HUJAH IMAN KEDUA
(BAGIAN PERTAMA KALIMAT KETIGA PULUH DUA)
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ
Pada suatu malam Ramadan, aku pernah menyampaikan bahwa dalam setiap satu dari sebelas kalimat ucapan tauhid ini terdapat satu tingkat tauhid dan satu kabar gembira; dan dari tingkat-tingkat itu, hanya makna dalam لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ yang aku sampaikan dalam bentuk percakapan perumpamaan dan perdebatan andaian yang dapat dipahami orang awam sederhana, dengan menuturkan bahasa keadaan sebagai bahasa ucapan. Atas keinginan serta permintaan saudara-saudaraku yang berharga, yang melayaniku, dan teman-temanku di masjid, aku menulis percakapan itu. Demikianlah:
Kami membayangkan seorang sosok yang mewakili sekutu-sekutu yang disangka ada oleh seluruh golongan ahli syirik, kekufuran dan kesesatan, seperti para pemuja tabiat, pemuja sebab dan musyrik. Sosok andaian itu hendak menjadi rabb bagi sesuatu di antara yang ada di alam dan mengaku sebagai pemiliknya yang sejati.
Pengaku itu mula-mula menjumpai sebuah zarah, yang terkecil di antara segala yang ada. Dengan bahasa tabiat dan bahasa filsafat, ia mengatakan kepada zarah itu bahwa ia menjadi rabb dan pemiliknya yang sejati.
Zarah itu pun dengan bahasa hakikat dan bahasa Hikmah Rabb berkata, "Aku menunaikan tugas-tugas yang tak terbatas. Aku masuk dan bekerja dalam setiap karya ciptaan yang berbeda. Jika engkau mempunyai ilmu serta daya untuk membuatku menunaikan seluruh tugas itu; dan kami berjalan serta bekerja bersama di antara zarah-zarah tak terhitung seperti diriku {(Catatan): Ya, setiap yang bergerak, dari zarah hingga planet, memperlihatkan Keesaan melalui cap Shamad pada dirinya; demikian pula, dengan geraknya ia menguasai seluruh tempat yang dilaluinya atas nama Keesaan dan memasukkannya ke dalam kerajaan Sang Pemiliknya sendiri. Sedangkan karya-karya ciptaan yang tidak bergerak, dari tumbuhan hingga bintang-bintang tetap, masing-masing merupakan meterai Keesaan yang menunjukkan bahwa tempat mereka berada ialah surat Sang Pembuatnya. Jadi, setiap tumbuhan dan setiap buah ialah meterai Keesaan dan cap Keesaan yang menunjukkan bahwa tempat serta tanah asalnya ialah surat Sang Pembuatnya atas nama Keesaan.
Kesimpulannya: Setiap sesuatu dengan geraknya menguasai seluruh yang lain atas nama Keesaan. Maka, yang tidak memegang seluruh bintang dalam tangannya tidak dapat menjadi rabb bagi satu zarah pun.} Jika engkau mempunyai kuasa serta daya untuk mempekerjakan semua zarah yang sejenis denganku dan menundukkan mereka pada perintahmu; dan jika engkau dapat menjadi pemilik serta pengelola sejati makhluk-makhluk yang menjadi tempatku sebagai bagian dalam tata yang sempurna, misalnya sel-sel darah merah dalam darah, maka mengakulah menjadi rabb-ku; kaitkanlah aku kepada selain Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Jika tidak, diamlah! Selain tidak dapat menjadi rabb-ku, engkau bahkan tidak dapat ikut campur. Sebab, dalam tugas serta gerak kami terdapat tata yang begitu sempurna, sehingga yang tidak memiliki hikmah tanpa batas dan ilmu yang menyeluruh tidak dapat ikut campur pada kami. Jika ia ikut campur, ia akan mengacaukannya. Padahal, sosok seperti engkau, yang tidak bernyawa, tidak berdaya dan buta, yang kedua tangannya berada dalam tangan dua yang buta, yakni kebetulan dan tabiat, tidak dapat menjulurkan jari dari segi apa pun."
