Pokok Kedua:
Manusia juga harus mengatakan ‘Elhamdülillah’ bagi nikmat iman yang menerangi keenam arah. Sebab, sebagaimana iman merupakan nikmat besar dari jenis menolak bencana dengan menyingkirkan keadaan gelap pada keenam arah, demikian pula, dari segi meneranginya, ia tentu merupakan nikmat kedua dari jenis mendatangkan manfaat. Karena secara fitri manusia hidup bermasyarakat, ia berkaitan dengan makhluk-makhluk pada keenam arah. Melalui nikmat iman, ia dapat mengambil manfaat dari keenam arah itu.
Karena itu, melalui rahasia ayat yang mulia
ﺍَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗُﻮَﻟُّﻮﺍ ﻓَﺜَﻢَّ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
, manusia memperoleh nur dari arah mana pun di antara keenam arah. Bahkan, manusia yang beriman memiliki umur rohani yang membentang dari terbentuknya dunia hingga akhirnya. Umur rohani manusia itu menerima pertolongan serta bantuan dari Nur suatu Hidup yang membentang dari azali hingga abadi.
Demikian pula, melalui iman yang menerangi keenam arah, waktu serta tempat manusia yang sempit ini berubah menjadi alam yang luas dan nyaman. Alam besar itu menjadi seperti rumah manusia, dan masa lampau serta masa mendatang menjadi seperti masa kini bagi ruh serta hatinya. Jarak di antara mereka hilang.
Pokok Ketiga:
Karena iman memuat titik sandaran serta titik tempat memohon pertolongan, hal itu juga menuntut manusia mengatakan ‘Elhamdülillah’.
Ya, karena keadaan tak berdaya serta banyaknya musuh, umat manusia membutuhkan titik sandaran yang dapat dituju sebagai tempat berlindung untuk menolak musuh-musuhnya. Demikian pula, karena banyaknya kebutuhan serta betapa besar rasa membutuhkan, ia memerlukan titik tempat memohon pertolongan, agar melalui bantuannya ia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Wahai manusia! Titik sandaranmu hanya iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Titik tempat memohon pertolongan bagi ruh serta nuranimu hanya iman kepada akhirat. Karena itu, hati serta ruh manusia yang tidak mengetahui kedua titik ini merasa takut dan asing, dan nuraninya selalu tersiksa. Namun, orang yang bersandar pada titik pertama serta memohon pertolongan dari yang kedua merasakan banyak nikmat, kesenangan, serta keakraban dalam hati dan ruh. Ia terhibur, dan nuraninya tenteram.
Pokok Keempat:
Dengan memperlihatkan bahwa yang serupa sedang serta akan datang, nur iman menyingkirkan penderitaan yang timbul ketika kenikmatan yang dibenarkan mulai lenyap. Dengan menunjukkan sumber nikmat, ia juga memastikan bahwa nikmat-nikmat berlanjut serta tidak berkurang.
Demikian pula, dengan menunjukkan kenikmatan diperbaruinya yang serupa, ia menyingkirkan penderitaan perpisahan. Yakni, dalam satu kenikmatan terdapat banyak penderitaan akibat pikiran tentang lenyapnya. Iman mengingatkan bahwa hal-hal serupa muncul kembali, lalu menyingkirkan penderitaan-penderitaan itu. Lagi pula, dalam pembaruan kenikmatan sendiri terdapat kenikmatan lain. Ya, jika suatu buah tidak memiliki pohon, kenikmatan yang terbatas pada buah itu lenyap dengan dimakannya, dan lenyapnya menimbulkan kesedihan. Namun, jika pohon buah itu diketahui, lenyapnya buah tersebut tidak menimbulkan penderitaan, sebab terdapat yang datang menggantikannya. Pada saat yang sama, pembaruan itu sendiri merupakan kenikmatan.
Demikian pula, yang paling menyesakkan jiwa manusia ialah penderitaan akibat perpisahan. Nur iman menyingkirkannya melalui harapan diperbaruinya yang serupa serta terjadinya pertemuan kembali.
Pokok Kelima:
Nur iman memperlihatkan hal-hal di antara makhluk yang dianggap manusia sebagai musuh dan asing, atau dianggap tidak hidup serta malang seperti orang mati dan anak yatim, sebagai sahabat serta saudara, dan menunjukkan mereka sebagai makhluk hidup yang bertasbih.
Yakni, orang yang memandang dengan lalai menganggap makhluk-makhluk alam merugikan seperti musuh, lalu merasa takut dan asing. Ia melihat segala sesuatu seperti orang asing. Sebab, dalam pandangan kesesatan, tidak ada ikatan persaudaraan antara hal-hal pada masa lampau serta masa mendatang. Hanya terdapat hubungan kecil serta terbatas di antara hal-hal pada masa kini. Karena itu, persaudaraan orang-orang yang sesat terhadap satu sama lain hanya seperti satu menit dalam waktu panjang ribuan tahun.
Demikian pula, pandangan iman melihat semua benda memiliki hidup serta saling akrab. Ia menunjukkan bahwa setiap benda, melalui bahasa keadaannya, bertasbih kepada Khâliq-nya. Dari segi ini, semua benda memiliki suatu jenis hidup serta ruh menurut keadaan masing-masing. Karena itu, menurut pandangan iman ini, pada benda-benda tersebut terdapat keakraban serta cinta sebagai pengganti rasa ngeri dan rasa asing.
Pandangan kesesatan menganggap manusia yang tidak mampu memperoleh hal-hal yang diinginkannya tidak memiliki pemilik ataupun pelindung, serta seperti anak yatim yang menangis karena kesedihan, duka, serta keadaan tak berdaya.
Pandangan iman memandang makhluk hidup sebagai petugas yang memikul tanggung jawab, serta hamba-hamba yang diberi tugas berzikir dan bertasbih, sebagai pengganti anak yatim yang menangis.