MANFAAT KEEMPAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT MANUSIA:
Ringkasan hasil yang dijelaskan dalam Sinar Kesembilan dari Risale-i Nur demikian:
Anak-anak yang membentuk seperempat umat manusia dapat hidup secara manusiawi serta membawa kemampuan kemanusiaan melalui iman kepada akhirat. Jika tidak, dalam kecemasan menyakitkan, mereka akan hidup dengan mainan kanak-kanak serta hidup dengan tingkah nakal, untuk menidurkan dan membuat diri lupa. Sebab, setiap saat, kematian anak-anak seperti mereka di sekelilingnya begitu memengaruhi otaknya yang rapuh, hatinya yang lemah tetapi membawa keinginan panjang ke masa depan, serta ruhnya yang tidak tahan. Ketika kehidupan dan akal menjadi alat azab serta siksaan bagi anak malang itu, melalui pelajaran iman kepada akhirat, ia justru merasakan kegembiraan dan rasa lega sebagai ganti kecemasan yang darinya ia bersembunyi di balik mainan agar tidak melihat. Ia berkata:
"Saudara atau temanku ini telah meninggal dan menjadi burung surga. Ia lebih menikmati hidup serta berjalan-jalan daripada kita. Ibuku telah meninggal, tetapi pergi kepada Rahmat Ilahi. Ia akan kembali memeluk serta mencintaiku di surga, dan aku juga akan melihat
ibuku tersayang yang penuh kasih itu." Dengan mengatakan demikian, ia dapat hidup dengan cara yang layak bagi kemanusiaan.
Orang-orang lanjut usia yang membentuk seperempat umat manusia juga hanya dapat menemukan penghiburan dalam iman kepada akhirat, terhadap segera padamnya kehidupan, masuknya mereka ke tanah, serta tertutupnya dunia mereka yang indah dan dicintai. Jika tidak, ayah-ayah yang pengasih dan terhormat serta ibu-ibu yang rela berkorban dan penuh kelembutan akan mengalami jeritan ruh serta keguncangan hati sedemikian rupa, sehingga dunia menjadi penjara penuh keputusasaan bagi mereka, dan hidup menjadi azab yang menyiksa.
Namun, iman kepada akhirat berkata kepada mereka, "Jangan cemas. Kalian memiliki masa muda abadi yang akan datang. Kehidupan terang serta umur tak terbatas menunggu kalian. Kalian akan bertemu dengan gembira anak-anak serta kerabat yang telah hilang dari kalian. Seluruh kebaikan yang kalian lakukan telah terjaga, dan kalian akan menerima pahalanya." Dengan demikian, iman kepada akhirat memberi penghiburan serta rasa lega sedemikian rupa, sehingga meskipun seratus masa tua sekaligus menimpa setiap mereka, semuanya tidak membuat mereka putus asa.
Pemuda yang membentuk sepertiga umat manusia, dengan keinginan yang bergolak, dikalahkan perasaan, berani, serta tidak selalu menggunakan akalnya, jika kehilangan iman kepada akhirat dan tidak mengingat azab neraka, akan membahayakan harta serta kehormatan orang-orang yang menjaga kehormatan dalam masyarakat, juga kenyamanan serta martabat orang lemah dan lanjut usia. Terkadang, demi satu menit kenikmatan, ia menghancurkan kebahagiaan sebuah rumah yang bahagia dan menderita azab penjara seperti ini selama empat hingga lima tahun, lalu menjadi seperti binatang buas.
Jika iman kepada akhirat datang menolongnya, ia segera kembali menggunakan akal. Ia berkata, "Memang, mata-mata pemerintah tidak melihatku dan aku dapat bersembunyi dari mereka. Namun, malaikat Sang Raja Dzul-Jalâl, Yang memiliki penjara seperti neraka, melihatku dan mencatat keburukanku. Aku tidak dibiarkan tanpa aturan; aku musafir yang memiliki tugas. Aku juga akan menjadi tua serta lemah seperti mereka." Tiba-tiba, ia mulai merasakan kasih serta penghormatan terhadap orang-orang yang ingin ia serang secara zalim. Karena makna ini juga telah dijelaskan dengan bukti dalam Risale-i Nur, kami mempersingkatnya.
Bagian penting umat manusia lainnya ialah orang sakit, teraniaya, yang ditimpa musibah seperti kami, orang fakir, serta tahanan yang menerima hukuman berat. Jika iman kepada akhirat tidak datang menolong, kematian yang setiap saat terlihat melalui peringatan penyakit, pengkhianatan angkuh orang zalim yang terhadapnya mereka tidak dapat membalas dendam dan
tidak dapat menyelamatkan kehormatan mereka dari tangannya, keputusasaan menyakitkan akibat kehilangan harta serta anak dengan sia-sia dalam musibah besar, dan kesempitan menyedihkan akibat menderita azab penjara seperti ini selama lima hingga sepuluh tahun demi satu-dua menit atau satu-dua jam kesenangan, tentu menjadikan dunia penjara serta hidup azab yang menyiksa bagi orang-orang malang itu.