Pengaku itu berkata sebagaimana para materialis, "Kalau demikian, jadilah pemilik dirimu sendiri. Mengapa engkau berkata bahwa engkau bekerja untuk yang lain?"
Zarah menjawabnya, "Seandainya aku mempunyai otak seperti matahari, ilmu yang menyeluruh seperti cahayanya, daya yang menyeluruh seperti panasnya, indra yang cakupannya menyeluruh seperti tujuh warna cahayanya; dan sebuah wajah yang menghadap, sebuah mata yang memandang, serta ucapan yang ditaati pada setiap tempat yang aku lalui dan setiap makhluk tempatku bekerja; mungkin aku akan bertindak bodoh seperti engkau dan mengaku sebagai pemilik diriku sendiri. Pergi, enyahlah! Engkau tidak akan memperoleh sesuatu dari diriku!"
Ketika wakil sekutu-sekutu itu putus asa terhadap zarah, ia berkata akan memperoleh sesuatu dari sel darah merah, lalu menjumpai sebuah sel darah merah dalam darah. Atas nama sebab-sebab, dengan bahasa tabiat dan filsafat, ia berkata kepadanya, "Aku rabb dan pemilikmu." Sel darah merah itu, yakni makhluk bulat berwarna merah, berkata kepadanya dengan bahasa hakikat dan bahasa Hikmah Ilahi, "Aku tidak sendirian. Jika engkau dapat memiliki seluruh yang sejenis denganku dalam pasukan darah, yang cap, tugas serta tata mereka sama; dan jika engkau memiliki hikmah yang teliti serta daya yang agung untuk memiliki seluruh sel tubuh tempat kami berkeliling dan dipekerjakan dengan Hikmah sempurna, tunjukkanlah; jika dapat menunjukkannya, barangkali pengakuanmu mempunyai makna. Padahal, dengan sosok bodoh seperti engkau, tabiat yang tuli serta daya yang buta dalam tanganmu, jangankan memiliki, engkau bahkan tidak dapat ikut campur seukuran zarah. Sebab, tata pada kami begitu sempurna sehingga hanya Zat yang melihat, mendengar, mengetahui dan membuat segala sesuatu dapat menguasai kami. Maka, diamlah! Tugasku begitu penting dan tata begitu sempurna, sehingga aku tidak mempunyai waktu untuk menjawabmu serta ucapan-ucapanmu yang kacau itu." Demikian ia berkata dan mengusirnya.
Karena tidak dapat memperdayakannya, pengaku itu pergi dan menjumpai sebuah tempat tinggal kecil dalam tubuh yang disebut sel. Dengan bahasa filsafat dan tabiat, ia berkata, "Aku tidak dapat membuat zarah serta sel darah merah memahami ucapanku; mungkin engkau memahaminya. Sebab, engkau seperti tempat tinggal yang amat kecil, dibuat dari beberapa hal. Maka, aku dapat membuatmu. Engkau karyaku dan aku pemilikmu yang sejati."
Sel itu menjawabnya dengan bahasa hikmah dan hakikat, "Walaupun aku sesuatu yang amat kecil, aku mempunyai tugas-tugas yang sangat besar, hubungan-hubungan yang amat halus, serta kaitan yang terikat pada seluruh sel tubuh dan tubuh secara keseluruhan. Di antaranya, aku mempunyai tugas-tugas yang mendalam dan sempurna terhadap pembuluh vena dan arteri, saraf perasa dan penggerak, serta daya-daya seperti daya menarik, menolak, menghasilkan dan memberi bentuk. Jika engkau memiliki daya serta ilmu untuk menyusun, menata dan mempekerjakan seluruh tubuh, seluruh pembuluh, saraf serta daya; dan jika engkau memiliki daya yang menjangkau seluruh sel tubuh serta hikmah yang menyeluruh untuk bertindak atas seluruh sel tubuh yang sejenis denganku, yang saling bersaudara dalam seni dan sifatnya, tunjukkanlah; lalu mengakulah dapat membuatku. Jika tidak, pergilah! Sel-sel darah merah membawa persediaan kepadaku. Sel-sel darah putih melawan penyakit-penyakit yang menyerangku. Aku mempunyai pekerjaan, jangan menyibukkanku. Sesuatu seperti engkau, yang tidak berdaya, tidak bernyawa, tuli dan buta, tidak dapat ikut campur pada kami dari segi apa pun. Sebab, pada kami ada tata yang begitu halus, lembut dan sempurna {(Catatan): Sang Pembuat yang Hakîm menciptakan tubuh manusia seperti sebuah kota yang amat teratur.
Sebagian pembuluh menunaikan tugas telegraf dan telepon. Sebagian lain berfungsi seperti pipa-pipa pancuran untuk mengalirkan darah, air kehidupan.
Dalam darah diciptakan dua golongan sel darah. Sebagian disebut sel darah merah, yang membagikan persediaan kepada sel-sel tubuh dan menyampaikan persediaan kepada mereka melalui suatu Hukum Ilahi, seperti pedagang dan petugas persediaan. Golongan lainnya ialah sel-sel darah putih, yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan yang pertama. Tugas mereka ialah bertahan seperti tentara melawan musuh-musuh seperti penyakit; setiap kali mereka mulai bertahan, mereka mengambil keadaan cepat yang menakjubkan dengan dua gerak berputar seperti kaum Maulawiyah.
Darah secara keseluruhan mempunyai dua tugas umum. Pertama, memperbaiki kerusakan sel-sel tubuh. Kedua, mengumpulkan sisa-sisa sel dan membersihkan tubuh.
Ada dua golongan pembuluh bernama vena dan arteri. Yang satu membawa serta membagikan darah bersih, menjadi saluran darah bersih. Golongan lain menjadi saluran darah keruh yang mengumpulkan sisa-sisa; golongan kedua ini membawa darah ke tempat datangnya napas yang disebut "paru-paru".
Sang Pembuat yang Hakîm menciptakan dua unsur di udara. Yang satu nitrogen, yang lain oksigen. Ketika oksigen dalam napas bersentuhan dengan darah, ia menarik unsur karbon yang padat, yang mengotori darah, kepada dirinya seperti ambar. Keduanya menyatu. Ia mengubahnya menjadi zat beracun di udara yang disebut gas karbon dioksida. Ia menyediakan panas bawaan tubuh sekaligus membersihkan darah. Sebab, Sang Pembuat yang Hakîm memberi oksigen dan karbon hubungan kuat yang disebut cinta kimia dalam ilmu kimia, sehingga ketika kedua unsur itu berdekatan, keduanya menyatu melalui Hukum Ilahi tersebut. Telah terbukti secara ilmiah bahwa panas timbul dari proses menyatu, sebab proses itu merupakan sejenis pembakaran.
Hikmah rahasia ini ialah: zarah-zarah setiap unsur itu mempunyai gerak tersendiri. Saat menyatu, kedua zarah, yakni zarah unsur yang satu dengan zarah unsur lainnya, menyatu dan bergerak dengan satu gerak. Satu gerak tertinggal. Sebab, sebelum menyatu ada dua gerak; kini dua zarah menjadi satu, dan keduanya memperoleh satu gerak seolah-olah satu zarah. Gerak lainnya berubah menjadi panas melalui sebuah Hukum Sang Pembuat yang Hakîm. Memang, "Gerak menghasilkan panas" merupakan hukum yang telah tetap. Berdasarkan rahasia ini, panas bawaan tubuh manusia disediakan melalui proses kimia menyatukan itu; dan karena karbon dalam darah diambil, darah pun menjadi bersih.
