Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Buah Pertama:

Teka-Teki · Bahasa Indonesia

Buah Pertama:

Wahai nafsuku yang memuja diri dan sahabatku yang memuja dunia! Cinta adalah salah satu sebab adanya kainat ini. Ia juga ikatan kainat ini. Ia juga cahaya kainat ini dan juga kehidupannya. Karena manusia merupakan buah paling menyeluruh kainat, cinta yang dapat meliputi kainat dimasukkan ke dalam hatinya, benih buah tersebut. Yang layak bagi cinta tak terhingga seperti ini ialah Pemilik Kesempurnaan tanpa batas.
Wahai nafsu dan wahai sahabat! Dalam fitrah manusia dimasukkan dua perangkat yang menjadi sarana takut dan cinta. Bagaimanapun, cinta dan takut itu akan mengarah kepada makhluk atau Sang Khâliq. Padahal, takut kepada makhluk merupakan malapetaka yang menyakitkan, dan mencintai makhluk juga musibah yang penuh bencana. Sebab, engkau takut kepada hal-hal yang tidak mengasihimu atau tidak menerima permohonan belas kasihmu. Maka, takut itu bencana yang menyakitkan.
Dalam cinta, benda yang engkau cintai tidak mengenalmu dan pergi tanpa mengucapkan, "Semoga Allah سُبْحَانَهُ menjagamu", seperti masa muda dan hartamu, atau merendahkanmu karena cintamu. Tidakkah engkau melihat bahwa dalam cinta majasi (cinta kiasan), sembilan puluh sembilan persen mengeluh tentang kekasihnya? Sebab, memuja kekasih-kekasih duniawi yang seperti berhala dengan bagian dalam hati, cermin Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad, terasa berat bagi kekasih-kekasih itu; mereka menganggapnya beban dan menolaknya.

Fitrah menolak serta membuang hal yang tidak fitri dan tidak layak. (Cinta berdasarkan syahwat berada di luar pembahasan kita.)
Jadi, benda-benda yang engkau cintai tidak mengenalmu, merendahkanmu, atau tidak menemanimu. Benda-benda itu berpisah meskipun engkau tidak menghendakinya. Karena demikian, arahkan takut dan cinta ini kepada Zat yang membuat takutmu menjadi kerendahan diri yang nikmat, dan cintamu kebahagiaan tanpa kehinaan.
Ya, takut kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang menciptakanmu berarti menemukan jalan menuju Kasih Sayang Rahmat-Nya dan berlindung kepada-Nya. Takut adalah cambuk yang melemparkanmu ke dalam pelukan Rahmat-Nya. Diketahui bahwa seorang ibu, misalnya, menakut-nakuti anaknya untuk menariknya ke dada. Takut itu sangat nikmat bagi anak, karena menariknya ke dada kasih sayang. Padahal kasih seluruh ibu merupakan satu kilau Rahmat Ilahi.
Jadi, dalam takut kepada Allah سُبْحَانَهُ terdapat kenikmatan yang besar. Karena takut kepada Allah سُبْحَانَهُ memiliki kenikmatan demikian, dapat diketahui betapa tak terbatasnya kenikmatan dalam mencintai Allah سُبْحَانَهُ. Orang yang takut kepada Allah سُبْحَانَهُ juga terbebas dari takut kepada yang lain yang menyedihkan dan penuh bencana. Karena demi Allah سُبْحَانَهُ, cintanya kepada makhluk juga tidak disertai perpisahan dan penderitaan.
Ya, manusia pertama-tama mencintai dirinya, kemudian kerabatnya, bangsanya, makhluk-makhluk hidup, lalu kainat dan dunia. Ia berhubungan dengan setiap lingkup ini.

Ia dapat menikmati kenikmatan mereka dan menderita melalui penderitaan mereka. Padahal, karena tidak ada sesuatu pun yang tetap dalam keadaan semula di tengah alam yang kacau ini dan putaran waktu, hati manusia yang malang terus terluka. Benda-benda yang dipegang tangannya pergi, lalu merobek tangannya, bahkan memutuskannya. Ia selalu tinggal dalam penderitaan atau menjadi mabuk dengan kelalaian.
Karena demikian, wahai nafsu! Jika engkau berakal, kumpulkan seluruh cinta itu, berikan kepada Pemiliknya yang Sejati, dan bebaskan diri dari bencana-bencana ini. Cinta-cinta tak terhingga itu khusus bagi Pemilik Kesempurnaan dan Keindahan tanpa batas. Ketika memberikannya kepada Pemilik yang Sejati, engkau dapat mencintai segala sesuatu atas Nama-Nya dan karena menjadi cermin-Nya, tanpa penderitaan. Jadi, cinta ini tidak seharusnya dicurahkan langsung kepada kainat. Jika tidak, cinta yang merupakan nikmat paling lezat menjadi hukuman yang paling menyakitkan.
Tinggal satu segi, dan itulah yang paling penting: wahai nafsu! Engkau mencurahkan cintamu kepada nafsumu sendiri. Engkau menjadikan nafsumu ma'bûd dan kekasih bagi dirimu. Engkau mengorbankan segala sesuatu kepada nafsu, seolah-olah memberinya sejenis rububiyah. Padahal, sebab cinta ialah kesempurnaan, karena kesempurnaan dicintai dalam dirinya sendiri; atau manfaat, kenikmatan, kebaikan, maupun sebab-sebab seperti itu.
Sekarang, wahai nafsu!

Dalam beberapa Kalimat kami telah membuktikan dengan pasti bahwa hakikat aslimu diolah dari cacat, kekurangan, keadaan serba kurang, dan ketidakmampuan. Sebagaimana gelap menunjukkan terangnya cahaya menurut tingkat gelapnya, melalui sifat berlawanan, dengan hal-hal itu engkau menjadi cermin Kesempurnaan, Keindahan, Kudrat, dan Rahmat Sang Fâthir Dzul-Jalâl.
Jadi, wahai nafsu! Jangan mencintai nafsumu, melainkan harus memusuhinya, atau merasa iba, atau mengasihinya setelah menjadi muthmainnah. Jika mencintai nafsumu—karena nafsumu merupakan sumber kenikmatan dan manfaat, dan engkau terpikat oleh kesenangan kenikmatan serta manfaat—jangan mengutamakan kenikmatan dan manfaat bagi nafsu yang sebesar zarah itu di atas kenikmatan dan manfaat tak terbatas. Jangan menjadi seperti kunang-kunang. Sebab, ia menenggelamkan seluruh sahabat serta benda yang dicintainya dalam sunyi yang gelap, dan mencukupkan diri dengan satu kilau kecil dalam dirinya. Sebab, engkau harus mencintai Sang Kekasih Azali, yang Perhatian-Nya menentukan kenikmatan serta manfaat nafsumu, sekaligus manfaat dan nikmat seluruh kainat serta semua makhluk yang berhubungan denganmu, yang seluruh manfaatnya engkau nikmati dan kebahagiaannya membuatmu bahagia. Agar engkau menikmati kebahagiaanmu sendiri dan seluruh kebahagiaan mereka, serta memperoleh kenikmatan tak terbatas dari cinta kepada Kesempurnaan Mutlak.

Sesungguhnya, cinta kuat yang ada dalam dirimu kepada nafsumu ialah cinta kepada Zat-Nya, yang engkau salah gunakan dan curahkan kepada dirimu sendiri. Maka, robeklah "aku" dalam nafsumu dan tampakkan "Dia". Seluruh cintamu yang tersebar di kainat juga cinta yang diberikan kepada Asma dan Sifat-Sifat-Nya. Engkau telah menyalahgunakannya dan menerima hukumannya. Sebab, hukuman cinta yang tidak dibenarkan dan tidak dicurahkan pada tempatnya ialah musibah yang tidak berbelas kasih. Sang Kekasih Azali, melalui Nama Ar-Rahmân Yang Rahîm, menyiapkan tempat tinggal seperti surga berhias bidadari yang mencakup seluruh keinginanmu bagi hasrat jasmanimu; melalui Asma-Nya yang lain, menyiapkan di surga itu pemberian-pemberian abadi yang memuaskan keinginan ruh, hati, sir, akal, dan daya halusmu yang lain; dan dalam setiap Nama-Nya terdapat banyak khazanah maknawi Kebaikan serta Kemurahan. Tentu satu zarah cinta kepada-Nya dapat menggantikan kainat. Alam semesta tidak dapat menggantikan satu Tajalli Cinta-Nya yang juz'i. Maka, dengarkan dan ikutilah Maklumat Azali berikut, yang Sang Kekasih Azali perintahkan kepada kekasih-Nya ﷺ untuk diucapkan:

ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧ۪ﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