Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 89
Hâsyâ! Tak seorang pun dari kalangan ashfiyâ itu — yang merupakan bintang-bintang terdekat dan pewaris-pewaris terkarib dari Matahari Risalah صلى الله عليه وسلم — memiliki kelayakan untuk dapat melangkah lebih jauh. Bahkan, jalan raya agung itu justru milik mereka.
Adapun wahdatul wujud, ia hanyalah sebuah masyrab, sebuah keadaan (hâl), dan sebuah maqam yang tidak sempurna. Akan tetapi, karena ia penuh cita rasa dan kegembiraan, tatkala mereka memasuki maqam itu dalam sair dan sulûk, kebanyakan mereka tidak hendak keluar darinya, mereka menetap di sana, dan menyangkanya sebagai maqam yang paling puncak.
Adapun pemilik masyrab ini, jika ia adalah suatu ruh yang telah melepaskan diri dari kebendaan dan segala perantara serta telah merobek tabir sebab-sebab, dan jika ia memperoleh penyaksian yang tenggelam sepenuhnya (istighrâq); maka suatu wahdatul wujud yang lahir bukan dari wahdatul wujud, melainkan dari wahdatusy-syuhûd — yang bukan bersifat ilmiah, melainkan bersifat keadaan (hâlî) — dapat menjaminkan baginya suatu kesempurnaan dan suatu maqam. Bahkan ia dapat sampai pada derajat mengingkari alam semesta demi Allah. Namun jika ia tenggelam di dalam sebab-sebab, jika ia asyik-masyuk dengan kebendaan, maka ucapannya tentang wahdatul wujud dapat meningkat sampai kepada pengingkaran terhadap Allah demi alam semesta.
Ya, jalan raya agung itu adalah jalan para sahabat, tabiin, dan ashfiyâ. Kalimat حَقَٓائِقُ اْلاَشْيَٓاءِ ثَابِتَةٌ adalah kaidah universal mereka. Dan Allah — sesuai dengan kandungan لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ — tidaklah memiliki keserupaan dengan sesuatu apa pun. Dia Mahasuci dari menempati ruang dan dari terbagi-bagi. Hubungan-Nya dengan segala yang maujud adalah hubungan penciptaan (khâliqiyah). Segala yang maujud itu bukanlah waham dan khayalan, sebagaimana yang dikatakan oleh para penganut wahdatul wujud. Bahkan segala sesuatu yang tampak pun adalah jejak-jejak karya Allah. Ia bukanlah "Heme Ost", melainkan "Heme Ezost". Yakni, bukan segala sesuatu adalah Dia, melainkan segala sesuatu berasal dari-Nya. Karena, segala yang baharu tidak mungkin menjadi 'ain (zat) Yang Mahaqadîm. Masalah ini akan kami dekatkan kepada pemahaman dengan dua perumpamaan: