Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Surat Hasan Feyzi

Zulfikar · Bahasa Indonesia

Surat Hasan Feyzi

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ

Saudara kita, almarhum Hasan Feyzi, yang menulis surat panjang penuh hakikat tentang Risale-i Nur ini, persis seperti almarhum syahid Hafiz Ali, membenarkan perkataannya dalam sebuah surat, “Inilah pula nazarku: jiwaku akan menjadi kurban bagimu!” Ia menjadi syahid menggantikan Üstad-nya, lalu pergi menyusul saudara syahidnya, Hafiz Ali yang agung. Sosok yang memiliki dua sayap ini, seorang ahli hati serta ahli ilmu dan hakikat yang amat tinggi, berkhidmah kepada iman selama tiga puluh tahun di balik tugas sebagai guru. Sejak sepuluh tahun lalu ia memperoleh Risale-i Nur dan bekerja di balik tabir kerahasiaan. Kemudian, selama dua tahun, dengan seluruh jiwa raganya dan tanpa gentar, ia langsung mengumumkan hakikat-hakikat serta kesempurnaan Risale-i Nur yang tinggi kepada semua orang.

Semoga Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, untuk setiap huruf Risale-i Nur, mencurahkan beribu rahmat kepada ruhnya serta ruh sahabat-sahabat Nur-nya di alam barzakh. Amin, amin, amin.

Said Nursî

(Ini sebuah surat yang penting dan amat panjang dari Hasan Feyzi, salah seorang guru berpengalaman yang amat teliti dalam ilmu sekolah serta ilmu-ilmu Islam. Namun sebagian suratnya telah ditiadakan karena tidak dipandang perlu diterbitkan.)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻣَﺜَﻞُ ﻧُﻮﺭِﻩِ ﻛَﻤِﺸْﻜَﺎﺓٍ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﺼْﺒَﺎﺡٌ ﺍَﻟْﻤِﺼْﺒَﺎﺡُ ﻓِﻰ ﺯُﺟَﺎﺟَﺔٍ ﺍَﻟﺰُّﺟَﺎﺟَﺔُ ﻛَﺎَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﻮْﻛَﺐٌ ﺩُﺭِّﻯٌّ ﻳُﻮﻗَﺪُ ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٍ ﺯَﻳْﺘُﻮﻧَﺔٍ لَا ﺷَﺮْﻗِﻴَّﺔٍ وَلَا ﻏَﺮْﺑِﻴَّﺔٍ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺯَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻳُﻀِﻲﺀُ ﻭَﻟَﻮْ ﻟَﻢْ َﺗﻤْﺴَﺴْﻪُ ﻧَﺎﺭٌ ﻧُﻮﺭٌ ﻋَﻠٰﻰ ﻧُﻮﺭٍ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟِﻨُﻮﺭِﻩِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

Karena ayat ini menunjuk Risale-i Nur melalui sepuluh segi, kami pun menerangkannya demikian:

Wahai Risale-i Nur! Tiada lagi keraguan bahwa engkau berasal dari nur serta mukjizat Al-Qur'an Al-Karim, bahwa engkau merupakan ilham dan lisan Al-Haqq, ditulis serta didiktekan dengan Perintah dan Izin-Nya. Namun, pernahkah ada karya lain yang sebanding denganmu? Pernahkah hingga kini terlihat pasangan atau pendamping bagi naskah-naskahmu yang disusun, ditata, serta dirangkai dalam bahasa Turki, yang indah, sempurna, fasih, dan penuh daya ungkap? Kefasihan pada wajahmu, balagah dalam intimu, serta kemanisan padamu tidak terlihat pada karya-karya lain.

Sebagaimana diketahui orang-orang yang ahli, ayat-ayat Ilahi yang jelas, dengan berbagai qiraatnya, memuat ilmu hikmah, hakikat, serta makrifat, dan banyak lagi lambang, rahasia, isyarat, serta ilmu bahasa Arab. Demikian pula engkau memuat banyak kemuliaan pada halaman dan barismu, bahkan banyak rahasia serta pengetahuan laduni pada kata dan hurufmu, yang membuat murid-muridmu takjub dan gentar. Keadaan inilah yang membuktikan bahwa engkau suatu mukjizat Al-Qur'an.

Engkau ditulis dan dirangkai sedemikian rupa sehingga semakin seseorang memandangmu, semakin ia ingin memandang; semakin membaca, semakin ingin membaca. Sebagaimana muridmu yang paling tinggi memperoleh limpahan serta cinta kepada ilmu dan pengetahuan darimu, muridmu yang paling awam pun memperoleh keinginan belajar darimu. Betapa agung engkau sebagai sebuah karya, betapa manis engkau sebagai telaga kautsar!

Keadaanmu ini memberikan nilai besar serta keunggulan yang tidak habis kepada bahasa Turki kita. Kemuliaan serta karamahmu mengangkat bahasa Turki di antara seluruh bahasa. Melaluimu kami melihat dalam bahasa kami kemuliaan serta kefasihan setinggi itu, yang tidak tertampung dalam kitab apa pun selain Al-Qur'an dan dalam bahasa bangsa mana pun.

