Risalah Nur — Bahasa Indonesia

KALIMAT KETIGA

Tongkat Musa · Bahasa Indonesia

KALIMAT KETIGA

ﺍِﻗْﺘَﻀَﺘْﻪُ ﺍﻟﻄَّﺒ۪ﻴﻌَﺔُ

. Yakni, alam menuntutnya dan alam membuatnya. Pernyataan ini mempunyai banyak hal mustahil. Sebagai contoh, kami akan menyebutkan tiga.

Pertama: Jika seni dan penciptaan yang penuh penglihatan serta hikmah, yang tampak pada seluruh yang ada, terutama makhluk hidup, tidak diserahkan kepada Pena Takdir dan Kudrat Sang Matahari Yang Azali, tetapi dinisbahkan kepada alam serta kekuatan yang buta, tuli, dan tidak berpikir, alam harus menyediakan mesin-mesin dan percetakan-percetakan maknawi yang tidak terbatas dalam setiap hal untuk menciptakannya. Atau, ia harus menempatkan kudrat dan hikmah yang dapat menciptakan serta mengatur kainat dalam segala sesuatu.

Sebagaimana kilauan dan pantulan matahari terlihat pada serpihan-serpihan kaca kecil dan tetes-tetes di muka bumi, jika matahari-matahari kecil berupa gambaran serta pantulan itu tidak dinisbahkan kepada satu matahari di langit, orang harus menerima wujud nyata matahari yang alami, fitri, mempunyai sifat-sifat matahari, tampak kecil tetapi secara maknawi sangat dalam, di dalam serpihan kaca kecil yang bahkan tidak dapat memuat kepala korek api. Dengan demikian, ia harus menerima matahari-matahari alami sebanyak zarah-zarah kaca tersebut...

Seperti dalam contoh ini, jika seluruh yang ada dan makhluk hidup tidak langsung diserahkan kepada manifestasi Asma Sang Matahari Yang Azali, pada setiap yang ada, terutama setiap makhluk hidup, orang harus menerima adanya alam atau kekuatan yang mempunyai kudrat dan kehendak yang tidak terbatas serta ilmu dan hikmah yang tiada akhir, seolah-olah suatu ilah di dalamnya. Cara berpikir ini merupakan yang paling batil dan paling penuh takhayul di antara hal-hal mustahil di kainat. Orang yang memberikan seni Khâliq kainat kepada alam yang khayal, tidak berarti, dan tidak sadar tentu memperlihatkan bahwa ia seratus kali lebih hewani serta lebih tidak sadar daripada hewan.

Hal Mustahil Kedua: Jika seluruh yang ada yang sangat teratur, seimbang, berseni, dan berhikmah ini tidak diserahkan kepada Zat Yang Qadîr dan Hakîm tanpa batas, melainkan dinisbahkan kepada alam, alam harus menyediakan mesin serta percetakan sebanyak seluruh percetakan dan pabrik Eropa dalam setiap potong tanah, agar tanah itu dapat menjadi sarana tumbuh dan terbentuknya bunga serta buah yang tidak terbatas, yang sumber serta bengkel pembuatannya adalah tanah tersebut.

Sebab, dalam semangkuk tanah yang menjadi pot bagi bunga, nyata terlihat kemampuan untuk membentuk serta menggambarkan bentuk dan susunan seluruh bunga yang benihnya ditanam bergiliran, yang sangat berbeda satu sama lain.

Jika tidak diserahkan kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl, keadaan ini tidak dapat terwujud tanpa mesin maknawi tersendiri yang alami bagi setiap bunga di dalam tanah pada mangkuk tersebut. Sebab, materi benih-benih, seperti sperma dan telur, sama. Ia hanya merupakan campuran hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen yang tidak teratur, tidak berbentuk, serta seperti adonan. Udara, air, panas, dan cahaya juga masing-masing sederhana, tidak sadar, serta bergerak seperti banjir terhadap segala sesuatu. Karena itu, keluarnya bunga-bunga yang tidak terbatas dari tanah dalam bentuk yang berbeda, sangat teratur, dan berseni jelas serta pasti menuntut adanya percetakan dan pabrik maknawi dalam ukuran kecil tetapi secara maknawi sebesar Eropa di dalam tanah mangkuk tersebut, agar dapat menenun kain-kain yang hidup dan ribuan tenunan dengan corak berbeda sebanyak itu.