Jika iman kepada akhirat datang menolong mereka, tiba-tiba mereka dapat bernapas. Sesuai tingkat iman, kesempitan, keputusasaan, kecemasan, serta kemarahan untuk membalas dendam hilang sebagian, dan terkadang sepenuhnya.
Bahkan, aku dapat mengatakan bahwa dalam penahanan tanpa alasan serta musibah dahsyat kami ini, jika iman kepada akhirat tidak menolong, bertahan satu hari saja akan terasa seperti kematian dan mendorongku serta sebagian saudara untuk mengundurkan diri dari kehidupan. Namun, syukur tak terhingga, meskipun aku juga menanggung kepedihan akibat musibah dari banyak saudara yang kucintai seperti nyawaku; menanggung penyesalan atas hilangnya serta tangisan ribuan risalah Risale-i Nur yang kucintai seperti mataku, dan kitab-kitabku yang berlapis emas, berhias, serta sangat berharga; dan sejak dahulu tidak dapat menerima sedikit pengkhianatan atau pemaksaan; aku meyakinkan kalian dengan sumpah:
Cahaya serta kekuatan iman kepada akhirat memberiku kesabaran, ketahanan, penghiburan, dan keteguhan sedemikian rupa; bahkan semangat untuk memperoleh pahala lebih besar dalam pelajaran ujian yang menguntungkan, dengan perjuangan. Karena itu, sebagaimana kukatakan pada awal risalah ini, aku memandang diriku berada dalam madrasah yang indah serta baik, layak bernama Madrasah Yusufiyah. Seandainya tidak ada penyakit yang sesekali datang serta kepekaan yang timbul dari usia lanjut, aku akan lebih banyak mengerjakan pelajaranku dengan sempurna dan hati yang tenang. Bagaimanapun... Karena berkaitan dengan bagian ini, uraian keluar dari pokok pembicaraan; mohon dimaklumi.
Dunia kecil setiap manusia, bahkan surga kecilnya, ialah rumahnya sendiri. Jika iman kepada akhirat tidak memerintah kebahagiaan rumah itu, setiap anggota keluarga menderita kecemasan serta azab menyakitkan sesuai kadar kasih, cinta, dan perhatiannya. Surganya berubah menjadi neraka. Atau, melalui hiburan sementara serta kebejatan, ia membius dan menidurkan akalnya. Seperti burung unta, ia melihat pemburu, tidak dapat lari atau terbang, lalu memasukkan kepala ke pasir agar tidak terlihat. Ia memasukkan kepala ke dalam kelalaian agar kematian, berlalunya kehidupan, serta perpisahan tidak melihatnya. Ia menemukan jalan sementara yang tanpa akal, berupa mematikan rasa.
Sebab, misalnya, ibu gemetar setiap kali melihat anak yang untuknya ia rela mengorbankan ruh terus terpapar bahaya. Anak-anak yang tidak dapat menyelamatkan ayah serta saudaranya dari bencana yang tak habis juga merasakan kesedihan dan ketakutan yang tetap. Dengan perbandingan ini, dalam kehidupan dunia yang kacau serta tidak stabil, kehidupan keluarga yang dianggap bahagia itu kehilangan kebahagiaannya dari banyak segi. Hubungan serta kekerabatan dalam hidup yang sangat singkat pun tidak menghasilkan kesetiaan sejati, keikhlasan tulus, khidmah tanpa kepentingan pribadi, serta cinta. Sejauh itu, akhlak mengecil, bahkan jatuh.
Jika iman kepada akhirat memasuki rumah itu, ia tiba-tiba akan meneranginya. Hubungan, kasih, kekerabatan, serta cinta di antara mereka diukur menurut kelangsungan hubungan tersebut, bahkan dalam kebahagiaan abadi di negeri akhirat, bukan menurut waktu yang sangat singkat. Karena itu, akhlak seperti penghormatan tulus, cinta, kasih, kesetiaan, serta tidak memperhatikan kekurangan menjadi luhur. Kebahagiaan kemanusiaan sejati mulai terbuka dalam rumah itu. Karena makna ini juga telah dijelaskan dengan dalil dalam Risale-i Nur, uraian dipersingkat.