Ketika Al-Qur'an Al-Karim mulai turun pada masa kefasihan dan balagah mencapai puncaknya, karya-karya para sastrawan serta ahli balagah kehilangan nilai dan padam di hadapan nur Al-Qur'an. Demikian pula kefasihan serta balagahmu yang tiada batas, tiada akhir, dan tidak memberi peluang itu membuat para khatib takjub. Engkau bukan syair kepahlawanan. Namun engkau ditulis dengan begitu fasih, penuh daya ungkap, bergaya, bersuara, serta berirama. Seluruh hurufmu saling menopang; kata serta kalimatmu dirangkai dalam hubungan dengan yang sebelum dan sesudahnya, dalam ketertiban dan keserasian. Semuanya saling memberi kekuatan, kudrat, serta keteguhan sedemikian rupa sehingga, meskipun engkau berupa prosa berbahasa Turki, tandinganmu tetap tidak dapat dibuat. Karya secemerlang dirimu tidak akan dianugerahkan lagi kepada siapa pun.

Siapa yang pernah membayangkan bahwa tepat empat belas abad sesudah matahari Islam terbit, suatu Nur yang luhur, Ilahi, dan berasal dari Arasy sepertimu akan terbit kembali, terutama pada abad terakhir ini, sekaligus di negeri Turki dan dalam bahasa Turki? Betapa besar nikmat bagi kami dan betapa bahagia bagi penduduk abad ini, wahai Rabb-ku!

Bahasa Turki kita penuh kebanggaan kepadamu, meluap dan membesar, lalu duduk bersila di atas setiap bahasa. Karya-karya yang diberkahi dari Maulana Jami, Maulana Jalaluddin, Hazret-i Mısrî, serta para Bedreddin, yang diterjemahkan dan dialihkan ke setiap bahasa Barat, memandangmu seraya bersiap mempersembahkan ucapan selamat: “Bârekellah, betapa bahagia dirimu, wahai Risale-i Nur! Engkau menjadi mahkota bagi kami semua!” Seluruh makhluk hidup di muka bumi bersama manusia pun bersiap menerimamu.

Bahkan betapa mengherankan bahwa beberapa binatang, seperti belalang, lebah, serta burung pipit, ketika Kalimat-Kalimatmu serta Nur ini dibaca, berkeliling di sekelilingmu bagai laron. Dengan membenturkan kepalanya pada kepala kita, seolah-olah mereka hendak memberitahukan ketertarikan mereka kepadamu dan betapa gembira serta nikmatnya mereka mendengar nur dan perkataanmu. Di antaranya, dua belalang di Sava, dua merpati serta dua burung di Emirdağı, dua burung yang mengagumkan di İnebolu, serta burung bulbul dan hudhud di Isparta dan Sava memperlihatkan karamah ini.

Dapat diharapkan bahwa dalam waktu dekat, karya yang diberkahi dan membawa keberuntungan sepertimu akan dibaca dengan penuh kebanggaan serta antusias di masjid dan tempat ibadah, di mimbar serta kursi pengajaran negeri-negeri Islam.

Kekuatan, daya meyakinkan, kemuliaan, serta ketegasan dalam bukti-buktimu memikat dan menundukkan kehendak serta pilihan manusia. Engkau menarik setiap orang kepadamu dan membuatnya patuh.

Terlebih perumpamaan serta ungkapanmu yang indah itu tidak akan ditemukan dan diucapkan tandingannya lagi. Perbandingan dan penalaranmu, kejadian serta perumpamaanmu, tidak dapat dibuat pasangan serta tandingannya lagi.

Limpahan dan cahaya yang mengalir dari Al-Qur'an berbahasa Arab kepada Sözler berbahasa Turki dan kini memancar dari bahasa Turki sendiri tidak menyisakan keraguan dalam hati bahwa engkau contoh kudrat serta tanda rahmat. Engkau pengilap cermin pemahaman, kejernihan bagi alam hati, serta makanan bagi ruh dan jiwa.

Allah Allah! سُبْحَانَهُ Seberapa pun bangsa Turki berbangga kepadamu, tetap sedikit. Pastilah hujah serta ungkapanmu, kata serta perumpamaanmu yang menerangi mata dan menggembirakan hati itu turun dari Arasy yang agung. Sebab semuanya menghilangkan kesedihan dan memberikan kegembiraan serta semangat kepada manusia. Ketika dibaca, tidak terdengar suara keberatan atau tercium bau pengingkaran. Ketika itu akal serta logika terdiam; nafsu manusia menjadi murni dan jernih.

Seolah-olah seluruh hakikatmu mula-mula dikerjakan pada alat tenun luhur milik Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad di pabrik-pabrik Rabb dan Rahmân. Kemudian semuanya dibasuh dan dikeluarkan dari lautan Nur Ilahi, lalu diserahkan ke pabrik minyak mawar. Sesudah tujuh kali dicelupkan dalam minyak mawar, semuanya diasapi dengan kayu gaharu murni; dengan itulah engkau ditulis.

Seluruh persoalan serta butirmu bernilai dan dihormati. Perkataanmu yang teratur, sempurna, indah, dan bercahaya itu menyingkirkan karya-karya yang saling berselisih yang ditulis hingga kini, lalu hanya menghadapkan dirinya kepada pandangan seluruh makhluk.

