Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Surat Pertama

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Dari Kumpulan Risale-i Nur

MEKTUBAT

Penulis

Bedîüzzaman Said Nursî

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢ ﻭَ ﺑِﻪ۪ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ

Surat Pertama

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Jawaban ringkas atas empat pertanyaan.

PERTANYAAN PERTAMA

Apakah Khidir aleyhisselâm masih hidup? Jika masih hidup, mengapa sebagian ulama terkemuka tidak menerima bahwa ia masih hidup?

Jawaban:

Ia masih hidup, tetapi tingkatan kehidupan ada lima. Ia berada pada tingkatan kedua. Karena itu, sebagian ulama meragukan bahwa ia masih hidup.

Tingkatan Kehidupan Pertama: Kehidupan kita, yang terikat oleh banyak batas dan syarat.

Tingkatan Kehidupan Kedua: Kehidupan Khidir dan Ilyas aleyhimesselâm, yang sampai taraf tertentu bebas. Yakni, dalam satu waktu mereka dapat berada di banyak tempat. Mereka tidak selalu terikat oleh kebutuhan manusia seperti kita. Kadang-kadang, ketika menghendakinya, mereka makan dan minum seperti kita, tetapi tidak harus melakukannya seperti kita. Berbagai peristiwa perjumpaan dengan Khidir yang dialami para wali yang menyaksikan langsung dan memiliki kasyaf (penglihatan batin), telah diberitakan begitu banyak orang hingga mencapai derajat mutawatir; peristiwa itu menjelaskan dan membuktikan tingkatan kehidupan ini. Bahkan, di antara tingkatan kewalian ada satu tingkatan yang disebut "Kedudukan Khidir". Seorang wali yang mencapai tingkatan itu menerima pelajaran dari Khidir dan bertemu dengannya. Namun, kadang-kadang orang yang memiliki kedudukan itu keliru dianggap sebagai Khidir sendiri.

Tingkatan Kehidupan Ketiga: Kehidupan Idris dan Isa aleyhimesselâm; dengan lepas dari kebutuhan manusia dan memasuki kehidupan seperti kehidupan malaikat, mereka menjadi halus dan bercahaya. Mereka berada di langit dengan tubuh duniawi yang halus laksana tubuh bayangan dan bercahaya laksana bintang.

Rahasia hadis yang bermakna bahwa pada akhir zaman Isa aleyhisselâm akan datang dan mengamalkan syariat Muhammad ﷺ ialah sebagai berikut: Pada akhir zaman, ketika agama Nasrani menjadi jernih, terbebas dari takhayul, dan berubah menjadi Islam dalam menghadapi arus kufur serta penolakan terhadap keilahian yang ditimbulkan oleh filsafat alam, pribadi maknawi agama Nasrani membunuh pribadi maknawi paham tanpa agama yang dahsyat itu dengan pedang wahyu samawi. Demikian pula, Isa aleyhisselâm, sebagai wakil pribadi maknawi agama Nasrani, membunuh Dajal yang mewakili pribadi maknawi paham tanpa agama; yakni, ia akan membunuh pemikiran yang menolak keilahian.

Tingkatan Kehidupan Keempat: Kehidupan para syuhada. Menurut nas Al-Qur'an, para syuhada memiliki tingkatan kehidupan di atas penghuni kubur. Ya, karena para syuhada mengorbankan kehidupan duniawi mereka di jalan haq, Allah سُبْحَانَهُ, dengan Kemurahan⁠-⁠Nya yang sempurna, menganugerahkan kepada mereka di alam barzakh suatu kehidupan yang menyerupai kehidupan dunia, tetapi tanpa kesedihan dan kesusahan. Mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah mati; mereka hanya mengetahui bahwa mereka telah pergi ke alam yang lebih baik, menikmati kebahagiaan yang sempurna, dan tidak merasakan pahitnya perpisahan dalam kematian.

Adapun para penghuni kubur, meskipun ruh mereka tetap ada, mereka mengetahui bahwa mereka telah mati. Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh di barzakh tidak mencapai kenikmatan para syuhada. Seperti dua orang yang dalam mimpi memasuki istana indah laksana surga. Salah seorang mengetahui bahwa ia sedang bermimpi. Kesenangan dan kenikmatan yang ia peroleh sangat kurang. Ia berpikir, "Jika aku terbangun, kenikmatan ini akan hilang." Orang yang lain tidak mengetahui bahwa ia sedang bermimpi. Ia memperoleh kenikmatan yang nyata dan kebahagiaan yang nyata.