Bandingkan betapa pikiran kufur kaum naturalis menyimpang keluar dari lingkup akal. Meskipun orang-orang bodoh yang mabuk dalam rupa manusia, yang menganggap tabiat sebagai pencipta, mengaku, “Kami berilmu pengetahuan dan berakal,” lihatlah betapa jauh mereka dari akal serta ilmu pengetahuan dan bagaimana mereka menjadikan takhayul yang mustahil serta tidak mungkin dari segi apa pun sebagai jalannya. Tertawalah dan meludahlah!

Jika engkau berkata:

Jika seluruh yang ada dinisbahkan kepada alam, timbul hal-hal mustahil yang aneh dan kesulitan sampai tingkat mustahil. Bagaimana kesulitan itu hilang ketika diserahkan kepada Zat Yang Ahad lagi Shamad? Bagaimana kesukaran yang sampai tingkat mustahil itu berubah menjadi kemudahan sampai tingkat niscaya terwujud?

Jawaban:

Sebagaimana dalam Hal Mustahil Pertama, kilauan pantulan matahari dengan sangat mudah dan tanpa beban memperlihatkan limpahan serta pengaruhnya melalui gambaran matahari-matahari kecil, dari serpihan kaca terkecil sampai permukaan laut terbesar. Jika hubungan dengan matahari diputus, orang harus menerima bahwa di setiap serpihan terdapat wujud nyata matahari yang alami dan berdiri sendiri, dengan kesulitan sampai tingkat mustahil.

Demikian pula, jika setiap yang ada langsung diserahkan kepada Zat Yang Ahad lagi Shamad, melalui hubungan dan manifestasi, segala sesuatu yang diperlukan oleh setiap yang ada dapat disampaikan kepadanya dengan kemudahan sampai tingkat niscaya terwujud.

Jika hubungan itu diputus, peran sebagai petugas berubah menjadi keadaan tanpa aturan, dan setiap yang ada ditinggalkan kepada dirinya sendiri serta alam, saat itu, melalui seratus ribu kesulitan dan kesukaran sampai tingkat mustahil,

orang harus menganggap tabiat yang buta di dalamnya mempunyai kudrat serta hikmah untuk menciptakan dan mengatur kainat, agar dapat menciptakan mesin tubuh makhluk hidup seperti lalat yang sangat luar biasa dan merupakan daftar kecil kainat. Ini bukan satu hal mustahil, melainkan ribuan hal mustahil.

Kesimpulannya,

sebagaimana sekutu dan tandingan Zat Yang Wâjibul Wujûd tidak mungkin dan mustahil, campur tangan pihak lain dalam Rububiyah-Nya serta Penciptaan segala sesuatu juga tidak mungkin dan mustahil, seperti sekutu bagi Zat-Nya.

Adapun kesulitan pada hal mustahil kedua, sebagaimana dibuktikan dalam berbagai risalah, jika seluruh benda diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, seluruh benda mudah seperti satu benda. Jika diserahkan kepada sebab-sebab dan alam, satu benda sulit seperti seluruh benda. Hal ini dibuktikan dengan banyak bukti yang pasti. Ringkasan satu bukti adalah sebagai berikut:

Sebagaimana jika seseorang mempunyai hubungan dengan raja sebagai prajurit atau petugas, melalui kekuatan hubungan tersebut ia dapat menjadi sarana pekerjaan seratus ribu kali melampaui kekuatan pribadinya. Terkadang atas nama rajanya ia menawan seorang raja. Sebab, ia tidak membawa sendiri dan tidak harus membawa perangkat serta kekuatan bagi pekerjaan yang dijalankan dan karya yang dibuatnya. Melalui hubungan itu, khazanah raja dan tentara yang menjadi sandaran di belakangnya membawa kekuatan serta perangkat tersebut. Jadi, pekerjaan yang dijalankannya dapat menjadi pekerjaan kerajaan seperti pekerjaan seorang raja, dan karya yang diperlihatkannya dapat luar biasa seperti karya suatu tentara.