Kini engkau menyeru dengan panggilan bercahaya, “Tiada lagi silang pendapat, yang ada ialah persatuan. Masa benda-benda tak bernyawa dan beku hampir berlalu. Abad yang hidup dan menarik sedang datang. Diamlah, dengarkan! Kini masa Nur, dan Nur berkuasa. Dengan nur yang kuperoleh dari Al-Qur'an, akan kupuaskan dahaga abad yang tenggelam dalam gelap ini serta abad-abad mendatang.” Engkau memanggil setiap orang kepada iman, setiap pribadi kepada Allah سُبْحَانَهُ.

Wahai Nur Al-Qur'an! Pada akhir zaman engkau sekali lagi berlapis dan bertunas, menerangi serta menghiasi cakrawala dunia dengan hakikat Al-Qur'an. Wahai matahari Islam yang hingga kini menerangi separuh dunia! Hari ini pun engkau mengajak seluruh penghuni bumi dari kebodohan, kesesatan, syirik, serta kesengsaraan kepada nur petunjuk, rasa aman, ketenteraman, serta keselamatan. Semoga panggilan ini membawa keberkahan bagimu.

Taburkan cahaya, berikan nur serta kegembiraan kepada orang-orang malang yang menggelepar hampir tenggelam dalam jurang kehinaan, keakuan, serta sifat setan. Bukakan jalan kebenaran yang sejati, tunjukkan tujuan, dan selamatkan mereka yang membuat berhala dengan tangannya sendiri lalu menyembahnya; yang tenggelam dalam lembah kesesatan tanpa cahaya dan tanpa keberuntungan; yang menjadikan sesuatu yang lenyap dan fana sebagai berhala dalam hatinya; serta yang menjadi korban ketika bergumul dengan nafsu ammarah, hawa, dan keinginannya. Berlarilah menolong penderitaan para pencinta yang setia, yang tidak tidur pada malam gelap, menangis, serta berseru, “Tolong, wahai Rabb-ku, berikan cahaya!” Berikan harapan, penghiburan, kegembiraan, serta nur kepada mereka. Panggillah para penganut tabiat dan syirik yang buta, tuli, kalah, serta terpikat itu kepada madrasah nur iman dan kepada Ar-Rahmân Yang Rahîm, Sang Khâliq bumi serta langit.

Ya, dengan lisan nurmu engkau berseru, “Kemarilah, wahai penganut tabiat, wahai ahli filsafat! Keluarlah dari rawa yang dalam itu; bukalah matamu, pandanglah nurku. Akan kuajarkan kepadamu hakikat tabiat serta filsafat. Pangkal dan dasar ilmu serta pengetahuan ada padaku. Jika engkau membacaku dan mendengarkanku dengan baik, melalui tangga bercahaya yang ada padaku engkau akan sampai ke sebuah istana dan bertemu seorang Sultan. Ilmu yang paling agung serta dasar fikih terbesar ada padaku. Pelajarilah tabiat serta filsafat dariku. Ilmu orang-orang terdahulu dan kemudian seluruhnya ada padaku. Aku bukan milik siapa pun dan bukan perkataan siapa pun. Aku tidak diambil dari kitab apa pun dan tidak dicuri dari karya apa pun. Aku berasal dari Rabb dan Al-Qur'an, bukan pohon poplar yang kering. Aku bersemangat, gemerlap, serta bercahaya. Aku nur yang tidak mati, penuh seni serta karamah, yang memancar dari karya Zat Yang Hayy lagi Tidak Mati. Aku meniupkan nyawa kepada yang tak bernyawa serta nyawa baru kepada yang hidup. Aku obat bagi derita serta rahmat Ar-Rahmân bagi alam-alam. Tinggalkan sikap keras kepala dan desakanmu; baca dan dengarkanlah aku, agar kuselamatkan engkau dari jalan tanpa perhitungan dan tanpa tujuan yang membawamu kepada gelap dan membuatmu lenyap sama sekali, lalu kuperolehkan bagimu alam yang amat besar, penuh kebahagiaan dan kekal selamanya.”

Ah, betapa diberkahinya dirimu, betapa indah dan tiada duanya karya dirimu! Engkau membuat pembacamu menangis dan orang yang menangis tersenyum, menghidupkan yang mati, membuatnya melepaskan keakuan, lalu membawanya kepada

ﻣُﻮﺗُﻮﺍ ﻗَﺒْﻞَ ﺍَﻥْ ﺗَﻤُﻮﺗُﻮﺍ

. Engkau membuat orang mendengarkanmu dengan cinta serta perhatian besar, memikat hati, dan membawa ruh kepada keadaan penuh sukacita. Engkau kitab kebenaran yang penuh limpahan, hikmah, serta rahmat. Mengapa mereka yang menjadi murid sejatimu segera menjual diri serta hartanya kepada Allah سُبْحَانَهُ?

Mereka yang menuduhkan serta memfitnahkan suatu aib dan kekurangan kepadamu ialah orang-orang malang dan hina yang buta atau bermata sakit, yang tidak sanggup memandang nurmu yang menyilaukan. Terlihat jelas bahwa orang-orang rendah dan gila yang hendak menodaimu justru ternoda oleh pelanggaran serta kejahatan. Orang-orang yang memiliki keutamaan dan kesempurnaan melihatmu utuh serta sempurna, dan menyatakan dirimu bersih dari noda aib serta cacat.

Dengan nurmu engkau menyaksikan serta memeriksa penyakit hati, kepala, dan ruh yang paling penting, yang bahkan belum dapat didiagnosis serta diobati oleh dokter paling setia dan mahir. Engkau menemukan penyembuh serta obat yang paling diperlukan, lalu menyuguhkannya kepada mereka yang jatuh dalam derita ruhani serta maknawi. Engkau membuka mata akal serta pemahaman mereka, lalu menyelamatkan orang-orang malang itu dalam waktu yang amat singkat.

