Risale-i NurAl-Maktubat

Hujjah Kedua

Al-Maktubat · hlm. 189

Karena redaksi Taurat, Injil, dan Zabur tidak memiliki kemukjizatan seperti Al-Qur'an, dan karena terus-menerus diterjemahkan berulang-ulang, terjemahan di atas terjemahan, maka banyak sekali kata-kata asing tercampur ke dalamnya. Perkataan para mufasir dan takwil-takwil mereka yang keliru pun tercampur-baur dengan ayat-ayatnya; ditambah pula penyimpangan dari sebagian orang bodoh dan sebagian orang yang beritikad buruk. Dengan demikian, penyimpangan dan perubahan di dalam kitab-kitab itu kian bertambah banyak. Bahkan Syaikh Rahmatullah al-Hindî (allâmah yang masyhur) telah membuktikan penyimpangan kitab-kitab terdahulu di ribuan tempat kepada para pendeta serta ulama Yahudi dan Nasrani, sehingga membungkam mereka. Maka, sekalipun dengan penyimpangan sebanyak itu, pada masa ini pun Husain al-Jisrî yang masyhur (semoga Allah merahmatinya) telah menyarikan seratus empat belas dalil dari kitab-kitab itu mengenai kenabian Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم. Ia menuliskannya dalam "Risâlah Hamîdiyah". Risalah itu telah pula diterjemahkan oleh almarhum Ismail Hakki dari Manastir. Barangsiapa menghendaki, ia dapat merujuk kepadanya dan menyaksikannya.

Banyak pula ulama Yahudi dan ulama Nasrani yang mengakui dan menyatakan: "Di dalam kitab-kitab kami tertulis sifat-sifat Muhammad al-'Arabî صلى الله عليه وسلم." Ya, dalam keadaan tetap sebagai non-muslim, terutama Heraklius yang masyhur dari kalangan raja-raja Romawi telah mengakuinya, dengan berkata: "Ya, Isa Alaihissalâm mengabarkan tentang Muhammad صلى الله عليه وسلم."

Dan pula, penguasa Mesir dari Romawi yang bernama Muqauqis, serta para ulama dan pemuka masyhur seperti Ibnu Sûriyâ — salah seorang paling masyhur di antara ulama Yahudi — Ibnu Akhthab dan saudaranya, Ka'b bin Asad, serta Zubair bin Bâthiyâ, dalam keadaan tetap sebagai non-muslim, telah mengakui bahwa: "Ya, di dalam kitab-kitab kami terdapat sifat-sifatnya; kitab-kitab itu membicarakannya."

Dan pula, dari kalangan ulama Yahudi yang masyhur dan pendeta Nasrani yang masyhur, mereka yang — setelah menyaksikan sifat-sifat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم di dalam kitab-kitab terdahulu — meninggalkan kekerasan hati lalu datang beriman, telah menunjukkan sifat-sifat beliau di dalam Taurat dan Injil, dan dengannya mereka mematahkan hujjah ulama Yahudi dan Nasrani lainnya. Antara lain: Abdullah bin Salâm yang masyhur, Wahb bin Munabbih, Abî Yâsir, dan Syâmûl (Zat ini hidup pada zaman raja Yaman, Tubba'. Sebagaimana Tubba' beriman secara gaib dan sebelum masa kenabian, demikian pula Syâmûl), serta kedua putra Sa'yah, yaitu Asîd dan Tsa'labah. Seorang ârif billâh bernama Ibnu Hayyabân, sebelum masa kenabian, pernah bertamu kepada kabilah Banî Nadhîr. Ia mengucapkan قَر۪يبٌ ظُهُورُ نَبِىٍّ هٰذَا دَارُ هِجْرَتِهِ, lalu wafat di sana. Kemudian, tatkala kabilah itu berperang dengan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, Asîd dan Tsa'labah tampil ke muka dan berseru kepada kabilah itu: وَاللّٰهِ هُوَ الَّذ۪ى عَهَدَ اِلَيْكُمْ ف۪يهِ ابْنُ هَيْبَان Yakni: "Zat yang telah dikabarkan oleh Ibnu Hayyabân inilah dia; janganlah kalian memeranginya!" Namun mereka tidak mendengarkan keduanya, dan mereka pun menemui bencana mereka.

Dan pula, banyak ulama Yahudi seperti Ibnu Bunyâmîn, Mukhairîq, dan Ka'b al-Ahbâr — karena menyaksikan sifat-sifat kenabian di dalam kitab-kitab mereka — telah datang beriman; dan mereka pun mematahkan hujjah sebagian lain yang tidak beriman.

Dan pula, dari kalangan ulama Nasrani, yaitu Pendeta Buhairâ yang masyhur, yang telah disebutkan; ketika Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pergi ke arah Syam bersama pamannya, beliau berusia dua belas tahun. Pendeta Buhairâ, demi menghormati beliau, mengundang orang-orang Quraisy. Ia melihat bahwa sepotong awan yang menaungi kafilah itu masih tetap menaungi di tempat kafilah tersebut. "Berarti orang yang kucari tetap tinggal di sana!" Kemudian ia mengutus orang, lalu didatangkannyalah beliau. Ia berkata kepada Abu Thâlib: "Kembalilah engkau ke Mekah! Orang-orang Yahudi itu pendengki; sifat-sifat anak ini tersebut di dalam Taurat; mereka akan berbuat khianat."

Dan pula, Nasthûr al-Habasyah dan Najâsyi, pemimpin Habasyah, karena menyaksikan sifat-sifat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم di dalam kitab-kitab mereka, telah beriman bersama-sama.

Dan pula, seorang alim Nasrani masyhur bernama Dâghâthir; ia menyaksikan sifat-sifat beliau, lalu beriman; ia memaklumkannya di tengah orang-orang Romawi, dan ia pun gugur sebagai syahid.

Dan pula, dari para pemuka Nasrani: Hârits bin Abî Syumar al-Ghassânî, serta para pemuka agama besar dan raja-raja Syam — yakni Penguasa Îliyâ, Heraklius, Ibnu Nâthûr, dan Jârûd — Zat-zat masyhur ini telah menyaksikan sifat-sifat beliau di dalam kitab-kitab mereka dan telah beriman. Hanya saja Heraklius tidak menampakkan keimanannya demi kekuasaan duniawi.

Dan pula, seperti mereka ini, Salmân al-Fârisî — ia pun mulanya seorang Nasrani. Setelah menyaksikan sifat-sifat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, ia terus mencari beliau.

Dan pula, seorang alim penting bernama Tamîm, juga pemimpin Habasyah yang masyhur, Najâsyi, juga orang-orang Nasrani Habasyah, juga para pendeta Najrân; semuanya secara sepakat mengabarkan bahwa: "Kami telah menyaksikan sifat-sifat kenabian di dalam kitab-kitab kami, karena itulah kami datang beriman."