Demikianlah perbedaan antara orang mati dan para syuhada dalam menikmati kehidupan di alam barzakh. Melalui peristiwa dan riwayat yang tak terhitung, telah terbukti dan dipastikan bahwa para syuhada memperoleh kehidupan semacam ini dan mengetahui diri mereka masih hidup.

Bahkan, tingkatan kehidupan ini telah dijelaskan dan dibuktikan melalui banyak peristiwa, seperti Hamzah radhiyallahu anhu, pemimpin para syuhada, yang berulang kali melindungi orang-orang yang memohon perlindungan kepadanya serta mengurus dan mengusahakan agar orang lain mengurus keperluan duniawi mereka.

Bahkan, aku sendiri memiliki seorang keponakan sekaligus murid bernama Ubeyd. Setelah ia gugur sebagai syahid di sisiku dan menggantikan diriku, ketika aku menjadi tawanan pada jarak tiga bulan perjalanan, meskipun tidak mengetahui tempat ia dimakamkan, dalam suatu mimpi yang benar aku memasuki kuburnya yang berupa rumah di bawah tanah. Aku melihatnya pada tingkatan kehidupan para syuhada. Rupanya ia mengira aku telah mati. Ia mengatakan bahwa ia banyak menangis karena diriku. Ia mengetahui dirinya masih hidup, tetapi karena khawatir akan penyerbuan Rusia, ia membuat rumah yang indah bagi dirinya di bawah tanah. Mimpi khusus ini, disertai beberapa keadaan dan tanda, memberiku keyakinan terhadap hakikat tadi sampai pada derajat menyaksikan langsung.

Tingkatan Kehidupan Kelima: Kehidupan ruhani para penghuni kubur. Ya, kematian ialah berpindah tempat, bebasnya ruh, dan dibebaskan dari tugas. Ia bukan pemusnahan, lenyap sama sekali, atau menjadi fana. Banyak bukti menjelaskan dan membuktikan tingkatan kehidupan itu: melalui peristiwa yang tak terhitung, ruh para wali muncul dalam bentuk tertentu dan terlihat oleh ahli kasyaf; para penghuni kubur lainnya berhubungan dengan kita ketika terjaga atau dalam mimpi, serta menyampaikan berita yang sesuai dengan kenyataan. Memang, "Kalimat Kedua Puluh Sembilan", yang membahas ruh yang tetap ada, telah membuktikan tingkatan kehidupan ini dengan bukti-bukti yang pasti.

PERTANYAAN KEDUA

Dalam Al-Furqân Al-Hakîm, melalui ayat-ayat seperti

ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓَ ﻟِﻴَﺒْﻠُﻮَﻛُﻢْ ﺍَﻳُّﻜُﻢْ ﺍَﺣْﺴَﻦُ عَمَلًا,

dijelaskan bahwa "Kematian juga diciptakan seperti kehidupan, dan merupakan nikmat." Padahal, secara lahiriah kematian ialah terurai, lenyap, membusuk, padamnya kehidupan, dan penghancur kenikmatan. Bagaimana ia dapat diciptakan dan menjadi nikmat?

Jawaban:

Seperti dikatakan pada akhir jawaban Pertanyaan Pertama, kematian ialah dibebaskan dari tugas kehidupan, berhenti bekerja, berpindah tempat, berubahnya wujud, undangan menuju kehidupan yang kekal, suatu permulaan, dan pendahuluan bagi kehidupan yang kekal. Sebagaimana datangnya kehidupan ke dunia berlangsung melalui penciptaan dan takdir, demikian pula kepergiannya dari dunia berlangsung melalui penciptaan dan takdir, dengan hikmah dan pengaturan.

