Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 54
Sosok yang diberkahi itu lebih layak untuk tugas-tugas lain yang jauh lebih penting daripada politik dan kesultanan. Seandainya ia meraih keberhasilan politik yang sempurna dan kesultanan yang penuh, niscaya ia tidak akan meraih dengan sebenar-benarnya gelar penuh makna "Syah Wilâyah" (Raja Wilâyah). Padahal ia justru meraih suatu kesultanan maknawi yang jauh di atas khilafah lahiriah dan politis, dan ia menjadi Guru Semesta (Ustâdz-ı Kull); bahkan kesultanan maknawinya tetap kekal hingga hari kiamat.
Adapun peperangan Hazrat Imam Ali melawan para pendukung Hazrat Mu'awiyah dalam Peristiwa Shiffin adalah peperangan antara khilafah dan kesultanan. Yakni: Hazrat Imam Ali menjadikan hukum-hukum agama, hakikat-hakikat Islam, dan akhirat sebagai dasar, lalu mengorbankan sebagian undang-undang kesultanan dan tuntutan-tuntutan politik yang tak berbelas kasih demi hal-hal itu. Adapun Hazrat Mu'awiyah dan para pendukungnya, demi memperkuat kehidupan sosial Islam dengan siasat-siasat kesultanan, mereka meninggalkan 'azimah dan berpegang pada rukhshah; mereka menyangka diri mereka terpaksa dalam dunia politik lalu memilih rukhshah, dan mereka pun terjatuh ke dalam kekeliruan.
Adapun perjuangan Hazrat Hasan dan Husain melawan Bani Umayyah adalah peperangan antara agama dan nasionalisme. Yakni: karena Bani Umayyah menyandarkan Negara Islam di atas nasionalisme Arab dan menomorduakan ikatan keislaman di belakang ikatan kebangsaan, mereka menimbulkan kerugian dari dua sisi: