SEGI KELIMA
Menjelaskan bahwa keras kepala serta fanatik dalam berpihak amat merugikan kehidupan bersama.
Jika dikatakan:
Dalam hadis dikatakan
اِخْتِلَافُ ﺍُﻣَّﺘ۪ﻰ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ
. Adapun perbedaan menuntut sikap berpihak. Penyakit fanatik dalam berpihak juga menyelamatkan orang awam yang tertindas dari kejahatan kalangan atas yang zalim. Sebab, jika kalangan atas sebuah kota kecil atau desa bersepakat, mereka menindas orang awam yang tertindas. Jika ada pihak-pihak yang berlawanan, orang tertindas berlindung kepada satu pihak dan menyelamatkan dirinya. Selain itu, melalui benturan pemikiran serta perbedaan akal, hakikat tampak sepenuhnya.
Jawaban:
Bagi pertanyaan pertama, kami berkata: Perbedaan dalam hadis itu ialah perbedaan yang positif. Yakni, masing-masing berusaha memperbaiki serta memajukan jalannya sendiri. Ia bekerja untuk melengkapi serta memperbaiki yang lain, bukan merusak dan membatalkannya. Adapun perbedaan yang negatif, yakni saling berusaha merusak dengan prasangka serta permusuhan, ditolak dalam pandangan hadis. Sebab, orang yang saling bergulat tidak dapat bertindak positif.
Bagi pertanyaan kedua, kami berkata: Jika sikap berpihak demi kebenaran, ia dapat menjadi tempat berlindung bagi orang yang benar. Namun, berpihak dengan prasangka serta demi nafsu seperti sekarang merupakan tempat berlindung orang yang tidak benar dan menjadi tempat mereka bersandar. Sebab, jika setan datang kepada orang yang berpihak dengan prasangka, membantu pemikirannya serta menunjukkan dukungan, orang itu akan mendoakan Rahmat bagi setan tersebut. Jika seorang seperti malaikat datang kepada pihak lawan, ia akan menunjukkan sikap tidak adil sampai derajat—hâşâ—melaknatnya.
Bagi pertanyaan ketiga, kami berkata: Benturan pemikiran demi kebenaran serta hakikat berlangsung dengan sepakat dalam tujuan dan dasar, tetapi berbeda dalam sarana. Ia menampakkan setiap sudut hakikat serta berkhidmah kepada kebenaran dan hakikat. Namun, dari benturan pemikiran yang fanatik dalam berpihak serta penuh prasangka, demi nafsu ammarah yang menjadi seperti Firaun, dengan cara membanggakan diri serta mencintai kemasyhuran, yang keluar bukan kilau hakikat, melainkan api fitnah. Sebab, meskipun seharusnya sepakat dalam tujuan, pemikiran orang-orang seperti itu tidak mempunyai titik temu bahkan di bola bumi. Karena tidak demi kebenaran, ia bergerak amat berlebihan tanpa batas. Ia menyebabkan retak yang tidak dapat dipulihkan. Keadaan alam menjadi saksi hal ini.
Kesimpulannya,
jika kaidah-kaidah luhur
ﺍَﻟْﺤُﺐُّ ﻟِﻠّٰﻪِ ٭ ﻭَﺍﻟْﺒُﻐْﺾُ ﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ٭ ﻭَﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻟِﻠّٰﻪِ
tidak menjadi kaidah tindakan, sikap munafik serta saling bertikai meluas. Ya, jika ia tidak mengatakan
ﺍَﻟْﺒُﻐْﺾُ ﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ٭ ﻭَﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻟِﻠّٰﻪِ
dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah itu, ia berbuat zalim ketika ingin berlaku adil.
Peristiwa yang patut menjadi pelajaran:
Pada suatu waktu, Imam Ali Radıyallahu Anh menjatuhkan seorang kafir ke tanah. Ketika ia menarik pedangnya dan akan membunuh, orang kafir itu meludahinya. Ia melepaskan orang tersebut dan tidak membunuhnya. Orang kafir itu bertanya, "Mengapa engkau tidak membunuhku?" Ia berkata, "Aku akan membunuhmu demi Allah سُبْحَانَهُ. Namun, engkau meludahiku sehingga aku marah. Karena bagian nafsuku bercampur, ikhlasku terluka. Karena itu, aku tidak membunuhmu." Orang kafir itu berkata kepadanya, "Aku ingin membuatmu marah agar engkau segera membunuhku. Karena agama kalian begitu murni dan tulus, agama itu benar."
