Dari Kumpulan Risale-i Nur
ASÂ-YI MUSA (TONGKAT MUSA)
Penulis
Bedîüzzaman Said Nursî
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
Pada abad yang menakjubkan ini, sebagaimana orang-orang beriman sangat membutuhkan "Risale-i Nur", serta para ahli ilmu dan guru sekolah sangat membutuhkan "Asâ-yı Musa", para hafiz dan guru agama juga sangat membutuhkan "Zülfikar".
Ya, misalnya, dalam pembahasan i'jaz Al-Qur'an (sifat bermukjizat Al-Qur'an), justru pada bagian-bagian kebanyakan ayat yang menjadi tempat keraguan dan keberatan, kilauan i'jaz serta butir-butir hikmah yang indah Al-Qur'an telah dibuktikan.
Atas nama seluruh murid Risale-i Nur
Said Nursî
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ ﺍَﺑَﺪًﺍ ﺩَﺍﺋِﻤًﺎ
Wahai saudara-saudaraku yang mulia dan setia!
Karena Risale-i Nur mulai tersebar luas melalui mesin cetak, dan karena para pelajar serta guru yang mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan baru banyak berpegang pada Risale-i Nur, tentu suatu hakikat perlu dijelaskan. Demikianlah:
Filsafat yang ditampar dan diserang keras oleh Risale-i Nur tidak mencakup seluruh filsafat, melainkan bagian yang berbahaya. Sebab, bagian filsafat dan ilmu pengetahuan yang melayani kehidupan bersama manusia, akhlak dan kesempurnaan manusia, serta kemajuan seni, selaras dengan Al-Qur'an. Bahkan, ia melayani Hikmah Al-Qur'an dan tidak dapat menentangnya. Risale-i Nur tidak mengusik bagian ini.
Bagian kedua filsafat, selain menjadi sarana menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan, pengingkaran terhadap Allah سُبْحَانَهُ dan rawa tabiat, juga menghasilkan lalai dan sesat melalui hidup berfoya-foya serta hiburan sia-sia. Karena melalui keajaiban-keajaibannya yang seperti sihir ia menentang hakikat-hakikat Al-Qur'an yang bermukjizat, dalam kebanyakan bagiannya Risale-i Nur mengusik dan menampar bagian filsafat yang telah keluar dari jalan ini melalui timbangan serta perbandingan yang kuat dan disertai bukti. Ia tidak mengusik filsafat yang lurus dan bermanfaat. Karena itu, para pelajar memasuki Risale-i Nur tanpa keberatan dan tanpa ragu, dan mereka memang seharusnya memasukinya.
Namun, sebagaimana kaum munafik tersembunyi menggunakan sebagian guru agama dengan cara yang sama sekali tanpa makna dan tidak adil untuk melawan Risale-i Nur, yang merupakan milik sejati orang-orang madrasah serta para guru agama, ada kemungkinan mereka membangkitkan keakuan dalam ilmu pada sebagian filsuf dan menggunakannya untuk melawan Nur. Berdasarkan kemungkinan itu, hakikat ini patut ditulis pada awal kumpulan Asâ-yı Musa dan Zülfikar.
Said Nursî
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
Imam Ali (radıyallahu anh) memberitakan Risale-i Nur serta risalah-risalah pentingnya dengan nomor yang sama dalam "Celcelutiye", dengan cara yang amat kuat dan hampir terang-terangan. Lem'a Kedua Puluh Delapan serta Sinar Kedelapan telah membuktikannya sepenuhnya. Imam Ali (radıyallahu anh) memberitakan risalah terakhir Risale-i Nur dalam Celcelutiye melalui ungkapan berikut:
ﻭَ ﺍﺳْﻢُ ﻋَﺼَﺎ ﻣُﻮﺳٰﻰ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻈُّﻠْﻤَﺔُ ﺍﻧْﺠَﻠَﺖْ
Satu atau dua tahun lalu kami mengira Âyetü'l-Kübra (Tanda yang Paling Agung) merupakan yang terakhir. Namun kini, pada tahun enam puluh empat (1948 Masehi), Risale-i Nur selesai disusun; dan ungkapan Ali ini mengandung makna, yakni memberitakan suatu risalah yang akan mengusir gelap, memberi cahaya seperti tongkat Musa (as), serta membatalkan sihir. Bagian "Risalah Buah" dari kumpulan ini menjadi pembelaan dan mengusir gelap mengerikan serta penuh kezaliman yang menimpa kami. Bagian "Hujah-Hujah" juga menghilangkan gelap filsafat yang berhadapan dengan Nur, sehingga memaksa para ahli Ankara menerima dan menghargainya. Terdapat pula banyak tanda bahwa ia akan menghilangkan gelap pada masa depan. Sebagai bandingan dan padanan tongkat Musa (as) yang mengalirkan dua belas mata air dari satu batu serta menjadi sarana sebelas mukjizat, kumpulan terakhir ini juga mempunyai sebelas persoalan bercahaya pada bagian "Risalah Buah" serta sebelas hujah yang menentukan pada bagian "Hüccetullahi'l-Bâliğa" (Hujah Allah سُبْحَانَهُ yang Sempurna). Semua segi ini memberi kami keyakinan bahwa Imam Ali radıyallahu anh, melalui ungkapan tersebut, langsung memandang kumpulan yang bernama Asâ-yı Musa ini dan memberitakannya dengan penuh penghargaan.
Said Nursî
BAGIAN PERTAMA ASÂ-YI MUSA
Sebuah Buah Penjara Denizli
Merupakan pembelaan Risale-i Nur terhadap zindik serta kekufuran mutlak. Dalam penahanan kami ini, pembelaan kami yang sebenarnya juga inilah. Sebab, kami hanya mengerjakan ini.
Risalah ini merupakan buah serta kenangan Penjara Denizli, dan hasil dua hari Jumat.
Said Nursî
Melalui berita serta rahasia ayat
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻓَﻠَﺒِﺚَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴِّﺠْﻦِ ﺑِﻀْﻊَ ﺳِﻨ۪ﻴﻦَ
, Yusuf aleyhisselâm merupakan panutan para tahanan. Penjara menjadi suatu Madrasah Yusufiyah. Karena para murid Risale-i Nur telah dua kali memasuki madrasah ini dalam jumlah banyak, tentu untuk memperoleh didikan yang sempurna, mereka perlu membaca serta mengajarkan ringkasan singkat dari sebagian persoalan Risale-i Nur yang berhubungan dengan penjara dan telah dibuktikannya, dalam ruang belajar yang dibuka untuk pendidikan ini. Kami menjelaskan lima atau enam ringkasan tersebut.