Risale-i NurAl-Maktubat

Isyarat Bernuktah Kedua

Al-Maktubat · hlm. 98

Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم telah mendakwakan nubuwwah; beliau menunjukkan sebuah firman (dekret) seperti Al-Qur'an Yang Mahaagung, dan di hadapan para ahli tahkik menunjukkan mukjizat-mukjizat yang cemerlang (bâhirah) hingga mencapai seribu banyaknya. Mukjizat-mukjizat itu, dengan keseluruhan himpunannya, keberadaannya pasti sebagaimana pastinya terjadinya dakwaan nubuwwah itu. Penisbatan sihir yang dinukilkan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana di banyak tempat dari orang-orang kafir yang paling keras kepala menunjukkan bahwa orang-orang kafir yang keras kepala itu pun tidak dapat mengingkari keberadaan dan terjadinya mukjizat-mukjizat itu. Hanya saja, demi memperdaya diri mereka sendiri atau menipu para pengikut mereka, mereka — hâsyâ — menyebutnya sihir.

Ya, mukjizat-mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم memiliki suatu kepastian sekuat seratus tawâtur. Adapun mukjizat, ia merupakan pembenaran (tashdiq) dari Sang Khâliq alam semesta terhadap dakwaan beliau; ia berkedudukan sebagai hukum "Shadaqta" (Engkau benar). Sebagaimana halnya, jika engkau di dalam majelis seorang raja dan di dalam lingkup pandangannya berkata: "Raja telah menugaskan aku untuk urusan anu." Lalu diminta darimu suatu bukti atas dakwaan itu; jika sang raja berkata "Ya", betapa hal itu membenarkan dirimu. Demikian pula, jika ia mengubah kebiasaan dan keadaannya atas permintaanmu, maka itu membenarkan dakwaanmu dengan lebih pasti dan lebih kokoh daripada perkataan "Ya". Demikian pula, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم telah berdakwaan bahwa: "Aku adalah utusan Khâliq alam semesta ini. Dan bukti-ku ialah: bahwa Dia akan mengubah kebiasaan-Nya yang tetap (mustamir) atas doa dan permintaanku. Maka lihatlah jari-jemariku, Dia mengalirkan air darinya bagaikan mata air dengan lima pancuran. Lihatlah rembulan, dengan isyarat satu jariku Dia membelahnya menjadi dua bagian. Lihatlah pohon ini; ia datang kepadaku untuk membenarkanku, lalu bersaksi. Lihatlah sepotong makanan ini; padahal ia hanya cukup untuk dua-tiga orang, namun lihatlah, ia mengenyangkan dua ratus-tiga ratus orang." Dan demikian seterusnya... beliau telah menunjukkan ratusan mukjizat seperti itu.

Sekarang, dalil-dalil kebenaran dan bukti-bukti nubuwwah (barâhîn) pribadi (zat) ini tidaklah terbatas hanya pada mukjizat-mukjizatnya. Melainkan, bagi orang yang cermat, hampir seluruh gerak dan perbuatannya, keadaan dan perkataannya, akhlak dan tingkah lakunya, sirah dan rupanya — semua itu membuktikan kebenaran dan kesungguhannya. Bahkan banyak tokoh, seperti Abdullah bin Salâm dari kalangan ulama Bani Israil yang termasyhur, hanya dengan melihat wajah (sîma) Zat Termulia صلى الله عليه وسلم itu, berkata: "Pada wajah ini tiada dusta, pada wajah ini mustahil ada tipu daya!" lalu mereka pun beriman.

Kendati para ulama muhaqqiq mengatakan bahwa dalil-dalil nubuwwah dan mukjizat itu sekitar seribu jumlahnya; namun sesungguhnya ada ribuan, bahkan ratusan ribu, dalil nubuwwah. Dan dengan ratusan ribu jalan, ratusan ribu orang yang berbeda-beda pemikirannya telah membenarkan nubuwwah pribadi itu. Al-Qur'an Yang Mahabijaksana saja, selain empat puluh segi kemukjizatan (i'jaz), menunjukkan seribu burhan bagi nubuwwah Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم.

Lagi pula, karena nubuwwah itu ada dalam jenis manusia, dan ratusan ribu pribadi yang mendakwakan nubuwwah serta menunjukkan mukjizat telah datang dan berlalu; maka sudah pasti — dengan suatu kepastian yang melampaui segenapnya — nubuwwah Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم itu tetap dan kokoh. Sebab, dalil-dalil, sifat-sifat, dan keadaan-keadaan yang menyebabkan segenap rasul — seperti Nabi Isa Alaihissalâm dan Nabi Mûsâ Alaihissalâm — disebut nabi, yang menjadi tumpuan risalah mereka, serta muamalah mereka terhadap umat mereka; semua itu terdapat pada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم dalam bentuk yang lebih sempurna dan lebih menyeluruh (jâmi'). Karena sebab dan alasan (illat) hukum nubuwwah itu terdapat lebih sempurna pada Zat Ahmadî صلى الله عليه وسلم, maka sudah pasti hukum nubuwwah itu tetap padanya dengan kepastian yang lebih jelas daripada pada segenap nabi.