Engkau patut dan layak menjadi wirid yang paling penuh hikmah serta rahasia, lembut dan penuh permohonan, bermakna dan luhur, berpengaruh serta berbuah, dicari serta dicintai. Kepada mereka yang mencintai dan menulismu, serta yang membaca dan menanamkanmu dalam pikirannya, engkau menaburkan rahmat serta berkah dan memperlihatkan karamah yang menakjubkan. Beberapa muridmu yang khusus dan tulus engkau muliakan serta hiasi dengan tanda wali dan asfia. Terhadap musuhmu pun engkau bertindak tanpa memberi kelonggaran; bila perlu engkau membungkamnya, dan sesekali memberinya tamparan serta pukulan, kadang khusus, kadang umum.

Ketika mereka mengusikmu, unsur-unsur alam menjadi murka dan menampar, terkadang berupa angin serta banjir, terkadang petir serta kilat, dan terkadang kebakaran hebat serta gempa. Ketika engkau berlari datang, engkau memisahkan yang terluka serta mati menjadi dua golongan: syahid dan Yazid.

Ah, betapa jelas bukti dan kuat hujahmu, betapa dahsyat dalil serta pedomanmu! Betapa indah, lengkap perlengkapan, serta sempurna dirimu!

Wahai Nur! Musuhmu yang terkuat dan paling keras kepala pun tidak tampak sebanding dengan seekor nyamuk dalam pandanganmu. Engkau tampil di tangan dan di hadapan para ahli pemeriksa bukan untuk memohon ampun atau meminta pertolongan. Engkau tampil untuk memperlihatkan kekuatan, kudrat, kewibawaan, keagungan, serta nur abadimu kepada mereka yang menghiasi dirinya sebagai ahli ilmu tertinggi zaman ini; untuk membungkam, menundukkan, serta mengalahkan mereka; membuktikan bahwa engkau telah matang; dan membuat mereka pun membenarkan hak hidupmu. Akhirnya, karena tidak tahan terhadap nurmu yang memenuhi mata, mereka mematahkan tongkat pengingkaran serta keberatannya, melemparkannya ke tanah, lalu menyerah dan mengikutimu.

Bagian-bagianmu pun memasuki pengadilan bukan sebagai pelanggar, penjahat, atau tertuduh, melainkan sebagai pengajar, pendidik, dan pembimbing. Di setiap majelis keadilan, engkau memperlihatkan kehebatan serta seranganmu, keagungan serta kemuliaanmu yang terbesar dengan amat cemerlang dan gemerlap; engkau membasuh mereka pula dengan air iman serta Al-Qur'an. Ke sana pun engkau meniupkan ruh serta embusan yang baru.

Terlebih ketika engkau membariskan murid-muridmu yang mencintai serta setia seperti rombongan malaikat, menunjuk Hazret-i Üstad sebagai panglima bagi semuanya, lalu memberi komando, “Dengan Izin Ilahi, majulah, wahai rombongan Nur!” Ratusan orang dari setiap lapisan menyaksikan dan memberi salam ketika pasukan nur iman yang perkasa serta berwibawa itu melintasi jalan dengan amat tenang dan bermartabat. Dengan seluruh jiwa raga, mereka mengucapkan selamat dan memuliakan barisan bercahaya itu. Pemandangan bercahaya ini bahkan dilihat orang buta, didengar orang tuli, serta membuat orang yang tak berhati menangis.

Adapun rahasia hikmah engkau berlari ke penjara ialah permohonan maknawi yang penting dari para terhukum serta tahanan yang selama bertahun-tahun berbaring menunggu di sana tanpa nur dan tanpa pelita: “Wahai Nur Al-Qur'an, datanglah menolong kami pula! Kami tidak mendapat izin dan tidak berdaya keluar serta selamat dari sini lalu sampai kepadamu. Namun engkau masuk dan keluar ke mana saja; tiada larangan bagimu. Tolong, jangan lupakan kami; jangan biarkan kami putus asa dan kehilangan bagian. Agar besok dapat menghadap Hadirat Ilahi Yang Mahasuci dalam keadaan suci, basuh dan bersihkan wajah hitam serta dahi kami yang kotor, yang digelapkan pelanggaran serta kedurhakaan kami, dengan air rahmat serta nur imanmu. Puaskan pula dahaga kami dengan minuman murni, kautsar yang kekal, serta air kehidupan yang abadi dan bersumber dari Ahmad ﷺ!”

Ya, di Penjara Denizli hakikat tampak demikian. Pada sekolah ilmu pengetahuan dan madrasah Al-Qur'an yang engkau buka di sana, serta di penjara-penjara yang tersadar karenanya, kini ratusan murid belajar, memperoleh cahaya, serta berkembang. Semuanya menjadi anggota yang bermanfaat bagi alam manusia serta peradaban. Tempat-tempat judi ditutup dan berubah menjadi rumah nur. Betapa besar pertolongannya bagi keamanan serta ketertiban!

