Risale-i NurAl-Maktubat

Isyarat Kelima

Al-Maktubat · hlm. 346

Kalimat وَخَامِسًا : لِظُهُورِ الشُّؤُنَاتِ السُّبْحَانِيَّةِ وَالْمَشَاهِدِ الْعِلْمِيَّةِ menyatakan bahwa "Makhluk — terutama yang hidup — setelah pergi dari wujud lahiriah, meninggalkan banyak hal yang kekal, lalu pergi demikian." Sebagaimana diterangkan dalam Rumus Kedua, pada urusan rububiyah Zat Wâjib al-Wujûd terdapat — dengan cara yang layak bagi kesucian dan kemahakayaan kesempurnaan-Nya serta sepadan dengan-Nya — kecintaan yang tak terhingga, kasih sayang yang tak berkesudahan, kebanggaan yang tak bertepi, dan — jika boleh diungkapkan — kesenangan suci yang tak terhingga, suatu kesukaan, dan — semoga tak keliru dalam ungkapan — kelezatan suci yang tak terhingga, suatu kegembiraan tersucikan; yang jejak-jejaknya tampak dengan penyaksian. Maka urusan-urusan itu, di dalam aktivitas menakjubkan yang dituntutnya, menggiring makhluk dengan cepat dalam pergantian dan perubahan, dalam kesirnaan dan kefanaan.. terus-menerus dikirim dari alam syahadah menuju alam gaib. Dan di bawah manifestasi urusan-urusan itu, makhluk dikocok dalam perjalanan dan aliran yang tetap, dalam gerak dan peredaran; menyebarkan ke telinga ahli kelalaian ratapan perpisahan dan kesirnaan, serta ke pendengaran ahli hidayah gemuruh zikir dan tasbih. Berdasarkan rahasia ini, setiap makhluk meninggalkan di wujud makna, keadaan, dan hal yang akan menjadi sarana kekal bagi penampakan urusan-urusan kekal Wâjib al-Wujûd, lalu pergi demikian. Lagi pula makhluk itu meninggalkan pula suatu wujud terperinci yang mewakili wujud lahiriahnya di lingkaran-lingkaran wujud ilmi — seperti Imam Mubîn, Kitab Mubîn, dan Lauh Mahfuz, yang merupakan gelar ilmu azali — sepanjang keadaan dan lakon yang dilaluinya seumur hidupnya, lalu pergi demikian. Artinya, setiap yang fana meninggalkan satu wujud, meraih dan mewariskan ribuan wujud kekal. Misalnya: sebagaimana ke dalam mesin pabrik yang luar biasa dilemparkan beberapa bahan biasa; ia terbakar di dalamnya, secara lahir sirna; tetapi di alat-alat sulingan pabrik itu mengendap banyak bahan kimia dan obat yang amat berharga. Lagi pula dengan kekuatan dan uapnya, roda-roda pabrik itu berputar; dari satu sisi menjadi sarana penenunan kain, sebagian menjadi sarana pencetakan buku, sebagian menjadi sarana pembuatan barang berharga lain seperti gula, dan demikianlah... Artinya, dengan terbakar dan sirnanya bahan-bahan biasa itu secara lahir, ribuan hal meraih wujud. Artinya, suatu wujud biasa pergi, meninggalkan warisan banyak wujud yang luhur. Maka dalam keadaan ini, adakah dikatakan "sayang sekali bahan biasa itu"? Adakah dikeluhkan "mengapa pemilik pabrik tak mengasihaninya, membakarnya; memusnahkan bahan-bahan yang menyenangkan itu"?

Persis demikian pula وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى, Sang Khâliq Yang Mahabijaksana, Yang Rahîm, dan Yang Wadûd — sebagai tuntutan rahmat, hikmah, dan sifat wadûd — memberi gerak kepada pabrik alam semesta; Ia menjadikan setiap wujud fana sebagai benih bagi banyak wujud kekal, menjadikannya sarana bagi maksud-maksud rabbani-Nya, menjadikannya wadah bagi urusan-urusan subhani-Nya, menjadikannya tinta bagi pena takdir-Nya, menjadikannya sekoci bagi tenunan kudrat; serta untuk banyak tujuan luhur dan maksud tinggi yang belum kita ketahui, dengan aktivitas kudrat-Nya sendiri Ia menggerakkan alam semesta ke dalam aktivitas. Ia membuat zarah beredar, makhluk berjalan, hewan mengalir, planet berputar; Ia membuat alam semesta berbicara; Ia membuatnya mengucapkan ayat-ayat-Nya tanpa suara dan menuliskannya. Dan dari segi rububiyah-Nya atas makhluk bumi, Ia menjadikan udara sebagai semacam arasy bagi perintah dan iradah-Nya, unsur cahaya sebagai arasy lain bagi ilmu dan hikmah-Nya, air sebagai arasy lain bagi ihsan dan rahmat-Nya, dan tanah sebagai semacam arasy bagi pemeliharaan dan penghidupan-Nya. Tiga dari arasy-arasy itu Ia edarkan di atas makhluk bumi.

Ketahuilah dengan pasti: hakikat luhur yang cemerlang, yang ditunjukkan dalam lima Rumus dan lima Isyarat ini, tampak dengan cahaya Al-Qur'an dan dapat dimiliki dengan kekuatan iman. Jika tidak, sebagai ganti hakikat kekal itu, datanglah suatu kegelapan yang amat mengerikan. Bagi ahli kesesatan, dunia penuh dengan perpisahan dan kesirnaan, serta sarat dengan ketiadaan. Alam semesta baginya berkedudukan sebagai neraka maknawi. Segala sesuatu baginya diliputi ketiadaan yang tak terhingga dengan suatu wujud sesaat. Seluruh masa lampau dan masa depan penuh dengan kegelapan ketiadaan; hanya pada masa kini yang amat singkat ia dapat menemukan cahaya wujud yang menyedihkan. Namun dengan rahasia Al-Qur'an dan cahaya iman, tampaklah cahaya wujud dari azali hingga abadi; ia menjadi berkaitan dengannya dan dengannya menjamin kebahagiaan abadinya.