi hidup. Dengan tiga jenis novelnya ini, juga teater yang seperti perpindahan jiwa, seperti hantu-hantu dari kubur luas bernama masa lalu, ia sama sekali tidak malu. Ia menaruh lidah pendusta pada mulut manusia, memasang mata fasik pada wajah manusia, mengenakan gaun perempuan penggoda pada dunia; ia tidak mengenal keindahan murni.
Jika menampilkan matahari, ia mengingatkan pembaca kepada aktris cantik berambut kuning. Secara lahir ia berkata: "Hidup yang rusak itu buruk, tidak layak bagi manusia." Ia menunjukkan akibat yang merugikan. Namun ia menggambarkan hidup yang rusak begitu menggugah sehingga membuat air liur menetes, akal tidak dapat tetap menguasai. Ia membangkitkan selera, menggelorakan keinginan; perasaan tidak lagi mendengar perkataan. Adapun adab dalam Al-Qur’an tidak mencampurkan hawa nafsu. Ia memberi rasa menjunjung kebenaran, cinta kepada keindahan murni, nikmat mencintai keindahan, semangat mencintai hakikat, dan tidak memperdaya.
Ia tidak memandang kainat dari sisi tabiat; ia membahasnya dari sisi karya seni Ilahi dan warna Sang Rahmân, tidak membingungkan akal. Ia menanamkan cahaya makrifat Sang Pembuat. Ia menunjukkan tanda-Nya dalam segala sesuatu. Keduanya juga memberikan kesedihan yang menyentuh, tetapi tidak saling menyerupai. Adab yang lahir dari Eropa memberikan kesedihan pilu yang lahir karena kehilangan para kekasih dan tak memiliki pemilik; ia tidak dapat memberi kesedihan yang luhur. Sebab ia mengambil rasa sedih yang pilu seolah mendapat ilham dari tabiat yang tuli dan kekuatan yang buta.
Ia mengenal alam sebagai belantara, tidak menampilkannya dengan cara lain. Ia menampilkannya demikian, lalu memegang orang yang sedih dan menempatkannya tanpa pemilik di antara makhluk-makhluk liar, tidak menyisakan harapan. Dengan gejolak perasaan yang diberikannya, sedikit demi sedikit ia sampai pada pengingkaran terhadap Allah سُبْحَانَهُ, memberi jalan hingga menyangkal adanya Pencipta. Kembali menjadi sulit, bahkan ia tidak dapat kembali. Adapun adab Al-Qur’an memberi kesedihan yang merupakan kesedihan seorang pencinta, bukan anak yatim. Ia datang dari berpisah dengan para kekasih, bukan kehilangan mereka.
Dalam memandang kainat, yang dibahasnya ialah Seni Ilahi yang sadar dan penuh Rahmat sebagai ganti tabiat yang buta; ia tidak membahas tabiat. Sebagai ganti kekuatan buta, Kudrat Ilahi yang penuh Inayah dan Hikmah menjadi pokok uraiannya. Karena itu kainat tidak mengenakan rupa belantara. Dalam pandangan orang sedih yang disapanya, ia justru menjadi himpunan para kekasih. Di mana-mana saling menjawab, di setiap sisi saling mencintai; ia tidak menimbulkan sesak. Di setiap sudut ada keakraban. Ia menempatkan orang sedih di dalam himpunan itu, memberi kesedihan penuh rindu, suatu rasa luhur; ia tidak memberi kesedihan pilu.
Keduanya juga memberi semangat: dengan semangat yang diberikan sastra liar itu, nafsu bergejolak, keinginan berkembang; ia tidak dapat memberi lega kepada ruh. Adapun semangat Al-Qur’an: ruh bergejolak, ia memberi semangat menuju yang luhur. Karena rahasia ini, syariat Ahmad ﷺ tidak menghendaki hiburan yang melalaikan. Ia mengharamkan sebagian alat hiburan, mengizinkan sebagian sebagai halal... Berarti alat yang memberi kesedihan Al-Qur’an atau semangat wahyu yang diturunkan tidak membahayakan. Jika alat itu memberi kesedihan anak yatim atau semangat nafsu, ia haram.
Hal ini berubah menurut pribadi; tidak semua orang saling menyerupai.
Ini satu paragraf dari lampiran "Habbe" (Biji) dalam Risale-i Nur. Jika kalian menghendaki, kalian menuliskan terjemahannya.
