Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Sebuah bagian tentang kenabian

Risalah Tangga Sunah dan Penawar Penyakit Bidah · Bahasa Indonesia

Sebuah bagian tentang kenabian

Kesimpulannya: Nabi Muhammad ﷺ dengan dirinya sendiri merupakan bukti seperti matahari.

Demikian pula, dalam masa muda yang beliau lalui dari usia empat sampai empat puluh tahun, tidak terlihat muslihat atau pengkhianatan, dan tidak terdengar dustanya. Jika dalam penciptaan serta tabiat beliau terdapat perasaan dan kecenderungan buruk, pasti ia akan keluar melalui dorongan masa muda. Padahal beliau menghabiskan seluruh umur dengan kelurusan, keteguhan, dan kesucian diri yang sempurna, menurut kesinambungan serta keteraturan. Bahkan musuh-musuhnya tidak melihat keadaan yang mengisyaratkan muslihat.

Demikian pula, ketika usia mencapai empat puluh, akhlak, baik atau buruk dan bagaimanapun bentuknya, menjadi kuat serta menetap dan tidak mungkin lagi ditinggalkan. Yang membuat dunia menerima serta membenarkan perubahan agung yang dilakukan beliau pada awal usia tepat empat puluh tahun, dan menarik serta memikat dunia, adalah kejujuran dan amanah beliau yang diketahui setiap orang dari awal sampai akhir.

Berarti, kejujuran dan amanah beliau telah menjadi bukti terbesar bagi pernyataan kenabiannya.

PERSOALAN KEEMPAT

Kami akan membaca halaman kedua. Halaman ini adalah masa silam, yakni masa sebelum Zaman Kebahagiaan. Keadaan dan kisah para nabi terdahulu yang dikandung halaman ini masing-masing merupakan bukti bagi kebenaran kenabian beliau. Hanya perlu memperhatikan empat butir hikmah:

Butir Hikmah Pertama: Setelah seseorang mengetahui dasar suatu ilmu dan pokok-pokok yang berkaitan dengan kehidupannya, serta mengetahui penggunaannya pada tempat yang tepat, dibangunnya pernyataannya di atas dasar-dasar itu merupakan dalil bahwa ia mahir dan ahli dalam ilmu tersebut.

Butir Hikmah Kedua: Menurut tuntutan fitrah manusia, sekalipun seseorang biasa, bahkan anak, bahkan berada dalam kaum kecil, ia tidak berani menentang masyarakat luas dan berdusta dalam suatu perkara yang sangat tidak berharga.

Jika demikian, bukankah seseorang yang memiliki martabat sangat besar, dalam suatu perkara yang meliputi seluruh alam, di tengah kaum yang sangat keras kepala dan banyak, meskipun tidak termasuk golongan pembaca dan penulis,

membicarakan beberapa hal yang akal sendiri tidak mampu memahami lalu menyebarkan serta mengumumkannya kepada alam dengan kesungguhan sempurna, menjadi dalil kebenarannya sekaligus bukti bahwa perkara itu berasal dari Allah سُبْحَانَهُ?

Butir Hikmah Ketiga: Telah diketahui bahwa banyak ilmu, sifat, dan perbuatan yang dikenal serta akrab bagi manusia berperadaban tidak diketahui orang-orang Badui; mereka tidak mengenal hal-hal tersebut. Karena itu, seseorang yang ingin membicarakan keadaan orang-orang Badui, terutama pada masa silam, harus pergi dalam khayal ke masa-masa serta gurun-gurun itu dan menemui mereka. Sebab, dengan menilai keadaan mereka hanya dari ingatan tanpa melihat mereka, ia tidak dapat memperoleh pengetahuan yang diinginkannya.

Butir Hikmah Keempat: Jika seseorang yang tidak membaca dan menulis berdebat dengan para ulama suatu ilmu, membenarkan persoalan-persoalan yang disepakati para ulama dan memperbaiki persoalan yang menjadi pokok beda pendapat, bukankah keadaan luar biasa orang itu menunjukkan derajatnya yang sangat tinggi serta bahwa ilmunya dianugerahkan?

