Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 32

Sebagaimana keislaman tanpa iman bukanlah sebab keselamatan; demikian pula iman tanpa keislaman tidak dapat menjadi sebab keselamatan. Falillâhil-hamdu wal-minnah, dengan limpahan i'jâz maknawi al-Qur'an, timbangan-timbangan (mîzân) Risale-i Nur telah memperlihatkan buah-buah dan hasil-hasil dari agama Islam serta hakikat-hakikat Qur'aniyah dengan cara sedemikian rupa sehingga; sekalipun orang yang tak beragama memahaminya, mustahil ia tidak menjadi pendukungnya. Dan mereka telah memperlihatkan dalil-dalil dan bukti-bukti iman dan Islam dengan sedemikian kuatnya sehingga; sekalipun orang yang bukan muslim memahaminya, niscaya ia akan membenarkannya. Sekalipun ia tetap bukan muslim, ia pun beriman.

Ya, Kelimat telah memperlihatkan buah-buah iman dan keislaman yang manis lagi indah laksana buah-buah pohon Thûbâ di surga, serta hasil-hasilnya yang demikian menyenangkan lagi manis laksana keindahan-keindahan kebahagiaan dua negeri, sehingga menimbulkan pada orang-orang yang melihat dan mengenalnya suatu perasaan keberpihakan, iltizâm, dan penyerahan diri yang tak berhingga. Dan mereka telah memperlihatkan bukti-bukti iman dan Islam yang kuat laksana rangkaian mata rantai makhluk dan yang berlimpah laksana zarah-zarah, sehingga memberikan iz'ân dan kekuatan iman yang tak berhingga. Bahkan, adakalanya ketika aku mengucapkan syahadat dalam Aurad Syah Naqsyabandî, saat aku mengucapkan عَلٰى ذٰلِكَ نَحْيٰى وَ عَلَيْهِ نَمُوتُ وَ عَلَيْهِ نُبْعَثُ غَدًا, aku merasakan suatu keberpihakan yang tak berhingga. Sekiranya seluruh dunia diberikan kepadaku, aku tak sanggup mengorbankan satu pun hakikat keimanan. Membayangkan kebalikan suatu hakikat walau sekejap saja terasa amat menyakitkan bagiku. Sekiranya seluruh dunia menjadi milikku, nafsuku pun patuh untuk menyerahkannya tanpa ragu demi terwujudnya satu saja dari hakikat-hakikat keimanan. Saat aku mengucapkan وَ اٰمَنَّا بِمَا اَرْسَلْتَ مِنْ رَسُولٍ وَ اٰمَنَّا بِمَا اَنْزَلْتَ مِنْ كِتَابٍ وَ صَدَّقْنَا, aku merasakan kekuatan iman yang tak berhingga. Aku memandang kebalikan dari masing-masing hakikat keimanan sebagai kemustahilan menurut akal, dan aku memandang para ahli kesesatan sebagai orang-orang yang teramat dungu lagi gila.

Kepada kedua orang tuamu aku haturkan salam yang amat banyak serta rasa takzim. Hendaklah mereka pun mendoakanku. Karena engkau adalah saudaraku, maka mereka pun berkedudukan sebagai ayah dan ibuku. Dan kepada seluruh penduduk desamu, teristimewa kepada mereka yang mendengar "Kelimat" darimu, aku sampaikan salam secara umum. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى

Said Nursî