Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 507
Kias ini pun, seperti kias-kias sebelumnya, perbedaannya jelas. Karena pada orang Prancis, di tangan para khawas dan orang pemerintahan, agama Kristen — terutama Mazhab Katolik — untuk waktu yang lama telah menjadi suatu sarana penindasan dan kesewenangan. Para khawas dengan sarana itu melanggengkan pengaruh mereka atas orang awam. Dan karena ia menjadi sarana menindas para pemuja semangat yang tersadar dari lapisan awam yang mereka sebut "gelandangan" serta bagian pemikir dari para pemuja kebebasan yang menyerang kesewenangan para khawas zalim, dan karena selama hampir empat ratus tahun ia dianggap sebagai sebab yang merusak ketenteraman manusia dengan revolusi-revolusi di negeri Barat dan menjungkirbalikkan kehidupan sosial; maka mazhab itu diserang bukan atas nama ketakberagamaan, melainkan atas nama mazhab lain dari Kekristenan. Dan pada lapisan awam serta para filsuf timbul suatu kekesalan dan permusuhan sehingga; terjadilah peristiwa sejarah yang telah diketahui. Padahal terhadap agama Muhammadi صلى الله عليه وسلم dan syariat Islam; tak ada seorang teraniaya pun, tak ada seorang pemikir pun yang memiliki hak untuk mengeluhkannya. Karena ia tak membuat mereka kesal, ia melindungi mereka. Sejarah Islam ada di hadapan mata. Di kalangan Muslim, selain satu-dua kejadian, tak pernah ada perang agama internal. Adapun Mazhab Katolik telah menjadi sebab kekacauan internal selama empat ratus tahun.
Lagi pula Islam telah menjadi benteng perlindungan bagi orang awam lebih daripada orang khawas. Dengan kewajiban zakat dan haramnya riba; ia tak menjadikan khawas sebagai penindas di atas orang awam, melainkan dari satu segi menjadikannya pelayan. Ia berkata: سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ ❊ خَيْرُ النَّاسِ مَنْ يَنْفَعُ النَّاسَ.
Lagi pula dengan lisan Al-Qur'an al-Hakîm, dengan seruan suci seperti اَفَلاَ تَعْقِلُونَ ❊ اَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ ❊ اَفَلاَ يَتَفَكَّرُونَ, ia mempersaksikan akal, membangunkannya, menyerahkan kepada akal, dan menggiring kepada penyelidikan. Dengannya ia memberi kedudukan dan kepentingan kepada ahli ilmu dan pemilik akal atas nama agama. Ia tak memberhentikan akal seperti Mazhab Katolik, tak membungkam ahli pikir, tak meminta taklid membabi buta.
Karena bukan Kekristenan yang hakiki, melainkan asas agama Kristen sekarang berpisah dari asas Islam pada suatu titik penting; ia berjalan berbeda-beda dari banyak segi seperti perbedaan-perbedaan terdahulu. Titik penting itu adalah ini:
Islam adalah agama tauhid hakiki yang; menggugurkan perantara dan sebab. Ia mematahkan egoisme, menegakkan ubudiyah yang murni. Mulai dari rububiyah nafsu, ia memutus dan menolak segala jenis rububiyah yang batil. Karena rahasia inilah; jika seorang besar dari khawas benar-benar religius, ia terpaksa meninggalkan egoisme. Yang tak meninggalkan egoisme, meninggalkan keteguhan agama dan sebagian agamanya.
Adapun agama Kristen sekarang; karena menerima "akidah ketuhanan anak (velediyet)", ia memberi pengaruh hakiki kepada perantara dan sebab. Atas nama agama ia tak mematahkan egoisme, melainkan memberi kesucian kepada egoisme itu dengan menyebutnya wakil suci Nabi Isa Alaihissalâm. Karena itu, para khawas Kristen yang menduduki kedudukan terbesar secara duniawi dapat benar-benar religius. Bahkan ada banyak seperti Wilson, mantan Presiden Amerika, dan Lloyd George, mantan Perdana Menteri Inggris, yang menjadi religius bagai seorang pendeta fanatik. Adapun pada orang Muslim, mereka yang masuk ke kedudukan semacam itu, jarang tetap benar-benar religius dan teguh. Karena mereka tak dapat meninggalkan kesombongan dan egoisme. Adapun takwa hakiki tak dapat berkumpul dengan kesombongan dan egoisme.
Ya, sebagaimana fanatisme para khawas Kristen dan ketiadaan keteguhan para khawas Muslim menunjukkan suatu perbedaan penting; demikian pula: para filsuf yang keluar dari Kristen mengambil sikap acuh atau menentang agama mereka, sementara bagian terbesar para filsuf yang keluar dari Islam membangun filsafat mereka di atas asas-asas Islam; ini pun menunjukkan suatu perbedaan penting.
Lagi pula orang-orang Kristen awam yang pada umumnya jatuh ke penjara dan musibah, tak mengharap pertolongan dari agama. Dahulu kebanyakan mereka menjadi tak beragama. Bahkan para revolusioner yang masyhur dalam sejarah — yang menimbulkan Revolusi Besar Prancis dan disebut "gelandangan tak beragama" — adalah bagian dari orang awam yang tertimpa musibah itu. Adapun dalam Islam, mayoritas mutlak orang yang jatuh ke penjara dan musibah mengharap pertolongan dari agama dan menjadi religius. Maka keadaan ini pun menunjukkan suatu perbedaan penting.