Isyarat Kedua
Al-Maktubat · hlm. 431
Inayah rabbani kedua tentang khidmat Qur'ani adalah ini: Allah mengaruniakan kepadaku sebagai penolong saudara-saudara yang kuat, sungguh-sungguh, tulus, giat, penuh pengorbanan, dan yang penanya masing-masing pedang intan — kepada seorang sepertiku yang tak berpena, setengah ummi, di negeri asing, tak berkawan, dan dilarang bergaul. Ia membebankan tugas Qur'ani yang amat berat bagi bahuku yang lemah dan tak berdaya ke bahu-bahu yang kuat itu. Dari kesempurnaan kemurahan-Nya, Ia meringankan bebanku. Adapun jamaah yang diberkahi itu — dengan ungkapan Hulusi — berkedudukan sebagai penerima telegraf nirkabel, dan — dengan ungkapan Sabri — berkedudukan sebagai mesin yang menyalurkan listrik pabrik cahaya, di samping keistimewaan mereka yang berbeda-beda dan kekhususan berharga yang beragam, — sekali lagi dengan ungkapan Sabri — sebagai semacam kesesuaian gaib, dalam kegairahan, upaya, semangat, dan kesungguhan yang saling menyerupai, menyebarkan rahasia Qur'ani dan cahaya imani ke sekeliling dan menyampaikannya ke setiap tempat; dan di zaman ini (yakni zaman ketika huruf telah berubah, tak ada percetakan, setiap orang membutuhkan cahaya imani) dan sementara ada banyak sebab yang akan memberi kelesuan dan mematahkan kegairahan, khidmat mereka ini tanpa lesu, dengan kegairahan dan semangat sempurna, adalah secara langsung suatu karamah Qur'ani dan inayah Ilahi yang nyata. Ya, sebagaimana wilayah memiliki karamah, niat yang ikhlas pun memiliki karamah. Ketulusan pun memiliki karamah. Terutama di dalam lingkup ukhuwah karena Allah, kesatuan yang sungguh-sungguh dan tulus di antara saudara dapat memiliki banyak karamah. Bahkan pribadi maknawi jamaah semacam ini dapat berkedudukan sebagai seorang wali kamil, meraih inayah.
Maka wahai saudara-saudaraku dan wahai kawan-kawanku dalam khidmat Al-Qur'an! Sebagaimana memberikan seluruh kemuliaan dan seluruh ganimah kepada sersan sebuah kompi yang menaklukkan sebuah benteng adalah kezaliman, suatu kesalahan; demikian pula kalian tak dapat memberikan inayah dalam kemenangan yang tercapai dengan kekuatan pribadi maknawi kalian dan dengan pena kalian kepada seorang tak berdaya sepertiku. Tentu dalam jamaah yang diberkahi seperti ini, ada suatu isyarat gaib yang lebih kuat daripada kesesuaian gaib, dan aku melihatnya; tetapi tak dapat kutunjukkan kepada setiap orang dan khalayak.