Isyarat Keempat
Al-Maktubat · hlm. 511
Ahli bidah perusak terbagi dua bagian. Satu bagian — konon atas nama agama, atas nama kesetiaan kepada Islam — konon untuk menguatkan agama dengan kebangsaan, menunjukkan sikap mendukung agama dengan berkata: "Kami ingin menanam dan menguatkan pohon bercahaya agama yang telah melemah di tanah kebangsaan."
Bagian kedua; atas nama bangsa, atas nama kebangsaan, berdasarkan pikiran memberi kekuatan pada rasialisme, menciptakan bidah-bidah dengan berkata: "Kami ingin mencangkokkan kebangsaan dengan Islam."
Kepada bagian pertama kami berkata:
Wahai ulama su' malang yang layak disebut "orang dungu yang setia", atau para sufi yang majzub, tak berakal, dan jahil! Pohon Tuba Islam — yang akarnya tertancap di dalam hakikat alam semesta dan telah menjulurkan akar ke hakikat-hakikat alam semesta — tak dapat ditanam di tanah rasialisme yang khayali, sementara, parsial, khusus, negatif, bahkan tanpa dasar, penuh maksud buruk, zalim, dan gelap! Berupaya menanamnya di sana adalah suatu usaha yang dungu, merusak, dan penuh bidah.
Kepada para nasionalis bagian kedua kami berkata:
Wahai para penjaja semangat yang mabuk! Seabad yang lalu bisa jadi abad kebangsaan. Abad ini bukan abad rasialisme! Persoalan Bolshevisme dan sosialisme melanda; mematahkan pikiran rasialisme, abad rasialisme berlalu. Kebangsaan Islam yang abadi dan kekal; tak dapat diikat dan dicangkokkan dengan rasialisme yang sementara dan penuh gejolak. Dan sekalipun dilakukan pencangkokan; sebagaimana ia merusak kebangsaan Islam, ia pun tak dapat memperbaiki dan mengekalkan kebangsaan rasial. Ya, dalam pencangkokan sementara tampak suatu kenikmatan dan kekuatan sementara, tetapi ia amat sementara dan akibatnya berbahaya.
Lagi pula akan timbul suatu perpecahan pada unsur Turki yang tak dapat terpulihkan secara abadi. Ketika itu kekuatan bangsa, karena satu belahan mematahkan kekuatan belahan lain, akan turun menjadi nol. Jika dua gunung berada berhadapan di dua piring sebuah timbangan; suatu kekuatan sebesar satu batman dapat mempermainkan dua kekuatan itu; menaikkannya ke atas, menurunkannya ke bawah.