Ketika napas masuk, ia membersihkan air kehidupan tubuh sekaligus menyalakan api kehidupannya. Ketika keluar, ia menghasilkan di mulut buah-buah berupa kata, mukjizat Kudrat Ilahi.
ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺗَﺤَﻴَّﺮَ ﻓ۪ﻰ ﺻُﻨْﻌِﻪِ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮﻝُ
} sehingga jika tidak ada Sang Hakîm Mutlak, Sang Qadîr Mutlak dan Sang Alîm Mutlak yang menguasai kami, tata kami akan rusak dan susunan kami akan kacau."
Pengaku itu pun putus asa terhadapnya. Ia menjumpai tubuh seorang manusia. Kembali dengan bahasa tabiat yang buta dan filsafat yang berkeliaran, sebagaimana perkataan kaum naturalis, ia berkata, "Engkau milikku, akulah yang membuatmu. Atau aku mempunyai bagian padamu."
Sebagai jawaban, tubuh manusia itu dengan bahasa hakikat dan hikmah serta bahasa keadaan tatanya berkata, "Jika engkau mempunyai daya serta ilmu untuk bertindak secara sejati atas seluruh tubuh manusia yang sejenis denganku, yang cap Kudrat serta lambang fitrah pada wajah kami sama; dan jika engkau mempunyai harta serta kuasa untuk memiliki tempat-tempat penyimpanan persediaanku, dari air dan udara hingga tumbuhan serta hewan; dan jika engkau mempunyai daya tanpa batas serta hikmah tak terbatas untuk menempatkan unsur-unsur rohani yang amat luas dan tinggi seperti ruh, kalbu serta akal, yang aku menjadi selubungnya, dalam wadah sempit dan rendah seperti diriku, lalu mempekerjakan mereka dengan Hikmah sempurna dan membuat mereka beribadah; tunjukkanlah, lalu katakan, 'Aku telah membuatmu.' Jika tidak, diamlah! Kesaksian tataku yang paling sempurna dan petunjuk cap Keesaan pada wajahku menunjukkan bahwa Sang Pembuatku ialah Zat yang Qadîr atas segala sesuatu, Alîm atas segala sesuatu, melihat serta mendengar segala sesuatu. Jari sosok bodoh dan tidak berdaya seperti engkau tidak dapat ikut campur dalam Seni-Nya. Ia tidak dapat ikut campur seukuran zarah."
Wakil sekutu-sekutu itu juga tidak menemukan tempat untuk ikut campur pada tubuh; ia pergi dan menjumpai jenis manusia. Dalam hatinya ia berkata, "Mungkin di tengah kumpulan yang tercerai-berai dan kacau ini, sebagaimana setan ikut campur dalam perbuatan mereka yang dipilih serta kehidupan bersama mereka, aku pun dapat ikut campur dalam keadaan wujud serta fitrah mereka, dan menemukan tempat untuk menyelipkan jariku. Dengan menemukan jalan di sana, aku akan menjalankan kuasaku atas tubuh dan sel tubuh yang mengusirku." Karena itu, kembali dengan bahasa tabiat yang tuli dan filsafat yang bodoh, ia berkata kepada jenis manusia, "Kalian tampak sebagai sesuatu yang sangat kacau. Aku rabb dan pemilik kalian, atau pemilik bagian pada kalian."
