Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 509

Kalian keliru dan tertipu, atau kalian menipu. Karena Eropa fanatik dalam agamanya. Bahkan jika kepada seorang Bulgaria biasa, atau seorang prajurit Inggris, atau seorang gelandangan Prancis dikatakan "Kenakan serban. Jika tak kaukenakan, kau akan dijebloskan ke penjara!", karena tuntutan fanatisme mereka ia akan berkata: "Bukan penjara, sekalipun kalian bunuh, aku tak akan melakukan penghinaan ini kepada agama dan kebangsaanku!"

Lagi pula sejarah bersaksi bahwa: kapan pun ahli Islam benar-benar berpegang pada agamanya, ia maju dibandingkan masa itu. Kapan pun ia meninggalkan keteguhan, ia merosot. Adapun Kekristenan sebaliknya. Ini pun berasal dari suatu perbedaan asasi yang penting.

Lagi pula Islam tak dapat dikiaskan pada agama lain. Jika seorang Muslim keluar dari Islam dan meninggalkan agamanya, ia tak lagi dapat menerima nabi mana pun; bahkan ia tak dapat mengakui Allah, dan bahkan ia tak mengenal sesuatu yang suci pun; bahkan tak ditemukan pada dirinya hati nurani yang dapat menjadi sandaran kesempurnaan, ia membusuk. Karena itu dalam pandangan Islam, kafir harbi memiliki hak hidup. Jika di luar, ia berdamai; jika di dalam, ia membayar jizyah; menurut Islam hidupnya terpelihara. Tetapi orang murtad tak memiliki hak hidup. Karena hati nuraninya membusuk, ia berkedudukan sebagai racun bagi kehidupan sosial. Padahal seorang tak beragama dari kalangan Kristen, masih dapat tinggal dalam keadaan bermanfaat bagi kehidupan sosial. Ia menerima sebagian hal suci dan dapat percaya pada sebagian nabi serta dapat membenarkan Allah dari satu segi.

Gerangan, ahli bidah — dan yang benar, ahli ilhad — ini menemukan manfaat apa dalam ketakberagamaan ini? Jika mereka memikirkan pengaturan dan ketertiban; mengatur sepuluh gelandangan tak beragama yang tak mengenal Allah dan menyingkirkan kejahatan mereka lebih sukar daripada mengatur seribu ahli agama. Jika mereka memikirkan kemajuan; orang-orang tak beragama semacam itu, sebagaimana merugikan pemerintahan, juga menghalangi kemajuan. Mereka merusak keamanan dan ketertiban yang menjadi asas kemajuan dan perniagaan. Sebenarnya mereka, dari segi jalan hidup, adalah perusak. Orang paling dungu di dunia adalah yang mengharap kemajuan dan kebahagiaan hidup dari gelandangan tak beragama semacam itu. Salah seorang dungu semacam itu yang menduduki kedudukan penting berkata: "Kita tertinggal karena terus-menerus berkata Allah Allah. Eropa maju karena terus-menerus berkata meriam senapan."

Menurut kaidah "Jawâbul ahmaqis sukût (jawaban bagi orang dungu adalah diam)", jawaban terhadap orang semacam itu adalah diam. Tetapi karena di belakang sebagian orang dungu ada orang-orang lalai yang celaka, kami berkata:

Wahai orang-orang malang! Dunia ini adalah rumah tamu. Setiap hari tiga puluh ribu saksi, dengan jenazah mereka, menandatangani hukum "Al-mautu haqq (kematian itu benar)" dan mempersaksikan dakwa itu. Dapatkah kalian membunuh kematian? Dapatkah kalian mendustakan para saksi ini? Selama kalian tak dapat; kematian membuat orang berkata Allah Allah. Pada sakaratul maut, sebagai ganti Allah Allah; meriam kalian yang mana, senapan kalian yang mana, yang dapat menerangi kegelapan abadi di hadapan orang yang sedang sakaratul maut itu, yang dapat mengubah keputusasaan mutlaknya menjadi harapan mutlak? Selama ada kematian, kubur akan dimasuki; hidup ini pergi, suatu hidup kekal datang. Jika sekali dikatakan meriam senapan; maka perlu seribu kali berkata Allah Allah. Dan jika di jalan Allah; senapan pun berkata Allah, meriam pun berteriak Allâhu Akbar, berbuka dengan Allah, dan berimsak dengan Allah.