Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 42
Kuantitas tidaklah berarti jika dibandingkan dengan kualitas. Mayoritas yang sesungguhnya adalah yang memandang kepada kualitas. Misalnya: seandainya terdapat seratus biji kurma, jika ia tidak ditanam di dalam tanah, tidak diberi air, tidak mengalami proses kimiawi, dan tidak memperoleh suatu perjuangan kehidupan, maka ia hanyalah seratus biji yang bernilai seratus duit. Akan tetapi, ketika ia diberi air dan mengalami perjuangan kehidupan, lalu delapan puluh di antaranya rusak disebabkan buruknya watak, sedangkan dua puluh menjadi dua puluh pohon kurma yang berbuah — dapatkah engkau berkata, "Pemberian air itu menjadi keburukan, ia merusak kebanyakannya"? Tentulah engkau tidak dapat mengatakannya. Sebab, dua puluh itu telah bernilai dua puluh ribu. Yang kehilangan delapan puluh namun memperoleh dua puluh ribu tidaklah merugi, dan itu bukanlah keburukan. Demikian pula, misalnya: seandainya terdapat seratus butir telur burung merak, dari segi telur ia bernilai lima ratus kurus. Akan tetapi, jika seekor merak dieramkan di atas seratus telur itu, lalu delapan puluh di antaranya rusak sedangkan dua puluh menjadi dua puluh ekor burung merak — dapatkah dikatakan, "Telah terjadi banyak kerugian, tindakan ini menjadi keburukan, pengeraman ini menjadi keji dan buruk"? Tidak, tidaklah demikian, bahkan itu adalah kebaikan. Sebab, bangsa merak dan kaum telur itu kehilangan delapan puluh telur yang berharga empat ratus kurus, namun memperoleh dua puluh ekor burung merak yang bernilai delapan puluh lira.
Demikianlah, umat manusia — sebagai ganti dari matahari-matahari, bulan-bulan, dan bintang-bintang alam kemanusiaan, yakni ratusan ribu nabi, jutaan wali, dan miliaran asfiya yang mereka peroleh melalui pengutusan para nabi, rahasia taklif, mujahadah, dan peperangan melawan setan-setan — telah kehilangan orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang tergolong jenis hewan yang membahayakan, yang banyak dari segi kuantitas namun tak berarti dari segi kualitas.