Sebab, kematian tumbuhan, yang merupakan tingkatan kehidupan paling sederhana, menunjukkan bahwa kematian adalah karya seni yang lebih teratur daripada kehidupan. Karena kematian buah, biji, dan benih, meskipun tampak sebagai pembusukan, pelapukan, dan tercerai, merupakan suatu pengolahan yang terdiri atas proses kimia yang sangat teratur, berpadu dan bercampurnya unsur-unsur dengan ukuran yang seimbang, serta tersusunnya zarah-zarah dengan penuh hikmah; kematian yang tak terlihat, teratur, dan penuh hikmah ini menjadi nyata melalui kehidupan tunasnya.

Jadi, kematian biji adalah permulaan kehidupan tunas; bahkan, karena berada pada kedudukan kehidupan itu sendiri, kematian ini pun diciptakan dan teratur sebagaimana kehidupan.

Selain itu, karena matinya buah-buah yang hidup maupun hewan-hewan di dalam perut manusia menjadi sumber bagi naiknya mereka menuju kehidupan manusia, dikatakan, "Kematian itu lebih teratur dan lebih nyata sebagai hasil penciptaan daripada kehidupan mereka."

Jika kematian tumbuhan, tingkatan kehidupan yang paling rendah, diciptakan dengan penuh hikmah dan begitu teratur, tentu kematian yang menimpa kehidupan manusia, tingkatan kehidupan paling tinggi, demikian pula: seperti biji yang masuk ke bawah tanah menjadi pohon di alam udara, manusia yang masuk ke bawah tanah pun tentu akan menghasilkan tunas kehidupan yang kekal di alam barzakh.

Adapun segi kematian sebagai nikmat, dari sekian banyak seginya kami menunjukkan empat:

Pertama: Karena kematian membebaskan dari tugas kehidupan dan kewajiban hidup yang telah menjadi berat, serta menjadi pintu pertemuan (wishâl) di alam barzakh untuk berjumpa dengan sembilan puluh sembilan persen orang yang dikasihi, ia merupakan nikmat yang paling besar.

Kedua: Kematian mengeluarkan manusia dari penjara dunia yang sempit, menyesakkan, gaduh, dan berguncang; dengan memperoleh kehidupan yang luas, menggembirakan, tanpa derita, dan kekal, ia memasuki lingkaran Rahmat Sang Kekasih Yang Kekal.

Ketiga: Ada banyak sebab, seperti usia tua, yang memberatkan keadaan hidup dan menunjukkan kematian sebagai nikmat yang jauh melampaui kehidupan.

Misalnya, seandainya di hadapanmu sekarang hadir ayah dan ibumu yang sudah sangat tua dan membuatmu merasa sedih, bersama leluhur dari leluhurmu dalam keadaan sengsara, engkau akan mengetahui betapa kehidupan menjadi penderitaan dan betapa kematian menjadi nikmat.

Selain itu, misalnya, dapat dipahami betapa hidup di tengah ganasnya musim dingin menjadi kesusahan bagi serangga-serangga indah yang mencintai bunga-bunga indah, dan betapa kematian mereka menjadi rahmat.

Keempat: Sebagaimana tidur merupakan rasa nyaman, rahmat, dan istirahat, khususnya bagi orang yang tertimpa musibah, terluka, dan sakit... demikian pula, kakak tidur, yaitu kematian, merupakan nikmat dan rahmat itu sendiri bagi orang-orang yang tertimpa musibah serta dilanda bencana yang mendorong mereka untuk bunuh diri.

Adapun bagi orang-orang yang sesat, sebagaimana telah dibuktikan secara pasti dalam beberapa Kalimat, kematian pun, seperti kehidupan, merupakan penderitaan di dalam penderitaan, azab di dalam azab. Hal itu berada di luar pembahasan ini.

PERTANYAAN KETIGA

Di manakah neraka?

Jawaban:

ﻗُﻞْ ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ٭ لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

Dalam sebagian riwayat, tempat neraka disebut "di bawah bumi". Seperti kami jelaskan di tempat lain, melalui gerakan tahunannya bumi melukiskan sebuah lingkaran mengelilingi suatu lapangan yang kelak menjadi tempat berhimpun pada hari kebangkitan. Artinya, neraka berada di bawah lintasan tahunan bumi itu. Ia tidak terlihat dan tidak terasa karena apinya bertabir dan tidak bercahaya. Di sepanjang jarak amat besar yang ditempuh bumi terdapat banyak makhluk yang tidak terlihat karena tidak bercahaya. Sebagaimana bulan seolah kehilangan wujudnya ketika cahayanya surut, banyak bola langit dan makhluk tanpa cahaya berada di hadapan mata kita, tetapi tidak dapat kita lihat.

