Risale-i NurAl-Maktubat

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Al-Maktubat · hlm. 18

Imam Rabbani (R.A.), sang pahlawan dan salah satu matahari silsilah Naqsyabandiyah, telah berkata di dalam Mektubat-nya: "Tersingkapnya satu masalah dari hakikat-hakikat keimanan lebih kuutamakan daripada ribuan kelezatan ruhani, temuan-temuan batin, dan karâmah."

Ia berkata pula: "Titik puncak dari seluruh tarekat ialah kejelasan dan tersingkapnya hakikat-hakikat keimanan."

Ia berkata pula: "Wilâyah (kewalian) itu terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, wilâyah shughrâ, yaitu kewalian yang masyhur. Kedua, wilâyah wusthâ. Ketiga, wilâyah kubrâ. Adapun wilâyah kubrâ ialah membuka jalan menuju hakikat secara langsung, melalui jalan pewarisan nubuwwah, tanpa memasuki barzakh tasawuf."

Ia berkata pula: "Di dalam tarekat Naqsyabandiyah, sulûk ditempuh dengan dua sayap." Yakni: hal itu terlaksana dengan meyakini hakikat-hakikat keimanan secara kukuh dan menunaikan kewajiban-kewajiban agama. Jika pada kedua sayap ini terdapat cacat, jalan itu tak dapat ditempuh. Kalau demikian, tarekat Naqsyabandiyah memiliki tiga tirai: