Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 506

Kias ini, perbedaannya lebih jelas daripada kias di Isyarat Pertama. Karena dalam agama Isawi (Kristen), hanya asas-asas agama yang diambil dari Nabi Isa Alaihissalâm. Kebanyakan hukum tentang kehidupan sosial dan furu' syar'i, disusun oleh para Hawariyyun dan para pemimpin ruhani lainnya. Bagian terbesarnya diambil dari kitab-kitab suci terdahulu. Karena Nabi Isa Alaihissalâm bukanlah penguasa dan sultan secara duniawi dan bukan rujukan bagi undang-undang sosial umum; asas-asas agamanya, seakan dikenakan pakaian dari luar, diambillah undang-undang adat dan dustur peradaban atas nama syariat Kristen, diberi rupa lain. Jika rupa ini diganti, jika pakaian itu diubah, asas agama Nabi Isa Alaihissalâm tetap dapat lestari. Tak lahir pengingkaran dan pendustaan terhadap Nabi Isa Alaihissalâm. Padahal Kebanggaan Alam صلى الله عليه وسلم — pemilik agama dan syariat Islam — adalah sultan dua alam; timur, barat, Andalusia, dan India, masing-masing menjadi takhta kesultanannya; karena itu, sebagaimana ia sendiri langsung menunjukkan asas-asas agama Islam, ia pun langsung membawa, mengabarkan, dan memerintahkan cabang-cabang agama itu dan hukum-hukumnya yang lain, bahkan adab yang paling parsial sekalipun. Artinya furu' Islam bukanlah berkedudukan sebagai pakaian yang dapat diganti; sehingga jika ia diganti, asas agama tetap dapat lestari. Melainkan ia adalah jasad bagi asas agama, sekurang-kurangnya suatu kulit. Ia telah berpadu dan menyatu dengannya; tak dapat dipisahkan. Mengubahnya, secara langsung berujung pada pengingkaran dan pendustaan terhadap pemilik syariat.

Adapun perbedaan mazhab: ia berasal dari cara pemahaman dustur-dustur teoretis yang ditunjukkan pemilik syariat. Adapun dustur yang disebut "Dharûriyât Diniyah" (yang pasti dalam agama) dan tak dapat ditakwil serta yang disebut "Muhkamât", sama sekali tak dapat diganti dan tak dapat menjadi sandaran ijtihad. Yang mengubahnya, mengeluarkan kepalanya dari agama; ia masuk ke dalam kaidah يَمْرُقُونَ مِنَ الدّ۪ينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الْقَوْسِ.

Ahli bidah menemukan alasan semacam ini bagi ketakberagamaan dan ilhad mereka. Mereka berkata: "Dalam Revolusi Besar Prancis yang menjadi sebab peristiwa beruntun dunia manusia, para pendeta, para pemimpin ruhani, dan Mazhab Katolik yang menjadi mazhab khas mereka diserang dan dirusak. Kemudian banyak pihak membenarkannya. Orang-orang Barat pun setelah itu lebih maju lagi?"