Dari murid-muridmu yang setia dan murni, yang berkembang serta meningkat dalam hati dan ruh, menjadi diterima serta dipuji di sisi Allah سُبْحَانَهُ, dan memperoleh tingkatan wali, engkau membaringkan seorang syahid yang mendapat rahmat serta ampunan di pekuburan setiap negeri yang engkau kunjungi, lalu menegakkannya sebagai penjaga bagi mereka. Dengan membuat para penghuni kubur pun merasakan nikmat ruhani Risale-i Nur, engkau memenuhi makam serta pusara mereka dengan cahaya dan menggembirakan ruh mereka.

Ketika Kalimat-Kalimatmu disampaikan dan ditulis, pena bergerak di atas kertas tanpa disengaja dan menulis dengan cepat, tanpa rancangan, kekeliruan, kesalahan, atau kekurangan. Risalah serta kitab lahir dalam waktu singkat, beberapa jam saja. Meskipun terkadang juru penuturnya sedang sakit atau tidak sehat, semuanya selesai dengan utuh, benar, serta tepat. Ini bukti pasti bahwa ia bukan hasil kecerdasan dan kecakapan, melainkan keajaiban serta karamah Al-Qur'an.

Meskipun engkau begitu dibatasi dan disembunyikan, engkau tetap cepat menyebar serta ditulis ke segala arah, diterima dengan tergesa dan penuh semangat oleh setiap perempuan serta lelaki seperti penawar dan obat racun. Ketika ditiup dengan mulut agar padam, engkau justru tidak padam, bahkan menyala dan bertambah kuat. Seorang diri engkau memperlihatkan kehebatan serta serangan gagah dan megah terhadap kekufuran mutlak serta zindik, dan akhirnya menang serta berjaya. Tak diragukan bahwa semuanya disambut tepuk tangan bukan hanya di bumi, melainkan juga di alam malaikat.

Dengan nurmu engkau menerangi serta menjelaskan banyak teka-teki yang hingga kini berada dalam gelap dan bercampur dengan yang tak diketahui, namun terus mengusik serta mengganggu pikiran. Engkau melindungi dan menyelamatkan kami agar tidak lelah tertinggal di jalan. Tak diragukan pula bahwa selama tujuh tahun pergolakan bumi yang mengerikan ini, bangsa yang bersih serta negeri seperti surga ini tetap teguh dan utuh, dan seluruh negeri Islam pun terpelihara dari setiap serangan, berkat Pertolongan Ilahi, pertolongan Ahmad ﷺ, serta nur Al-Qur'an ini.

Di hadapan keadaan yang pedih dan hina ini, apa kiranya yang akan dilakukan sekarang oleh dunia Kristen yang seluruhnya runtuh serta hancur? Ya, kekufuran dan penolakan terhadap Allah سُبْحَانَهُ akan tenggelam, atau melemparkan dirinya kepada nurmu yang terbit serta bersinar di cakrawala kaum Muslim, bukan?

Engkau membuka serta memperlihatkan jalan paling singkat, paling langsung, dan paling benar menuju hadirat Ahadiyah serta pelataran masjid keilahian, hingga sampai pada kedudukan

ﻗَﺎﺏَ ﻗَﻮْﺳَﻴْﻦِ ﺍَﻭْ ﺍَﺩْﻧٰﻰ

, puncak kesempurnaan. Pada jalan baru dan dekat yang engkau buka ini, pada jalan lurus para wali dan asfia ini, orang sakit serta malang, tua, cacat, tidak bersalah, asing, sebatang kara, janda, dan miskin yang berusaha melangkah kini diperiksa serta diobati di balai penyembuhan limpahan hikmahmu. Mereka memperoleh tempat serta pelindung yang patut bagi mereka. Engkau memberi mata kepada yang buta, telinga kepada yang tuli, serta lidah kepada yang bisu; engkau menyuguhkan obat bagi yang menderita serta iman bagi yang tak beriman.

Kepada mereka yang telah lelah dan jemu meneliti serta membaca beragam karya yang penuh perdebatan kata-kata namun kosong dari kebenaran serta hakikat, yang belum menemukan yang dicari dan kini meminta nur serta ketenangan dari Al-Haqq, engkau memberi kabar gembira dan memanggilnya kepada Nur. Engkau berkata, “Aku sumber seluruh pengetahuan serta sari seluruh ilmu. Aku inti dan ringkasan setiap sesuatu, serta pengilap kota hati.”

Engkau memberikan pelajaran sejati serta bermanfaat kepada para ahli ilmu pengetahuan dan filsafat yang cerdas dan berakal, yang belajar bertahun-tahun dan menamatkan pendidikan di sekolah ilmu serta filsafat tertinggi Eropa dan Amerika. Engkau menjelaskan hakikat serta sifat materi dan zarah, memperlihatkan bagaimana alam serta dunia yang begitu besar, hidup, dan berakal lahir serta terbentuk dari hal-hal sederhana yang tidak sadar serta tidak memahami itu. Engkau menghantamkannya pada kepala mereka yang tidak memahami dan tidak melihat dengan jernih, serta membuat masing-masing takjub. Hakikat-hakikat ini pun dengan mudah engkau beritahukan kepada muridmu yang paling buta huruf dan awam, anak atau orang tua, yang tidak pernah mengenyam sekolah ataupun madrasah.

Terlebih ungkapanmu yang benar serta ringkas, seperti bahwa satu materi sederhana, dengan dijalankan oleh suatu tangan gaib dalam ketertiban serta perhatian sempurna, dapat menghasilkan banyak hal dari satu hal, memberikan pengetahuan sepenuh lautan sambil membuat hati terasa lega serta lapang.