Melalui tugas sebagai petugas itu, semut menghancurkan istana Firaun. Melalui hubungan itu, lalat membinasakan Namrud. Melalui hubungan itu pula, biji pinus yang seperti biji gandum menyediakan seluruh perangkat pohon pinus yang besar. {(Catatan kaki): Ya, jika hubungan itu ada, benih tersebut menerima Perintah dari Takdir Allah سُبْحَانَهُ dan menjadi tempat tampaknya pekerjaan-pekerjaan luar biasa itu. Jika hubungan diputus, penciptaan benih itu menuntut perangkat, kemampuan, dan seni yang lebih banyak daripada penciptaan pohon pinus besar. Sebab, seluruh organ serta perangkat pohon pinus yang berwujud jasmani di gunung, yang merupakan karya Kudrat, harus terdapat dalam pohon maknawi di dalam benih itu, yang merupakan karya Takdir. Sebab, pabrik pohon besar tersebut ialah benih itu. Pohon Takdir di dalamnya tampak di luar melalui Kudrat dan menjadi pohon pinus jasmani.}

Jika hubungan itu diputus dan ia dibebastugaskan, ia harus membawa perangkat serta kekuatan bagi pekerjaan yang akan dijalankannya di pinggang dan lengannya sendiri. Saat itu ia hanya dapat bekerja sebanyak kekuatan di lengan kecilnya serta jumlah amunisi di pinggangnya. Jika dalam keadaan ini dituntut pekerjaan yang dahulu dijalankannya dengan sangat mudah,

tentu kekuatan suatu tentara harus dimuat di lengannya dan pabrik perangkat perang seorang raja di pinggangnya. Bahkan, para pelawak yang menceritakan takhayul serta dongeng aneh untuk membuat orang tertawa merasa malu terhadap khayalan ini!..

Kesimpulannya:

Menyerahkan setiap yang ada kepada Wâjibul Wujûd mempunyai kemudahan sampai tingkat niscaya terwujud. Menyerahkannya kepada alam dalam hal penciptaan sulit sampai tingkat mustahil dan berada di luar lingkup akal.

Hal Mustahil Ketiga: Dua contoh yang dijelaskan dalam beberapa risalah untuk menerangkan hal mustahil ini:

Contoh Pertama: Seorang yang sangat liar masuk ke suatu istana yang didirikan di padang kosong, disempurnakan dan dihiasi dengan seluruh karya peradaban. Ia memandang ke dalam dan melihat ribuan benda teratur serta berseni. Karena liar dan bodoh, ia mulai mencari dengan anggapan bahwa tidak ada campur tangan dari luar dan salah satu benda di dalam istana telah membuat istana beserta isinya. Benda mana pun yang dilihatnya, bahkan akalnya yang liar tidak menerima bahwa benda itu dapat membuat semuanya.

Kemudian ia melihat buku catatan yang berisi program susunan istana, daftar seluruh yang ada di dalamnya, dan hukum-hukum pengaturannya. Meskipun buku catatan yang tidak mempunyai tangan, mata, dan palu itu, seperti benda lain di dalamnya, sama sekali tidak mampu membentuk dan menghiasi istana, ia terpaksa menganggapnya berkaitan dengan keseluruhan istana lebih daripada benda-benda lain, karena menjadi penanda hukum-hukum pengetahuan. Ia mengatakan, “Buku catatan inilah yang membentuk, mengatur, dan menghiasi istana; membuat, memasang, dan menempatkan benda-benda ini.” Dengan demikian, ia mengubah keadaan liarnya menjadi igauan orang-orang bodoh dan mabuk.

Persis seperti contoh ini, seorang liar yang membawa pikiran kaum naturalis yang menyangkal Keilahian masuk ke istana alam ini, yang jauh lebih teratur serta sempurna daripada istana dalam contoh, hingga tingkat yang tak terhingga dan seluruh penjurunya dipenuhi Hikmah yang bermukjizat. Tanpa memikirkan bahwa ia merupakan karya seni Zat Yang Wâjibul Wujûd, yang tidak termasuk dalam lingkup segala sesuatu yang dapat ada atau tidak ada, dan dengan berpaling dari-Nya, ia melihat suatu kumpulan hukum sunatullah dan daftar seni Rabb. Kumpulan itu sangat keliru dan salah diberi nama “Tabiat”. Ia berada dalam lingkup segala sesuatu yang dapat ada atau tidak ada, seperti lembaran Takdir Allah سُبْحَانَهُ yang ditulis dan dihapus, dan dapat menjadi buku catatan yang berganti serta berubah sesuai hukum-hukum pelaksanaan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ. Orang itu mengatakan:

“Karena benda-benda ini memerlukan suatu sebab, tidak ada benda yang tampak berkaitan seperti buku catatan ini. Memang dari segi apa pun akal tidak menerima hal itu, sebab

buku catatan yang tidak mempunyai mata, kesadaran, dan kudrat ini tidak dapat melakukan penciptaan yang merupakan pekerjaan Rububiyah Mutlak dan menuntut kudrat yang tidak terbatas. Namun, karena aku tidak menerima Sang Pembuat Yang Azali, aku akan mengatakan bahwa yang paling sesuai ialah buku catatan ini telah dan terus melakukannya.” Kami pun mengatakan:

Wahai orang bodoh mabuk yang menjadi bodoh dari ahmaku'l-humaka! Angkatlah kepalamu dari rawa tabiat dan lihatlah ke belakang. Pandanglah Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Yang Wujud-Nya disaksikan seluruh yang ada, dari zarah sampai planet, melalui bahasa-bahasa yang berbeda dan ditunjukkan dengan jari-jari mereka. Pandanglah manifestasi Sang Pengukir Yang Azali, Yang membuat istana itu dan menulis programnya dalam buku catatan tersebut. Lihatlah Firman-Nya, dengarkanlah Al-Qur'an-Nya, dan bebaskanlah diri dari igauan-igauan itu!

Contoh Kedua: Seorang yang sangat liar masuk ke kompleks barak yang megah. Ia melihat seluruh tentara yang sangat teratur berlatih bersama dan bergerak dengan teratur. Melalui gerak satu prajurit, suatu batalion, resimen, dan divisi berdiri, duduk, serta berjalan. Ia menyaksikan mereka menembak dengan satu perintah tembak. Karena akalnya yang kasar dan liar tidak memahami serta menyangkal komando seorang panglima menurut aturan negara dan hukum raja, ia membayangkan para prajurit itu saling terikat dengan tali. Ia memikirkan betapa luar biasanya tali khayal tersebut dan merasa heran.

Kemudian pada hari Jumat ia masuk ke masjid yang sangat megah seperti Hagia Sophia. Ia menyaksikan jemaah Muslim berdiri, membungkuk, bersujud, dan duduk melalui suara satu orang. Karena tidak memahami syariat, yang merupakan kumpulan hukum rohani dan samawi, serta prinsip-prinsip rohani yang datang dari perintah pemberi syariat, ia membayangkan jemaah itu terikat tali materi dan tali aneh itu menawan serta menggerakkan mereka. Ia keluar dan pergi dengan pikiran yang begitu menggelikan sehingga bahkan binatang buas dalam rupa manusia paling liar pun akan tertawa.

Seperti dalam contoh ini, seorang penyangkal yang membawa pikiran naturalisme penuh penyangkalan dan sepenuhnya liar, masuk ke dunia yang menjadi barak megah tentara tanpa batas dari Sang Sultan Azali Yang Kekal Selamanya, serta ke kainat yang menjadi masjid teratur milik Sang Ma'bûd Yang Azali. Ia menggambarkan hukum-hukum maknawi tatanan kainat yang datang dari Hikmah Sang Sultan Azali sebagai bahan-bahan materi. Ia membayangkan hukum-hukum konseptual Kerajaan Rububiyah dan ketetapan serta prinsip maknawi dari syariat fitrah terbesar milik Sang Ma'bûd Yang Azali, yang hanya mempunyai wujud dalam ilmu, sebagai benda nyata dan bahan materi. Menggantikan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ dengan hukum-hukum yang datang dari Ilmu serta Kalâm dan hanya mempunyai wujud dalam ilmu itu,

lalu memberikan penciptaan ke tangan mereka, menamainya “Tabiat”, serta menganggap kekuatan yang hanya merupakan satu manifestasi Kudrat Rabb sebagai kudrat dan sesuatu yang berkuasa secara mandiri merupakan keadaan liar yang seribu kali lebih rendah daripada orang liar dalam contoh!

