بِاسْمِهِ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Al-Maktubat · hlm. 26
Ada banyak hikmah pada masuknya nama-nama الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ ke dalam بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ dan pada penyebutannya di permulaan setiap sesuatu yang diberkahi. Dengan menangguhkan penjelasan tentangnya ke waktu yang lain, untuk saat ini aku hendak menuturkan suatu perasaan yang menjadi milikku sendiri:
Saudaraku, aku memandang nama-nama الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ sebagai suatu nur teragung, sedemikian rupa sehingga keduanya meliputi seluruh alam semesta, akan memuaskan segenap kebutuhan abadi setiap ruh, serta akan mengamankannya dari musuh-musuhnya yang tiada terhingga — keduanya tampak bercahaya lagi perkasa. Wasilah terpenting yang kudapati untuk mencapai kedua nama yang merupakan nur teragung ini adalah: kefakiran disertai syukur, dan ketidakberdayaan disertai syafqat. Yakni: ubudiyah dan iftikar. Sehubungan dengan masalah ini, terlintaslah suatu hal di benakku, dan dengan menyelisihi para muhaqqiq — bahkan menyelisihi salah seorang Ustadku, yaitu Imam Rabbani — aku berkata: Perasaan yang kuat lagi bergelora dari Nabi Ya'qûb Alaihissalâm terhadap Yûsuf Alaihissalâm bukanlah mahabbah dan cinta; melainkan syafqat. Sebab, syafqat itu jauh lebih tajam, lebih cemerlang, lebih luhur, dan lebih suci daripada cinta dan mahabbah, serta layak bagi maqam nubuwwah. Akan tetapi mahabbah dan cinta, apabila berada pada derajat yang demikian kuat terhadap para kekasih majazi dan terhadap makhluk, tidaklah layak bagi maqam nubuwwah nan tinggi itu. Maka, perasaan Ya'qubiyah — yang ditampakkan oleh Al-Qur'an Yang Mahabijaksana dengan suatu i'jaz yang cemerlang dalam bentuk yang cemerlang pula, serta yang menjadi wasilah untuk sampai kepada asma Rahîm — adalah suatu derajat syafqat yang tinggi. Adapun cinta yang menjadi wasilah untuk sampai kepada asma Wadûd, ia terdapat dalam masalah mahabbah Zulaikhâ terhadap Yûsuf Alaihissalâm. Maka, sebagaimana Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat menampakkan perasaan Nabi Ya'qûb Alaihissalâm lebih tinggi daripada perasaan Zulaikhâ, sejauh itu pula syafqat tampak lebih tinggi daripada cinta. Ustadku, Imam Rabbani, karena tidak memandang cinta majazi begitu sesuai dengan maqam nubuwwah, berkata: "Karena keindahan-keindahan Yusufiyah termasuk jenis keindahan ukhrawi, maka mahabbah kepadanya bukanlah termasuk jenis mahabbah-mahabbah majazi sehingga menjadi suatu cela." Aku pun berkata: "Wahai Ustad! Itu adalah takwil yang dipaksakan; hakikatnya haruslah demikian: bahwa ia bukanlah mahabbah, melainkan suatu martabat syafqat yang seratus kali lebih cemerlang, lebih luas, dan lebih tinggi daripada mahabbah." Ya, syafqat dengan segala macamnya adalah lembut lagi suci. Adapun cinta dan mahabbah, terhadap banyak macamnya seseorang tidak sudi merendahkan diri.
Lagi pula, syafqat itu amat luas. Seseorang, dengan perantaraan anak yang ia sayangi, meliputkan syafqatnya kepada seluruh anak, bahkan kepada segenap makhluk bernyawa, dan menampakkan semacam pencerminan bagi keluasan asma Rahîm. Sedangkan cinta, ia memusatkan pandangannya semata-mata kepada kekasihnya dan mengorbankan segala sesuatu demi kekasihnya; atau, demi meninggikan dan memuji kekasihnya, ia merendahkan yang lain, mencela mereka secara maknawi, serta mematahkan kehormatan mereka. Misalnya, seseorang pernah berkata: "Matahari, tatkala melihat keindahan kekasihku, menjadi malu; dan agar tidak memandangnya, ia menarik tabir awan ke atas kepalanya." Hai tuan pecinta! Apa hakmu sehingga engkau mempermalukan Matahari — yang merupakan satu halaman bercahaya dari delapan asma a'zam — sedemikian rupa?
Lagi pula, syafqat itu tulus, tiada menuntut balasan; ia jernih lagi tanpa pamrih. Bahkan, syafqat penuh pengorbanan tanpa imbalan yang dimiliki hewan-hewan pada tingkatan paling rendah sekalipun terhadap anak-anaknya menjadi bukti atas hal ini. Sedangkan cinta menuntut upah dan meminta balasan. Tangisan-tangisan cinta itu merupakan semacam tuntutan, semacam permintaan akan upah.
Maka, syafqat Nabi Ya'qûb Alaihissalâm — yang merupakan cahaya paling cemerlang dari Surah Yûsuf, yaitu surah yang paling cemerlang di antara surah-surah Al-Qur'an — menunjukkan asma Rahmân dan Rahîm, memberitahukan bahwa jalan syafqat adalah jalan rahmat, dan sebagai penawar bagi derita syafqat itu, ia pun menuntun untuk mengucapkan فَاللّٰهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ اَرْحَمُ الرَّاحِم۪ينَ. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى
Said Nursî