Saat itu, jenis manusia berkata dengan bahasa haq dan hakikat, serta bahasa hikmah dan tata, "Jika engkau mempunyai daya serta hikmah untuk membuat dan setiap saat memperbarui serta menyegarkan dengan Hikmah sempurna kemeja yang dikenakan pada segenap bola bumi, yang ditenun serta dijahit dengan Hikmah sempurna dari seratus ribu jenis seluruh hewan dan tumbuhan seperti jenis kami, dari benang-benang melintang serta benang beraneka warna; dan permadani yang dibentangkan di muka bumi, yang ditenun dari ratusan ribu jenis makhluk hidup dan dibuat dengan hiasan yang amat indah; dan jika engkau mempunyai daya yang menyeluruh serta hikmah yang menyeluruh untuk bertindak atas bola bumi yang kami menjadi buahnya, serta alam yang kami menjadi benihnya, dan mengirim kepada kami bahan-bahan yang diperlukan bagi hidup kami dari penjuru-penjuru alam dengan Timbangan Hikmah; dan jika engkau mempunyai daya untuk mengadakan seluruh yang sejenis dengan kami, yang telah berlalu dan yang akan datang, yang cap Kudrat pada wajah kami sama; mungkin engkau dapat mengaku mempunyai rububiyah atas diriku. Jika tidak, diamlah! Jangan memandang kekacauan pada jenisku lalu berkata dapat ikut campur. Sebab, tata sempurna. Keadaan-keadaan yang engkau sangka kacau itu ialah salinan yang dibuat oleh Kudrat dengan tata sempurna menurut kitab Takdir.
Sebab, tata sempurna hewan serta tumbuhan, yang jauh di bawah kami dan berada di bawah pengawasan kami, menunjukkan bahwa kekacauan pada kami ialah suatu bentuk tulisan."
"Mungkinkah yang menempatkan dengan seni seutas benang melintang yang tersebar di seluruh permadani ialah selain pembuat permadani itu? Mungkinkah yang mengadakan sebuah buah ialah selain yang mengadakan pohonnya? Mungkinkah yang mengadakan benih ialah selain pembuat tubuh yang mempunyai benih itu? Matamu pun buta. Engkau tidak melihat mukjizat-mukjizat Kudrat pada wajahku dan keajaiban-keajaiban fitrah dalam hakikatku. Jika melihatnya, engkau memahami bahwa Sang Pembuatku ialah Zat yang tidak dapat disembunyikan apa pun dari-Nya, dan tidak ada apa pun yang dapat menuntut dimanjakan lalu memberatkan-Nya. Bintang-bintang mudah bagi-Nya seperti zarah. Dia mengadakan satu musim semi semudah satu bunga. Dia ialah Zat yang memasukkan daftar segenap kainat yang besar ini ke dalam hakikatku dengan tata sempurna. Dapatkah sosok seperti engkau, yang tidak bernyawa, tidak berdaya, buta dan tuli, ikut campur dalam Seni Zat semacam itu? Maka, diamlah! Pergi, enyahlah!" Demikian ia berkata dan mengusirnya.
Lalu pengaku itu pergi; atas nama sebab-sebab, dengan bahasa tabiat serta bahasa filsafat, ia berkata kepada permadani luas yang dibentangkan di muka bumi dan kemeja yang amat dihiasi serta diberi corak yang dikenakan pada bumi, "Aku dapat bertindak atas dirimu dan memilikimu, atau aku mempunyai bagian padamu." Demikian ia mengaku.
Saat itu, kemeja tersebut {(Catatan): Namun, permadani ini hidup dan bergetar secara teratur. Coraknya setiap saat berubah dengan Hikmah serta tata sempurna, agar memperlihatkan satu per satu manifestasi berbeda dari Asma Sang Penenunnya.} dan permadani itu, atas nama haq serta hakikat, dengan bahasa hikmah berkata kepada pengaku itu, "Jika engkau mempunyai daya serta seni untuk menenun dan mengadakan seluruh kemeja serta permadani yang, sebanyak tahun dan abad, dikenakan pada bumi, lalu dilepas secara teratur dan digantung pada tali masa lalu; dan yang dikenakan pada masa-masa mendatang, yang rancangan serta potongannya digambar dan ditetapkan dalam lingkup Takdir dengan tata sempurna, lalu dipasang pada pita masa depan, dengan corak-corak berbeda yang teratur dan penuh hikmah; dan jika engkau mempunyai dua tangan rohani yang penuh hikmah serta daya, yang menjangkau sejak bumi diciptakan hingga bumi hancur, bahkan sejak azali hingga abadi; dan jika engkau mempunyai daya serta hikmah untuk mengadakan seluruh individu pada seluruh benang melintangku, memperbaiki serta memperbaruinya dengan tata dan Hikmah sempurna; dan jika engkau dapat memegang serta mengadakan bola bumi, model kami yang mengenakan kami serta menjadikan kami cadar dan selubungnya; maka mengakulah mempunyai rububiyah atas diriku. Jika tidak, keluarlah! Engkau tidak dapat menemukan tempat di sini.