Kesimpulannya,

hal yang disebut kaum naturalis sebagai alam yang khayal dan tanpa hakikat, paling jauh, jika mempunyai kenyataan di luar, hanya dapat berupa seni, bukan Sang Pembuat; suatu corak, bukan Sang Pengukir; ketetapan-ketetapan, bukan Sang Penguasa; syariat fitrah, bukan Sang Pemberi Syariat; tabir kemuliaan yang diciptakan, bukan Khâliq; fitrah yang dikenai tindakan, bukan Pelaku Yang Fâthir. Ia adalah hukum, bukan kudrat; ia tidak dapat menjadi Qadîr. Ia adalah penggaris, bukan sumber.

Kesimpulannya:

Karena seluruh yang ada memang ada, dan sebagaimana dikatakan pada awal Catatan Keenam Belas, melalui pembagian menurut akal tidak dapat dibayangkan jalan bagi wujudnya selain empat jalan, ketiga jalan itu telah dibuktikan dengan pasti sebagai batil melalui tiga hal mustahil yang jelas pada masing-masingnya. Tentu jalan keempat, yakni jalan tauhid, terbukti dengan pasti secara niscaya dan jelas. Jalan keempat itu diperlihatkan oleh ayat

ﺍَﻓِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﻚٌّ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ

di awal, tanpa keraguan dan pada tingkat yang sangat jelas: Keilahian Zat Yang Wâjibul Wujûd, segala sesuatu langsung keluar dari Tangan Kudrat-Nya, serta langit dan bumi berada dalam genggaman Kekuasaan-Nya.

Wahai orang malang pemuja sebab dan penyembah alam! Karena sifat alami setiap hal diciptakan seperti setiap hal itu sendiri, sebab ia berseni dan baru menjadi ada, serta sebab lahiriah juga merupakan ciptaan seperti hasilnya, dan karena wujud segala sesuatu membutuhkan banyak perangkat serta alat, terdapat Sang Qadîr Mutlak Yang menciptakan sifat alami dan sebab tersebut. Apa kebutuhan Sang Qadîr Mutlak sehingga Dia menyertakan perantara tak berdaya dalam Rububiyah dan Penciptaan-Nya? Hâşâ! Sebaliknya, Dia langsung menciptakan hasil bersama sebabnya. Melalui suatu susunan dan pengaturan, Dia memberi hubungan sebab lahiriah serta kebersamaan untuk memperlihatkan manifestasi Asma dan Hikmah-Nya. Agar sebab dan alam menjadi tempat dinisbahkannya cacat, keadaan tanpa belas kasih, serta kekurangan lahiriah pada benda-benda, Dia menjadikannya tabir bagi Tangan Kudrat-Nya dan menjaga Kemuliaan-Nya dengan cara itu.

Apakah lebih mudah bagi pembuat jam untuk membuat roda-rodanya, lalu menyusun dan mengatur jam dengan roda-roda itu? Ataukah lebih mudah membuat mesin luar biasa di dalam roda-roda tersebut, lalu menyerahkan pembuatan jam kepada tangan-tangan mati mesin itu

agar ia membuat jam? Bukankah hal itu di luar kemungkinan? Katakanlah dengan akalmu yang tidak adil itu; engkaulah yang menilai!

Atau, seorang penulis membawa tinta, pena, dan kertas. Apakah lebih mudah ia sendiri menulis buku dengannya, atau menciptakan mesin tulis di dalam kertas, tinta, dan pena, yang lebih berseni dan lebih sukar daripada buku itu serta khusus hanya bagi buku tersebut, lalu mengatakan kepada mesin yang tidak sadar itu, “Marilah, tulislah sendiri!” dan tidak ikut campur? Bukankah hal itu seratus kali lebih sulit daripada menulis?

Jika engkau berkata:

Ya, menciptakan mesin yang menulis satu buku seratus kali lebih sulit daripada buku itu. Namun, mungkin terdapat kemudahan karena mesin tersebut menjadi sarana menulis banyak salinan buku yang sama?

Jawaban:

Melalui Kudrat-Nya yang tidak terbatas, Sang Pengukir Yang Azali menciptakan ciri-ciri tersendiri dan wajah-wajah khusus benda-benda sedemikian rupa agar setiap saat memperbarui manifestasi Asma-Nya yang tiada akhir dan memperlihatkannya dalam bentuk berbeda. Tidak ada satu surat milik Sang Shamad dan satu kitab milik Rabb yang dapat sama persis dengan kitab lainnya. Bagaimanapun juga, untuk mengungkapkan makna berbeda, ia akan mempunyai wajah berbeda.