Neraka ada dua: yang kecil dan yang besar. Kelak yang kecil akan berubah menjadi yang besar; sebagaimana ia merupakan bijinya, kelak ia juga menjadi salah satu tempat di dalamnya. Neraka kecil berada di bawah bumi, yakni di pusatnya. Bagian bawah suatu bola adalah pusatnya.

Dalam ilmu lapisan bumi diketahui bahwa umumnya setiap penggalian sejauh tiga puluh tiga meter, suhu bertambah satu derajat. Jadi, karena jari-jari bumi hingga pusatnya adalah enam ribu sekian kilometer, di sana terdapat api dengan suhu dua ratus ribu derajat, yakni dua ratus kali lebih dahsyat daripada api duniawi, sesuai dengan riwayat hadis.

Neraka kecil ini telah menjalankan banyak tugas neraka besar di dunia dan di alam barzakh; hal itu ditunjukkan dalam hadis-hadis. Di alam akhirat, sebagaimana bumi mencurahkan para penghuninya ke lapangan kebangkitan yang berada pada lintasan tahunannya, demikian pula, atas Perintah Allah سُبْحَانَهُ, ia menyerahkan neraka kecil di dalamnya kepada neraka besar. Perkataan sebagian imam Mu'tazilah bahwa "Neraka akan diciptakan kemudian" adalah kekeliruan dan kebodohan; mereka berkata demikian karena pada saat ini neraka belum terbentang sepenuhnya dan belum berkembang dalam bentuk yang sepenuhnya sesuai dengan para penghuninya.

Selain itu, agar dengan mata duniawi kita dapat melihat dan memperlihatkan tempat-tempat di alam akhirat yang berada di balik tabir gaib, kita harus mengecilkan kainat hingga menjadi seluas dua provinsi, atau membesarkan mata kita hingga memiliki mata seperti bintang-bintang, supaya dapat melihat dan menentukan tempatnya.

ﻭَﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

Tempat-tempat di alam akhirat tidak terlihat oleh mata duniawi kita ini. Namun, melalui isyarat sebagian riwayat, neraka di akhirat berhubungan dengan dunia kita. Panas yang sangat menyengat pada musim panas disebut

ﻣِﻦْ ﻓَﻴْﺢِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ.

Jadi, neraka besar itu tidak terlihat dengan mata akal duniawi yang kecil dan redup ini. Namun, kita dapat memandang melalui cahaya asma Hakîm. Sebagai berikut:

Neraka besar yang berada di bawah lintasan tahunan bumi seakan-akan telah menunjuk neraka kecil di pusat bumi sebagai wakil untuk menjalankan sebagian tugasnya. Kerajaan Sang Qadîr Dzul-Jalâl amat luas. Ke mana pun Hikmah Allah سُبْحَانَهُ menunjukkan, di situlah neraka besar berada.

Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl Yang Memiliki "perintah kun fayakûn", di hadapan mata kita mengikat bulan kepada bumi dengan Hikmah dan keteraturan yang sempurna; mengikat bumi kepada matahari dengan kebesaran Kudrat dan keteraturan; serta, dengan keagungan Rububiyah⁠-⁠Nya, menggerakkan matahari beserta planet-planetnya pada kecepatan yang mendekati kecepatan bumi dalam perjalanan tahunannya, menurut salah satu kemungkinan menuju matahari dari segala matahari. Dia menjadikan bintang-bintang, seperti lampu listrik hiasan, sebagai saksi bercahaya bagi Kerajaan Rububiyah⁠-⁠Nya; melalui semua itu Dia menunjukkan Kerajaan Rububiyah dan kebesaran Kudrat⁠-⁠Nya. Maka, tidaklah jauh dari Hikmah yang sempurna, kebesaran Kudrat, serta Kerajaan Rububiyah Zat Dzul-Jalâl itu bahwa Dia menjadikan neraka besar seperti ketel pabrik lampu listrik, lalu dengannya menyalakan bintang-bintang di langit yang menghadap akhirat, memberi panas dan kekuatan. Yakni, Dia memberi cahaya kepada bintang-bintang dari surga, alam cahaya, serta mengirim api dan panas dari neraka. Pada saat yang sama, Dia menjadikan sebagian neraka itu sebagai tempat tinggal dan penjara bagi orang-orang yang diazab.

