Asas Kelima
Al-Maktubat · hlm. 106
Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, sesuai dengan rahasia لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ, tidaklah mengetahui yang gaib dengan sendirinya; melainkan Cenâb-ı Haqq-lah yang memberitahukannya kepada beliau, lalu beliau pun memberitahukannya. Cenâb-ı Haqq itu Hakîm sekaligus Rahîm. Adapun hikmah dan rahmat-Nya menuntut agar sebagian besar perkara gaib disembunyikan, dan menghendaki agar tetap samar. Sebab, di dunia ini hal-hal yang tidak menyenangkan manusia justru lebih banyak. Mengetahuinya sebelum terjadi adalah menyakitkan.
Justru karena rahasia inilah: kematian dan ajal dibiarkan samar, dan musibah-musibah yang akan menimpa manusia pun tetap berada di balik tabir gaib. Maka, karena hikmah Rabbani dan rahmat Ilahi menuntut demikian — supaya tidak terlalu melukai belas kasih Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang amat halus terhadap umatnya, dan supaya tidak terlalu menyakiti kasih sayang beliau yang sangat mendalam terhadap keluarga dan para sahabatnya — maka setelah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم, peristiwa-peristiwa dahsyat yang menimpa keluarga, para sahabat, dan umatnya tidak diperlihatkan secara umum dan terperinci
{(Catatan Kaki): Adapun bukti bahwa — demi tidak melukai kecintaan dan kasih sayang Zat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم yang mendalam terhadap Âisyah ash-Shiddîqah — tidak diperlihatkan secara pasti bahwa beliau (Âisyah) akan hadir dalam peristiwa Perang Jamal, adalah bahwa beliau صلى الله عليه وسلم bersabda kepada para istri yang suci (Azwâj Thâhirât): "Andai aku tahu, siapakah di antara kalian yang akan hadir dalam peristiwa itu?" Namun kemudian, secara samar telah diberitahukan, sebab beliau صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Hazrat Ali (r.a.): "Jika terjadi suatu peristiwa antara engkau dan Âisyah, فَارْفَقْ وَ بَلِّغْهَا مَاْمَنَهَا }
adalah tuntutan hikmah dan rahmat. Namun demikian, karena beberapa hikmah, peristiwa-peristiwa penting — tetapi tidak dengan cara yang mengerikan — telah diajarkan kepada beliau. Beliau pun mengabarkannya. Beliau juga memberitahukan peristiwa-peristiwa yang indah, sebagian secara ringkas dan sebagian dengan perincian. Beliau pun mengabarkannya. Dan kabar-kabar beliau itu telah diriwayatkan kepada kita secara sahih oleh para muhaddis yang sempurna (muhaddisîn kâmilîn) — yang berjuang pada derajat takwa, keadilan, dan kejujuran yang paling tinggi, yang sangat takut akan ancaman dalam hadis وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّاْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ, dan yang sangat menghindar dari ancaman keras dalam ayat فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ.