Dari Kumpulan Risale-i Nur
İhlas Risaleleri (Risalah-Risalah Ikhlas)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
Lem'a Kedua Puluh
Tentang Ikhlas
Semula ini merupakan Pokok Pertama dari Persoalan Kedua, yang terdiri atas lima pokok, di antara tujuh persoalan Catatan Ketujuh Belas dari Lem'a Ketujuh Belas. Karena pentingnya, ia menjadi Lem'a Kedua Puluh.
Ayat
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻧَّٓﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻓَﺎﻋْﺒُﺪِ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻣُﺨْﻠِﺼًﺎ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦَ ٭ اَلَا ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﺺُ
serta hadis mulia
ﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺧَﻄَﺮٍ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٍ
—ev kema kal—keduanya menunjukkan betapa ikhlas merupakan dasar yang penting dalam Islam. Dari butir-butir hikmah persoalan ikhlas yang tidak terbatas ini, kami hanya akan menjelaskan lima pokok secara singkat.
Peringatan:
Di Isparta yang diberkahi ini, tidak tampak beda pendapat yang disertai persaingan di antara orang-orang bertakwa, penganut tarekat, dan kaum berilmu seperti di tempat lain. Hal ini merupakan keberuntungan baik yang patut disyukuri. Memang, cinta dan kesepakatan sejati yang diperlukan tidak ada. Namun, dibandingkan dengan tempat lain, perlawanan dan persaingan yang merugikan juga tidak ada.
POKOK PERTAMA
Suatu pertanyaan penting dan mengerikan:
Mengapa para pengejar dunia, orang-orang lalai, bahkan orang-orang sesat dan munafik dapat bersepakat tanpa persaingan, sedangkan pemeluk agama, kaum berilmu, dan penganut tarekat yang berpihak pada kebenaran serta kerukunan justru berbeda pendapat dengan persaingan? Kesepakatan seharusnya menjadi hak orang-orang yang rukun, sedangkan perbedaan seharusnya melekat pada orang munafik. Mengapa hak ini berpindah ke sana dan ketidakadilan ini datang ke sini?
Jawaban:
Dari begitu banyak sebab peristiwa mengerikan yang pedih, memilukan, dan membuat orang-orang yang membela sesama menangis ini, kami akan menjelaskan tujuh sebab.
PERTAMA
Beda pendapat orang-orang yang mengikuti kebenaran bukan berasal dari tidak adanya hakikat. Kesepakatan orang-orang lalai pun bukan berasal dari adanya hakikat.
Sebaliknya, tugas kelompok, jemaah, dan perkumpulan yang bekerja dengan tugas tertentu serta pelayanan khusus dalam lapisan-lapisan kehidupan sosial, seperti para pengejar dunia, kalangan politik, dan kalangan sekolah, telah ditetapkan dan dipisahkan. Upah materi yang akan mereka terima bagi nafkah sebagai imbalan tugas-tugas tersebut, serta upah maknawi yang akan mereka peroleh dari simpati masyarakat dalam hal cinta kedudukan, ketenaran, dan kehormatan, {(Catatan kaki): Peringatan: Simpati masyarakat tidak diminta; ia diberikan. Sekalipun diberikan, orang tidak boleh menikmatinya. Jika menikmatinya, ia kehilangan ikhlas dan masuk ke dalam riya. Simpati masyarakat yang dicari karena keinginan akan ketenaran dan kehormatan bukan upah dan balasan, melainkan teguran serta hukuman yang datang akibat tidak ikhlas.
Ya, dengan merugikan ikhlas yang menjadi kehidupan amal saleh, simpati masyarakat, ketenaran, dan kehormatan mengambil bentuk yang tidak menyenangkan, seperti azab kubur, di seberang kubur, sebagai imbalan kenikmatan kecil yang sementara sampai pintu kubur. Karena itu, orang tidak boleh menginginkan simpati masyarakat; ia justru harus takut dan menghindarinya. Semoga teguran ini sampai kepada para pemuja ketenaran dan pengejar kemasyhuran serta kehormatan.} telah ditetapkan dan dipisahkan. Tidak ada bagian yang saling tumpang tindih sampai menimbulkan perebutan, perdebatan, dan persaingan. Karena itu, seburuk apa pun jalan yang mereka tempuh, mereka dapat bersepakat satu sama lain.
Adapun orang-orang beragama, kaum berilmu, dan penganut tarekat, tugas masing-masing berhubungan dengan semua orang. Upah yang segera mereka peroleh juga tidak ditetapkan dan dikhususkan. Bagian masing-masing dalam kedudukan sosial, simpati masyarakat, dan diterimanya mereka dengan baik pun tidak dikhususkan. Banyak orang dapat menjadi calon untuk satu
kedudukan. Banyak tangan dapat terulur kepada setiap upah materi maupun maknawi. Dari segi ini timbul perebutan dan persaingan, yang mengubah kerukunan menjadi keadaan terpecah belah serta kesepakatan menjadi pertikaian.
Salep dan obat bagi penyakit mengerikan ini ialah ikhlas.
Yakni, dengan mendahulukan berpihak pada kebenaran daripada memuja nafsu, serta mengutamakan kebenaran di atas kepentingan nafsu dan keakuan, orang menjadi tempat tampaknya rahasia
ﺍِﻥْ ﺍَﺟْﺮِﻯَ اِلَّا ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
. Dengan tidak bergantung pada upah materi maupun maknawi dari manusia, {(Catatan kaki): Menjadikan sifat isar para sahabat, yang memperoleh pujian Al-Qur'an, sebagai pembimbing. Yakni, dalam menerima hadiah dan sedekah, mendahulukan orang lain daripada diri sendiri; tidak menginginkan dan tidak meminta dalam hati manfaat materi yang datang sebagai imbalan khidmah agama, menganggapnya semata-mata anugerah Allah سُبْحَانَهُ, tidak menerima utang budi dari manusia, dan tidak menerimanya sebagai imbalan khidmah agama.
Sebab, dalam khidmah agama tidak boleh diminta sesuatu di dunia sebagai imbalan, agar ikhlas tidak hilang. Memang, mereka mempunyai hak agar umat menjamin nafkah mereka. Mereka juga layak menerima zakat. Namun, hal itu tidak diminta; ia diberikan. Ketika diberikan, orang tidak mengatakan, “Ini upah khidmahku.” Dengan sebisa mungkin berkanaah dan mendahulukan orang lain yang layak serta lebih berhak daripada dirinya sendiri, ia menjadi tempat tampaknya rahasia
ﻭَ ﻳُﺆْﺛِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻬِﻢْ ﺧَﺼَﺎﺻَﺔٌ
dan dapat selamat dari bahaya mengerikan ini serta memperoleh ikhlas.} Ia juga menjadi tempat tampaknya rahasia
ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ اِلَّا الْبَلَاغُ
. Dengan mengetahui bahwa diterima dengan baik, memberikan pengaruh yang baik, dan memperoleh simpati masyarakat merupakan Tugas dan Kebaikan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, bahwa hal-hal itu tidak termasuk dalam tugasnya sendiri untuk menyampaikan, tidak diperlukan baginya, dan tidak dibebankan kepadanya, ia berhasil memperoleh ikhlas. Jika tidak, ia kehilangan ikhlas.