Risale-i NurAl-Maktubat

Alhasil

Al-Maktubat · hlm. 212

Terhadap empat puluh lapisan yang berbeda-beda dan kepada manusia yang bermacam-macam, Al-Qur'an al-Hakîm memperlihatkan kemukjizatannya dari empat puluh segi, atau membuat wujud kemukjizatannya terasa. Ia tiada membiarkan seorang pun terhalang. Bahkan terhadap lapisan yang hanya memiliki mata{(Catatan Kaki-1): Segi kemukjizatan terhadap lapisan yang hanya memiliki mata; yang tiada bertelinga dan tiada berkalbu, di sini tinggal amat ringkas, singkat, dan tiada lengkap. Akan tetapi segi kemukjizatan ini telah diperlihatkan dengan amat gemilang, bercahaya, jelas, lagi nyata dalam Surat Kedua Puluh Sembilan dan Ketiga Puluh (Surat Ketiga Puluh telah digambarkan dan diniatkan dengan amat cemerlang; akan tetapi ia menyerahkan tempatnya kepada yang lain, yaitu Isyârâtul I'jâz. Ia sendiri tiada tampil ke hadapan.), bahkan orang-orang buta pun dapat melihatnya. Telah kami tuliskan sebuah Al-Qur'an yang akan memperlihatkan segi kemukjizatan itu. Insya Allah akan dicetak, dan setiap orang pun akan melihat segi yang indah itu.}, yang tiada bertelinga, tiada berkalbu, dan tiada berilmu pun, Al-Qur'an memiliki satu jenis tanda kemukjizatan. Yakni demikian:

Kata-kata yang tertulis dalam Al-Qur'an Mu'jizul Bayân yang bertuliskan khat Hâfizh Utsman dan cetakannya, saling berhadapan satu sama lain. Misalnya: dalam Surah al-Kahf, jika lembaran-lembaran di bawah kata وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ dilubangi; maka kata قِطْم۪يرٍ dalam Surah Fâthir akan tampak dengan sedikit penyimpangan, dan nama anjing itu pun akan diketahui. Dan dalam Surah Yâsîn, dua kali مُحْضَرُونَ berada tepat satu di atas yang lain; sedangkan مُحْضَر۪ينَ dan مُحْضَرُونَ dalam Surah ash-Shâffât berhadapan satu sama lain sekaligus berhadapan dengan keduanya; jika salah satu dilubangi, yang lain akan tampak dengan sedikit penyimpangan. Misalnya: pada akhir Surah Saba' dan pada awal Surah Fâthir, dua kata مَثْنٰى saling berhadapan. Dalam seluruh Al-Qur'an hanya ada tiga مَثْنٰى, dan berhadapannya dua di antaranya tiadalah dapat terjadi secara kebetulan. Dan yang serupa dengan ini amatlah banyak. Bahkan sebuah kata, di lima-enam tempat, di balik lembaran-lembaran, saling berhadapan dengan sedikit penyimpangan. Dan aku telah melihat sebuah Al-Qur'an yang pada dua halamannya yang saling berhadapan, kalimat-kalimatnya yang saling berhadapan ditulis dengan pena merah. Kala itu aku berkata: "Keadaan ini pun merupakan tanda dari satu jenis mukjizat." Setelah itu aku memperhatikan bahwa: Al-Qur'an memiliki banyak kalimat yang saling berhadapan di balik beberapa lembaran, yang berhadapan satu sama lain dengan cara yang penuh makna. Maka, karena susunan Al-Qur'an terjadi dengan bimbingan Nabi صلى الله عليه وسلم, dan Al-Qur'an-Al-Qur'an yang tersebar lagi tercetak pun terjadi dengan ilham Ilahi; pada ukiran Al-Qur'an al-Hakîm dan pada khatnya itu terdapat isyarat satu jenis tanda kemukjizatan. Sebab keadaan itu bukanlah hasil kebetulan dan bukan pula buah pikiran manusia. Akan tetapi ada beberapa penyimpangan, dan itu adalah kekurangan cetakan; sekiranya benar-benar teratur, niscaya kata-kata itu akan jatuh tepat satu di atas yang lain.

Dan lagi, pada tiap-tiap halaman surah-surah pertengahan dan panjang dalam Al-Qur'an yang turun di Madinah, "Lafzhullah" (lafal Allah) diulang dengan cara yang amat menakjubkan. Pada umumnya, dengan pengulangan sebanyak entah lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, atau sebelas kali, ia memperlihatkan suatu keselarasan bilangan yang indah lagi penuh makna pada kedua muka satu lembaran dan pada halaman yang saling berhadapan.

(Catatan Kaki-1): Dan lagi, terhadap ahli zikir dan munajat, kendati keistimewaan balâghah Al-Qur'an — lafalnya yang berhias lagi berima, uslubnya yang fasih lagi berseni, dan balâghah yang menarik pandangan kepada dirinya — itu amatlah banyak; ia justru menganugerahkan kesungguhan yang luhur, kehadiran Ilahi, dan kekhusyukan hati, tiada merusaknya. Padahal keistimewaan fasâhah, seni lafal, sajak, dan rima yang semacam itu; merusak kesungguhan, menyisipkan aroma keluwesan yang berlebihan, mengganggu kekhusyukan, dan mencerai-beraikan pandangan. Bahkan aku kerap membaca sebuah munajat masyhur karya Imam Syâfi'î — munajat yang paling lembut, paling sungguh-sungguh, paling luhur sajaknya, lagi menjadi sebab terangkatnya bencana kelaparan dan kelangkaan di Mesir; aku dapati bahwa: karena ia bersajak dan berima, ia merusak kesungguhan luhur munajat itu. Sudah delapan-sembilan tahun ia menjadi wiridku. Aku tiada dapat memadukan kesungguhan yang hakiki dengan rima dan sajak yang ada padanya. Dari situ aku memahami bahwa: pada rima-rima Al-Qur'an yang khas, fitri, lagi istimewa, serta pada sajak dan keistimewaannya, terdapat satu jenis kemukjizatan yang; memelihara kesungguhan yang hakiki dan kekhusyukan yang sempurna, tiada merusaknya. Maka, ahli munajat dan zikir, meskipun tiada memahami jenis kemukjizatan ini secara akal, ia merasakannya dengan kalbu.

(Catatan Kaki-2): Suatu rahasia kemukjizatan maknawi Al-Qur'an Mu'jizul Bayân adalah demikian: Al-Qur'an mengungkapkan derajat iman yang teramat besar lagi teramat gemilang dari Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang menjadi tempat pancaran Ism-i A'zham. Dan lagi, bagai sebuah peta yang suci, ia mengungkapkan dan mengajarkan secara fitri martabat luhur agama yang haq — agama yang teramat besar, luas, lagi tinggi, yang menerangkan hakikat-hakikat tinggi alam akhirat dan alam rububiyah. Dan lagi, ia mengungkapkan khithab Sang Khâliq alam semesta, dari segi sebagai Rabb bagi segenap makhluk, dengan izzah dan keagungan-Nya yang tiada terhingga. Sudah tentu, terhadap ungkapan al-Furqân yang sedemikian dan penjelasan Al-Qur'an yang sedemikian, dengan rahasia قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَاْتُوا بِمِثْلِ هٰذَا اْلقُرْاٰنِ لاَ يَاْتُونَ بِمِثْلِه۪, sekiranya segenap akal manusia bersatu — bahkan sekiranya menjadi satu akal saja — niscaya ia tiada dapat menghadapinya dan tiada dapat menandinginya. اَيْنَ الثَّرَا مِنَ الثُّرَيَّا Sebab dari ketiga segi pandang yang mendasar ini, ia sama sekali tiada dapat ditiru dan tiada dapat diserupai!..

(Catatan Kaki-3): Pada akhir segenap halaman Al-Qur'an al-Hakîm, ayat berakhir dengan sempurna. Penghujungnya berakhir dengan rima yang indah. Rahasianya adalah demikian: karena ayat Mudâyanah (ayat utang) yang merupakan ayat terpanjang dijadikan satuan ukuran baku bagi halaman, dan Surah al-Ikhlâsh serta al-Kautsar bagi baris, maka tampaklah keistimewaan yang indah dan tanda kemukjizatan Al-Qur'an al-Hakîm ini.

(Catatan Kaki-4): Pada mabhas ini dari maqam ini, karena bencana ketergesaan, telah dicukupkan dengan keadaan yang amat sedikit lagi sebagian, dengan contoh-contoh yang teramat pendek dan tanda-tanda yang teramat kecil, dari suatu karâmah yang amat penting, agung, lagi besar, dan — dari sisi keberhasilan Risale-i Nur — amat berhias, menawan, lagi membangkitkan semangat. Padahal hakikat yang besar dan karâmah yang menawan itu, dengan lima-enam jenisnya yang bernama tawâfuq, membentuk suatu silsilah karâmah Risale-i Nur, kilau-kilau dari satu jenis kemukjizatan Al-Qur'an yang terlihat oleh mata, dan suatu sumber isyarat dari rumus-rumus gaib. Kemudian, telah dituliskan sebuah Al-Qur'an dengan tinta emas yang memperlihatkan suatu kilau kemukjizatan yang timbul dari tawâfuq "Lafzhullah" dalam Al-Qur'an. Dan lagi, delapan risalah kecil yang bernama Rumûzâtus Tsamâniyah disusun untuk menerangkan keselarasan yang lembut dan isyarat-isyarat gaib yang timbul dari tawâfuq huruf-huruf Al-Qur'an. Dan lagi, telah ditulis lima risalah yang bernama Karâmah Ghautsiyah, tiga Karâmah Alawiyah, dan Isyârât Qur'âniyah, yang membenarkan, menghargai, dan memuji Risale-i Nur dengan rahasia tawâfuq. Berarti dalam penyusunan Mu'jizât Ahmadiyah, hakikat yang besar itu telah dirasakan secara ringkas; akan tetapi sayang sekali, penulis hanya melihat dan memperlihatkan sekuku saja darinya, lalu berlari pergi tanpa menoleh lagi ke belakangnya.