Jika engkau mempunyai mata, pandanglah wajah manusia. Lihatlah bahwa sejak masa Adam sampai sekarang, bahkan hingga selamanya, meskipun organ-organ pokok pada wajah kecil itu sama, telah terbukti dengan pasti bahwa setiap wajah mempunyai ciri pembeda terhadap setiap wajah lain di antara seluruh wajah.

Karena itu, setiap wajah merupakan buku tersendiri. Untuk mengatur seninya saja, diperlukan alat tulis serta susunan dan penggabungan tersendiri. Untuk mendatangkan dan menempatkan bahan-bahannya, serta memasukkan segala sesuatu yang diperlukan bagi wujudnya, diperlukan bengkel yang sepenuhnya berbeda.

Baiklah, sebagai anggapan yang mustahil, kami memandang alam sebagai suatu percetakan. Namun, selain tugas percetakan berupa mengatur dan mencetak, yakni memasukkan keteraturan tertentu ke cetakan, menciptakan bahan-bahan tubuh makhluk hidup dari seluruh penjuru alam dengan timbangan khusus serta keteraturan tertentu, mendatangkannya, dan menyerahkannya ke tangan percetakan seratus tingkat lebih sulit daripada menciptakan susunan itu. Untuk hal ini tetap diperlukan Kudrat dan Iradah Sang Qadîr Mutlak, Yang menciptakan percetakan tersebut. Jadi, kemungkinan dan anggapan percetakan ini merupakan takhayul yang sepenuhnya tidak bermakna.

Seperti dalam contoh jam dan buku ini, Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Yang Berkuasa Atas Segala Sesuatu, menciptakan sebab-sebab dan juga menciptakan hasil-hasilnya. Dengan Hikmah-Nya,

Dia menghubungkan hasil dengan sebab. Melalui Iradah-Nya, Dia menetapkan satu manifestasi syariat fitrah terbesar Allah سُبْحَانَهُ, yang terdiri atas hukum sunatullah untuk mengatur gerak kainat, serta sifat alami benda-benda yang hanya merupakan cermin dan tempat memantulnya manifestasi tersebut. Melalui Kudrat-Nya, Dia menciptakan sisi sifat alami itu yang mempunyai wujud nyata dan menciptakan benda-benda di atasnya, lalu mencampurkannya satu sama lain. Apakah lebih mudah menerima hakikat yang sangat masuk akal dan merupakan hasil bukti-bukti tidak terbatas ini? Bukankah hal itu perlu hingga tingkat niscaya? Ataukah lebih mudah memberikan seluruh perangkat dan alat yang tidak terbatas bagi wujud setiap hal kepada bahan-bahan yang kalian sebut sebab dan tabiat, yang mati, tidak sadar, diciptakan, dibuat, dan sederhana, lalu membuatnya sendiri menjalankan pekerjaan penuh hikmah serta penglihatan? Bukankah hal itu di luar kemungkinan sampai tingkat mustahil? Kami menyerahkannya kepada penilaian adil akalmu yang tidak adil itu.

Penyangkal dan pemuja alam mengatakan:

Karena engkau mengajakku berlaku adil, saya pun mengatakan: Saya mengakui bahwa jalan keliru yang kami tempuh hingga sekarang seratus tingkat mustahil, sangat merugikan, dan sangat buruk. Dari kajianmu tadi, orang yang mempunyai kesadaran sebesar zarah akan memahami bahwa memberikan penciptaan kepada sebab dan alam tidak mungkin serta mustahil, dan menisbahkan segala sesuatu langsung kepada Wâjibul Wujûd merupakan hal yang wajib secara akal dan niscaya. Dengan mengatakan Elhamdülillahi ale'l-iman, saya beriman.

Hanya satu keraguan yang saya miliki:

Saya menerima bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Khâliq. Namun, apa kerugian bagi Kerajaan Rububiyah-Nya jika beberapa sebab juz'i ikut campur dalam penciptaan hal-hal yang tidak penting dan memperoleh sedikit pujian serta sanjungan? Apakah Kerajaan-Nya akan berkurang?