SETIAP KOTA PUN MERUPAKAN RUMAH LUAS BAGI PENDUDUKNYA. Jika iman kepada akhirat tidak memerintah anggota keluarga besar itu, di tempat keikhlasan, ketulusan, keutamaan, kepedulian, pengorbanan, Rida Ilahi, dan pahala akhirat yang merupakan dasar akhlak indah, muncul kepentingan pribadi, keuntungan, kepalsuan, sikap hanya mementingkan diri, kepura-puraan, riya, suap, serta penipuan. Di bawah ketertiban serta kemanusiaan yang tampak, anarki dan kebuasan memerintah; kehidupan kota itu diracuni. Anak-anak mulai bersikap nakal, pemuda mabuk, orang kuat berlaku zalim, dan orang lanjut usia menangis.
Dengan perbandingan ini, negeri juga merupakan rumah, dan tanah air merupakan rumah suatu keluarga bangsa. Jika iman kepada akhirat memerintah dalam rumah-rumah luas ini, penghormatan tulus, kasih sungguh-sungguh, cinta serta pertolongan tanpa suap, khidmah serta pergaulan tanpa tipu daya, kebaikan dan keutamaan tanpa riya, serta kebesaran dan kelebihan tanpa ananiyah, tiba-tiba mulai terbuka dalam kehidupan itu.
Kepada anak-anak, ia berkata, "Surga ada; berhentilah bersikap nakal." Melalui pelajaran Al-Qur’an, ia memberi sikap tenang dan berhati-hati.
Kepada pemuda, ia berkata, "Neraka ada; berhentilah mabuk." Ia membuat mereka kembali menggunakan akal.
Kepada orang zalim, ia berkata, "Azab keras ada; engkau akan menerima tamparan." Ia membuatnya menundukkan kepala kepada keadilan.
Kepada orang lanjut usia, ia berkata, "Kebahagiaan akhirat yang tetap serta jauh lebih tinggi daripada seluruh kebahagiaan yang telah lepas dari tanganmu, dan masa muda yang segar serta kekal, menunggumu. Berusahalah memperolehnya." Ia mengubah tangisnya menjadi tawa.
Dengan perbandingan ini, ia memperlihatkan pengaruh baik serta menerangi setiap kelompok, baik dalam lingkup kecil maupun luas. Hendaknya para ahli masyarakat serta akhlak yang memperhatikan kehidupan bermasyarakat umat manusia memasang telinga!
Jika manfaat lain dibandingkan dengan lima atau enam contoh yang kami isyaratkan dari ribuan manfaat iman kepada akhirat ini, akan dipahami dengan pasti bahwa hanya iman yang menjadi sarana kebahagiaan kedua alam serta kedua kehidupan.
Dengan mencukupkan diri pada jawaban kuat dalam Kalimat Kedua Puluh Delapan serta risalah-risalah lain Risale-i Nur terhadap keraguan lemah mengenai kebangkitan jasmani, di sini kami hanya memberi isyarat singkat:
Cermin Asma Ilahi yang paling mencakup banyak segi terdapat pada sisi jasmani. Pusat paling kaya dan aktif Tujuan-Tujuan Ilahi dalam penciptaan kainat terdapat pada sisi jasmani. Jenis serta warna anugerah Rabb yang terbanyak terdapat pada sisi jasmani. Benih doa serta syukur manusia kepada Khâliq melalui bahasa kebutuhannya yang paling banyak juga terdapat pada sisi jasmani. Benih paling beragam alam maknawi serta rohani juga terdapat pada sisi jasmani.
Menurut perbandingan ini, karena ratusan hakikat menyeluruh terpusat pada sisi jasmani, untuk memperbanyak wujud jasmani di permukaan bumi serta menjadikannya tempat tampaknya hakikat-hakikat tersebut, Sang Khâliq Yang Hakîm, melalui Kegiatan yang begitu cepat serta dahsyat, mengenakan wujud kepada makhluk dalam rombongan demi rombongan dan mengirim mereka ke tempat pameran itu. Kemudian, Dia membebastugaskan mereka serta mengirim yang lain. Dia terus membuat pabrik kainat beroperasi, menenun hasil-hasil jasmani, serta menjadikan bumi taman pembibitan bagi akhirat dan surga.
Bahkan, untuk memuaskan lambung jasmani manusia, Dia mendengarkan serta menerima dengan perhatian paling besar doanya melalui bahasa keadaan untuk tetap ada. Untuk menjawab melalui Perbuatan, Dia menyediakan bagi jasmani makanan yang sangat berseni serta nikmat yang sangat berharga, tak terhitung, dalam ratusan ribu cara dan ribuan jenis kenikmatan. Hal ini memperlihatkan dengan jelas, tanpa keraguan, bahwa dalam negeri akhirat, kenikmatan surga yang terbanyak serta paling beragam bersifat jasmani. Nikmat kebahagiaan abadi yang paling penting, diinginkan setiap orang, serta akrab bagi mereka, bersifat jasmani.
