Alhasil
Al-Maktubat · hlm. 41
Demi kebaikan yang banyak, keburukan yang sedikit dapat diterima. Jika suatu keburukan sedikit yang membuahkan kebaikan yang banyak justru ditinggalkan agar keburukan sedikit itu tiada, maka pada waktu itu terjadilah keburukan yang banyak. Misalnya: dalam mengerahkan tentara ke medan jihad, tentu terdapat sebagian kerugian dan keburukan yang bersifat parsial, materiil, dan jasmani. Akan tetapi, di dalam jihad itu terdapat kebaikan yang banyak, yaitu selamatnya Islam dari serbuan orang-orang kafir. Seandainya jihad ditinggalkan demi keburukan yang sedikit itu, maka setelah kebaikan yang banyak itu lenyap, datanglah keburukan yang banyak; dan itulah kezaliman itu sendiri. Demikian pula, misalnya: memotong sebuah jari yang telah terkena gangren dan mesti dipotong adalah kebaikan dan hal yang baik, padahal secara lahiriah ia adalah suatu keburukan. Sebab, jika jari itu tidak dipotong, tangan pun akan terpotong, dan terjadilah keburukan yang banyak.
Maka, penciptaan dan pengadaan segala keburukan, kerugian, malapetaka, setan, dan segala yang membahayakan di alam semesta ini bukanlah keburukan dan bukan pula kekejian; sebab semuanya diciptakan demi banyak akibat yang penting. Misalnya: karena para malaikat tidak diganggu oleh setan, maka mereka tidak memiliki kemajuan; kedudukan mereka tetap dan tidak berubah. Demikian pula hewan-hewan, karena tidak diganggu oleh setan, maka derajat mereka tetap dan tidak sempurna. Adapun di alam kemanusiaan, tingkatan kemajuan dan kemerosotan tidaklah berhingga. Mulai dari para Namrud dan para Firaun, hingga para shiddîq dari kalangan wali dan nabi, terbentanglah suatu jarak kemajuan yang amat panjang.
Maka, guna membedakan dan memisahkan ruh-ruh yang hina bagaikan arang dari ruh-ruh yang tinggi bagaikan intan, dengan penciptaan setan-setan, rahasia taklif, dan pengutusan para nabi, dibukalah suatu medan ujian, percobaan, jihad, dan perlombaan. Seandainya tiada mujahadah dan perlombaan, niscaya potensi-potensi yang berkedudukan sebagai intan dan arang di dalam tambang kemanusiaan akan tetap tinggal bersama-sama. Ruh Abû Bakar ash-Shiddîq yang berada di puncak tertinggi ('a'lâ 'illiyyîn) akan tetap sederajat dengan ruh Abû Jahal yang berada di dasar yang paling hina (asfal sâfilîn). Maka, penciptaan setan-setan dan keburukan, karena memandang kepada akibat yang besar lagi menyeluruh, pengadaannya bukanlah keburukan dan bukan pula kekejian; melainkan keburukan-keburukan dan kekejian-kekejian yang timbul dari penyalahgunaan dan dari tindakan khusus yang disebut kasb itu adalah milik kasb manusia, bukan milik pengadaan Ilahi.
Seandainya kalian bertanya:
Bersamaan dengan pengutusan para nabi, disebabkan keberadaan setan-setan, kebanyakan manusia menjadi kafir, jatuh ke dalam kekufuran, dan mengalami kerugian. Menurut kaidah "al-hukmu lil-aktsar" (hukum itu mengikuti yang terbanyak), jika mayoritas justru menerima keburukan darinya, maka pada waktu itu penciptaan keburukan adalah keburukan; bahkan bolehkah dikatakan bahwa pengutusan para nabi pun bukanlah rahmat?