Jawaban:

Sebagaimana telah kami buktikan dengan sangat pasti dalam beberapa risalah, sifat kekuasaan ialah menolak campur tangan. Bahkan, penguasa atau petugas paling rendah tidak menerima campur tangan putranya dalam lingkup kekuasaannya. Bahkan, meskipun menjadi khalifah, sebagian raja yang taat beragama membunuh anak-anaknya yang tidak bersalah karena membayangkan adanya campur tangan terhadap kekuasaannya. Hal ini memperlihatkan betapa mendasarnya “hukum menolak campur tangan” dalam kekuasaan. Dari dua kepala dalam suatu kecamatan sampai dua raja dalam suatu negeri, “hukum mencegah berbagi kekuasaan” yang dituntut oleh kemandirian dalam kekuasaan telah memperlihatkan kekuatannya melalui kekacauan yang sangat aneh dalam sejarah manusia.

Perhatikan bahwa bahkan bayangan kepemimpinan dan kekuasaan pada manusia yang tak berdaya serta membutuhkan bantuan menolak campur tangan, mencegah campur tangan orang lain, tidak menerima pembagian kekuasaan, serta berusaha menjaga kemandirian kedudukannya dengan fanatisme yang begitu kuat. Kemudian, jika engkau dapat membandingkan, bandingkanlah betapa penolakan campur tangan, pencegahan berbagi, dan pengusiran sekutu merupakan akibat yang niscaya serta tuntutan yang tak terelakkan dari Kekuasaan Zat Dzul-Jalâl. Kekuasaan Mutlak-Nya berada pada tingkat Rububiyah, Kepemimpinan Mutlak-Nya pada tingkat Keilahian, Kemandirian Mutlak-Nya pada tingkat Ahadiyah, dan Tidak Membutuhkan Apa Pun Secara Mutlak pada tingkat Kuasa Mutlak.

Adapun bagian kedua keraguanmu:

Jika beberapa sebab menjadi tujuan sebagian ubudiyah dari beberapa ciptaan tertentu, apa yang berkurang dari ubudiyah makhluk-makhluk, dari zarah sampai planet, yang menghadap Zat Yang Wâjibul Wujûd, Sang Ma'bûd Mutlak?

Jawaban:

Sang Khâliq Yang Hakîm dari kainat ini menciptakan kainat sebagai pohon, menjadikan buah paling sempurnanya makhluk sadar, dan buah paling menyeluruh di antara makhluk sadar itu manusia. Syukur dan ibadah adalah hal terpenting bagi manusia, bahkan hasil penciptaan, tujuan fitrah, serta buah hidupnya. Apakah Sang Penguasa Mutlak dan Sang Pemberi Perintah Yang Mandiri, Sang Wâhid lagi Ahad Yang menciptakan kainat agar Diri-Nya dicintai serta dikenal, akan menyerahkan manusia yang menjadi buah seluruh kainat, dan syukur serta ibadah yang menjadi buah tertinggi manusia, ke tangan lain? Apakah Dia membuat hasil penciptaan dan buah kainat sia-sia dengan bertindak sepenuhnya bertentangan dengan Hikmah-Nya? Hâşâ ve kellâ... Apakah Dia rela, apakah Dia pernah mengizinkan, ibadah makhluk diberikan kepada pihak lain dengan cara yang membuat Hikmah dan Rububiyah-Nya disangkal? Sementara melalui Perbuatan-perbuatan-Nya Dia memperlihatkan keinginan untuk dicintai dan dikenal sampai tingkat yang tidak terbatas, apakah Dia menyerahkan syukur, rasa berutang budi, usaha untuk dicintai, dan ubudiyah makhluk-Nya yang paling sempurna kepada sebab-sebab lain, sehingga membuat Diri-Nya dilupakan dan Tujuan-Tujuan Luhur-Nya di kainat disangkal? Wahai kawan yang meninggalkan pemujaan tabiat! Katakanlah!

Ia mengatakan: Elhamdülillah, kedua keraguan saya telah terpecahkan. Engkau juga memperlihatkan dua bukti yang begitu terang dan kuat tentang Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, bahwa Dialah Ma'bûd Yang Benar, serta selain Dia tidak layak menerima ibadah. Menyangkalnya merupakan sikap keras kepala menolak kebenaran seperti menyangkal matahari dan siang.