Asas Keenam
Al-Maktubat · hlm. 107
Keadaan dan sifat-sifat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم telah diterangkan dalam bentuk Sirah dan Sejarah. Akan tetapi, sifat dan keadaan yang dominan itu memandang pada sisi kemanusiaan beliau. Padahal kepribadian maknawi dan hakikat kudus Zat yang penuh berkah itu demikian tinggi dan nurani, sehingga sifat-sifat yang diterangkan dalam Sirah dan Sejarah tidak sepadan dengan perawakan yang luhur itu, tidak sesuai dengan nilai yang tinggi itu. Sebab, sesuai rahasia اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ: setiap hari, bahkan sekarang pun, suatu ibadah agung sebesar seluruh ibadah umatnya ditambahkan ke dalam lembaran kesempurnaannya. Sebagaimana beliau menjadi tempat pancaran rahmat Ilahi yang tak terhingga, dengan cara yang tak terhingga dan dengan potensi (istidad) yang tak terhingga, demikian pula setiap hari beliau menjadi tempat tertujunya doa yang tak terhitung dari umatnya yang tak terhitung. Dan hakikat kesempurnaan serta seluruh mahiyat Zat yang penuh berkah itu — yang merupakan hasil alam semesta ini dan buahnya yang paling sempurna, penerjemah dan kekasih Khâliq alam semesta — tidaklah dapat termuat dalam keadaan dan tingkah laku manusiawi yang tercatat dalam Sirah dan Sejarah. Misalnya: Zat penuh berkah yang di Perang Badar didampingi oleh Hazrat Jibrîl dan Mîkâîl bagai dua ajudan pengawal, tidaklah dapat termuat dalam tingkah laku yang tampak ketika beliau berselisih di dalam pasar dengan seorang Arab badui dalam pembelian seekor kuda, lalu menunjukkan Huzaifah sebagai satu-satunya saksi.
Maka, agar tidak keliru, setiap kali di tengah sifat-sifat biasa yang terdengar dari sisi kemanusiaan beliau, haruslah kita mengangkat kepala dan memandang kepada hakikat beliau yang sejati dan kepada kepribadian maknawi nurani beliau yang berdiri pada martabat risalah. Jika tidak, seseorang akan berlaku tidak hormat atau jatuh dalam keraguan. Untuk menjelaskan rahasia ini, dengarkanlah perumpamaan berikut:
Misalnya, ada sebutir biji kurma. Biji kurma itu diletakkan di dalam tanah, lalu terbelah dan menjadi sebatang pohon besar yang berbuah. Ia pun kian meluas dan membesar. Atau, ada sebutir telur burung merak. Telur itu diberi kehangatan, lalu keluarlah seekor anak merak. Kemudian ia menjadi seekor burung merak yang sempurna, yang seluruh bagiannya tertulis dan berhias keemasan oleh kudrat. Ia pun kian membesar dan bertambah indah. Nah, biji dan telur itu memiliki sifat-sifat dan keadaan tersendiri. Di dalamnya terdapat zat-zat yang amat halus. Dan pohon serta burung yang lahir darinya pun memiliki sifat-sifat dan keadaan yang besar dan luhur, dibandingkan dengan keadaan dan kondisi biji serta telur yang kecil dan biasa itu. Sekarang, dalam membicarakan sifat biji dan telur itu dengan mengaitkannya pada sifat pohon dan burung, haruslah setiap kali akal manusia mengangkat kepalanya dari biji menuju pohon dan mengarahkan pandangannya dari telur menuju burung. Supaya akalnya dapat menerima sifat-sifat yang didengarnya. Jika tidak — bila dikatakan "Dari sebutir biji seharga satu dirham aku memperoleh seribu batman kurma," dan "Telur ini adalah sultan segala burung di angkasa raya" — ia akan tergelincir kepada pendustaan dan pengingkaran.
Nah, demikian pula, sisi kemanusiaan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم menyerupai biji dan telur itu. Sedangkan mahiyat beliau yang bersinar dengan tugas risalah adalah bagai Pohon Thûbâ dan bagai burung mulia (thayr-ı humâyûn) di surga. Bahkan ia senantiasa dalam kesempurnaan. Karena itu, ketika seseorang memikirkan Zat yang berselisih dengan seorang badui di dalam pasar itu, haruslah ia mengangkat mata khayalnya dan memandang kepada Zat Nurani beliau yang menaiki Refref, meninggalkan Jibrîl di belakang, dan bergegas menuju Qâba Qausain. Jika tidak, ia akan berlaku tidak hormat, atau nafsu ammârah-nya tidak akan percaya.