Apakah dari segi mana pun ada peluang atau kemungkinan bahwa Sang Qadîr Yang Rahîm, Sang ‘Alîm Yang Karîm, Yang menerima doa lambung biasa ini melalui bahasa keadaan untuk tetap ada, dan membuatnya berterima kasih dengan makanan jasmani yang memiliki mukjizat tak terhingga,
serta setiap waktu menjawab melalui Perbuatan, dengan Maksud dan tanpa kebetulan; tetapi tidak menerima doa umum tak terhitung dari umat manusia melalui lambung besar kemanusiaannya, agar kenikmatan jasmani yang menyeluruh, tinggi, terus diinginkan, akrab, serta diminta secara fitri, diberikan dalam negeri yang kekal? Padahal manusia merupakan hasil kainat yang paling penting, khalifah bumi, serta makhluk terpilih dan pengabdi Khâliq itu. Mungkinkah Dia tidak menjawab melalui Perbuatan dengan kebangkitan jasmani, serta tidak membuat manusia berterima kasih selamanya; seakan-akan mendengar suara lalat tetapi tidak mendengar guruh, sangat memperhatikan perlengkapan prajurit biasa tetapi sama sekali tidak memandang atau mementingkan pasukan? Hal ini mustahil serta batil pada seratus tingkat.
Ya, berdasarkan kejelasan pasti ayat
ﻭَ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬ۪ﻴﻪِ الْاَنْفُسُ ﻭَ ﺗَﻠَﺬُّ الْاَعْيُنُ
, manusia akan melihat serta mengecap kenikmatan jasmani yang paling akrab baginya dan telah dicicipi contohnya di dunia, dengan cara yang layak bagi surga. Pahala syukur murni serta ibadah khusus anggota tubuh, seperti lidah, mata, dan telinga, akan diberikan melalui kenikmatan jasmani yang khusus bagi anggota tersebut. Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menjelaskan kenikmatan jasmani dengan begitu tegas, sehingga tidak menerima makna lahirnya melalui penafsiran lain berada di luar kemungkinan.
Buah serta hasil iman kepada akhirat menunjukkan: Sebagaimana hakikat serta kebutuhan lambung, salah satu anggota manusia, menunjukkan adanya makanan dengan pasti; demikian pula, hakikat manusia, kesempurnaan, kebutuhan fitri, serta keinginan abadinya, dan hakikat serta kemampuan yang menuntut hasil dan manfaat iman kepada akhirat tersebut, lebih pasti menunjukkan akhirat, surga, serta kenikmatan jasmani yang kekal, dan bersaksi atas kenyataannya. Hakikat kesempurnaan kainat ini, tanda-tanda penciptaannya yang penuh makna, serta seluruh hakikat kemanusiaan yang berhubungan dengan hakikat-hakikat tersebut juga menunjukkan dan bersaksi atas adanya serta kenyataan negeri akhirat, datangnya kebangkitan, dan dibukanya surga serta neraka. Bagian-bagian Risale-i Nur, khususnya Kalimat Kesepuluh, Kedua Puluh Delapan dengan dua bagiannya, Kedua Puluh Sembilan, Sinar Kesembilan, serta risalah-risalah Münâcat, telah membuktikannya melalui dalil dengan terang dan tanpa menyisakan keraguan. Dengan menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut, kami mempersingkat uraian panjang ini.
Penjelasan Al-Qur’an mengenai neraka begitu jelas serta nyata, sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain. Kami hanya akan menjelaskan ringkasan sangat singkat dua atau tiga butir hikmah yang menghilangkan satu atau dua keraguan lemah,
dengan menyerahkan perinciannya kepada Risale-i Nur.
BUTIR HIKMAH PERTAMA: Pemikiran tentang neraka tidak mengusir kenikmatan buah-buah iman tadi melalui rasa takutnya. Sebab, Rahmat Rabb yang tak terhingga berkata kepada orang yang takut itu: Datanglah kepada-Ku; masuklah melalui pintu tobat. Dengan demikian, adanya neraka, alih-alih menakutkan, justru memperkenalkan sepenuhnya kenikmatan surga kepadamu, membalaskan dendammu serta dendam makhluk-makhluk tak terhitung yang hak-haknya telah dilanggar, dan membuat kalian bergembira.
Jika engkau tenggelam dalam kesesatan serta tidak dapat keluar, adanya neraka tetap seribu tingkat lebih baik daripada pemusnahan abadi, dan merupakan suatu kasih bahkan bagi orang kafir. Sebab, manusia, bahkan hewan-hewan yang beranak, menikmati kesenangan serta kebahagiaan kerabat, anak, dan sahabatnya, dan dari satu segi menjadi bahagia.