Selain itu, Sang Fâthir Yang Hakîm menyimpan pohon besar sebesar gunung di dalam biji sebesar kuku. Tentu tidaklah jauh dari Kudrat dan Hikmah Zat Dzul-Jalâl itu bahwa Dia menyimpan neraka besar dalam biji neraka kecil di jantung bumi.

Kesimpulannya:

Surga dan neraka adalah dua buah dari sebuah dahan pohon penciptaan yang memanjang dan melengkung menuju hidup yang kekal selamanya. Adapun tempat buah adalah di ujung dahan.

Keduanya juga merupakan dua hasil dari rangkaian kainat ini. Tempat kedua hasil itu berada pada kedua sisi rangkaian: yang rendah dan berat berada di bawah; yang bercahaya dan tinggi berada di atas.

Keduanya juga merupakan dua tempat penyimpanan bagi arus peristiwa dan hasil-hasil maknawi bumi ini. Tempat penyimpanan itu sesuai dengan jenis hasilnya: yang buruk di bawah, yang baik di atas.

Keduanya juga merupakan dua kolam bagi segala yang ada, yang mengalir dan berombak menuju hidup yang kekal selamanya. Tempat kolam ialah di tempat arus berhenti dan berkumpul. Yakni, yang busuk dan kotor berada paling bawah, sedangkan yang baik dan murni berada paling atas.

Keduanya juga merupakan dua tempat tajalli, pancaran Karunia dan Kuasa yang menundukkan, Rahmat dan Keagungan. Adapun tempat tajalli dapat berada di mana saja. Sang Rahmân Dzul-Jamâl dan Sang Qahhâr Dzul-Jalâl membuka tempat Tajalli⁠-⁠Nya di mana pun Dia menghendaki.

Adapun adanya surga dan neraka telah dibuktikan dengan sangat pasti dalam Kalimat Kesepuluh, Kedua Puluh Delapan, dan Kedua Puluh Sembilan. Di sini kami hanya berkata: Adanya buah sama pastinya dengan adanya dahan; adanya hasil sama pastinya dengan rangkaian; adanya tempat penyimpanan sama pastinya dengan hasil-hasilnya; adanya kolam sama pastinya dengan sungai; dan adanya tempat tajalli sama pastinya dengan adanya Rahmat serta Kuasa yang menundukkan.

Pertanyaan Keempat

Sebagaimana cinta majasi kepada orang-orang yang dikasihi berubah menjadi cinta hakiki, apakah cinta majasi terhadap dunia, yang terdapat pada kebanyakan orang, juga dapat berubah menjadi cinta hakiki?

Jawaban:

Ya. Jika orang yang mencintai sisi dunia yang fana melihat buruknya sisi itu karena akan berlalu dan lenyap, lalu berpaling darinya dan mencari Kekasih Yang Kekal, serta berhasil memandang dua sisi dunia lainnya yang amat indah, yang menjadi cermin Asma Allah سُبْحَانَهُ dan ladang akhirat, maka cinta majasi yang tidak dibenarkan itu mulai berubah menjadi cinta hakiki. Namun, dengan satu syarat: ia tidak mencampuradukkan dunianya sendiri, yang akan berlalu, terikat pada kehidupannya, dan tidak tetap, dengan dunia di luar dirinya.