Peristiwa lain yang patut diperhatikan:
Pada suatu waktu, seorang hakim menunjukkan tanda marah ketika memotong tangan seorang pencuri. Karena itu, atasannya yang adil dan memperhatikannya memberhentikannya dari tugas tersebut. Sebab, jika ia memotong atas nama syariat serta demi Hukum Ilahi, dirinya akan
merasa kasihan kepada orang itu. Ia akan memotong dengan cara yang hatinya tidak marah, tetapi juga tidak menaruh belas kasihan. Jadi, karena ia mengambil bagian bagi nafsunya dari putusan itu, ia tidak bertindak dengan adil.
Keadaan kehidupan bersama yang menyedihkan serta penyakit dahsyat dalam kehidupan bersama yang akan membuat hati Islam menangis:
Bahkan kaum paling badui menghargai serta menjalankan hal yang bermanfaat bagi kehidupan bersama berupa "Melupakan dan meninggalkan permusuhan di antara sesama ketika musuh dari luar muncul serta menyerang." Namun, apa yang terjadi pada mereka yang mengaku berkhidmah kepada jamaah Islam ini? Ketika musuh-musuh tak terhitung mengambil sikap menyerang berturut-turut, mereka tidak melupakan permusuhan kecil dan justru menyiapkan jalan bagi serangan musuh. Keadaan ini merupakan jatuhnya martabat serta kebiadaban. Ia merupakan pengkhianatan terhadap kehidupan bersama Islam.
Kisah yang menjadi pelajaran:
Di antara suku-suku badui, suku Hasenan mempunyai dua kabilah yang saling bermusuhan. Meskipun mereka telah membunuh mungkin lebih dari lima puluh orang dari satu sama lain, ketika kabilah seperti suku Sipkan atau Hayderan menghadapi mereka, kedua kelompok bermusuhan itu melupakan permusuhan lama, bahu-membahu, dan tidak mengingat permusuhan di antara mereka sampai berhasil mengusir suku luar tersebut.
Wahai mukmin! Tahukah kalian betapa banyak musuh seperti suku-suku yang mengambil sikap menyerang suku ahli iman? Ada lebih dari seratus lingkup, seperti lingkaran di dalam satu sama lain. Padahal, kalian harus saling mendukung, bergandeng tangan, serta mengambil sikap membela terhadap masing-masing musuh itu. Adakah fanatik dalam berpihak yang penuh prasangka serta keras kepala penuh permusuhan layak bagi ahli iman dari segi apa pun, sementara hal itu memudahkan serangan mereka dan berarti membuka pintu agar mereka masuk ke wilayah suci Islam?
Lingkup-lingkup musuh itu, mulai dari orang sesat serta pengingkar Allah سُبْحَانَهُ, sampai dunia orang kafir, sampai ketakutan serta bencana dunia, berada di dalam satu sama lain dan mengambil sikap yang merugikan kalian. Ada mungkin tujuh puluh jenis musuh yang berturut-turut memandang kalian dengan marah serta keinginan keras. Senjata, perisai, serta benteng kalian yang kuat terhadap semuanya ialah persaudaraan Islam. Ketahuilah dan sadarlah betapa mengguncangkan benteng Islam ini dengan permusuhan kecil serta alasan-alasan remeh bertentangan dengan hati nurani dan hal yang bermanfaat bagi Islam!
Dalam hadis-hadis mulia disebutkan bahwa tokoh-tokoh dahsyat yang merugikan, seperti Sufyan serta Dajal, yang akan memimpin sikap munafik dan zindik pada akhir zaman,
akan memanfaatkan keserakahan serta pertikaian kaum Muslim dan manusia, lalu dengan sedikit kekuatan mengacaukan umat manusia serta menawan dunia Islam yang besar.
Wahai ahli iman! Jika kalian tidak ingin ditawan dalam kehinaan, gunakan akal kalian! Terhadap orang zalim yang memanfaatkan perbedaan kalian, masuklah ke benteng suci
ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍِﺧْﻮَﺓٌ
dan berlindunglah di dalamnya. Kalau tidak, kalian tidak dapat menjaga kehidupan ataupun membela hak kalian. Diketahui bahwa ketika dua orang kuat saling bergulat, seorang anak dapat memukul keduanya. Jika dua gunung berada dalam keseimbangan pada satu timbangan, satu batu kecil dapat merusak keseimbangan serta mempermainkan mereka: mengangkat satu dan menurunkan yang lain.
Wahai ahli iman! Karena ambisi berlebihan serta fanatik dalam berpihak yang penuh permusuhan, kekuatan kalian turun menjadi nihil dan kalian dapat ditindas dengan sedikit kekuatan. Jika kalian peduli kepada kehidupan bersama kalian, jadikan kaidah luhur
ﺍَﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻛَﺎﻟْﺒُﻨْﻴَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺻُﻮﺹِ ﻳَﺸُﺪُّ ﺑَﻌْﻀُﻪُ ﺑَﻌْﻀًﺎ
sebagai kaidah kehidupan; selamatlah dari sengsara dunia serta kesengsaraan akhirat!