Bagian Kedua
Al-Maktubat · hlm. 102
Yaitu "wahyu zimnî (implisit)". Garis besar dan intisari bagian ini bersandar kepada wahyu dan ilham; tetapi perincian dan penggambarannya adalah wewenang Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Dalam memerinci dan menggambarkan peristiwa global yang datang dari wahyu itu, Zat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم kadang kala bersandar pula kepada ilham atau wahyu lalu menerangkannya, atau menerangkannya dengan firasatnya sendiri. Dan perincian serta penggambaran yang beliau lakukan dengan ijtihadnya sendiri, kadang beliau terangkan — dari sisi tugas risalah — dengan kekuatan kudsi yang luhur, atau beliau terangkan — dari sisi kemanusiaannya — sesuai dengan tingkat adat, kebiasaan, dan pemikiran umum (efkâr-ı âmme).
Nah, tidaklah seluruh perincian pada setiap hadis dipandang dari sisi wahyu murni (mahdh). Pada pemikiran dan muamalah yang merupakan tuntutan kemanusiaan, tidaklah dicari peninggalan (âsâr) risalah yang luhur. Karena sebagian peristiwa datang kepada beliau secara wahyu dalam bentuk mutlak lagi global, maka beliau pun menggambarkannya dengan firasatnya sendiri dan dari sisi pengertian umum (ta'âruf umum). Terhadap ayat-ayat mutasyabih dan hal-hal yang musykil dalam penggambaran itu, kadang diperlukan tafsir, bahkan kadang diperlukan penakwilan (ta'bir). Sebab, ada sebagian hakikat yang didekatkan kepada pemahaman melalui perumpamaan (tamsil). Sebagaimana pada suatu ketika, di hadirat Nabi صلى الله عليه وسلم terdengar suatu gemuruh yang dalam. Beliau bersabda: "Gemuruh ini adalah gemuruh sebuah batu yang telah bergulir selama tujuh puluh tahun, dan kini jatuh ke dasar Jahannam." Satu jam kemudian datanglah kabar: "Seorang munafik termasyhur yang berusia tujuh puluh tahun telah mati dan pergi ke Jahannam." Hal itu menunjukkan takwil dari peristiwa yang telah diterangkan oleh Zat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم dengan suatu perumpamaan yang fasih (balîgh).