Kejelasan serta keluasan ini, dalil yang bersinar seperti matahari, serta pernyataan terang dan isyarat ini, semuanya merupakan karya karamah ilmu serta nurmu. Engkaulah satu-satunya karya yang kukuh dan nur yang jelas, yang paling manis, nikmat, menarik, serta cemerlang, yang akan didengarkan, dibaca, ditulis, serta disebarkan dengan penuh selera dan kerinduan di seluruh tangan serta lisan.

Engkau pula yang akan menyatukan beragam ilmu serta pengetahuan sekolah yang tidak sejalan dengan madrasah dan madrasah yang tidak sejalan dengan tekke. Engkau akan menyatukan hati serta lisan para pencari ilmu dan rahasia alam, menjaga persatuan Islam serta umat manusia, lalu menaburkan nur persatuan dan kebersamaan. Ilmu lahir dan batin akan tersebar ke seluruh dunia dari Al-Qur'an yang menjadi sumber serta tambangmu. Engkau pula yang akan menjadi sarana serta pengaruh bagi mantapnya tatanan alam dan berlanjutnya hingga waktu yang ditetapkan, serta bagi ketenteraman dan kedudukan tinggi hamba-hamba Allah سُبْحَانَهُ yang saleh.

Wahai nur Al-Qur'an, wahai hakikat iman! Karena hari ini atas nama Al-Qur'an engkau memikul kepemimpinan tiga ratus lima puluh juta Muslim, maka dengan menghilangkan keyakinan buruk serta silang pendapat yang telah berabad-abad menyusup dan menetap di antara kaum Muslim, engkau akan membasmi hingga akarnya fitnah, kerusakan, kemunafikan, serta sikap pecah belah yang berkuasa. Insyaallah, hingga pagi mahsyar, engkau akan memelihara umat Muhammad ﷺ yang mendapat rahmat ini, yang merupakan golongan terbesar, sebagai kumpulan besar dan golongan yang selamat di bawah sayap kelembutan serta rahmat Al-Qur'an, dengan nur Al-Qur'an.

Setelah Hazret-i Haydar, penyebar ilmu serta pengetahuan, orang yang mengetahui rahasia Al-Qur'an, yang mengumumkan dirinya kepada dunia di antara para sahabat agung dengan berkata, “Tanyakan kepadaku apa saja yang kalian kehendaki, akan kuberitahukan kepada kalian. Tanyakan kepadaku tentang masa lalu, kini, dan mendatang,” serta menjelaskan setiap kesulitan dan membuktikan dengan nyata hadis mulia

ﺍَﻧَﺎ ﻣَﺪِﻳﻨَﺔُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻭَ ﻋَﻠِﻰٌّ ﺑَﺎﺑُﻬَﺎ

; dan setelah Imam Ja'far, mahkota para mujtahid, yang berseru

ﺳَﻠُﻮﻧِﻰ ﻗَﺒْﻞَ ﺍَﻥْ ﺗَﻔْﻘِﺪُﻭﻧِﻰ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ لَايُحَدِّثُ ﺍَﺣَﺪٌ ﺑَﻌْﺪِﻯ

, kini engkau berada di dunia Islam. Wahai Risale-i Nur, pribadi maknawimu ialah yang ketiga di antara tiga penyeru yang datang dari limpahan mereka, tampil pada abad ini sambil berseru

ﺳَﻠُﻮﻧِﻰ ﻋَﻤَّﺎ ﺷِﺌْﺘُﻢْ

, membuka setiap teka-teki, menyingkirkan setiap penghalang, serta melewati setiap rintangan. Dengan manifestasi Asma Rahîm, Hakîm, serta Badî' yang menjadi bagianmu, dengan nur-Nya yang murni dan abadi, betapa banyak manifestasi, keindahan, serta pemandangan yang engkau perlihatkan kepada alam dari cerminmu yang tinggi dan jernih ini!

Di hadapan hakikat-hakikat iman Al-Qur'an, para peri menyusulmu, makhluk ruhani serta malaikat, ayah dan anak, kaya dan miskin, sahabat dan orang asing, duduk berlutut rapat dalam barisan yang sama pada lingkaran pelajaran serta cahayamu. Semuanya mendengarkanmu, memperoleh makanan, penyembuh, serta kegembiraan ruh darimu.

Üstad-ku, yang berkhidmah kepada dan menjadi juru penutur Risale-i Nur, ialah hamba Allah سُبْحَانَهُ, putra maknawi Imam Ali, dan murid Ghauts Yang Agung. Ia dikuatkan serta dimuliakan dengan Pertolongan Al-Haqq, bantuan Raja Kewalian, serta pertolongan seorang sultan seperti Abdul Qadir. Agaknya tugasnya dalam khidmah Al-Qur'an serta Nur belum selesai, dan pena takdir belum mengizinkan perjalanannya dari dunia fana ini ke alam yang kekal. Dengan pertolongan Hazret-i Muhammad ﷺ, sandaran alam-alam serta pemimpin manusia dan jin, ia mengubah setiap racun menjadi gula dan setiap gula menjadi kautsar. Dengan demikian, awan kesedihan serta kepedihan mencair dan buyar.

Karena murid-murid Nur yang diberkahi serta laksana cermin ini dan pribadi maknawimu, yang berdiri pada pintu Nur, berkhidmah kepada Al-Qur'an serta iman dengan menyinari orang bodoh dan berilmu, buta huruf dan arif, zalim dan terzalimi, pengingkar dan beriman, kawan dan lawan, baik dan buruk, hewan dan serangga, serta setiap makhluk bernyawa, dan yang membawa tanda asfia serta orang bertakwa, aku memandang kalian patut dan layak mendapat penghargaan serta ucapan selamat dari seluruh orang beriman dan ahli Al-Qur'an.

Wahai juru penutur Al-Qur'an! Orang yang mengambil pelajaran dan memiliki pandangan jernih, yang memandang dengan teliti serta saksama pribadi maknawi Risale-i Nur-mu yang merupakan cermin berkilau ini, jika berkehendak, dapat menyaksikan Rasul dari Bani Hasyim ﷺ pada cermin itu. Bahkan jika memandang lebih tajam, ia dapat melihat dahi keperakan serta wajah cemerlang bagai matahari dari Kekasih Ilahi ﷺ itu. Sekalipun bukan seorang alim, melainkan buta huruf, ia dapat membaca serta memahami surah mulia ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ, yang ditulis dengan Tangan Kudrat dan bersinar pada wajah sucinya.

Wahai mukjizat Al-Qur'an, wahai Nur Ar-Rahmân! Kini bawalah pula aku menghadap kemuliaan serta pengetahuan Üstad, juru penutur dan kepala penulismu, penyebar pikiran serta penyingkap rahasia, lalu biarkan aku berbicara dengannya.

Inilah pondok kecil serta sederhana tempat ia hidup, hampir kosong melompong. Sebuah kendi air dan sebuah cangkir, kompor minyak kecil dan sebuah mangkuk seng, serta tempat tidur sederhana. Selain beberapa barang yang sangat diperlukan dan terbatas itu, tidak terlihat apa-apa.

Persediaan serta bekal makanannya untuk sebulan, yang hanya sekitar satu kilogram, dibungkus kertas dan tergantung pada sebuah paku. Ada sebuah sajadah dan bagian-bagian Nur. Tiada jejak kekayaan dan harta, anak dan keluarga; tiada sejengkal tanah pun di bumi di bawah kepemilikan serta kuasanya. Inilah kamar serta barangnya yang lenyap dan fana; inilah pribadinya yang membujang serta menyendiri; dan inilah hidupnya yang pahit serta pedih. Betapa menyedihkan keadaannya, menjalani waktu sebagai orang buangan dan tahanan selama lebih dari dua puluh tahun! Siksaan serta gangguan ini membuat bulu kuduk berdiri dan menusuk hati. Mengapa kesabaran serta ketabahannya melampaui semuanya? Dengan pahala besar imam maksum yang mana dan mujtahid terzalimi yang mana ia akan dibandingkan serta ditimbang?

Seandainya liku-liku takdir serta derita ini tidak ada, apakah pabrik-pabrik Nur tidak akan bergerak serta bekerja? Seandainya serangan dan peracunan ini tidak dilakukan, seandainya pembuangan serta pengasingan ini tidak ada, apakah khazanah Rahmat Ilahi tidak akan meluap serta bergelora? Keadaan Üstad yang pedih ini membuat orang menangis dengan air mata darah. Namun ia puas dengan keadaannya, tidak mengeluh. Ia tidak merasa lemah sedikit pun, bahkan merasa gembira serta tenteram. Dalam hidup serba kekurangan ini ia memperoleh sesuatu yang ada dan tidak habis.

Sesuai jalan pewarisan, ia tidak pernah menerima atau mengambil zakat, yang disebut kotoran harta, karena tidak sesuai dengan dirinya serta jalannya dan tidak patut bagi golongan ulama. Ia bahkan menghindar serta menolak menerima hadiah dan pemberian, meskipun menerimanya tidak menimbulkan kerugian agama atau halangan syariat dan merupakan sunah.

Bahkan ia tidak menginginkan dan menolak gaji yang hendak ditentukan serta disediakan pemerintah republik baginya, dan rumah sempurna yang diputuskan akan dibangun khusus untuknya dengan pengeluaran ribuan lira. Sebelumnya, ia juga menolak serta menghindari jabatan bergaji tinggi yang ditawarkan di berbagai daerah, seperti penceramah umum negeri dan anggota parlemen.

Ia sama sekali tidak memandang dunia, para pengejar dunia, harta, atau barang. Ia sama sekali tidak bergelut dengan politik serta silang pendapat, dan tidak mengejar jubah tarikat atau golongan. Ia pun tidak menyukai orang yang demikian. Ia hanya berdiri pada pintu kubur sambil berkata

ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎُﻣُﻮﺭِ ﺩُﻧْﻴَﺎﻛُﻢْ

, lalu bekerja demi kekayaan abadi serta kebahagiaan selamanya. Ia peruntuh kebodohan dan orang yang berkhidmah kepada Nur.

Seandainya ia menginginkan dan menghendaki dunia, menerima hadiah serta pemberian, zakat serta sedekah, sumbangan serta pemberian untuk mencari berkah yang disuguhkan kepadanya, hari ini ia akan mempunyai kekayaan satu juta. Namun, persis seperti perkataan Umar, ia berkata, “Jika kutambah beban pada punggungku, aku tidak akan dapat menyusul Muhammad dari Arab ﷺ, hati jiwa berakal kainat serta Kekasih Allah سُبْحَانَهُ, dan para sahabatnya yang sempurna serta telah sampai kepada tujuan. Aku akan tertinggal di tengah jalan.”

