Alhasil
Al-Maktubat · hlm. 34
Oleh sebab "Imâm Mubîn" berkedudukan sebagai sebuah rancangan dan sebuah fihris bagi pohon penciptaan (syajarah al-khilqah) yang menjulurkan dahan dan rantingnya ke sekeliling masa lampau, masa mendatang, dan alam gaib; maka "Imâm Mubîn" dalam makna ini adalah sebuah catatan takdir Ilahi, sebuah himpunan dustur (mecmua-i desatir). Dengan imlâ' (pendiktean) dan hukum dustur-dustur itulah zarah-zarah digerakkan menuju tugas-tugas dan gerak-geriknya di dalam wujud segala sesuatu.
Adapun "Kitâb Mubîn", ia lebih memandang alam syahâdah daripada alam gaib. Yakni, ia lebih menilik masa kini daripada masa lampau dan masa mendatang; dan ia lebih merupakan suatu sebutan, suatu catatan, dan suatu kitab bagi kudrat serta iradah Ilahi daripada bagi ilmu dan perintah. Jika "Imâm Mubîn" adalah catatan takdir, maka "Kitâb Mubîn" adalah catatan kudrat. Yakni: pada wujud, mahiyah (hakikat), sifat, dan syu'ûnât (keadaan-keadaan) segala sesuatu tampak kesempurnaan seni dan keteraturan, yang menunjukkan bahwa wujud dipakaikan kepadanya dengan dustur-dustur suatu kudrat yang sempurna dan dengan kanun-kanun (undang-undang) suatu iradah yang berlaku menembus (nâfidzah). Bentuk-bentuknya ditetapkan dan ditentukan; lalu kepada masing-masing diberikan suatu kadar tertentu dan suatu bentuk yang khusus. Berarti kudrat dan iradah itu memiliki suatu himpunan kanun yang kulli lagi umum, sebuah catatan teragung (defter-i ekber), yang menurutnya wujud-wujud khusus dan rupa-rupa istimewa dari setiap sesuatu dipotong, dijahit, dan dipakaikan. Adanya catatan inilah yang — sebagaimana "Imâm Mubîn" — telah dibuktikan dalam pembahasan-pembahasan takdir dan juz'-i ihtiyârî (kehendak bebas yang parsial). Lihatlah kebodohan para ahli kelalaian, kesesatan, dan filsafat: mereka merasakan Lauh Mahfuzh milik Kudrat Sang Fâthir (Pencipta) itu, serta penampakan (cilwe), pantulan, dan misal dari kitab yang penuh pandangan tajam (basîrah) milik hikmah dan iradah Rabbâniyah pada segala sesuatu; lalu — hâsyâ (Mahasuci Allah dari itu) — mereka menamainya "Tabiat", dan membutakan mata hati. Demikianlah, dengan imlâ' "Imâm Mubîn" — yakni dengan hukum dan dustur takdir — Kudrat Ilahi, dalam mengadakan segala sesuatu, menuliskan dan menciptakan rangkaian makhluk yang masing-masingnya adalah sebuah ayat, pada lembaran misâlî (bayangan) dari zaman yang disebut "Lauh Mahwu Itsbât" (Lauh Penghapusan dan Penetapan), serta menggerakkan zarah-zarah. Berarti gerak-gerik zarah — dalam perpindahan makhluk dari alam gaib ke alam syahâdah dan dari ilmu ke kudrat — adalah suatu getaran dan suatu gerakan yang timbul dari penulisan (kitâbah) dan penyalinan (istinsâkh) itu.
Adapun "Lauh Mahwu Itsbât", ia adalah sebuah catatan yang senantiasa berubah dan sebuah papan yang menulis lalu menghapus, milik Lauh Mahfuzh Yang Teragung (Levh-i Mahfuz-u A'zam) yang tetap dan kekal — di dalam lingkup kemungkinan (dâirah al-mumkinât), yakni pada segala sesuatu yang senantiasa menjadi mazhar (tempat penampakan) bagi kematian dan kehidupan, wujud dan kefanaan — dan itulah hakikat zaman. Ya, sebagaimana segala sesuatu memiliki suatu hakikat, maka hakikat dari sungai raksasa yang mengalir di alam semesta — yang kita sebut "zaman" — pun berkedudukan sebagai lembaran dan tinta bagi penulisan kudrat (kitâbah kudrat) pada "Lauh Mahwu Itsbât". لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