Hadirkan keempat butir hikmah ini di depan mata dan pandanglah Muhammad dari bangsa Arab ﷺ: meskipun beliau tidak membaca dan menulis sebagaimana diakui semua orang, melalui bahasa Al-Qur'an beliau menyampaikan keadaan para nabi serta kaum mereka seakan-akan telah melihat dan menyaksikannya. Dengan menjelaskan keadaan serta rahasia mereka, beliau menyebarkan dan mengumumkannya kepada alam. Khususnya, kisah-kisah mereka yang beliau sampaikan dimaksudkan untuk membuktikan pernyataan kenabiannya, yang menarik perhatian seluruh orang cerdas. Dasar-dasar yang beliau sampaikan, pada bagian yang disepakati para nabi, beliau benarkan, sedangkan bagian yang menjadi pokok beda pendapat beliau perbaiki, lalu dijadikan pendahuluan bagi pernyataannya. Seakan-akan melalui ruh beliau yang terjaga, yang merupakan cermin Wahyu Ilahi, beliau melipat waktu serta tempat, masuk ke lembah-lembah terdalam masa itu, dan menyampaikan sebagaimana yang dilihatnya.

Karena itu, keadaan beliau ini merupakan mukjizat beliau dan dalil kenabiannya. Demikian pula, dalil-dalil kenabian para nabi terdahulu berkedudukan sebagai dalil maknawi yang membuktikan kenabian beliau.

PERSOALAN KELIMA

Persoalan ini berkenaan dengan Zaman Kebahagiaan, khususnya Jazirah Arab. Di dalamnya juga terdapat empat butir hikmah.

Butir Hikmah Pertama: Telah diketahui dunia bahwa menghapus suatu kebiasaan rendah dan tidak penting dari kebiasaan kaum kecil, atau menghilangkan tabiat terbatas dan lemah dari suatu kelompok hina serta malang,

bagi seorang penguasa besar pun memerlukan banyak kesulitan, bahkan dalam waktu yang panjang.

Jika demikian, bukankah luar biasa seseorang yang, meskipun bukan penguasa, dalam waktu singkat menghapus kebiasaan-kebiasaan yang telah kuat dan mengakar pada suatu kaum yang sangat fanatik terhadap kebiasaan, keras kepala, dan banyak; membuat mereka meninggalkan akhlak yang menetap dalam kalbu serta berlangsung terus selama zaman-zaman; lalu menetapkan sebagai gantinya kebiasaan-kebiasaan yang sangat luhur dan akhlak indah?

Butir Hikmah Kedua: Telah diketahui pula dunia bahwa negara adalah pribadi maknawi. Ia terbentuk dan bertumbuh secara bertahap seperti anak. Demikian pula, suatu negara baru mengalahkan negara lama yang telah menembus sampai ruh suatu bangsa juga bertahap dan bergantung pada waktu.

Jika demikian, bukankah luar biasanya Muhammad dari bangsa Arab ﷺ yang membuat negara yang beliau bentuk sekaligus dalam waktu singkat, yang memuat seluruh dasar luhur dan membuka pintu seluruh kemajuan jasmani serta maknawi dan peradaban Islam, mengalahkan seluruh negara dunia serta mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan jasmani serta maknawinya?

Butir Hikmah Ketiga: Ya, melalui penundukan dan paksaan, kekuasaan lahiriah serta penguasaan dangkal dapat dipertahankan dalam waktu singkat. Namun, mempertahankan dan melanggengkan kepemimpinan atas nurani dengan memengaruhi seluruh kalbu, pikiran, dan ruh, dengan syarat disukai secara lahir serta batin—sebagai keajaiban terbesar—hanya dapat menjadi salah satu sifat khas kenabian.

Butir Hikmah Keempat: Ya, melalui ancaman, ketakutan, dan muslihat, pikiran masyarakat umum dapat dialihkan ke jalur lain. Namun, pengaruhnya terbatas, dangkal, dan sementara. Ia dapat menutup penilaian akal dalam waktu singkat.

Adapun melalui bimbingan menembus sampai kedalaman kalbu, menggugah perasaan yang paling halus, membuka jalan bagi berkembangnya potensi, menetapkan akhlak luhur dan menghancurkan serta menghilangkan tabiat rendah, mengangkat tirai dari hakikat manusia dan menampakkan hakikat, serta memberikan kebebasan berbicara, hanyalah mukjizat luar biasa yang diambil dari sinar hakikat.

Ya, pada masa-masa sebelum Zaman Kebahagiaan, kerasnya kalbu dan tiadanya belas kasih telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga, karena malu menikahkan putri mereka, mereka menguburkannya hidup-hidup. Melalui belas kasih, kasih sayang, dan kemanusiaan yang dilahirkan Islam pada Zaman Kebahagiaan, mereka yang dahulu tidak merasa sedih ketika menguburkan putri mereka,

setelah masuk ke lingkup Islam bahkan tidak lagi menginjak semut. Dapatkah perubahan ruhani, kalbu, dan nurani seperti ini diterapkan pada suatu hukum apa pun?

