Risale-i NurAl-Maktubat

Bagian keempat

Al-Maktubat · hlm. 490

yaitu anak-anak. Mereka menginginkan belas kasih dari semangat kebangsaan, menanti kasih sayang. Dari segi kelemahan, ketakberdayaan, dan ketiadaan daya; ruh mereka dapat berkembang dengan mengenal seorang Khâliq yang penyayang dan mahakuasa, bakat mereka dapat tersingkap dengan bahagia. Dengan bekal tawakal imani dan penyerahan Islami yang akan mampu menghadapi keadaan dan peristiwa dahsyat di dunia kelak, anak-anak yang tak berdosa itu dapat memandang kehidupan dengan penuh rindu. Gerangan, apakah manfaat mereka terletak pada pelajaran-pelajaran kemajuan peradaban yang amat sedikit kaitannya dengan mereka, dan pada pengajaran dustur-dustur filsafat materialis semata yang tanpa cahaya, yang akan mematahkan kekuatan maknawi mereka dan memadamkan ruh mereka? Andai manusia hanya terdiri atas jasad hewani dan tak ada akal di kepalanya; mungkin metode kebarat-baratan yang kalian sebut pendidikan peradaban dan kalian beri hiasan pendidikan kebangsaan ini dapat memberi anak-anak tak berdosa itu suatu manfaat duniawi sebagai mainan kanak-kanak yang menghibur mereka sementara. Selama anak-anak tak berdosa itu akan dilemparkan ke gejolak kehidupan, selama mereka manusia; tentu di kalbu kecil mereka akan ada hasrat yang amat panjang dan di kepala kecil mereka akan lahir maksud yang besar. Selama hakikatnya demikian; tuntutan kasih sayang atas mereka adalah menanamkan di kalbu mereka — dalam bentuk iman kepada Allah dan iman kepada akhirat — suatu titik sandaran yang amat kuat dan titik permintaan tolong yang tak habis-habis, di tengah kefakiran dan ketakberdayaan mereka yang amat sangat. Dengan inilah kasih sayang dan belas atas mereka terwujud. Jika tidak, itu bagai seorang ibu gila memotong anaknya dengan pisau — yakni menyembelih anak-anak tak berdosa itu secara maknawi dengan mabuk semangat kebangsaan. Itu adalah suatu kezaliman biadab, bagai mengeluarkan otak dan kalbu untuk memberi makan jasadnya.