Isyarat Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 432
Bahwa bagian-bagian Risalah Nur membuktikan seluruh hakikat imani dan Qur'ani yang penting bahkan menghadapi yang paling membangkang dengan cara yang cemerlang, adalah suatu isyarat gaib yang amat kuat dan suatu inayah Ilahi. Karena di dalam hakikat imani dan Qur'ani ada hal-hal sedemikian sehingga Ibnu Sina — yang dianggap jenius terbesar — mengakui kelemahannya dalam pemahaman, dan berkata "Akal tak dapat menemukan jalan ke sini!" Risalah Kelimat Kesepuluh memberitahukan hakikat yang tak dapat dicapai kejeniusan tokoh itu, kepada orang awam pun, kepada anak-anak pun.
Lagi pula misalnya: untuk menyelesaikan rahasia takdir dan juz'i ihtiyari (kehendak parsial), seorang alamah besar seperti Sa'd at-Taftazani hanya dapat menyelesaikan dan hanya memberitahukan kepada orang khusus dalam empat puluh sampai lima puluh halaman dengan nama masyhur "Muqaddimât Itsnâ 'Asyar" dalam kitab bernama "Talwîh"; sedangkan persoalan yang sama, dalam Kelimat Kedua Puluh Enam tentang takdir, pada dua halaman Pembahasan Kedua, diterangkan sepenuhnya dan dengan cara yang akan memberitahukan kepada setiap orang — jika ini bukan jejak inayah, apa lagi?
Lagi pula tilismu (jimat rahasia) yang membuat seluruh akal tercengang dan tak dapat disingkap oleh tangan filsafat mana pun — yang disebut rahasia penciptaan alam dan tilismu alam semesta, dan yang disingkap dengan kemukjizatan Al-Qur'an yang mahaagung — tilismu pembuka kesulitan dan teka-teki yang menakjubkan itu, disingkap dalam Surat Kedua Puluh Empat, dalam nuktah berkode di akhir Kelimat Kedua Puluh Sembilan, dan dalam enam hikmah perubahan zarah pada Kelimat Ketiga Puluh. Mereka telah menyingkap dan menerangkan tilismu aktivitas menakjubkan di alam semesta, teka-teki penciptaan alam semesta dan akibatnya, serta rahasia hikmah gerak dalam perubahan zarah; ia nyata, dapat dilihat.
Lagi pula sebagaimana Kelimat Keenam Belas dan Kelimat Ketiga Puluh Dua menerangkan dengan kejelasan sempurna hakikat menakjubkan yaitu keesaan rububiyah tanpa sekutu dengan rahasia keahadan, serta kedekatan Ilahi yang tak terhingga beserta kejauhan kami yang tak terhingga dari-Nya; demikian pula, dalam penjelasan kata وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ di Surat Kedua Puluh dan dalam zeyl-nya yang memuat tiga perumpamaan — yang menunjukkan dengan kejelasan sempurna bahwa zarah dan planet setara dinisbatkan kepada kudrat Ilahi, bahwa menghidupkan seluruh yang berruh pada kebangkitan agung semudah menghidupkan satu diri bagi kudrat itu, dan bahwa campur tangan syirik dalam penciptaan alam semesta jauh dari akal hingga derajat kemustahilan — rahasia keesaan yang agung ini telah disingkap.
Lagi pula pada hakikat imani dan Qur'ani ada suatu keluasan sedemikian sehingga kecerdasan manusia terbesar tak dapat meliputinya; padahal pada seorang seperti aku yang benaknya kacau, keadaannya berantakan, tanpa kitab yang dapat dirujuk, yang menulis dengan gelisah dan cepat, munculnya mayoritas mutlak hakikat itu beserta kehalusannya, adalah secara langsung jejak kemukjizatan maknawi Al-Qur'an al-Hakîm, suatu manifestasi inayah rabbani, dan suatu isyarat gaib yang kuat.