Setelah memasukkan butir-butir hikmah ini ke saku kalbumu, perhatikan pula pokok-pokok berikut:

1- Melalui kesaksian sejarah dunia, terbukti bahwa seorang jenius terbesar yang ditunjuk orang hanya dapat menghidupkan suatu potensi umum, membangunkan suatu sifat umum, dan mengembangkan suatu perasaan umum. Jika ia tidak dapat membangunkan perasaan seperti ini, seluruh usahanya sia-sia.

2- Sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa manusia terbesar berhasil membangunkan satu, dua, atau tiga perasaan umum, seperti semangat kebangsaan, rasa persaudaraan, rasa cinta, dan rasa kebebasan. Bukankah luar biasa mengembangkan ribuan perasaan luhur yang tersembunyi di bawah gelapnya kebodohan, kemalangan, dan kezaliman masa-masa terdahulu, di negeri Jazirah Arab, di tengah kaum Badui yang terpencar? Ya, ini berasal dari cahaya matahari hakikat.

Kepada orang yang tidak dapat memasukkan pokok-pokok ini ke dalam akalnya, kami akan menghadapkan Jazirah Arab ke matanya.

Wahai orang yang keras kepala! Pergilah ke Jazirah Arab, pilih pula seratus filsuf terbesar, dan bawalah bersama. Biarlah mereka di sana bekerja untuk mengembangkan akhlak dan kehidupan maknawi. Dapatkah para filsufmu pada masa peradaban serta kemajuan ini memberikan bahkan satu persen dari polesan yang diberikan Muhammad dari bangsa Arab ﷺ kepada orang-orang Badui liar pada masa kebiadaban itu? Sebab, polesan yang beliau berikan adalah polesan Ilahi yang teguh dan tidak berubah, serta salah satu mukjizat besar beliau.

Demikian pula, orang yang ingin berhasil dalam suatu pekerjaan harus menjaga kemurnian dan kesesuaiannya dengan Adat Allah سُبْحَانَهُ, mengenal hukum-hukum fitrah, serta memperoleh hubungan dengan ikatan-ikatan kehidupan sosial. Jika tidak, fitrah akan menjawab dengan ketidaksesuaian.

Demikian pula, dalam kehidupan sosial perlu tidak menentang arus umum. Jika ditentang, ia jatuh dari atas roda dan tertimpa di bawahnya. Karena itu, melalui diperolehnya izin Taufik Ilahi dalam arus-arus tersebut, terbukti bahwa Muhammad dari bangsa Arab ﷺ berpegang pada kebenaran di atas roda itu.

Ya, hakikat-hakikat syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ telah menjaga keseimbangan dalam hukum-hukum fitrah,

tidak merusak hubungan-hubungan yang diperlukan bagi ikatan kehidupan sosial. Semakin panjang waktu, semakin terwujud persambungan di antaranya. Dari sini dipahami bahwa Islam merupakan agama fitri bagi umat manusia dan satu-satunya faktor yang menjaga kehidupan sosial dari guncangan.

Perhatikan butir-butir hikmah serta pokok-pokok ini dan pandanglah Muhammad dari Bani Hasyim ﷺ:

Selain tidak membaca dan menulis, beliau juga tidak memiliki suatu kekuatan. Baik beliau maupun leluhurnya tidak pernah memiliki kekuasaan; mereka tidak cenderung kepada kekuasaan atau kerajaan. Dalam keadaan seperti ini, pada suatu kedudukan penting dan tempat berbahaya, beliau memulai pekerjaan besar dengan kepercayaan serta ketenteraman sempurna. Beliau mengungguli seluruh pikiran masyarakat umum, membuat seluruh ruh mencintainya, dan melampaui seluruh tabiat. Dengan menghapus seluruh kebiasaan liar serta akhlak buruk dari kalbu, beliau menetapkan kebiasaan yang sangat luhur dan akhlak indah. Beliau mengubah kerasnya kalbu yang padam dalam gurun kebiadaban dengan perasaan halus dan menampakkan hakikat manusia. Beliau mengeluarkan mereka dari sudut-sudut kebiadaban itu, mengangkatnya ke puncak peradaban, dan menjadikan mereka guru bagi masa serta alam tersebut. Beliau membentuk bagi mereka negara yang, seperti tongkat Musa yang menelan sihir para penyihir, menelan negara-negara zalim lainnya, membakar serta meruntuhkan ikatan kezaliman, kerusakan, kekacauan, dan kemalangan yang menguasai umat manusia, serta dalam waktu singkat memperluas negara Islam dari timur sampai barat. Bukankah perjalanan beliau ini menunjukkan bahwa jalannya adalah kebenaran dan hakikat?