ﺍِﻋْﻠَﻢْ:
ﺍَﻥَّ ﻣِﻦْ ﻟَﻄَﺎﺋِﻒِ ﺍِﻋْﺠَﺎﺯِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَ ﻣِﻦْ دَلَائِلِ ﺍَﻧَّﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻋَﺎﻣَّﺔٌ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓَّﺔِ ﺍَﻧَّﻪُ ﻛَﻤَﺎ ﺍَﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍَﺣَﺪٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﻋَﺎﻟَﻤﺎً ﻳَﺨُﺼُّﻪُ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻟِﻜُﻞِّ ﺑِﺎِﻋْﺘِﺒَﺎﺭِ ﻣَﺸْﺮَﺑِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻗُﺮْﺍٰﻥٌ ﻳَﺨُﺼُّﻪُ ﻭَ ﻳُﺮَﺑّ۪ﻴﻪِ ﻭَ ﻳُﺪَﺍﻭِﻳﻪِ ﻭَ ﻣِﻦْ ﻣَﺰَﺍﻳَﺎ ﻟُﻄْﻒِ ﺍِﺭْﺷَﺎﺩِﻩ۪ ﺍَﻥَّ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻣَﻊَ ﻛَﻤَﺎﻝِ الْاِنْسِجَامِ ﻭَ ﻏَﺎﻳَﺔِ الْاِرْتِبَاطِ ﻭَ ﺗَﻤَﺎﻡِ الْاِتِّصَالِ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻳَﺘَﻴَﺴَّﺮُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍَﺣَﺪٍ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﺧُﺬَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻮَﺭِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻌَﺪِّﺩَﺓِ ﺍٰﻳَﺎﺗًﺎ ﻣُﺘَﻔَﺮِّﻗَﺔً ﻟِﻬِﺪَﺍﻳَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺷِﻔَﺎﺋِﻪ۪ ﻛَﻤَﺎ ﺍَﺧَﺬَﻫَﺎ ﻋُﻤُﻮﻡُ ﺍَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﺸَﺎﺭِﺏِ ﻭَ ﺍَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌُﻠُﻮﻡِ
(٭)
ﻓَﺒَﻴْﻨَﻤَﺎ ﺗَﺮَﺍﻫَﺎ ﺍَﺷْﺘَﺎﺗًﺎ ﺑِﺎِﻋْﺘِﺒَﺎﺭِ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﺯِﻝِ ﻭَ ﺍﻟﻨُّﺰُﻭﻝِ ﺍِﺫًﺍ ﺗَﺮَﺍﻫَﺎ ﻗَﺪْ ﺻَﺎﺭَﺕْ كَقِلَادَةٍ ﻣُﻨَﻈَّﻤَﺔٍ ﺍِﺋْﺘَﻠَﻔَﺖْ ﻭَ ﺍﺗَّﺼَﻠَﺖْ ﻣَﻊَ ﺍَﺧَﻮَﺍﺗِﻬَﺎ ﺍﻟْﺠَﺪ۪ﻳﺪَﺓِ فَلَا ﺑِﺎﻟْﻔَﺼْﻞِ ﻣِﻦَ الْاَصْلِ ﺗَﻨْﺘَﻘِﺺُ ﻭَ لَا ﺑِﺎﻟْﻮَﺻْﻞِ بِالْاٰيَاتِ اْلاُخَرِ ﺗَﺴْﺘَﻮْﺣِﺶُ فَلِـلْاٰيَاتِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻧِﻴَّﺔِ ﻣَﻊَ ﺳَﺎﺋِﺮِ الْاٰيَاتِ ﻣُﻨَﺎﺳَﺒَﺎﺕٌ ﺩَﻗ۪ﻴﻘَﺔٌ ﺗُﺠَﻮِّﺯُ ﺫِﻛْﺮَﻫَﺎ ﻣَﻌَﻬَﺎ ﻭَ ﺍِﺗِّﺼَﺎﻟَﻬَﺎ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﻜَﻤَﺎ ﺍَﻥَّ ﺳُﻮﺭَﺓَ الْاِخْلَاصِ ﺍِﺷْﺘَﻤَﻠَﺖْ ﻋَﻠٰﻰ ثَلَاث۪ينَ ﺳُﻮﺭَﺓً ﺑِﻀَﻢِّ ﺟُﻤَﻠِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺾٍ ﺍِﻟٰﻰ ﺑَﻌْﺾٍ دَلِيلاً ﻭَ ﻧَﺘ۪ﻴﺠَﺔً ﻛَﻤَﺎ ﺫُﻛِﺮَ ﻓ۪ﻰ ﴾ﻟﻤﻌﺎﺕ ﻓﻰ ﺻﺤﻴﻔﺔ ٣٩﴿ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﻜُﻠِّﻰُّ ﺍﻟْﺠُﺰْﺋِﻰُّ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻮْﻉُ ﺍﻟْﻤُﻨْﺤَﺼِﺮُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺸَّﺨْﺺِ ﻳَﺸْﺘَﻤِﻞُ ﺑِﺠَﺎﻣِﻌِﻴَّﺔِ الْاٰيَاتِ ﻟِﻠْﻤَﻌَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻌَﺪِّﺩَﺓِ ﻭَ ﺑِﻤُﻨَﺎﺳَﺒَﺔِ ﺍﻟْﻜُﻞِّ ﻟِﻠْﻜُﻞِّ ﻳَﺤْﺘَﻮ۪ﻯ ﻋَﻠٰﻰ ﺍُﻟُﻮﻑِ ﺍُﻟُﻮﻑِ ﻗُﺮْﺍٰﻥٍ ﻓ۪ﻰ ﻧَﻔْﺲِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻓَﻠِﻜُﻞِّ ﺫ۪ﻯ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔٍ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﻳَﺨُﺼُّﻪُ ﻭَ ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌَﻪُ
{(Catatan kaki:) Yang paling megah ialah Hizbü'l-Kur'ani'l-Ekber (Wirid Al-Qur'an Terbesar) yang sekarang.}
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﻣُﻨْﺰِﻝَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺑِﺤَﻖِّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍِﺟْﻌَﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥَ ﻣُﻮﻧِﺴًﺎ ﻟ۪ﻰ ﻭَ ﻟِﻄَﻠَﺒَﺔِ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﻓ۪ﻰ ﺣَﻴَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻤَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻓ۪ﻰ ﻗَﻠْﺒ۪ﻰ ﻭَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَ ﻗَﺒْﺮ۪ﻯ ﻭَ ﻗُﺒُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