Mengikuti serta menaati jawaban Sang Rasul ﷺ, “Aku pun meninggalkan serta mengorbankan semuanya demi Engkau!” terhadap Firman, “Seluruh benda serta langit Kuciptakan untukmu, Kekasih-Ku ﷺ!”, ia pun meninggalkan dunia beserta isinya, cinta serta kegandrungan kepadanya, bahkan meninggalkan sikap meninggalkan itu sendiri. Ia mencurahkan serta mengkhususkan seluruh khidmah, usaha, dan hidupnya yang berharga bagi penyebaran nur Al-Qur'an.

Karena itulah, seluruh kesusahan yang kini ditanggungnya menjadi rahmat, dan khidmah yang dilakukannya menjadi hikmah.

“Yang tidak mengenal anugerah dan murka sebagai satu hal, merasakan azab;

yang selamat dari azab itu lalu menjadi sultan, memahami kami.”

Juru penutur yang berkata seperti Mısrî-i Niyazi ini menerima setiap sesuatu dengan baik; ia menjadikan setetes air sebagai samudra, seorang manusia sebagai manusia sejati, dan nur yang diperolehnya dari Al-Qur'an sebagai sultan bagi alam.

Pastilah terdapat hikmah, makna, serta pertimbangan besar dalam cintanya yang amat kuat kepada bangsa Turki yang gagah berani ini, yang berabad-abad melayani umat manusia, Islam, serta Haramain yang mulia, dan dalam keputusannya menghabiskan bagian penting hidupnya di daerah yang dihuni bangsa Turki.

Demi kehormatan Kekasih Yang Paling Mulia ﷺ,

Demi darah yang mengalir di Karbala,

Demi mata yang menangis pada malam perpisahan,

Demi wajah yang terseret pada jalan cinta,

Berikan kemenangan kepada Risale-i Nur, Üstad, serta Islam, wahai Rabb! Amin!

Wahai Risale-i Nur! Semoga bintang masa depan orang-orang malang yang hendak memadamkanmu menjadi padam. Semoga kemuliaan, keberuntungan, keagungan, serta kehormatannya berbalik. Engkau nur yang tidak padam dan tidak mati.

Tubuhmu tinggi, matamu sayu; yang memandang menjadi Majnun, engkau Layla;

perkataanmu di bumi, pandanganmu di Arasy, hati terpikat kepadamu, wahai kekasih.

Cadarmu nur, pandanganmu nur, kitabmu nur, wahai nur;

asalmu Nurs, perangaimu ramah, intimu Idris, sosok tiada dua.

Mawar mekar, bulbul bernyanyi; pada wajahmu ada selendang halus;

di atasnya ditulis dengan nur

ﻗَﺎﺏَ ﻗَﻮْﺳَﻴْﻦِ ﺍَﻭْ ﺍَﺩْﻧٰﻰ

.

Tidakkah mereka yang melihat kebenaran darimu mengorbankan jiwa bagimu?

Perkataanmu benar, jalanmu benar, dan kedudukanmu Ka'bah Yang Tinggi.

ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﻟِﻴُﻄْﻔِﺆُﺍ ﻧُﻮﺭَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺎَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺘِﻢُّ ﻧُﻮﺭِﻩِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ

Üstad-ku, tuanku yang terhormat!

Aku menulis tulisan-tulisan ini dengan tangan, pena, serta lisan Risaletü'n-Nur, dan dengan secercah bunga api yang memancar darinya ke dalam hatiku yang hina ini. Aku memohon engkau menerimanya, mencium tanganmu dengan hormat, dan menantikan doa-doamu, tuanku.

Muridmu yang memerlukan doamu,

Hasan Feyzi

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺎﺭَﺣْﻤﻦُ ﻳَﺎﺭَﺣِﻴﻢُ ﻳَﺎﻓَﺮْﺩُ ﻳَﺎﺣَﻰُّ ﻳَﺎﻗَﻴُّﻮﻡُ ﻳَﺎﺣَﻜَﻢُ ﻳَﺎﻋَﺪْﻝُ ﻳَﺎﻗُﺪُّﻭﺱُ

Demi hak Ismul A'zham, demi kehormatan Al-Qur'an Yang Bermukjizat, serta demi kemuliaan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, Anugerahkan kebahagiaan yang kekal selamanya di surga Firdaus kepada mereka yang menulis serta mencetak kumpulan ini, para penolongnya yang diberkahi, serta para murid Risale-i Nur, amin. Dan Berikanlah selalu keberhasilan dalam khidmah iman serta Al-Qur'an, amin. Dan Catatkanlah seribu kebaikan dalam buku amal baik mereka bagi setiap huruf kumpulan ini, amin. Dan Anugerahkanlah keteguhan, kesinambungan, serta ikhlas dalam penyebaran Nur-Nur, amin.

Yâ Erhame'r-râhimîn! Bahagiakan seluruh murid Risale-i Nur di kedua alam, amin. Peliharalah mereka dari keburukan setan-setan manusia serta jin, amin. Dan Ampunilah kekurangan Said yang tak berdaya serta malang ini, amin...

Atas nama seluruh murid Nur

Said Nursî