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Burung amat indah seperti merak keluar dari telur, berkembang sempurna, dan mulai terbang di langit. Setelah menjadi terkenal di penjuru alam, tiada keraguan bahwa orang yang ingin mencari serta menemukan keindahan, kesempurnaan, dan kemajuan burung itu dalam kulit telurnya yang tertinggal di tanah adalah bodoh.

Karena itu, orang yang memandang awal hidup Nabi kita ﷺ yang diriwayatkan sejarah dengan pandangan materi, dangkal, serta lahiriah tidak dapat memahami pribadi maknawinya dan tidak dapat mencapai tingkat nilainya. Awal hidup, kebutuhan-kebutuhan manusianya, serta keadaan lahiriahnya hanya harus dipandang sebagai kulit tipis serta cangkang halus, yang dari dalamnya keluar matahari dua alam serta pohon Muhammad ﷺ seperti Tuba. Ia disirami limpahan Ilahi dan berkembang sempurna melalui karunia Rabbani.

Karena itu, ketika terdengar sesuatu yang lemah tentang keadaan lahiriah awal hidup Nabi Yang Agung ﷺ, hendaknya tidak berhenti di atasnya, melainkan segera mengangkat kepala dan memandang cahaya-cahaya yang beliau sebarkan ke seluruh penjuru alam.

Selain itu, orang yang memandang awal hidupnya dengan ragu serta sangsi tentu tidak dapat membedakan sumber dan tempat tampak, mata air dan tempat pantulan, serta yang melekat pada zat dan Tajalli. Karena itu ia jatuh dalam ragu. Ya, Nabi Yang Agung ﷺ merupakan tempat tampak serta pantulan Tajalli Ilahi; beliau bukan sumber serta mata air. Sebab, beliau hanyalah hamba yang beribadah dan dalam ibadah lebih maju daripada setiap orang. Maka, kemajuan serta kesempurnaan yang demikian banyak terlihat bukan milik yang melekat pada dirinya. Semuanya hanyalah Tajalli Rahmân Yang Rahîm yang diberikan dari luar.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tiada sesuatu pun dapat menjadi sumber bahkan bagi satu zarah melalui makna ismi. Namun, suatu zarah melalui makna harfi menjadi tempat tampak bagi bintang-bintang langit. Hanya karena dipandang dengan lalai dalam anggapan bahwa zarah itu merupakan sumber, seni Ilahi diserahkan kepada tabiat yang dijadikan tagut.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika alam besar yang engkau lihat ini dipandang sebagai kitab besar, Cahaya Muhammad ﷺ merupakan tinta pena Penulis kitab tersebut.

Jika alam besar itu dibayangkan sebagai pohon, Cahaya Muhammad ﷺ menjadi biji serta buahnya.

Jika dunia dianggap makhluk hidup berjasad, cahaya itu menjadi ruhnya.

Jika dibayangkan sebagai manusia besar, cahaya itu menjadi akalnya.

Jika dibayangkan sebagai kebun surga yang amat indah serta gemilang, Cahaya Muhammad ﷺ menjadi burung bulbulnya.

Jika dianggap istana amat besar, Cahaya Muhammad ﷺ menjadi pengawas, penyeru, serta penyambut dalam istana tinggi yang memuat pusat kerajaan dan kemegahan Sultan Azali serta Tajalli Jamal-Nya dan karya-karya seni-Nya itu. Beliau mengundang seluruh manusia dan memperkenalkan seluruh seni istimewa, keajaiban, serta mukjizat yang terdapat dalam istana tersebut. Beliau mengundang orang-orang secara memikat dan membuat terpana untuk beriman kepada Pemilik serta Pembuat istana itu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu dalil yang membuktikan kenabian Ahmad ﷺ ialah tauhid. Ya, yang menancapkan bendera tauhid bersama tingkat-tingkatnya di atas puncak tertinggi kainat, menyerukan tauhid bersama kedudukan-kedudukannya kepada pandangan alam, serta menjelaskan secara rinci dan menerangkan hakikat-hakikat yang dibiarkan ringkas oleh para nabi hanyalah Hazret-i Muhammad ﷺ. Karena itu, menurut tingkat hakikat serta daya tauhid, kenabian Ahmad ﷺ haq dan hakikat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kainat merupakan pohon. Unsur-unsur cabangnya, tumbuhan daunnya, hewan bunganya, dan manusia buahnya. Dari buah-buah ini, yang paling terang, bercahaya, indah, murah hati, mulia, serta halus ialah Pemimpin para nabi dan rasul, Imam orang bertakwa, Kekasih Rabbul 'Âlamîn, Hazret-i Muhammad ﷺ.

ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻣَﺎﺩَﺍﻣَﺖِ الْاَرْضُ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ

--

(Kutipan dari Surat Kedua Puluh Tiga)

Bagaimanakah doa terbaik seorang mukmin bagi mukmin lain?

Kalian mengajukan beberapa pertanyaan. Saudaraku yang mulia, kebanyakan Kalimat serta Surat yang ditulis datang ke hati tanpa pilihan, sekaligus serta tiba-tiba, lalu menjadi indah. Jika aku memikirkan serta menjawab dengan pilihan melalui kekuatan ilmu seperti Said Lama, jawabannya menjadi redup serta kurang. Sudah beberapa waktu ilham-ilham hati berhenti dan cambuk daya ingat patah. Namun, agar tidak dibiarkan tanpa jawaban, kami akan menulis jawaban yang amat singkat bagi masing-masing: Pertanyaan Pertama Kalian: Bagaimanakah doa terbaik seorang mukmin bagi mukmin lain?

Jawaban:

Doa harus berada dalam lingkup sebab-sebab yang membuatnya dikabulkan. Sebab, doa dikabulkan jika syarat-syarat tertentu terpenuhi. Semakin lengkap syarat-syarat itu terpenuhi bersama, semakin tinggi pula derajat dikabulkannya doa.

Di antaranya, ketika akan berdoa, hendaknya membersihkan diri secara rohani dengan istigfar; kemudian membaca salawat mulia, yang merupakan doa yang dikabulkan, seperti pemberi syafaat; dan pada akhirnya kembali membaca salawat. Sebab, doa di antara dua doa yang dikabulkan akan dikabulkan. Juga ﺑِﻈَﻬْﺮِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ, yakni "berdoa baginya ketika ia tidak hadir"; juga berdoa dengan doa-doa yang diriwayatkan dalam hadis serta Al-Qur'an, misalnya dengan doa-doa yang menyeluruh seperti

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺍَﺳْﺌَﻠُﻚَ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮَ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴَﺔَ ﻟ۪ﻰ ﻭَ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﻭَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ الْاٰخِرَةِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍٰﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَ ﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

; juga berdoa dengan tulus, khusyuk, serta hati yang penuh perhatian; juga pada akhir salat, terutama setelah salat Subuh; juga di tempat-tempat yang diberkahi, terutama masjid; juga pada hari Jumat, terutama saat doa dikabulkan; juga pada tiga bulan suci, terutama malam-malam yang terkenal; juga pada Ramadan, terutama Lailatulqadar. Sangat diharapkan dari Rahmat Ilahi bahwa berdoa demikian akan dekat kepada dikabulkan.

Doa yang dikabulkan itu akan tampak hasilnya persis di dunia, atau dikabulkan bagi akhirat serta kehidupan abadi orang yang didoakan. Jadi, jika tujuan yang sama tidak tercapai, tidak dikatakan bahwa doa tidak dikabulkan; justru dikatakan bahwa ia telah dikabulkan dengan cara yang lebih baik. Pertanyaan Kedua Kalian: Karena para sahabat mulia disebut Radıyallahu Anh, apakah sesuai mengucapkan ungkapan dengan makna ini kepada orang lain juga?

Jawaban:

Ya, boleh diucapkan. Sebab, seperti ungkapan Aleyhissalâtü Vesselâm yang menjadi tanda khusus Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, ungkapan Radıyallahu Anh bukan tanda khusus bagi sahabat saja. Ia juga harus diucapkan kepada tokoh-tokoh yang, seperti sahabat, berada dalam kewalian besar yang disebut mewarisi kenabian serta mencapai kedudukan rida, seperti empat imam, Syekh Abdul Qadir Jailani, Imam Rabbani, serta Imam Ghazali. Namun, menurut kebiasaan ulama, kepada sahabat diucapkan Radıyallahu Anh; kepada tabiin serta generasi setelah tabiin, Rahimehullah; kepada mereka yang datang kemudian, Gaferehullah; dan kepada wali, Kuddise Sırruhu.

--