Risale-i NurAl-Maktubat

Yang Pertama

Al-Maktubat · hlm. 33

Ini adalah hâsyiyah (catatan pinggir) bagi kalimat panjang pada Maksud Kedua dari Kelimat Ketiga Puluh, yang berkenaan dengan penjelasan tentang perubahan-perubahan zarah (tahavvülât-ı zerrat):

Dalam al-Qur'an al-Hakîm, "Imâm Mubîn" dan "Kitâb Mubîn" disebutkan secara berulang di banyak tempat. Sebagian ahli tafsir berkata, "Keduanya adalah satu"; sebagian lainnya berkata, "Keduanya berbeda-beda." Keterangan mereka mengenai hakikat keduanya pun beragam. Ringkasnya, mereka berkata, "Keduanya adalah sebutan bagi ilmu Ilahi (İlm-i İlahî)." Namun, dengan limpahan (feyz) al-Qur'an, muncullah dalam diriku suatu keyakinan demikian: "Imâm Mubîn" adalah suatu sebutan bagi salah satu jenis ilmu dan perintah Ilahi (emr-i İlahî), yang lebih memandang alam gaib daripada alam syahâdah (alam kasat mata). Yakni, ia lebih menilik masa lampau dan masa mendatang daripada masa kini. Yakni, ia lebih memandang asal, keturunan, akar, dan benih segala sesuatu daripada wujud lahiriahnya. Ia adalah sebuah catatan (defter) takdir Ilahi. Keberadaan catatan ini telah dibuktikan dalam Kelimat Kedua Puluh Enam, dan juga dalam hâsyiyah Kelimat Kesepuluh.

Ya, "Imâm Mubîn" ini adalah suatu sebutan bagi salah satu jenis ilmu dan perintah Ilahi. Yakni, permulaan (mabâdi'), akar, dan asal-usul segala sesuatu — dari sisi bahwa dengan kesempurnaan keteraturan (nizam) semuanya melahirkan wujud segala sesuatu secara amat penuh seni — sudah tentu menunjukkan bahwa semua itu ditata dengan sebuah catatan yang berisi dustur-dustur (kaidah-kaidah) ilmu Ilahi; dan hasil-hasil, keturunan, serta benih segala sesuatu — karena mengandung rancangan-rancangan dan fihris (daftar isi) bagi makhluk-makhluk yang akan datang kelak — sudah tentu memberitahukan bahwa ia adalah suatu himpunan kecil dari perintah-perintah Ilahi (evâmir-i İlahiyah). Misalnya: sebutir benih dapat dikatakan berkedudukan sebagai penjelmaan mungil dari rancangan-rancangan dan fihris yang akan menata seluruh susunan sebatang pohon, sekaligus dari perintah-perintah penciptaan (evâmir-i takwîniyah) yang menetapkan fihris dan rancangan itu.