Jika seperti orang-orang yang sesat dan lalai, ia melupakan dirinya, tenggelam dalam alam di luar dirinya, mengira dunia umum sebagai dunianya sendiri, lalu mencintainya, ia jatuh ke rawa paham yang menyandarkan segala sesuatu kepada alam dan tenggelam. Kecuali, dengan cara yang luar biasa, Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ menyelamatkannya. Untuk menjelaskan hakikat ini, perhatikan perumpamaan berikut. Misalnya:

Jika pada keempat dinding kamar yang indah berhias ini terdapat empat cermin seluruh tubuh milik kami berempat, maka ada lima kamar: satu kamar nyata dan umum, serta empat kamar berupa gambaran dan pribadi... Melalui cermin masing-masing, setiap orang dari kami dapat mengubah bentuk, susunan, dan warna kamar pribadinya. Jika kami membubuhkan cat merah, ia tampak merah; jika kami mewarnainya hijau, ia tampak hijau, dan seterusnya... Dengan mengubah cermin, kami dapat memberinya banyak keadaan: memperburuk, memperindah, dan membuatnya tampil dalam berbagai bentuk. Namun, kami tidak dapat dengan mudah mengatur dan mengubah kamar umum yang berada di luar cermin. Meskipun kamar pribadi dan kamar umum pada hakikatnya sama, hukum yang berlaku pada keduanya berbeda. Engkau dapat menghancurkan kamarmu dengan satu jari, tetapi tidak dapat menggerakkan satu batu pun pada kamar yang lain.

Demikianlah, dunia adalah tempat tinggal yang berhias. Kehidupan masing-masing dari kita adalah cermin seluruh tubuh. Dari dunia ini, setiap orang dari kita memiliki dunianya sendiri dan alamnya sendiri. Namun, tiang, pusat, dan pintunya adalah kehidupan kita. Bahkan, dunia dan alam pribadi kita itu merupakan satu halaman. Kehidupan kita adalah pena; dengannya banyak hal ditulis untuk masuk ke dalam halaman amal kita.

Jika kita mencintai dunia kita, kemudian melihat, merasakan, dan mengetahui bahwa karena dibangun di atas kehidupan kita, dunia kita akan berlalu, fana, dan tidak tetap seperti kehidupan kita, maka cinta kita kepadanya beralih menuju ukiran indah Asma Allah سُبْحَانَهُ yang dicerminkan dan diwakili oleh dunia pribadi kita; dari sana, cinta itu beralih kepada Tajalli Asma⁠-⁠Nya.

Selain itu, jika kita memahami bahwa dunia pribadi kita merupakan tempat pembibitan sementara bagi akhirat dan surga, lalu mengalihkan perasaan kita seperti hasrat yang kuat, keinginan, dan cinta terhadapnya kepada manfaat akhirat yang menjadi hasil, buah, dan tunasnya, maka cinta majasi itu berubah menjadi cinta hakiki.

Jika tidak, ia mengalami rahasia

ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎَﻧْﺴٰﻴﻬُﻢْ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ,

melupakan dirinya, tidak memikirkan berlalunya kehidupan, menganggap dunia pribadinya yang tidak tetap itu kokoh seperti dunia umum, membayangkan dirinya tidak akan mati, lalu melekat pada dunia dan memeluknya dengan perasaan yang kuat; ia tenggelam di dalamnya dan habis. Cinta itu baginya merupakan bencana dan azab yang tak terhitung. Sebab, cinta itu melahirkan kasih sayang laksana seorang yatim dan kelembutan hati yang putus asa. Ia mengasihani semua makhluk hidup; bahkan, terhadap semua makhluk indah yang akan berlalu, ia merasakan kelembutan hati dan kepedihan berpisah. Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan menderita dalam putus asa yang mutlak.

Namun, orang pertama yang terbebas dari kelalaian menemukan penawar yang mulia terhadap kepedihan kasih sayang yang kuat itu: di tengah kematian dan berlalunya semua makhluk hidup yang ia kasihani, ia melihat bahwa cermin ruh mereka tetap ada dan mencerminkan tajalli yang terus berlangsung dari asma yang kekal milik Zat Yang Kekal; kasih sayangnya berubah menjadi kegembiraan.

Selain itu, di balik semua makhluk indah yang akan berlalu dan lenyap, ia melihat ukiran dan upaya memperindah, seni, hiasan, ihsan, serta pemberian cahaya yang terus berlangsung, yang membuatnya merasakan Keindahan Yang Suci dan Keelokan Yang Kudus. Ia memandang berlalunya dan lenyapnya makhluk itu sebagai penyegaran untuk menambah keindahan, memperbarui kenikmatan, serta memperlihatkan seni; maka kenikmatan, semangat, dan rasa takjubnya bertambah.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ

Bedîüzzaman Said Nursî