Pokok Kesembilan:
{ Saya tidak memiliki kunci kode-kode seperti ini untuk membukanya. Lagi pula, kepala yang sedang saum tidak dapat membuka kode-kode itu ataupun melakukan perkalian tersebut. Mohon maklum atas kekurangan ini. Sebanyak ini pun hanya dapat saya lakukan melalui bantuan rohani penulisnya, berkah Lailatul Qadar, serta manfaat bertetangga dengan Mevlâna.
Penerjemah Abdülmecid Nursî} ......
Said Nursî
--
KALIMAT KELIMA
ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ
Yakni, puji dan sanjungan, pujian serta rasa berutang budi khusus bagi-Nya dan layak bagi-Nya. Jadi, nikmat-nikmat itu milik-Nya serta berasal dari khazanah-Nya. Adapun khazanah itu terus ada.
Kata ini memberikan kabar gembira demikian, dan berkata:
Wahai manusia! Jangan menderita karena nikmat lenyap. Sebab, khazanah Rahmat tidak habis. Jangan pula memikirkan kenikmatan yang lenyap lalu berteriak karena kepedihannya.
Sebab, buah nikmat itu merupakan hasil Rahmat yang tiada batas. Jika pohonnya kekal, sekalipun buah pergi, ada buah lain yang menggantikannya. Dalam kenikmatan nikmat itu, dengan memikirkan melalui puji suatu Perhatian Rahmat yang seratus kali lebih nikmat daripada kenikmatan tersebut, engkau dapat segera menjadikan kenikmatan itu seratus kali lipat. Sebagaimana seorang padisyah yang agung, dalam kenikmatan sebuah apel yang dihadiahkannya kepadamu, membuatmu merasakan serta menganugerahkan kepadamu kenikmatan perhatian seorang raja yang melebihi kenikmatan seratus, bahkan seribu apel. Demikian pula, melalui kata ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ, yakni melalui puji serta syukur, yakni dengan merasakan Pemberian nikmat dari nikmat itu, yakni dengan mengenal Mun'im (Pemberi Nikmat) serta memikirkan Pemberian-Nya, yakni dengan memikirkan Perhatian Rahmat-Nya, Kasih yang ditujukan-Nya, serta Pemberian nikmat-Nya yang terus berlangsung, kata ini membukakan bagimu pintu kenikmatan rohani yang seribu kali lebih lezat daripada nikmat itu.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Membawamu dari tidak ada menuju wujud, dan dari banyak bentuk serta keadaan wujud menuju rupa manusia dengan sifat Muslim, yang paling tinggi. Setiap keadaan, tempat tinggal, tahap, serta suasanamu di antara awal gerak dan rupa terakhir yang engkau ambil telah dicatat dalam buku nikmat-nikmat yang berkaitan denganmu. Dari segi ini, nikmat-nikmat seperti berlian telah dirangkai pada pita waktu yang engkau lewati, memberi bentuk kalung sempurna atau daftar isi bagi jenis-jenis nikmat.
Karena itu, pada setiap tempat tinggal serta keadaan, tahap, dan suasana wujud yang telah engkau lewati, engkau akan ditanya, ‘Bagaimana engkau mencapai nikmat ini? Dengan apa engkau layak mendapatkannya? Sudahkah engkau bersyukur atasnya?’ Sebab, keadaan-keadaan yang terjadi harus ditanya, sedangkan hal-hal yang tetap dalam kemungkinan dan tidak terjadi tidak harus ditanya.
Keadaan-keadaan yang telah engkau lewati merupakan kejadian. Keadaan masa depanmu belum ada. Yang ada memiliki tanggung jawab; yang tidak ada tidak memiliki tanggung jawab. Maka, harus memenuhi syukur yang tertinggal atas nikmat-nikmat masa lampau yang belum engkau syukuri.
Ya, sebagaimana tujuan dan hasil kehidupan ini ialah kehidupan yang kekal selamanya, salah satu buahnya ialah syukur, ibadah, pujian, dan cinta kepada Zat Yang Hayy lagi Muhyî, Yang memberi kehidupan. Syukur, cinta, pujian, dan ibadah tersebut, sebagaimana merupakan buah kehidupan, juga merupakan tujuan kainat.
Dari hal ini pahamilah bahwa orang-orang yang berkata tujuan kehidupan ialah “hidup dengan nyaman, menikmati kesenangan dengan lalai, dan menikmati nikmat dengan menuruti keinginan”, melalui ketidaktahuan yang sangat buruk, dengan sikap menyangkal, bahkan mungkin dengan sikap kafir, meremehkan dan merendahkan nikmat kehidupan yang sangat berharga, hadiah kesadaran, serta anugerah akal ini. Mereka sangat mengingkari nikmat.