Dalam keadaan ini, wahai orang yang mengingkari, menurut kesesatanmu, engkau akan jatuh menjadi tidak ada melalui pemusnahan abadi, atau masuk neraka! Keadaan tiada, yang merupakan keburukan murni, membakar ruh, hati, serta hakikat kemanusiaanmu ribuan tingkat lebih daripada neraka. Sebab, bersama engkau, semua yang kaucintai, kerabat, leluhur, serta keturunan yang kebahagiaannya membuatmu puas dan sampai tingkat tertentu bahagia, juga dimusnahkan. Jika neraka tidak ada, surga pun tidak ada. Melalui kekufuranmu, segala sesuatu jatuh menjadi tidak ada.
Jika engkau masuk neraka dan tetap berada dalam lingkup wujud, orang-orang yang kaucintai serta kerabatmu akan bahagia di surga, atau dari satu segi menerima kasih dalam lingkup wujud. Jadi, dalam segala keadaan, engkau harus mendukung adanya neraka. Menentang neraka berarti mendukung keadaan tiada, yaitu mendukung lenyapnya kebahagiaan sahabat-sahabatmu yang tak terhitung.
Ya, neraka merupakan negeri yang ada, dahsyat serta penuh Jalâl, yang bertugas sebagai penjara penuh Hikmah dan adil dari Sang Penguasa Dzul-Jalâl atas lingkup wujud, yang merupakan kebaikan murni. Bersama tugas penjara, ia memiliki banyak tugas lain, banyak hikmah, serta khidmah bagi alam yang kekal. Ia juga merupakan tempat tinggal penuh Jalâl bagi banyak makhluk hidup, seperti zabaniyah.
BUTIR HIKMAH KEDUA: Adanya neraka serta azabnya yang keras tidak berlawanan dengan Rahmat tak terhingga, Keadilan sejati, serta Hikmah yang tanpa pemborosan dan seimbang. Justru Rahmat, Keadilan, serta Hikmah menuntut adanya neraka. Sebab, sebagaimana menghukum seorang zalim yang menginjak hak seribu orang tidak bersalah
serta membunuh binatang buas yang mencabik seratus hewan teraniaya, merupakan seribu kasih kepada yang teraniaya di dalam keadilan; memaafkan orang zalim serta membebaskan binatang buas itu berarti ratusan sikap tanpa kasih terhadap ratusan makhluk malang, sebagai imbalan satu kasih yang tidak pada tempatnya.
Demikian pula, orang kafir mutlak yang termasuk mereka yang masuk penjara neraka, melalui kekufurannya melanggar hak Asma Ilahi dengan pengingkaran; melanggar hak wujud-wujud yang bersaksi atas Asma itu dengan mendustakan kesaksian mereka; melanggar hak makhluk dengan mengingkari tugas-tugas luhur tasbih mereka kepada Asma tersebut; serta, dari suatu segi, melanggar hak melalui pendustaan terhadap tanggapan ubudiyah dan peran mereka sebagai cermin manifestasi Rububiyah Ilahi, yang merupakan tujuan penciptaan, suatu sebab adanya, serta tetap adanya kainat. Dari segi ini, perbuatannya merupakan kejahatan dan kezaliman yang begitu besar, sehingga tidak tersisa kelayakan menerima ampunan. Ia patut menerima ancaman ayat
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪ۪
.
Tidak memasukkannya ke neraka berarti sikap tanpa kasih yang tak terhitung terhadap penggugat-penggugat tak terhitung yang haknya telah diserang, sebagai imbalan suatu kasih yang tidak pada tempatnya. Sebagaimana para penggugat itu menuntut adanya neraka, Martabat Jalâl serta Keagungan Kesempurnaan pun menuntutnya dengan pasti.
Ya, sebagaimana seorang pembangkang tanpa aturan yang menyerang rakyat berkata kepada penguasa bermartabat di sana, "Engkau tidak dapat memasukkanku ke penjara; engkau tidak mampu," lalu mencederai martabatnya; tentu, meskipun tidak ada penjara dalam kota itu, ia akan membuat penjara bagi orang tanpa adab tersebut dan memasukkannya ke dalamnya.
Demikian pula, melalui kekufurannya, orang kafir mutlak sangat mencederai Martabat Jalâl-Nya. Melalui pengingkaran, ia menentang Keagungan Kudrat-Nya, dan melalui pelanggarannya mengusik Kesempurnaan Rububiyah-Nya. Tentu, meskipun tidak ada banyak sebab yang mengharuskan serta berbagai hikmah adanya neraka untuk banyak tugas, menciptakan neraka bagi orang-orang kafir seperti itu serta memasukkan mereka ke dalamnya merupakan tuntutan Martabat dan Jalâl tersebut.
Hakikat kekufuran pun memperkenalkan neraka. Ya, sebagaimana jika hakikat iman mengambil wujud jasmani, melalui kenikmatannya, ia dapat berbentuk surga pribadi, dan dari segi ini memberikan kabar tersembunyi mengenai surga;
demikian pula, telah dibuktikan melalui dalil dalam Risale-i Nur serta diisyaratkan dalam persoalan-persoalan pada awal bahwa kekufuran, khususnya kekufuran mutlak, kemunafikan, serta kemurtadan, memiliki kepedihan yang gelap dan dahsyat serta azab maknawi. Jika mengambil wujud jasmani, semuanya menjadi neraka pribadi bagi orang murtad itu, dan dari segi ini memberikan kabar tersembunyi mengenai neraka besar. Selain itu,
karena hakikat-hakikat kecil dalam ladang dunia, taman pembibitan ini, akan mengeluarkan bulir-bulir di akhirat, benih beracun ini menunjuk kepada pohon zaqqum itu. Ia berkata, "Aku merupakan salah satu dasarnya. Contoh khusus pohon zaqqum bagi orang malang yang membawaku dalam hatinya akan menjadi buahku."
Karena kekufuran merupakan pelanggaran hak yang tak terhitung, tentu ia merupakan kejahatan tak terhitung, sehingga membuat seseorang patut menerima azab tak terhitung. Karena keadilan manusia menerima hukuman penjara lima belas tahun, hampir delapan juta menit, bagi pembunuhan satu menit, dan memandangnya sesuai dengan manfaat serta hak umum; tentu, dari segi satu kekufuran seperti seribu pembunuhan, azab hampir delapan miliar menit bagi satu menit kekufuran mutlak sesuai hukum keadilan itu. Orang yang melewatkan satu tahun umurnya dalam kekufuran tersebut patut menerima azab hampir dua triliun delapan ratus delapan puluh miliar menit, dan menjadi tempat berlakunya rahasia
ﺧَﺎﻟِﺪ۪ﻳﻦَ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺍَﺑَﺪًﺍ
. Bagaimanapun...
Penjelasan bermukjizat Al-Qur’an Al-Hakîm mengenai surga serta neraka, dan dalil-dalil Risale-i Nur, tafsir Al-Qur’an yang datang darinya, mengenai adanya surga serta neraka, tidak menyisakan kebutuhan akan penjelasan lain. Banyak ayat seperti
ﻭَﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ﻓ۪ﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫٰﺬَﺍ بَاطِلًا ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﺻْﺮِﻑْ ﻋَﻨَّﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺍِﻥَّ ﻋَﺬَﺍﺑَﻬَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻏَﺮَﺍﻣًﺎ ٭ ﺍِﻧَّﻬَﺎ ﺳَٓﺎﺀَﺕْ ﻣُﺴْﺘَﻘَﺮًّﺍ ﻭَﻣُﻘَﺎﻣًﺎ
, serta terutama Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, seluruh nabi, dan ahli hakikat yang dalam doa mereka setiap waktu paling banyak mengucapkan
ﺍَﺟِﺮْﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ٭ ﻧَﺠِّﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ٭ ﺧَﻠِّﺼْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
serta, berdasarkan wahyu serta apa yang mereka saksikan langsung, memohon agar kami dilindungi dari neraka yang telah menjadi pasti bagi mereka, menunjukkan bahwa persoalan terbesar umat manusia ialah selamat dari neraka. Neraka merupakan hakikat kainat yang sangat penting, agung, serta dahsyat. Sebagian dari ahli yang menyaksikan langsung, memperoleh penglihatan batin, serta
meneliti dengan cermat itu menyaksikannya. Sebagian melihat pancaran serta bayangannya, lalu berteriak karena kedahsyatannya. Mereka berkata, "Selamatkanlah kami darinya!"
Ya, dalam kainat ini, kebaikan dan keburukan, kenikmatan dan kepedihan, cahaya dan keadaan gelap, panas dan dingin, keindahan dan keburukan rupa, serta hidayah dan kesesatan saling berhadapan serta bercampur, demi Hikmah yang sangat besar. Sebab, tanpa keburukan, kebaikan tidak diketahui; tanpa kepedihan, kenikmatan tidak dipahami; tanpa gelap, cahaya tidak mempunyai arti penting; dan melalui dingin, tingkat panas menjadi nyata. Melalui keburukan rupa, satu hakikat keindahan menjadi seribu hakikat, dan ribuan macam tingkatan keindahan terwujud. Tanpa neraka, banyak kenikmatan surga tetap tersembunyi. Dengan perbandingan ini, dari satu segi, segala sesuatu dapat diketahui melalui lawannya, dan satu hakikat mengeluarkan bulir lalu menjadi banyak hakikat.
