Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 487

Wahai mulhid celaka! Aku — Lillâhil-hamd (segala puji bagi Allah) — seorang Muslim. Pada setiap masa, umatku yang suci beranggotakan tiga ratus lima puluh juta jiwa. Aku berlindung seratus ribu kali dari mengorbankan tiga ratus lima puluh juta saudara — yang menegakkan persaudaraan abadi seperti itu, menolongku dengan doa mereka, dan yang di dalamnya orang Kurdi merupakan mayoritas mutlak — demi pikiran rasialisme dan nasionalisme negatif, dan dari memperoleh — sebagai ganti saudara-saudara tak terhingga yang diberkahi itu — beberapa orang terbatas yang menyandang nama Kurdi dan dianggap dari unsur Kurdi namun masuk ke jalan tanpa agama atau tanpa mazhab!.. Wahai mulhid! Orang-orang dungu sepertimulah yang perlu meninggalkan persaudaraan kekal dari suatu jamaah tiga ratus lima puluh juta yang sejati, bercahaya, dan bermanfaat — demi meraih persaudaraan sementara yang bahkan secara duniawi pun tak berfaedah dari orang-orang kafir Hungaria atau beberapa orang Turki yang telah tak beragama dan kebarat-baratan. Karena di Persoalan Ketiga dari Surat Kedua Puluh Enam kami telah menunjukkan hakikat dan bahaya nasionalisme negatif dengan dalil-dalilnya, kami rujukkan ke sana, dan di sini kami akan menjelaskan sampai derajat tertentu satu hakikat yang diringkas di akhir Persoalan Ketiga itu. Yakni:

Kepada para mulhid yang berpura-pura bersemangat kebangsaan — yang masuk ke balik tabir Turkisme padahal sebenarnya musuh orang Turki — kukatakan: dengan persaudaraan abadi dan sejati atas dasar umat agama Islam, aku berkaitan erat dan amat sejati dengan ahli iman tanah air yang disebut Turki ini. Dan kepada anak-anak tanah air ini — yang selama hampir seribu tahun mengibarkan bendera Al-Qur'an secara jaya di sekeliling enam penjuru dunia — aku mencintai dengan bangga dan berpihak, atas nama Islam. Adapun engkau, wahai penjaja semangat palsu! Engkau memiliki suatu persaudaraan yang majazi, rasial, sementara, dan penuh maksud buruk, dengan cara yang membuat kebanggaan kebangsaan sejati orang Turki dilupakan. Aku bertanya kepadamu: apakah bangsa Turki hanya terdiri atas para pemuda lalai dan pemuja hawa yang berusia antara dua puluh dan empat puluh tahun? Dan apakah manfaat mereka serta khidmat yang dituntut semangat kebangsaan tentang mereka hanya terletak pada pendidikan bermental Barat yang menambah kelalaian mereka, membiasakan mereka pada akhlak buruk, dan mendorong mereka kepada hal-hal terlarang? Dan pada suatu tawa sementara yang akan membuat mereka menangis di masa tua? Jika semangat kebangsaan hanya terdiri atas hal-hal ini, dan jika kemajuan serta kebahagiaan hidup adalah ini; ya, jika engkau Turkis yang demikian dan pemuja kebangsaan yang demikian; maka aku lari dari Turkisme semacam itu, dan engkau pun boleh lari dariku! Jika engkau memiliki semangat, kesadaran, dan keadilan sekecil zarah, pandanglah pembagian berikut, dan jawablah. Yakni:

Anak-anak tanah air yang disebut bangsa Turki ini terbagi enam bagian. Bagian pertama, ahli kesalehan dan ketakwaan. Bagian kedua, golongan orang yang tertimpa musibah dan orang sakit. Bagian ketiga, kelompok orang tua. Bagian keempat, golongan anak-anak. Bagian kelima, golongan fakir dan lemah. Bagian keenam, para pemuda. Gerangan, bukankah kelima golongan pertama itu orang Turki? Tak adakah bagian mereka dari semangat kebangsaan? Gerangan, menyakiti kelima golongan itu, merusak kesenangan dan menghancurkan hiburan mereka demi memberi suatu kesenangan bak mabuk kepada golongan keenam; apakah itu semangat kebangsaan, ataukah permusuhan terhadap bangsa itu? Menurut rahasia "Al-hukmu lil-aktsar (hukum berlaku bagi mayoritas)", yang mendatangkan kerugian pada mayoritas adalah musuh; bukan sahabat!

Aku bertanya kepadamu: apakah manfaat terbesar bagi bagian pertama — ahli iman dan ahli takwa — terletak pada peradaban bermental Barat? Ataukah pada memikirkan kebahagiaan abadi dengan cahaya hakikat imani, menempuh jalan hak yang mereka rindukan dan cintai, serta menemukan hiburan sejati? Jalan yang ditempuh para penjaja semangat pengumbar kesesatan sepertimu; memadamkan cahaya maknawi ahli iman yang bertakwa, merusak hiburan sejati mereka, dan memperlihatkan kematian sebagai eksekusi abadi serta kubur sebagai pintu perpisahan kekal yang tak berakhir.

Apakah manfaat bagian kedua — orang yang tertimpa musibah, orang sakit, dan orang yang putus asa dari hidupnya — terletak pada pendidikan peradaban bermental Barat yang tak beragama? Padahal orang-orang malang itu menginginkan cahaya, menginginkan hiburan. Mereka menginginkan suatu ganjaran atas musibah mereka. Dan mereka ingin membalas dendam kepada orang yang menzalimi mereka. Dan mereka ingin menyingkirkan kengerian di pintu kubur yang mereka dekati. Dengan semangat palsu orang-orang sepertimu, kalian menusukkan jarum ke kalbu orang-orang malang tertimpa musibah itu — yang amat layak dan membutuhkan belas kasih, belaian, dan perawatan — dan memukulkan palu ke kepala mereka! Tanpa belas kasih kalian menghancurkan harapan mereka, menjatuhkan mereka ke keputusasaan mutlak! Inikah semangat kebangsaan? Beginikah kalian mendatangkan manfaat kepada bangsa?