Pada kami terdapat cap Keesaan serta lambang Ahadiyah sedemikian rupa, sehingga yang tidak memegang seluruh kainat dalam genggaman tasarrufnya, tidak melihat seluruh benda sekaligus bersama seluruh keadaannya, tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan tak berhingga secara bersama, tidak hadir dan melihat di setiap tempat, tidak bebas dari tempat, serta tidak memiliki Hikmah, Ilmu dan Kudrat tanpa batas, tidak dapat memiliki ataupun ikut campur pada kami." Lalu pengaku itu pergi. "Mungkin aku dapat memperdayakan bola bumi dan menemukan tempat di sana," katanya. Ia pergi, dan kembali atas nama sebab-sebab serta dengan bahasa tabiat, berkata kepada bola bumi {(Catatan): Kesimpulannya: zarah mengarahkan pengaku itu kepada sel darah merah. Sel darah merah mengarahkannya kepada sel; sel kepada tubuh manusia; tubuh manusia kepada jenis manusia; jenis manusia kepada kemeja bumi yang ditenun dari jenis-jenis makhluk hidup; kemeja bumi kepada bola bumi; bola bumi kepada matahari; dan matahari kepada seluruh bintang. Masing-masing berkata, "Pergilah; jika engkau dapat menguasai yang berada di atasku, kemudian datanglah dan berusahalah menguasaiku. Jika tidak dapat mengalahkannya, engkau tidak dapat merebutku."
Maka, yang tidak dapat membuat seluruh bintang menaati ucapannya tidak dapat membuat satu zarah pun menerima rububiyahnya.}, "Dengan berkeliaran demikian, engkau menunjukkan bahwa engkau tidak memiliki pemilik. Maka, engkau dapat menjadi milikku."
Saat itu, atas nama haq serta dengan bahasa hakikat, bola bumi berkata kepadanya dengan suara seperti guntur, "Jangan berkata sembarangan! Bagaimana aku dapat berkeliaran tanpa pemilik? Pernahkah engkau menemukan pakaianku, bahkan titik terkecil ataupun seutas benang di dalamnya, tanpa tata; atau melihatnya tanpa Hikmah dan Seni, sehingga engkau mengatakan aku tanpa pemilik dan berkeliaran? Jika engkau dapat menjadi pemilik sejati lingkaran besar yang aku tempuh dalam setahun melalui gerak tahunanku, dengan jarak kira-kira dua puluh lima ribu tahun {(Catatan): Jika jari-jari sebuah lingkaran kira-kira seratus delapan puluh juta kilometer, lingkaran itu sendiri merupakan jarak kira-kira dua puluh lima ribu tahun.}, dan tempat aku menunaikan tugas pelayananku dengan Timbangan serta Hikmah sempurna; dan jika engkau mempunyai hikmah tak berhingga serta daya tak berhingga untuk mengadakan dan menempatkan sepuluh planet, saudara-saudaraku yang bertugas seperti diriku, seluruh lingkaran yang mereka lalui, serta matahari, imam kami yang kami terikat padanya dan melekat padanya dengan daya tarik Rahmat, lalu mengikatku serta bintang-bintang planet kepadanya seperti batu umban, memutar serta mempekerjakan kami dengan tata dan Hikmah sempurna; maka mengakulah mempunyai rububiyah atas diriku. Jika tidak, pergilah ke neraka, enyahlah! Aku mempunyai pekerjaan. Aku pergi menunaikan tugasku.
Tata kami yang agung, gerak kami yang dahsyat dan penundukan kami yang penuh Hikmah menunjukkan bahwa Sang Pembuat kami ialah Zat yang ditaati dan dipatuhi seluruh yang ada, dari zarah hingga bintang dan matahari, seperti prajurit penerima perintah. Dia ialah Sang Hakîm Dzul-Jalâl dan Sang Penguasa Mutlak yang menata matahari dengan planet-planet semudah menata serta menghiasi sebuah pohon dengan buah-buahnya."
Karena tidak menemukan tempat di bumi, pengaku itu kemudian pergi kepada matahari. Dalam hatinya ia berkata, "Ini sesuatu yang sangat besar; mungkin aku menemukan lubang di dalamnya dan membuka jalan. Aku pun akan menundukkan bumi." Atas nama syirik dan dengan bahasa filsafat yang menjadi setan, seperti perkataan kaum Majusi, ia berkata kepada matahari, "Engkau seorang sultan; engkau memiliki dirimu sendiri dan bertindak sesukamu."
Atas nama Al-Haqq, dengan bahasa hakikat dan Hikmah Ilahi, matahari berkata kepadanya, "Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ ve kellâ! Aku petugas yang ditundukkan. Aku pembawa lampu di rumah tamu Tuanku. Aku tidak dapat menjadi pemilik sejati seekor lalat, bahkan sayap seekor lalat. Sebab, dalam tubuh lalat terdapat permata-permata rohani serta karya-karya seni langka seperti mata dan telinga yang tidak ada di tokoku. Semuanya di luar lingkup dayaku." Demikian ia berkata dan menegur pengaku itu.
Lalu pengaku itu berbalik dan berkata dengan bahasa filsafat yang menjadi Firaun, "Karena engkau bukan pemilik serta penguasa dirimu sendiri, melainkan pelayan, atas nama sebab-sebab engkau milikku."
Saat itu, atas nama haq serta hakikat dan dengan bahasa ubudiyah, matahari berkata, "Aku hanya dapat menjadi milik Zat yang mengadakan seluruh bintang tinggi yang sejenis denganku, menempatkan mereka di langit-Nya dengan Hikmah sempurna, memutar mereka dengan Keagungan sempurna dan menghiasi mereka dengan hiasan sempurna."
Lalu pengaku itu berkata dalam hatinya, "Bintang-bintang sangat banyak. Mereka pun tampak tercerai-berai dan kacau. Mungkin di antara mereka aku memperoleh sesuatu atas nama pihak-pihak yang aku wakili." Ia masuk ke tengah mereka. Atas nama sebab-sebab, demi sekutu-sekutunya dan dengan bahasa filsafat yang melampaui batas, seperti perkataan kaum Sabiin pemuja bintang, ia berkata kepada mereka, "Karena kalian sangat tercerai-berai, kalian berada di bawah kuasa penguasa-penguasa yang berbeda." Saat itu, sebuah bintang berkata atas nama seluruh bintang, "Betapa bodoh, tak berakal, dungu dan tak bermata engkau, sehingga engkau tidak melihat dan memahami cap Keesaan serta lambang Ahadiyah pada wajah kami. Engkau tidak mengetahui tata tinggi kami serta hukum-hukum ubudiyah kami. Engkau menyangka kami tanpa tata. Kami ialah karya serta pelayan Zat Yang Wâhid dan Ahad, yang memegang dalam Genggaman Tasarruf-Nya langit yang menjadi lautan kami, kainat yang menjadi pohon kami, dan ruang alam tak berhingga yang menjadi tempat kami berjalan-jalan. Seperti lampu-lampu listrik perayaan, kami ialah saksi-saksi bercahaya yang memperlihatkan Kesempurnaan Rububiyah-Nya, dan bukti-bukti bersinar yang menyatakan Kerajaan Rububiyah-Nya. Setiap golongan kami ialah pelayan-pelayan bercahaya yang memberi terang serta memperlihatkan Keagungan Kerajaan-Nya di tempat-tempat tinggi, rendah, duniawi, barzakh dan akhirat dalam lingkup Kerajaan-Nya.
Ya, masing-masing kami ialah mukjizat Kudrat Zat Yang Wâhid dan Ahad, buah teratur pohon ciptaan, bukti bersinar Keesaan, tempat tinggal, pesawat dan masjid bagi malaikat, lampu dan matahari alam-alam tinggi, saksi Kerajaan Rububiyah, hiasan, istana dan bunga ruang alam, ikan bercahaya lautan langit, serta mata indah langit {(Catatan): Kami ialah tanda-tanda yang memandang, menyaksikan dan membuat yang lain menyaksikan keajaiban karya Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Yakni, langit tampak seolah menyaksikan keajaiban Seni Ilahi di bumi dengan mata-mata yang tak terbatas. Sebagaimana malaikat langit, bintang-bintang juga memandang bumi, tempat berkumpulnya keajaiban dan hal-hal langka, serta membuat makhluk-makhluk yang sadar memandangnya dengan saksama.}. Dan karena dalam keseluruhan kami terdapat diam dalam ketenangan, gerak dalam Hikmah, hiasan dalam keagungan, keindahan ciptaan dalam tata, serta kesempurnaan Seni dalam keseimbangan, dengan bahasa-bahasa tak berhingga kami menyatakan kepada seluruh kainat Sang Pembuat Dzul-Jalâl kami, Keesaan-Nya, Ahadiyah-Nya, Sifat Shamad-Nya, serta Sifat-Sifat Keindahan, Keagungan dan Kesempurnaan-Nya. Namun, engkau menuduh pelayan-pelayan yang amat murni, bersih, taat dan tunduk seperti kami kacau, tanpa tata, tanpa tugas, bahkan tanpa pemilik; maka engkau layak menerima tamparan." Demikian ia berkata. Seperti setan yang dilempari batu, sebuah bintang menampar wajah pengaku itu sedemikian rupa hingga melemparkannya dari bintang-bintang ke dasar neraka.
Ia melempar tabiat yang menyertainya {(Catatan): Namun, setelah jatuh, tabiat bertobat. Ia memahami bahwa tugas sejatinya bukan memberi pengaruh dan bertindak, melainkan menerima dan terkena tindakan. Ia mengetahui bahwa dirinya semacam buku Takdir Ilahi—tetapi buku yang dapat berubah dan berganti—serta semacam rancangan Kudrat Rabb, semacam Syariat fitri Sang Qadîr Dzul-Jalâl, dan semacam kumpulan Hukum-Nya. Dengan keadaan tidak berdaya dan sikap tunduk yang penuh, ia menjalankan tugas ubudiyahnya. Ia pun menerima nama Fitrah Ilahi dan Seni Rabb.} ke lembah-lembah sangkaan, kebetulan ke sumur tiada, sekutu-sekutu ke dalam gelap hal yang tak mungkin dan mustahil, serta filsafat yang menentang agama ke dasar asfal as-sâfilîn. Bersama seluruh bintang, bintang itu membaca Titah Suci
ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ
. Mereka menyatakan, "Dari sayap lalat hingga pelita-pelita langit, tidak ada tempat seukuran sayap lalat pun bagi sekutu untuk ikut campur."
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺳِﺮَﺍﺝِ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻚَ ﻓ۪ﻰ ﻛَﺜْﺮَﺓِ ﻣَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺗِﻚَ ﻭَ دَلَّالِ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻚَ ﻓ۪ﻰ ﻣَﺸْﻬَﺮِ ﻛَﺎﺋِﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