Karena wujud-wujud yang bercampur ini mengalir dari negeri fana menuju negeri yang kekal, tentu, sebagaimana kebaikan, kenikmatan, cahaya, keindahan, serta iman mengalir ke surga; demikian pula, bahan-bahan berbahaya seperti keburukan, kepedihan, keadaan gelap, keburukan rupa, serta kekufuran turun bagai hujan ke neraka. Arus kainat yang terus bergolak ini memasuki kedua kolam tersebut dan berhenti. Dengan menyerahkannya kepada butir-butir hikmah dengan isyarat tersirat pada akhir Kalimat Kedua Puluh Sembilan yang memiliki karamah, kami mempersingkatnya.
Wahai teman-teman belajarku dalam Madrasah Yusufiyah ini! Jalan mudah serta cara selamat dari penjara abadi yang dahsyat itu ialah memanfaatkan penahanan dunia kita ini. Selain terhindar dari banyak dosa yang terpaksa tidak dapat kita lakukan, kita bertobat dari dosa-dosa terdahulu dan menunaikan kewajiban fardu, lalu menjadikan setiap jam umur dalam penjara ini seperti satu hari ibadah. Inilah kesempatan terbaik bagi kita untuk selamat dari penjara abadi itu serta memasuki surga bercahaya. Jika melewatkan kesempatan ini, sebagaimana dunia kita menangis, akhirat kita pun akan menangis. Kita akan menerima tamparan
ﺧَﺴِﺮَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ الْاٰخِرَةَ
.
Ketika bagian ini ditulis, Iduladha tiba.
Melalui
ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ
, seperlima umat manusia, tiga ratus juta orang, sekaligus dibuat mengucapkan ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ. Seakan-akan bola bumi yang besar, sesuai ukurannya, memperdengarkan kalimat suci ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ kepada sahabat-sahabat planetnya di langit. Lebih dari dua puluh ribu jemaah haji di Arafah serta pada hari raya bersama-sama mengucapkan ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ, sebagai semacam gema dari perkataan yang disampaikan serta diperintahkan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ seribu tiga ratus tahun lalu
bersama keluarga dan sahabat beliau, yakni ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ. Aku membayangkan, merasakan, serta meyakini bahwa hal ini merupakan tanggapan ubudiyah yang luas dan menyeluruh terhadap Tajalli (tampak nyata) Rububiyah Ilahi yang menyeluruh melalui sebutan agung
ﺭَﺏُّ الْاَرْضِ ﻭَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
.
Kemudian aku teringat: Apakah perkataan suci ini juga berhubungan dengan persoalan kami? Tiba-tiba terlintas bahwa banyak perkataan syiar, terutama perkataan ini, serta ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ, ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ, dan
لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
, yang bernama al-baqiyat as-salihat, mengingatkan persoalan kami, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, serta mengisyaratkan kenyataannya.
Misalnya, satu segi makna ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ialah Kudrat dan Ilmu Allah سُبْحَانَهُ lebih Besar daripada segala sesuatu; tidak ada sesuatu pun yang dapat keluar dari lingkup Ilmu-Nya, atau lari serta selamat dari Pengelolaan Kudrat-Nya. Dia lebih Besar daripada hal-hal terbesar yang kami takuti. Artinya, Kudrat-Nya melampaui urusan mendatangkan kebangkitan, menyelamatkan kami dari keadaan tiada, serta memberikan kebahagiaan abadi. Dia lebih Besar daripada segala hal yang menakjubkan dan berada di luar jangkauan akal. Melalui kejelasan pasti ayat
ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ
, kebangkitan serta hidupnya kembali umat manusia semudah menciptakan satu jiwa bagi Kudrat itu. Dari segi makna ini, seperti peribahasa, menghadapi musibah besar serta tujuan besar, setiap orang berkata, "Allah سُبْحَانَهُ Mahabesar, Allah سُبْحَانَهُ Mahabesar." Ia menjadikannya penghiburan, kekuatan, serta titik sandaran bagi dirinya.
Ya, sebagaimana dalam Kalimat Kesembilan, kalimat ini bersama dua sahabatnya merupakan benih serta ringkasan salat, indeks seluruh ibadah. Ia berulang dalam salat dan tasbihnya untuk menguatkan makna salat melalui tiga hakikat agung
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ٭ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ
. Ia juga memberi jawaban yang sangat kuat atas pertanyaan manusia yang timbul dari kekaguman, kenikmatan, serta rasa gentar ketika melihat banyak hal luar biasa dalam kainat, yang menakjubkan, indah, dan besar, serta menjadi sarana kekaguman, syukur, Keagungan, serta Kebesaran. Sebagaimana pula dijelaskan pada akhir Kalimat Keenam Belas:
Pada hari raya, seorang prajurit masuk ke hadapan raja bersama seorang marsekal; pada waktu lain, ia mengenal raja melalui kedudukan komandannya. Demikian pula, saat haji, setiap orang mulai mengenal Allah سُبْحَانَهُ sampai tingkat tertentu seperti para wali, melalui sebutan
ﺭَﺏُّ الْاَرَضِ ﻭَ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
. Ketika tingkatan Kebesaran itu terbuka bagi hatinya, dengan mengulang ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ, ia menjawab seluruh pertanyaan kekaguman yang berulang serta penuh semangat dan menguasai ruhnya. Sebagaimana dijelaskan pada akhir Lem'a Ketiga Belas, ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ juga memotong sampai akar siasat terpenting setan-setan dan memberi jawaban pasti. Ia juga menjawab dengan singkat tetapi kuat pertanyaan kami mengenai akhirat. Demikian pula, kalimat ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ mengingatkan serta menuntut kebangkitan.
