Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 3
Sebagaimana telah dikatakan pada akhir jawaban "Pertanyaan Pertama": Kematian adalah pemberhentian dari tugas kehidupan, suatu masa istirahat, suatu pergantian tempat, suatu peralihan wujud, suatu undangan menuju kehidupan yang kekal, suatu permulaan, suatu mukadimah bagi kehidupan yang kekal. Sebagaimana datangnya kehidupan ke dunia berlangsung dengan penciptaan dan penakdiran; demikian pula perginya dari dunia pun berlangsung dengan penciptaan dan penakdiran, dengan hikmah dan pengaturan. Karena kematian kehidupan tumbuhan yang merupakan tingkatan kehidupan paling sederhana menunjukkan bahwa ia adalah karya seni yang lebih teratur daripada kehidupan itu sendiri. Sebab kematian buah-buahan, biji-bijian, dan benih-benih — sekalipun tampak berupa pembusukan, pelapukan, dan penguraian — sesungguhnya adalah suatu peragian yang terdiri atas suatu perlakuan kimiawi yang teramat teratur, suatu perpaduan unsur-unsur yang berneraca, dan suatu pembentukan partikel-partikel yang penuh hikmah; kematian yang teratur dan penuh hikmah yang tak terlihat ini menampakkan diri melalui kehidupan tangkai gandum. Jadi, kematian benih adalah permulaan kehidupan tangkai gandum; bahkan karena ia berkedudukan sebagai kehidupan itu sendiri, maka kematian ini pun sama-sama makhluk dan teratur sebagaimana kehidupan.
Lagi pula, karena kematian buah-buahan yang hidup atau hewan-hewan di dalam lambung manusia menjadi sumber bagi naiknya mereka ke tingkat kehidupan insaniah; maka dikatakan, "kematian itu lebih teratur dan lebih layak disebut makhluk daripada kehidupan mereka."
Nah, jika kematian kehidupan tumbuhan yang merupakan tingkatan kehidupan paling rendah saja demikian makhluk, penuh hikmah, dan teratur, maka kematian yang menimpa kehidupan insaniah yang merupakan tingkatan kehidupan paling tinggi; niscaya — sebagaimana sebutir benih yang masuk ke dalam tanah menjadi sebatang pohon di alam udara — manusia yang masuk ke dalam tanah pun, di Alam Barzakh, niscaya akan menumbuhkan tangkai kehidupan yang kekal.
Adapun dari segi bahwa kematian itu adalah suatu nikmat, maka dari sekian banyak seginya kami mengisyaratkan kepada empat segi: