Contoh Kedelapan
Al-Maktubat · hlm. 146
Kitab Sahih Tirmidzî dengan penukilan yang sahih mengabarkan dari Hazrat Ibnu Abbâs bahwa: Ibnu Abbâs berkata: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda kepada seorang Arab Badui: اَرَاَيْتَ اِنْ دَعَوْتُ هٰذَا الْعِذْقَ مِنْ هٰذِهِ النَّخْلَةِ اَتَشْهَدُ اَنّ۪ى رَسُولُ اللّٰهِ؟ "Jika aku memanggil dahan pohon ini, lalu ia datang kepadaku, apakah engkau akan beriman?" Ia menjawab, "Ya." Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pun memanggilnya. Maka tandan (urjun) itu terlepas dari puncak pohonnya, melompat dan datang ke sisi Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Kemudian beliau memerintahkannya, maka ia kembali lagi ke tempatnya.
Demikianlah, ada banyak contoh lain seperti kedelapan contoh ini; semuanya telah dinukilkan melalui banyak jalur periwayatan. Telah dimaklumi bahwa apabila tujuh-delapan utas tali dihimpun, jadilah ia seutas tambang yang kuat. Maka dari itu, mukjizat pepohonan (syajariyah) ini — yang dikabarkan dengan berbagai jalur seperti ini dari para sahabat shiddîqîn yang paling masyhur — sudah pasti berada dalam kekuatan mutawâtir maknawî; bahkan ia adalah mutawâtir yang hakiki. Lagi pula, tatkala ia beralih ke tangan para Tabiin sesudah generasi Sahabat, ia mengambil bentuk mutawâtir. Teristimewa kitab-kitab sahih seperti Bukhârî, Muslim, Ibnu Hibbân, dan Tirmidzî; telah membuat dan memelihara jalan (periwayatan) itu sedemikian kukuh hingga sampai ke zaman Sahabat, sehingga — misalnya — melihat suatu riwayat di dalam Bukhârî adalah bagaikan mendengarnya langsung dari Sahabat itu sendiri.
Maka, sementara pepohonan itu — sebagaimana tampak dalam contoh-contoh tadi — mengenali Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, membenarkan kerasulannya, mengunjunginya seraya mengucapkan salam kepadanya, serta menaati dan mendengarkan perintah-perintahnya; apabila sebagian makhluk yang beku lagi tak berakal — yang menyebut dirinya manusia — tidak mengenalinya dan tidak beriman kepadanya, bukankah ia menjadi jauh lebih hina daripada pohon kering, sedemikian tak berarti dan tak bernilai bagai sekerat kayu bakar, sehingga layak dilemparkan ke dalam api?