Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 383

Penjelasannya ada dalam Kelimat Kesebelas, Kelimat Kedua Puluh Tiga, dan Buah Kedua dari Cabang Kelima Kelimat Kedua Puluh Empat. Rahasia ringkasnya adalah ini:

Sebagaimana Allah dengan kesempurnaan kudrat-Nya membuat banyak hal dari satu hal saja, menjalankan banyak tugas, menulis seribu kitab pada satu halaman; demikian pula Ia menciptakan manusia sebagai satu jenis yang mencakup, di tempat amat banyak jenis. Yakni, Ia berkehendak menjalankan tugas-tugas itu dengan satu jenis manusia sebanyak derajat beragam seluruh jenis hewan; sehingga Ia tak menetapkan batas fitri pada daya dan perasaan manusia; tak menempatkan ikatan fitri, membiarkannya bebas. Daya dan perasaan hewan lain terbatas, di bawah suatu ikatan fitri. Padahal setiap daya manusia pergi ke arah yang tak berhingga, seakan beredar dalam jarak yang tak terhingga. Karena manusia adalah cermin bagi tajalli asma Sang Khâliq Alam Semesta yang tak berkesudahan, maka pada dayanya diberikan kesiapan yang tak berhingga. Misalnya, manusia dengan ketamakan, seandainya seluruh dunia diberikan kepadanya, ia akan berkata هَلْ مِنْ مَز۪يدٍ. Lagi pula dengan sifat egoisnya, ia menerima kerugian ribuan orang demi keuntungannya sendiri. Dan demikianlah... Sebagaimana pada akhlak buruk ia tersingkap hingga derajat tak terhingga dan sampai ke derajat Namrud dan Firaun serta menjadi amat zalim (dengan bentuk mubalaghah), demikian pula pada akhlak baik ia meraih kemajuan tak terhingga, meningkat ke derajat para nabi dan shiddiqin.

Lagi pula manusia — kebalikan dari hewan — jahil terhadap segala hal yang diperlukan bagi kehidupan, terpaksa mempelajari segala sesuatu. Karena membutuhkan hal-hal yang tak terhingga, ia amat jahil (dengan bentuk mubalaghah). Adapun hewan, tatkala datang ke dunia, di samping membutuhkan sedikit hal, mempelajari seluruh syarat kehidupannya dalam satu-dua bulan, bahkan satu-dua hari, kadang satu-dua jam. Seakan ia telah menyempurna di alam lain, lalu datang demikian. Adapun manusia baru dapat berdiri dalam satu-dua tahun, dan baru dapat membedakan manfaat dan mudarat dalam lima belas tahun. Maka bentuk mubalaghah "amat jahil" mengisyaratkan hal ini pula.