Ia berkata kepada kami, "Maknaku tidak dapat tanpa akhirat. Sebab, aku menyatakan bahwa dari azali sampai abadi, seluruh pujian serta syukur, dari siapa pun dan kepada siapa pun, khusus bagi-Nya. Karena itu, hanya kebahagiaan abadi yang dapat menjadi pokok seluruh nikmat, menjadikan nikmat benar-benar nikmat, serta menyelamatkan seluruh makhluk berkesadaran dari musibah tak terhitung akibat keadaan tiada. Ia menanggapi maknaku yang menyeluruh itu."
Ya, setelah salat, setiap orang beriman mengucapkan
ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ
menurut syariat, setidaknya lebih dari seratus lima puluh kali setiap hari. Maknanya menyatakan pujian serta syukur dengan keluasan tak terbatas, dari azali sampai abadi. Hal ini hanya merupakan harga di muka serta bayaran yang disegerakan bagi kebahagiaan abadi serta surga. Ia tidak terbatas atau khusus pada nikmat dunia yang singkat, fana, serta bercampur kepedihan. Ia juga memandang serta bersyukur atas nikmat-nikmat itu dari segi menjadi sarana bagi nikmat abadi.
Kalimat suci ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ, melalui makna menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Suci serta bebas dari sekutu, cacat, kekurangan, kezaliman, keadaan tak berdaya, sikap tanpa kasih, kebutuhan, penipuan, serta seluruh kekurangan yang berlawanan dengan Kesempurnaan, Jamâl, dan Jalâl-Nya, mengingatkan, menunjukkan, serta mengisyaratkan kebahagiaan abadi, negeri akhirat yang menjadi sarana Kemegahan Jalâl, Jamâl, serta Kesempurnaan Kekuasaan-Nya, dan surga di dalamnya. Jika tidak, sebagaimana telah dibuktikan, apabila kebahagiaan abadi tidak ada, Kekuasaan,
Kesempurnaan, Jalâl, Jamâl, serta Rahmat-Nya akan ternoda oleh noda cacat dan kekurangan.
Seperti tiga kalimat suci ini, ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ,
لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
, serta perkataan yang diberkahi lainnya masing-masing merupakan benih rukun-rukun iman. Seperti sari daging dan sari gula yang ditemukan pada zaman ini, semuanya merupakan ringkasan rukun-rukun iman serta hakikat Al-Qur’an. Sebagaimana ketiga kalimat itu merupakan benih salat, semuanya juga merupakan benih Al-Qur’an, tampak seperti permata pada awal sebagian surah yang terang. Semuanya merupakan sumber serta dasar sejati Risale-i Nur, yang banyak lintasan ilhamnya bermula dalam tasbih, serta benih hakikat-hakikatnya.
Dari segi kewalian Ahmad ﷺ serta ubudiyah Muhammad ﷺ, dalam lingkup zikir seperti itu, dalam tasbih setelah salat, ketiga kalimat ini merupakan wirid suatu tarekat Muhammad ﷺ. Pada setiap waktu salat, lebih dari seratus juta orang beriman bersama-sama dalam lingkaran zikir terbesar itu, dengan tasbih di tangan, mengulang ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ tiga puluh tiga kali, ٔﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ tiga puluh tiga kali, serta ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ tiga puluh tiga kali.
Dalam lingkaran zikir yang sangat megah seperti ini, sebagaimana telah kami jelaskan, tentu kalian memahami betapa berharga serta berpahalanya membaca masing-masing tiga puluh tiga kali setelah salat, tiga kalimat yang diberkahi itu, ringkasan dan benih Al-Qur’an, iman, serta salat.
Sebagaimana Persoalan Pertama pada awal risalah ini merupakan pelajaran indah mengenai salat, meskipun sama sekali tidak kupikirkan, bagian akhirnya pun, seakan-akan tanpa kehendakku sendiri, menjadi pelajaran penting mengenai tasbih salat.
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺍِﻧْﻌَﺎﻣِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