Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 110
Seorang Quthub Agung dari Ahlul Bait berkata: "Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم menginginkan khilafah bagi Hazrat Ali (r.a.), namun dari alam gaib telah diberitahukan kepada beliau bahwa: kehendak Ilahi adalah lain. Maka beliau pun meninggalkan keinginannya dan tunduk kepada kehendak Ilahi." Salah satu hikmah dari kehendak Ilahi itu tentu adalah sebagai berikut:
Setelah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم, para sahabat sangat membutuhkan persatuan dan kesatuan; seandainya Hazrat Ali yang memegang kepemimpinan, maka — sebagaimana disaksikan oleh peristiwa-peristiwa yang muncul pada masa khilafahnya, dan karena sikap Hazrat Ali yang tanpa kompromi, tanpa rasa takut, zuhud, kepahlawanan, dan tidak butuh kepada siapa pun, serta keberaniannya yang termasyhur di seluruh dunia — sangat mungkin akan menggerakkan urat persaingan pada banyak tokoh dan kabilah, sehingga menjadi sebab perpecahan. Dan salah satu rahasia tertundanya khilafah Hazrat Ali adalah ini: dengan bercampurnya berbagai kaum yang sangat beragam — sebagaimana dikabarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم — di tengah kaum-kaum yang kelak mengusung dasar-dasar pemikiran tujuh puluh tiga golongan yang muncul di kemudian hari, pada masa munculnya peristiwa-peristiwa yang membangkitkan fitnah, diperlukan suatu kekuatan yang tangguh dan dihormati seperti Bani Hasyim dan Ahlul Bait, serta pemilik keberanian dan kecerdasan luar biasa seperti Hazrat Ali, agar dapat bertahan. Ya, beliau pun bertahan... Sebagaimana dikabarkan oleh Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم: "Aku berperang demi turunnya Al-Qur'an, dan engkau kelak akan berperang demi takwilnya!" Dan seandainya bukan karena Hazrat Ali, sangat mungkin kekuasaan dunia akan menyesatkan raja-raja Umayyah sepenuhnya. Akan tetapi, karena mereka melihat Hazrat Ali dan Ahlul Bait di hadapan mereka, maka demi menyeimbangkan diri terhadap mereka dan menjaga kedudukan mereka di mata ahli Islam, mau tidak mau seluruh pemimpin Daulah Umayyah — kalaupun bukan mereka sendiri, maka setidaknya dengan dorongan dan restu mereka — para pengikut dan pendukung mereka berupaya dengan segenap kekuatan untuk menjaga dan menyebarkan hakikat-hakikat Islam, hakikat-hakikat iman, dan hukum-hukum Al-Qur'an. Mereka melahirkan ratusan ribu mujtahid muhaqqiq, muhaddis yang sempurna, para wali, dan para asfiya. Seandainya di hadapan mereka tidak ada wilâyah, keagamaan, dan kesempurnaan Ahlul Bait yang sangat kuat, sangat mungkin mereka akan sepenuhnya keluar dari jalan yang benar, sebagaimana yang terjadi pada akhir masa Abbasiyah dan Umayyah.