Yang Kedua
Al-Maktubat · hlm. 17
Tiba-tiba terlintaslah di benakku suatu petikan nan indah, yang diucapkan perihal tarekat Naqsyabandî: "Der tarîk-ı Nakşibendî lâzım âmed çâr terk; terk-i dünya, terk-i ukbâ, terk-i hestî, terk-i terk." Bersamaan dengan lintasan itu, tiba-tiba terbit pula petikan berikut:
"Der tarîk-ı acz-mendî lâzım âmed çâr çîz: fakr-ı mutlak, acz-i mutlak, şükr-ü mutlak, şevk-i mutlak ey aziz!"
Kemudian, teringatlah aku akan syair nan penuh warna lagi kaya makna yang engkau tulis: "Pandanglah lembaran berwarna-warni dari kitab alam semesta, dan seterusnya.." Dengan syair itu, aku memandang bintang-bintang di wajah langit. Aku pun berkata: "Alangkah baiknya seandainya aku seorang penyair, niscaya kusempurnakan syair ini." Padahal, walau tiada padaku bakat dalam syair dan gubahan, tetap juga kumulai; namun aku tak sanggup menggubah wazan dan syair; sebagaimana ia terbetik di benak, begitulah kutuliskan. Engkau, yang menjadi pewarisku, jika mau, ubahlah ia menjadi bait bersajak, dan tatalah ia. Inilah yang tiba-tiba terlintas:
Dengarkanlah bintang-gemintang akan khotbahnya nan manis ini,
pandanglah apa gerangan yang telah dipaparkan oleh warkat cahaya hikmah.
Serentak semuanya angkat bicara, dengan lidah kebenaran mereka berujar:
Bagi keagungan kesultanan Sang Qadîr Dzul-Jalâl,
kamilah masing-masing sebuah bukti pemancar cahaya; dan bagi wujud Sang Pembuat,
bagi keesaan dan bagi kudrat, kamilah para saksi.
Yang menyepuh wajah bumi ini
dengan mukjizat-mukjizat nan jelita, demi tamasya para malaikat.
Kamilah — dari langit ini — yang memandang ke bumi dan menatap ke surga,
ribuan mata nan penuh ketelitian.
{(Hâşiye): Yakni: karena di wajah bumi — yang menjadi persemaian dan ladang kecil bagi bunga-bunga surga — dipertontonkan mukjizat-mukjizat kudrat yang tiada terhingga, maka sebagaimana para malaikat di alam langit menyaksikan mukjizat dan keajaiban itu, demikian pula bintang-bintang yang berkedudukan sebagai mata bagi jasad-jasad samawi (benda-benda langit) — seolah-olah bagai para malaikat — setiap kali menyaksikan ciptaan-ciptaan nan jelita di wajah bumi, mereka memandang ke alam surga; dan seakan-akan mereka pun turut menyaksikan keajaiban-keajaiban yang fana itu dalam wujud yang kekal di surga pula — begitulah mereka memandang kepada bumi dan kepada surga. Yakni: maksudnya, mereka memiliki pengawasan atas kedua alam itu.}
Dari pohon Tûbâ penciptaan, menjulur ke belahan langit,
ke seluruh ranting galaksi (Bima Sakti)..
yang disematkan oleh tangan hikmah Sang Jamîl Dzul-Jalâl —
kamilah buah-buah nan teramat elok.
Bagi para penghuni langit ini, kamilah masing-masing sebuah masjid pengembara,
sebuah rumah yang berputar, sebuah sarang nan tinggi lagi mulia,
sebuah pelita nan benderang, sebuah bahtera nan perkasa,
sebuah pesawat terbang — itulah kami.
Bagi Sang Qadîr Dzul-Kamâl, bagi Sang Hakîm Dzul-Jalâl,
kamilah masing-masing sebuah mukjizat kudrat, sebuah keajaiban seni penciptaan Sang Khâliq,
sebuah keajaiban langka dari hikmah, sebuah keajaiban agung penciptaan,
sebuah alam cahaya — itulah kami.
Demikianlah, dengan seratus ribu lidah kami tunjukkan seratus ribu bukti,
kami perdengarkan kepada insan yang benar-benar insan.
Mata si tak beriman yang celaka — semoga buta — tiada lagi melihat wajah kami,
dan tiada pula mendengar tutur kami; padahal kamilah ayat-ayat yang menuturkan kebenaran.
Cap kami satu, tera kami satu; kepada Rabb kami senantiasa kami bertasbih, kami berzikir bak hamba yang taat.
Kamilah masing-masing sang majzub yang tergabung dalam lingkaran teragung Bima Sakti. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى
Said Nursî