Isyarat Kesepuluh
Al-Maktubat · hlm. 147
Yang semakin memperkukuh mukjizat pepohonan ini adalah mukjizat hanîn al-jidz' (rintihan batang kurma) yang dinukilkan secara mutawâtir. Ya, tangisan sebatang tiang kering di dalam Masjid Nabawî yang mulia — di tengah jamaah yang besar, karena untuk sementara berpisah dari Ahmad صلى الله عليه وسلم — sungguh meneguhkan sekaligus menguatkan contoh-contoh mukjizat pepohonan yang telah kami paparkan. Karena ia pun sebatang pohon, dan jenisnya satu. Akan tetapi, peristiwa yang satu ini mutawâtir dari sisi individunya, sedangkan bagian-bagian yang lain mutawâtir dari sisi jenis (macam)-nya masing-masing. Adapun rincian dan sebagian besar contoh perinciannya tidak mencapai derajat mutawâtir yang sharih. Ya, di dalam Masjid yang mulia itu terdapat sebatang tiang kering dari pohon kurma, tempat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersandar tatkala menyampaikan khutbah. Kemudian, ketika mimbar yang mulia telah dibuat, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم naik ke mimbar lalu memulai khutbah. Sewaktu beliau berkhutbah, tiang itu merintih dan menangis bagai seekor unta; seluruh jamaah mendengarnya. Sampai akhirnya Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم menghampirinya dan meletakkan tangannya di atasnya. Beliau berbicara kepadanya dan menghiburnya; barulah kemudian ia diam. Mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم ini telah dinukilkan melalui amat banyak jalur periwayatan, sampai pada derajat mutawâtir.
Ya, mukjizat hanîn al-jidz' ini amat tersebar luas, masyhur, dan mutawâtir secara hakiki. Ia sampai kepada kita dari suatu jamaah yang tinggi kedudukannya di antara para Sahabat melalui lima belas jalur periwayatan, dan ratusan imam dari kalangan Tabiin mengabarkan mukjizat itu — dengan jalur-jalur itu — kepada abad-abad sesudahnya. Dari jamaah Sahabat tersebut, para ulama Sahabat yang termasyhur serta para pemuka periwayatan hadis — seperti Hazrat Anas ibn Mâlik (pelayan Nabi صلى الله عليه وسلم), Hazrat Jâbir bin Abdullah al-Anshârî (pelayan Nabi صلى الله عليه وسلم), Hazrat Abdullah ibn Umar, Hazrat Abdullah bin Abbâs, Hazrat Sahl bin Sa'd, Hazrat Abû Sa'îd al-Khudrî, Hazrat Ubayy ibn Ka'b, Hazrat Buraidah, dan Hazrat Ummul Mu'minîn Ummu Salamah — sebagai tokoh-tokoh masyhur ulama Sahabat dan pemuka periwayatan hadis, masing-masing berada di pangkal sebuah jalur, telah mengabarkan mukjizat yang sama itu kepada umat. Terkemuka di antaranya, kitab-kitab sahih seperti Bukhârî dan Muslim; telah mengabarkan mukjizat besar yang mutawâtir itu, dengan jalur-jalur periwayatannya, kepada abad-abad sesudah mereka.
Demikianlah, dalam jalur riwayat Hazrat Jâbir dikatakan bahwa: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, tatkala menyampaikan khutbah di Masjid yang mulia, bersandar dan berkhutbah pada sebuah tiang kering yang disebut جِذْعُ النَّخْلِ. Setelah mimbar yang mulia dibuat, tatkala beliau berpindah ke mimbar, tiang itu — karena tak sanggup menahannya — mengeluarkan suara dan merintih menangis bagai seekor unta yang bunting. Dalam jalur riwayat Hazrat Anas dikatakan: Ia menangis bagai seekor kerbau, sehingga menggetarkan masjid. Dalam jalur riwayat Sahl ibn Sa'd dikatakan: Dan atas tangisannya itu, tangisan pun kian menjadi-jadi di kalangan orang banyak. Dalam jalur riwayat Hazrat Ubayy ibn Ka'b dikatakan: Ia menangis sedemikian rupa hingga terbelah. Dalam jalur lain, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: اِنَّ هٰذَا بَكٰى لِمَا فَقَدَ مِنَ الذِّكْرِ Yakni: "Tangisannya itu adalah karena perpisahan dari dzikir yang dibaca di tempatnya dan dari dzikir Ilahi dalam khutbah." Dalam jalur lain beliau bersabda: لَوْ لَمْ اَلْتَزِمْهُ لَمْ يَزَلْ هٰكَذَا اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ تَحَزُّنًا عَلٰى رَسُولِ اللّٰهِ Yakni: "Seandainya aku tidak memeluk dan menghiburnya, niscaya tangisannya karena berpisah dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan terus berlangsung demikian hingga hari kiamat." Dalam jalur riwayat Hazrat Buraidah dikatakan bahwa: Setelah batang kurma itu menangis, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم meletakkan tangannya di atasnya lalu bersabda: اِنْ شِئْتَ اَرُدُّكَ اِلَى الْحَائِطِ الَّذ۪ى كُنْتَ ف۪يهِ تَنْبُتُ لَكَ عُرُوقُكَ وَيَكْمُلُ خَلْقُكَ وَيُجَدَّدُ خُوصُكَ وَثَمَرُكَ وَاِنْ شِئْتَ اَغْرِسُكَ فِى الْجَنَّةِ يَاْكُلُ اَوْلِيَٓاءُ اللّٰهِ مِنْ ثَمَرِكَ Kemudian beliau mendengarkan apa yang dikatakan batang kurma itu; batang itu berkata-kata, dan orang-orang di belakang pun mendengarnya: اِغْرِسْن۪ى فِى الْجَنَّةِ يَاْكُلُ مِنّ۪ى اَوْلِيَٓاءُ اللّٰهِ فِى مَكَانٍ لاَ يَبْلٰى Yakni: "Tanamlah aku di dalam surga, agar hamba-hamba Allah yang dikasihi-Nya memakan buah-buahku. Dan tempatkanlah aku di suatu tempat yang di sana aku memperoleh kekekalan (baqâ) dan tiada kelapukan." Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: قَدْ فَعَلْتُ Kemudian beliau bersabda: اِخْتَارَ دَارَ الْبَقَٓاءِ عَلٰى دَارِ الْفَنَٓاءِ
Ebû Ishâq al-Isfarâyînî yang masyhur, salah seorang imam besar Ilmu Kalam, menukilkan bahwa: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم tidaklah pergi menghampiri tiang itu; melainkan tiang itulah yang, dengan perintah beliau, datang ke sisi beliau. Kemudian beliau memerintahkannya, maka ia kembali ke tempatnya. Hazrat Ubayy ibn Ka'b berkata: Setelah peristiwa luar biasa ini, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم memerintahkan: "Letakkanlah tiang itu di bawah mimbar." Maka ia diletakkan di bawah mimbar, hingga tiba masa masjid yang mulia itu dirobohkan untuk diperbaiki. Ketika itu Hazrat Ubayy ibn Ka'b mengambilnya, dan ia dipelihara sampai lapuk.
Hasan al-Bashrî yang masyhur, tatkala mengajarkan peristiwa mukjizat ini kepada murid-muridnya, menangis seraya berkata: "Sebatang pohon menunjukkan kecondongan dan kerinduan kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم.. maka kalian lebih patut lagi untuk rindu dan condong kepadanya." Kami pun berkata: Ya, dan kerinduan, kecondongan, serta kecintaan kepadanya itu adalah dengan mengikuti Sunnah beliau yang mulia dan Syariat beliau yang cemerlang.